
"Besok gue jemput ya."
Kini Sherin dan Rafka resmi menjalin hubungan sebagai teman.Ya meskipun hanya Sherin yang menyetujui hal itu tapi tidak dengan Rafka.Laki-laki itu yakin,ini adalah langkah awal agar ia bisa kembali membuat Sherin menyukainya.
"Nggak usah.Gue berangkat bareng papa.Besok ketemu disekolahan aja." Ujar Sherin sembari bersidekap dada.Gadis itu meminta Rafka untuk pulang,karena hari sudah gelap,ditambah lagi laki-laki itu bilang jika sepulang sekolah ia tak kembali kerumahnya dulu.
"Bareng gue aja sih." Sherin menghela napas jengah.Sedari tadi Rafka selalu memaksa agar dirinya berangkat sekolah bersama laki-laki itu.
"Jangan maksa Raf.Cepet pulang sana!!." Sherin berujar kesal,dan itu mwmbuat Rafka ingin mencubit pipi Sherin yang sedikit berisi.
"Ya udah deh.Besok ketemuan disekolah.Kalo gitu gue balik dulu.Jangan lupa,nanti pas lu tidur mimpiin gue ya." Rafka meraih helm full face hitam miliknya dan memakainya.
"Nggak bakalan tidur gue malam ini." Rafka tertawa dibalik helmnya.Sekali lagi laki-laki itu berpamitan kepada Sherin lalu melajukan motor ninja miliknya dan kembali pulang.
"Dari awal bukan ini kemauan gue,tapi gue nggak mau ninggalin kesan buruk sama apa yang udah terjadi,setidaknya ini jadi awal yang baik,dan akan menjadi akhir yang baik pula." Gumam Sherin dan kembali masuk kedalam rumahnya.
.
.
"Lu baikan sama Rafka?." Bisik Maudy agar tidak didengar orang lain selain Sherin.Karena yang menjadi topik pembicaraannya ada didekat mereka,tepatnya disamping Sherin.
"Baikan dalam artian temenan sama nih bocah." Jawab Sherin yang menatap malas laki-laki yang duduk disampingnya.Rafka tak sendiri ada dua kurcaci yang selalu mengikutinya.
"Sayangnya kita nggak sekelas sih.Kalo sekelas kan enak barengan terus." Ucap Satria yang asik memakan camilan yang mereka beli.Lebih tepatnya Sherin dan Rafka yang mengeluarkan biaya.
"Lu yang enak lah Sat.Secara kan lu sekelas sama Sherin." Dari nada bicaranya Rafka sedikit tak terima.
"Iri bilang Bos." Kini giliran Zidan yang bicara.
Sherin dan Maudy menatap ketiganya dengan malas.Saat ini mereka sedang ada dikantin karena waktu istirahat tengah berlangsung.Awalnya Sherin hanya berdua dengan Maudy,tapi saat diperjalanan menuju kantin,mereka bertemu dengan ketiga laki-laki itu.Dan jadilah mereka pergi bersama.
"Lu bakal lapor ke kepala sekolah Sher soal yang kemarin?."
Sherin tak menjawab pertanyaan dari Zidan.Membuat Maudy yang memang belum tau tentang kejadian yang dialami sahabatnya kemarin kebingungan.
"Kemarin?,emang kemarin ada apaan dah?." Tanya Maudy yang membuat ketiga laki-lak itu menatap Sherin yang juga tengah menatap mereka dengan tatapan tajam.
Sherin menghela napas panjang,padahal ia tak ingin Maudy tau tentang masalah ini,karena kalau sampai gadis itu tau,Sherin tak bisa membayangkan seperti apa sahabatnya itu jika marah.
"Diana jebak gue kemarin.Dia nyuruh temennya buat bawa paksa gue ketoilet.Alasannya karena ditempat itu nggak terjangkau sama cctv.Jadi nggak akan ada bukti kalo sebenernya dia yang bersalah." Tak ada yang bersuara.Mereka sibuk menyimak cerita soal kejadian yang Sherin alami kemarin.
"Diana bilang bakal buat Rafka perhatian lagi sama dia,jadi dia buat seolah-olah gue udah nyakitin dia biar Rafka benci lagi sama gue." Ucap Sherin menceritakan secara rinci tentang apa yang sudah ia alami.
__ADS_1
"Wah emang setan tuh cewek,belum aja dapet bogeman dari gue." Itu yang membuat Sherin tak ingin Maudy tau masalahnya.Sebab gadis itulah yang akan bertindak pertama kali untuk membalas siapa pun yang mengganggu sahabatnya.
"Udah-udah.Mendingan sekarang balik ke kelas,bentar lagi bel masuk." sherin bangkit dari duduknya yang disusul oleh keempat orang itu.
Selama perjalanan menuju kelas Sherin hanya bisa menahan diri untuk tidak mengumpat,karena ia dijadikan bahan rebutan oleh Rafka,Satria dan Maudy.
Rafka yang mempermasalahkan dirinya yang tidak sekelas dengan Sherin.Dan Satria juga Maudy yang mendadak jadi kompor untuk memanas-manasi laki-laki itu.
"Capek gue ngedengerin mereka." Gumam Zidan yang hanya jadi pemirsa dari apa yang dilakukan oleh ketiga manusia itu.
...
Sesampainya Sherin,Maudy dan Satria dikelas,keadaan disana sangat riuh.Sherin juga sempat mendengar namanya disebut dalam perbincangan mereka.
"Ada apa nih sepi-sepi?." Tanya Satria yang membuat Maudy memukul lengannya.
