
Sherin terkejut mendengar Rafka berteriak,bahkan keadaan kantin menjadi hening.
"Lo apa-apaan hah?." Rafka menghampiri ketempat dimana gadis itu berdiri,dengan Satria dan satu orang lagi yang belum sherin tau siapa dirinya.
Rafka membantu gadis didepannya itu untuk berdiri,lalu menatap tajam kearah Sherin."Lo sengaja kan?." Ucapnya yang membuat Sherin kebingungan
"Apaan sih,asal nuduh aja.Gue baru napakin kaki disini." Gadis itu mengatakan hal yang sebenarnya.Saat ia akan memasuki kantin,gadis yang tidak ia kenal itu tiba-tiba jatuh tepat dihadapannya.Jangankan menabraknya,menyentuhnya saja tidak.
"Nggak usah bohong.Itu yang selalu lu lakuin." Sherin memejamkan matanya sejenak.Ia tak habis pikir mengapa laki-laki ini menuduhnya tanpa bukti.
"Gue beneran nggak ngapa-ngapain." Sherin menatap orang-orang dihadapannya secara bergantian.
"Gue nggak percaya.Ini yang bikin gue benci banget sama lu Sherina,dan selamanya gue bakal benci sama lu." Tegas Rafka yang membuat gadis itu benar-benar merasa jengah."Kalo lu nggak percaya,jangan percaya.Gue juga nggak maksa lu buat percaya sama gue.Dan buat lu.." Gadis yang sedari tadi menunduk kini perlahan mendongak.
"Kenapa diem aja?.Apa emang lu sengaja?." Sherin berkata dengan nada yang begitu tenang,namun ada ketegasan didalamnya.Gadis yang kini berada disamping Rafka itu menatapnya takut-takut.
"Aku nggak papa kok.Mungkin Sherina nggak sengaja." Sherina dibuat tak percaya dengan apa yang gadis ini katakan.
"Heh,lu gila ya?.Katarak mata lu?.Jelas-jelas lu yang jatuh sendiri.Caper amat jadi orang." Bukan Sherin yang mengatakan hal itu,tetapi Maudy.
Satu-satunya saksi yang melihat jelas kejadian tadi adalah dirinya,dan Sherin memang tidak bersalah.
"Udah Mau,percuma.Apapun yang kita bilang,mereka nggak akan pernah percaya." Sherin mencoba menenangkan sahabatnya yang mulai dilanda emosi.Tatapannya kini beralih pada orang-orang didepannya yang menatap dirinya jengah.
"Percaya sama apa yang mau kalian percaya,gue nggak akan ngebela diri.Dan buat lu Rafka.Gue udah bilang buat berhenti ngejar lu,jadi hal kaya gini nggak akan terjadi." Sherin mulai lelah sendiri,mencoba meyakinkan orang-orang yang sudah terlanjur membencinya memang sulit.
"Terus buat lu,kalo lu mau akting.Lain kali nyari tempat yang bukan cuma nggak keliatan sama mata manusia aja.Zaman sekarang udah canggih." Kini orang-orang bodoh itu menatap bingung gadis yang terkenal dengan sifat iblis dibalik wajah cantiknya.
Arah pandang mereka mengikuti arah pandang Sherin yang melihat tepat pada benda yang terpasang disudut kiri dinding kantin.
Sherin mengalihkan pandangannya,lebih tepatnya pada gadis yang kini memasang raut wajah panik sembari melihat kearah benda yang tak lain adalah cctv itu.
__ADS_1
"Kejadian dari awal pasti udah kerekam lewat cctv itu.Kalian bisa liat sendiri kebenarannya.Dan setelah hal itu terungkap,khususnya buat lu Rafka.Gue harap,lu tetep benci sama gue kaya apa yang lu bilang tadi." Setelah mengucapkan hal itu Sherin pergi meninggalkan kantin disusul Maudy yang sebelumnya memaki orang-orang yang ada disana.
Sedangkan Rafka dan yang lainnya,kini terdiam.Pikiran laki-laki itu melayang entah kemana.Ada perasaan bersalah pada dirinya.Ia sudah menuduh seseorang tanpa bukti.Satria dan Zidan pun merasakan hal yang sama.Walaupun mereka tak ikut andil untuk memaki Sherin,namun rasa menyesal dan bersalah melekat pada diri mereka.
