
Sherin berjalan cepat ketika dirinya akan tiba ditempat tujuannya,ruang kepala sekolah.Ayahnya memberitahukan jika Sherin harus datang ketempat itu segera.
Masi dengan etika sopan santunnya,Sherin memasuki ruang kepala sekolah yang disambut oleh berbagai tatapan dari orang-orang yang ada disana.
"Sayang." Sherin langsung menghampiri ayahnya yang berada tak jauh dari dirinya.
"Sher." Diana mendekat kearah Sherin yang berada dirangkulan ayahnya.Sherin melihat sekilas pada laki-laki pparuh baya itu.Rangkulan terlepas saat Ferdy paham maksud dari putrinya.
"Gue minta maaf." Sherin terkejut dengan apa yang dilakukan Diana.Gadis itu hendak bersimpuh,membuat Sherin segera mencegah Diana sebelum ia benar-benar menyentuh lantai
"Lu ngapain sih." Sherin membantu Diana untuk berdiri,dilihatnya gadis itu yang kini sudah mengeluarkan air mata.
"Gue bener-bener minta maaf Sher,gue nyesel." Sherin menghela napasnya,sebenarnya jika Diana memilih pilihan yang benar,gadis itu tak akan menahan malu seperti ini.
"Gue udah maafin lu,jauh sebelum lu minta maaf sama gue." Jawab Sherin sembari memeluk Diana yang juga membalas memeluknya.
"Tapi Diana harus tetap dikeluarkan dari sekolah ini." Mata Sherin melebar mendengar penuturan ayahnya,pelukan itu Sherin lepas saking terkejutnya.
"Apaa?!!." Sherin menatap tak percaya pada ayahnya.Bukankah keputusannya jika Diana meminta maaf,gadis itu akan tetap bersekolah disana.
"Papa apa-apaan sih?!.Bercandanya nggak lucu deh." Sherin berusaha mencairkan suasana dengan tertawa kecil,namun hal itu tak bisa merubah apapun.
"Papa,ini nggak sesuai sama kesepakatan yang udah dibuat."
"Papa tau Sherin,papa tau.Tapi papa nggak mau kejadian yang sama keulang lagi.Dan lagi pula ini semua kemauan dari Diana sendiri,dia yang mau keluar dari sekolah ini,buat nebus kesalahannya."
__ADS_1
Sherin menatap Diana yang kini juga menatapnya.Perlahan Sherin bisa melihat kepala gadis dihadapannya itu mengangguk,membenarkan segala ucapan yang ayahnya katakan.
"Pak Ferdy bener Sher,gue mutusin buat keluar dari sekolah ini.Gue bakalan pindah." Jelas Diana.
"Lu nggak perlu pindah Diana.Lu nggak usah peduli soal anak-anak yang mungkin bakalan beda perlakuin lu karena masalah ini,lu hebat karena mau ngakuin kesalahan lu.Lu nggak perlu malu."
Sherin akui,Diana memang hebat,ia mau mengakui kesalahannya,bukan hanya dihadapan satu atau dua orang,tapi ratusan atau mungkin ribuan orang disekolah ini.
"Makasih Sher,lu udah dukung gue,ngehibur gue.Tapi gue tetep nggak bisa buat sekolah lagi disini."
"Nak Sherin." Suara itu mengalihkan perhatian Sherin.Ibu sarah selaku ibu kandung dari Diana.Wanita itu mendekat kearah mereka,Sherin dan Diana.
"Sebelumnya saya mau minta maaf karena udah nuduh kamu." Sherin tersenyum kecil mendengar ucapan wanita itu.
"Kamu berhak membela diri karena kamu nggak salah.Dan soal anak saya yang ingin keluar dari sekolah ini,itu sudah benar-benar kami putuskan semalam.Itu juga sebagai bentuk hukuman yang saya dan suami saya berikan untuk Diana." Ujar Bu Sarah.
Kenapa keadaan menjadi sedih seperti ini,seharusnya masalahnya sudah selesai,tapi kenapa semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Gue minta maaf Diana."
.........
"Akhirnya itu biang kerok out juga dari sekolah ini."
Saat ini Sherin,Maudy,Rafka,Satria dan Zidan tengah berkumpul bersama dikantin.Selepas dari menyelesaikan sebagian dari masalahnya,teman-teman Sherin menghampiri gadis itu,dan berakhir pergi kekantin bersama-sama.Awalnya Sherin malas untuk ikut kesana,tapi karena paksaan dari mereka,mau tak mau Sherin pun ikut ketempat itu.
__ADS_1
Sherin juga sudah menceritakan semua yang terjadi,dan tentu saja itu juga termasuk paksaan dari teman-temannya.
"Sher ngelamun mulu,kesambet nanti kita tinggal kabur nih." Candaan yang dilontarkan Satria itu membuat Maudy dan Zidan tertawa,berbeda dengan Rafka yang hanya tersenyum miring dan Sherin yang tetap diam.
"Hey,lu kenapa Sher?." Maudy bersyukur sahabatnya itu masih memberikan respon saat dirinya bertanya,walau hanya gelengan kepala yang ia dapat,tapi setidaknya Sherin masih mau menanggapinya.
"Gue cuma kepikiran sama Diana.Gue ngerasa bersalah karena semuanya nggak sesuai sama kesepakatan yang udah dibuat ." Sherin meminum jus yang dipesannya.
"Lu nggak usah ngerasa bersalah Sher,lagian itu kan maunya Diana sendiri juga.Jadi ya nggak sepenuhnya salah lu." Saut Zidan yang kini tengah berebut makanan dengan Satria.
"Iya Sher,yang dibilang Zidan bener." Kini Rafka yang berbicara,berbeda dengan teman-temannya yang lain,Rafka mendapat lirikan sinis dari gadis yang duduk disebelahnya itu.
"Nggak usah ngomong sama gue lu.Gue masih marah." Sherin melipat tangannya didepan dada.Rafka nampak lesu mendengar respon dari Sherin.Ia pikir gadis itu sudah tak marah lagi padanya.
"Gue nggak boleh nyium lu ya?." Pertanyaan yang aneh menurut Sherin dari Rafka,bukankah jawabannya sudah jelas.
"Terus gue bolehnya nyium apa?." Dengan tidak tau dirinya Rafka menyandarkan kepalanya ke bahu Sherin yang membuat gadis itu menepuk kening Rafka
"Nyium aspal Raf."
Sontak semua teman-temannya tertawa.Berbeda dengan Sherin yang kini mencoba menyingkirkan kepala Rafka yang enggan pindah dari bahunya,dan Rafka yang malah memejamkan matanya dan mempertahankan kepalanya agar tetap berada dibahu gadis itu.
...Tbc...
...Jangan lupa vote,like,dan komen❤❤...
__ADS_1