Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)

Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)
Chapter 19


__ADS_3

"Gue bakal kasih kesempatan buat Rafka."


Seketika wajah murung Rafka berganti dengan tatapan berbinar mendengar kalimat yang diucapkan oleh Sherin.Ia meraih tangan gadis itu dan llangsung digenggamnya,tak ada penolakan dari Sherin,dan itu membuat Rafka percaya jika Sherin benar-benar telah memberinya kesempatan.


"Makasih Sherin,makasih banyak." Rafka berkali-kali menciumi punggung tangan Sherin,membuat gadis itu segera menarik tangannya dari genggaman Rafka.


"Iler lu kena tangan gue." Ujar Sherin sembari mengelap tangannya kebaju Maudy.Sedangkan sahabatnya itu hanya bisa pasrah dan menerima tindakan Sherin terhadapnya.Semua sayang Sherin.


"Tapi ada satu syarat." Raut wajah bahagia Rafka kembali berubah.


"Syarat?.Syarat apa?." Bukan Rafka yang bertanya,melainkan Satria.


"Jangan sampai ada satu orang pun yang tau selain kita tentang hal ini." Jawab Sherin dengan tegas.Bukan tanpa alasan,ia hanya tak ingin kejadian yang sudah-sudah terulang lagi.


"Oke gue setuju." ucap Rafka dengan penuh antusias.


"Rafka,gue mau ngomong sama lu." Sherin menatap Rafka kemudian beralih pada yang lainnya.


"Berdua." Maudy dan kedua sahabat Rafka mendengus kecewa.Kemudian Sherin dan laki-laki yang akan ia ajak bicara pergi berlalu mencari tempat yang hanya ada mereka berdua.


.........


Kolam renang menjadi tempat pilihan Sherin untuk berbicara dengan Rafka.Kini mereka berdua duduk disebuah ayunan yang disediakan disana.


"Gue harap lu nggak salah paham soal kesempatan yang gue bilang." Sherin memang memberi kesempatan untuk Rafka,tetapi bukan kesempatan untuk bisa menjalin hubungan spesial dengannya.


"Biar gue jelasin."


"Jadi kesempatan yang gue maksud itu,kesempatan buat ngeyakinin,kalo perasaan lu ke gue itu cuma sesaat.Lu cuma kaget Raf.Cewek yang selama ini ngejar lu dan suka sama lu,tiba-tiba berhenti buat berharap sama lu."


Rafka menggeleng.Tangannya menggenggam tangan Sherin erat."Nggak Sher,perasaan gue bener-bener perasaan yang nggak pernah gue rasain sama lu sebelumnya."


Sherin menghembuskan napasnya.Seulas senyum kecil terbit diwajahnya dengan pandangan yang masih menatap laki-laki dihadapannya.


"Raf,gue nggak mau pada nantinya lu capek sendiri sama perasaan lu.Jangan nyiksa diri.Jangan ngikutin jejak gue yang dulu." Setelah mengucapkan hal itu,Rafka melepaskan genggamannya dan beralih mengusab kasar wajahnya.


"Dulu gue emang selalu nolak lu,gue selalu nggak suka sama kehadiran lu,dan gue selalu berharap lu enyah dari pandangan gue." Sherin tak berkata apapun,ia membiarkan Rafka mengatakan semuanya.


"Tapi sekarang,gue nggak akan kaya gitu."


Rafka mendekatkan dirinya kearah Sherin,membuat Sherin menatap bingung kearahnya.


"Karena separuh hati gue ada di lu Sher.Lu udah jadi pemiliknya." Rafka kembali menautkan bibirnya pada bibir Sherin.Kali ini tak ada penolakan.Mata mereka sama-sama terpejam.

__ADS_1


"Gue tau ini salah,gue udah ingkar sama janji gue sendiri.Tapi perasaan nggak ada yang bisa nebak.Karena jujur,gue juga suka sama dia."


.........


"Kita pulang dulu ya." Rafka mengangguk,setelah pembicaraan dengan Sherin yang berakhir kejadian tadi sore kembali terulang,membuatnya enggan melepas pagutannya dengan gadis yang benar-benar menjadi pemilik sebagian dari hatinya.


"Hati-hati dijalan,Sorry gue nggak bisa nganter kalian." Sherin,Maudy,Zidan dan Satria mengangguk memaklumi.Rafka memang baru sembuh dari sakitnya,mereka juga tidak ingin terjadi sesuatu yang akan membahayakan laki-laki itu jika ikut mengantar.


Selagi menunggu Maudy,Zidan dan Satria mengambil motor yang mereka letakkan digarasi,Sherin dan Rafka berbincang yang terkadang membuat Sherin memukul atau memarahi laki-laki yang sudah mengambil kesucian bibirnya dua kali hari ini.


"Kapan-kapan main kesini lagi ya."


"Kalo sempet.Oh iya gue baru inget.Katanya orang tua lu pulang hari ini kan?." Rafka hanya mengangguk sebagai jawaban,laki-laki itu malah memeluk Sherin dari samping.


"Tapi nggak jadi.Katanya masih betah disana." Sherin mendongak kesamping menatap Rafka yang juga sedang menatapnya.


"Kok nggak nyusul kesana?."


"Biasanya gue kesana pas liburan,tapi karena sekarang lagi nggak,jadi bonyok gue ngelarang buat ikut.Katanya fokus sama sekolah."


"Sama banget kaya gue." Gerutu Sherin,yang membuat Rafka tertawa melihat ekspresi kesal gadisnya,eh.


"Woi,aelah.Belum juga sehari dikasih kesempatan udah nempel aja kaya benalu." Satria kini sudah siap dengan motor sport dan helmnya.