Rafka yang tak ingin salah langkah hendak pergi meninggalkan kantin untuk mencari tau kebenarannya.Tapi hal itu harus ia urungkan sejenak saat sebuah tangan menahannya.
"Kamu mau kemana?." Gadis yang tadi terjatuh entah karena apa penyebabnya memandang Rafka panik.
"Gue mau nyari bukti siapa yang salah disini." Rafka akhirnya pergi disusul Satria dan Zidan selaku sahabat dekatnya.Mereka ingin membuktikan apakah yang Sherina katakan adalah sebuah kebenaran atau hanya permainan belaka.
.
.
"Sher lu nggak papa?." Maudy dan Sherin kini berada halaman belakang sekolah.Tempat itu jarang didatangi anak-anak yang lain.Hanya sebagian orang saja yang mengunjungi tempat itu,salah satunya Sherina.
"Gue nggak papa,tapi masalahnya.." Sherin menghentikan ucapannya.Maudy yang melihat sahabatnya itu memasang wajah murung pun akhirnya memeluknya,mencoba menenangkan gadis yang baru saja dituduh tanpa adanya bukti yang jelas.
"Tapi masalahnya bukan itu." Maudy melepaskan pelukannya dan menatap bingung Sherin.
"Terus apa?." Bukannya menjawab,Sherin malah memajukan bibirnya,membuat Maudy ingin sekali menampolnya.
"Gue lapeerr." Rengek Sherin yang membuat Maudy tak habis pikir.Gadis itu menyesal sudah bersimpati pada sahabat laknatnya ini.
.........
Maudy dan Sherin akhirnya makan siang dengan roti yang dibelikan oleh adik kelas,bukan hasil malak,tapi mereka nitip.
"Pupus deh dapet traktiran nasi goreng Mak mancoy." Sherin yang selesai menenggak minum itu memandang Maudy malas.
"Besok deh gue traktir.Tahan aja dulu." Ucap Sherin yang membuat Maudy memandangnya girang.
__ADS_1
"Bener ya,awas aja lu kalo sampe bohong." Sherin berdecak dan memilih untuk mengabaikan sahabatnya itu.
Ketenangan yang awalnya mendominasi kelas menjadi riuh karena kedatangan tiga idola sekolah Gemilang kedalam kelasnya.
"Sherina." Gadis yang dipanggil namanya tadi tetap memainkan game pada ponselnya,bukan bermaksud untu mengabaikan,tapi karena memang Sherin tidak dengar.
Melihat Sherin yang tetap asyik dengan benda pipih dihadapannya itu,Maudy akhirnya menyikut lengan sababatnya yang membuat ia mendapatkan tatapan mematikan.
"Itu." Tunjuk Maudy yang membuat Sherin mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu.
Mata Sherin menatap tepat pada laki-laki yang kini juga menatapnya.Gadis itu mendengus sebal,mengapa orang ini datang ke kelasnya.
"Kenapa?.Mau nuduh gue lagi?.Ayo ngomong sini,gue dengerin bacot lu." Ujar Sherin sembari menyampirkan rambut pendeknya kebelakang telinga.
Tanpa gadis itu sadari,Rafka mendekatkan wajahnya pada telinga gadis itu."Maaf." Bisiknya yang membuat Sherin terkejut.
"Nggak salah denger kan gue?.Seorang Rafka minta maaf sama orang yang dia benci.Pasti ini sebuah kibulan." Sherin menatap penuh selidik pada laki-laki yang kini menatapnya tanpa ekspresi apapun.
"Eh mending kepala lu,lu copot,tarus kasih gue sini.Mau gue kasih ke bi Wati biar dijadiin papan penggilesan buat nyuci."
"Loh emang kenapa Sher?." Bisik Maudy yang masih bisa terdengar oleh orang-orang disana.
"Mukanya datar banget." Jawab Sherin melakukan hal yang sama.Hal itu mengundang gelak tawa Satria dan Zidan yang ada dibelakang Rafka.Bahkan mereka saling memukul saking gelinya.
"Papan penggilesan kan bentukannya bergigi." Ujar Maudy diselingi kekehan.
"Kalo dia ber-untu." Sherin tertawa lepas mendengar ucapannya sendiri.
Tanpa mereka sadari,Rafka yang sedari tadi memperhatikan Sherin yang kini tertawa juga ikut menyunggingkan senyumnya,tak peduli jika dialah yang menjadi topik penghinaan.Dasar anak bodoh.
...Tbc...
__ADS_1