"Rame bodoh."
"Sher,lu bully anak kelas sebelah?." Tanya salah satu dari teman sekelasnya.
"Kelas sebelah?,siapa?.".Sherin sebenarnya sudah menduga jika yang dimaksud itu adalah Diana.Hanya saja ia memilih untuk berpura-pura tidak tau,takut jika dugaannya ini salah.
"Yang namanya Diana itu loh." Ternyata benar dugaan Sherin,tapi yang menjadi pertanyaan mereka tau rumor ini dari mana.
"Apa karena lu udah jadi temen deketnya Sherin,lu jadi belain dia?." Satria yang mendengar itu langsung menatap nyalang pada laki-laki yang mengatakan hal itu barusan.
"Maksud lu apa ngomong gitu?." Saat Satria ingin menghampirinya,Sherin terlebih dahulu menahan laki-laki itu.
"Satria udah."
"Kalo kalian mau percaya sama apa yang kalian denger silahkan." Setelah mengatakan hal itu,Sherin berjalan menuju tempat duduknya.Ia tak ingin membuat keributan.
Setelah itu,tak lama guru datang dan pelajaran selanjutnya pun dimulai.
.........
"Langsung pulang Sher?." Sherin yang tengah menata barang-barangnya untuk dimasukkan kedalam tas hanya menggeleng sebagai jawaban.Maudy yang melihat gelengan kepala dari Sherin merasa heran,biasanya gadis itu semangat kalau pulang.Tapi kenapa sekarang begini.
"Gue mau ketemu sama Diana dulu."
"Gue ikut!!." Sherin sontak terkejut mendengar ucapan Sherina.Kalau gadis itu ikut bisa bahaya.
"Nggak usah Mau,gue sendiri aja.Lu langsung pulang ya!."
__ADS_1
"Sher kejadian kemarin bisa aja keulang lagi,nggak ada saksi nyata.Jadi,biarin gue ikut,gue janji nggak bakal ngapa-ngapain." Sherin lupa kalau sahabatnya ini keras kepala,mau sekeras apapun dia melarangnya,tetap saja itu akan sia-sia.
"Oke lu boleh ikut.Tapi lu harus ngumpet." Ujar Sherin yang membuat Maudy bingung.
"Lah kenapa gue harus ngumpet dah?."
"Karena kalo ada lu,Diana pasti nggak bakalan ngeluarin sifat aslinya.Lu mantau aja dari jauh." Sherin benar,jika ada dirinya,gadis bermuka dua itu tak akan mau menunjukkan kebusukan yang tersembunyi dibalik wajah alimnya.
"Oke gue bakalan mantau lu dari jauh."
Akhirnya sherin dan Maudy melakukan tugas mereka masing-masing.Sherin harus cepat menemui Diana ke kelasnya,ia takut jika gadis itu lebih dulu pulang sebelum mereka bertemu.
.........
Sherin sudah berada didepan kelas Diana,namun ia harus kecewa saat melihat keadaan kelas yang sudah sepi.
"Apa dia sengaja ngehindar." Saat Sherin memutuskan untuk pergi,suara tepuk tangan membuatnya berhenti sekaligus terkejut.
"Lihat siapa yang datang." Diana keluar dari tempat persembunyiannya.Tampangnya membuat Sherin ingin sekali menggaruk wajahnya.
"Halo Sherina Zedy." Sherin tetap diam saat Diana menyapanya.Ia terlalu malas untuk meladeni bocah ini.
"Pasti lu kesini mau ngancem gue lagi kan?!.Sherin Sherin,lu pikir gue bakalan percaya,kalo lu punya bukti dari semua yang udah gue lakuin?." Diana tertawa sembari bersidekap dada.Dilihatnya Sherin dari atas sampai bawah.Diana menunggu respon dari gadis dihadapannya ini,tapi sejak awal kemunculannya,Sherin sama sekali tak menanggapinya.
"Kok Diem?,Apa jangan-jangan lu mulai takut sama tuduhan yang gue sebar ke anak-anak kalo lu udah bully gue?." Ucap Diana dengan percaya diri.
Sherin tetap diam,namun sebuah seringaian kini terbit diwajahnya,membuat Diana yang melihatnya menaikkan satu alisnya.
"Gue udah kasih pilihan buat lu Diana.Mau ngaku sendiri,atau gue yang bakalan bongkar semuanya.Tapi kayanya lu milih supaya gue yang bongkar sendiri perbuatan lu kemarin."
Diana memang tidak menggubris ucapan Sherin saat ditoilet,karena ia menganggap apa yang Sherin katakan hanya tipuan belaka.
"Ck,udah lah Sher.Kalo kalah ya kalah aja.Nggak usah pake ancem-ancem gue segala.Lagi pula,sebesar apapun usaha lu buat ngebuktiin kalo gue yang bersalah bakalan sia-sia.Karena disini nggak ada yang percaya sama lu."
Sherin mengangguk mendengar ucapan Diana yang kelewat percaya dirinya."Ya,mereka emang nggak percaya sama gue,karena lu udah hasut mereka."
"Tapi serapat apapun kejahatan disembunyikan,pada akhirnya semua itu bakalan kebongkar."
"Sekali lagi Diana,gue kasih pilihan buat lu.Ngaku atau lu bakalan nerima akhir yang menyedihkan." Setelah itu Sherin benar-benar pergi meninggalkan Diana yang sedang memakinya.
Untuk kali ini Sherin mungkin masih bisa sabar,tapi tidak untuk lain kali.
...Tbc...
__ADS_1