Zidan dan Maudy berboncengan dengan salah satu dari sahabat Rafka itu yang menjadi pengendaranya.


Sherin melepas tangan kekar Rafka yang memeluknya,ia mendongak menatap laki-laki itu yang kini menatap lesu kearahnya."Gue pulang dulu ya." Rafka hanya mengangguk dan masih memasang ekspresi yang menurut Sherin lucu.


"Udah nggak usah manyun gitu,nanti gue garuk lecet muka lu." Suara ttawa meledak mendengar Maudy yang barusan mengucapkan kalimat yang membuatnya mendapat tatapan tajam dari Rafka.


"Rese banget." Gumam Rafka yang membuat Sherin tertawa.Setelah banyak drama yang mereka tampilkan,akhirnya Rafka melepas Sherin untuk kembali pulang bersama teman-temannya yang lain.Ia tak sabar menunggu hari esok untuk kembali bertemu dengan gadis yang sudah membuatnya gila.


.........


"Gue ngambil keputusan yang bener nggak sih?."


Sherin kini sudah berada didalam kamarnya.Gadis itu tengah memikirkan keputusannya untuk memberi Rafka kesempatan.


"Sayang." Ketukan pintu disertai suara dari ibunya mendominasi keheningan yang ada dikamarnya.Sherin segera bangkit untuk membukakan pintu bagi Zea.


"Mama."


"Loh mama kira kamu udah tidur." Sherin tersenyum seraya menggelengkan kepala.Ia dan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusia senjanya itu masuk kedalam kamar dengan nuansa putih hitam,warna yang Sherin suka.

__ADS_1


"Kenapa nggak tidur?.Besok kan sekolah,nanti kesiangan nangis deh." Mendengar hal itu,Sherin merengek seperti anak kecil,membuat Zea tertawa melihat tingkah anak semata wayangnya.


"Mmm mah,Sherin mau nanya sesuatu boleh?."


"Kamu mau tanya apa sayang?,kayanya serius banget." Sherin nampak berpikir,ia duduk sedikit lebih dekat dengan ibunya.


"Kalo kita ngasih kesempatan sama orang yang dulu kita suka,terus dia nggak ngerespon kita,abis itu kita janji buat ngelupain perasaan kita ke dia,tapi sejak saat itu dia yang malah suka sama kita,salah nggak sih ma?." Zea sedikit bingung dengan apa yang putrinya ucapkan.Menyadari hal itu,Sherin menghembuskan napasnya.


"Jadi gini ma,dulu kan Sherin suka sama Rafka,tapi Rafka nggak ngerespon perasaan Sherin.Nah,karena Sherin udah capek berharap sama Rafka,Sherin mutusin buat ngelupain perasaan Sherin ke dia." Sherin menghentikan kalimatnya untuk memastikan jika ibunya itu mengeri atau tidak dengan ucapannya..


"Lanjut." Sherin menghela napas lega.


"Dan semenjak Sherin nggak lagi ngejar-ngejar Rafka,sejak saat itu si Rafka malah bilang kalo dia suka sama Sherin."


"Sherin mutusin buat temenan aja sama dia.Tapi karena Rafka terus-terusan bilang kalo dia suka sama Sherin,akhirnya Sherin ngasih kesempatan buat dia.Tapi bukan kesempatan buat punya hubungan spesial.Kesempatan yang Sherin maksud itu,kesempatan buat Rafka ngeyakinin perasaannya."


Zea nampak berpikir.Ditatapnya gadis yang selama tujuh belas tahun telah dirawatnya.Seulas senyum lembut Zea tampilkan dibibirnya.


"Keputusan kamu buat ngasih kesempatan Rafka nggak salah.Itu udah yang paling bener.Disatu sisi kamu nggak mau Rafka sampe ngerasain apa yang kamu rasain dulu pas suka sama dia.Dan disisi lain,kamu nggak mau Rafka sampe salah paham kalo kamu berniat buat balas dendam sama perlakuan dia kekamu dulu." Jelas Zea yang membuat Sherin tersenyum lebar karena wanita ini mengerti maksud darinya.


"Mama sih setuju kalo kamu pacaran sama Rafka.Kalo diliat-liat kalian cocok kok." Wajah senang yang tadinya diperlihatkan oleh Sherin kini berganti dengan wajah cemberutnya.


"Mama tuh emang jodoh sama papa,suka ngeledekin anaknya terus."


"Kenapa papa dibawa-bawa." Kedua wanita beda usia itu menoleh kearah pria paruh baya yang kini berjalan menghampiri mereka.


"Ih apa sih,kepedean banget." Ujar Sherin yang mendapat jitakan pelan dari Zea.


"Pasti lagi cerita masa muda papa sama mama." Ucap Ferdy dengan percaya dirinya.


"Geer banget." Kini giliran Zea yang mengatakan hal itu,membuat Sherin tertawa karena melihat ekspresi ayahnya.


"Ah udah ah,udah malem besok Sherin sekolah.Mama sama papa enak besok libur." Gerutu Sherin membuat Zea dan Ferdy tertawa meledek.


"Ya udah kamu sekarang tidur,besok papa anter,pulangnya papa jemput."


"Biasanya kan emang gitu." Ujar Sherin.


"Iya deh,besok kita borong jajanan kesukaan kamu." Mendengar kalimat itu,Sherin berteriak senang membuat kedua orangtuanya pun merasakan hal yang sama.Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur karena malam sudah semakin larut.


...Tbc...


...Halo,apa kabar??...

__ADS_1


...Vote,like dan komennya jangan sampai ketinggalan ya!!😁...


...❤Terimakasih❤...


__ADS_2