Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)

Became Antagonist ? (Tidak Dilanjutkan)
Chapter 8


__ADS_3

Sherin dan Satria berjalan beriringan menuju perpustakaan.Banyak yang tak tau jika mereka berdua sepakat untuk berdamai dan menjadi teman,salah satunya Rafka.


"Sat!!!." Panggilan itu membuat Satria mengumpat,sedangkan Sherina yang ada disebelahnya tertawa.


"Manggil guenya jangan gitu kenapa dah,nggak enak banget didengernya." Keluh Satria pada laki-laki yang sudah berdiri diantara mereka berdua.


"Lah nama lu kan Satria,Ya gue manggilnya Sat lah,ya nggak Sher?." Sherina hanya mengangguk mendengar ucapannya.


Dia Zidan,sahabat Rafka dan Satria.Laki-laki ini tidak membenci Sherina,berbeda dengan kedua sahabatnya.Zidan orangnya lebih kalem tapi terkadang juga rada geser otaknya.


"Mau kemana lu berdua?." Tanya Zidan mengikuti langkah Satria dan Sherin yang akan melanjutkan perjalanan menuju perpustakaan.


"Biasa,disuruh guru tua bangka." Ucap Satria yang mendapat pukulan dari Sherin tepat dilengannya.


"Kualat lu ngomong begitu." Ucap Sherin sambil menunjuk tepat diwajah teman sekelasnya itu.


sempat hening sejenak sampai pada akhirnya Satria kembali membuka suara."Eh bicara-bicara,si Rafka kemana?,nggak keliatan upil hidungnya?." Sherin dan Zidan yang mendengar itu tertawa.Satria ini memang tipe orang yang suka melontarkan candaan.


"Katanya sih lagi rapat club basket." Jawab Zidan yang membuat Satria mengangguk paham.Sedangkan Sherin yang tak peduli hanya mendengarkan saja.


Sesampainya mereka ditempat tujuan Sherin langsung meminta buku yang ditinggalkan Bu Devi kepada penjaga perpus.Lain halnya dengan Zidan dan Satria yang malah sibuk melihat daftar pinjam.


"Woi Sat bantuin bawa!!." Ujar Sherin yang lagi-lagi membuat pria bergigi kelinci itu menggerutu.


Selesai dengan tugas mereka,akhirnya Satria,Zidan dan Sherina kembali ke kelas mereka.Soal Zidan,laki-laki itu juga ikut ke perpustakaan karena Satria.


Sepanjang koridor ketiga orang itu saling mengobrol dan terkadang melemparkan candaan.Karena hal itu,mereka menjadi pisat perhatian seluruh murid Gemilang.Ada yang iri dengan keakraban mereka,ada juga yang mengatakan jika Sherina hanya mencari perhatian kedua pria yang menjadi idol disekolah itu.


"Kuping gue panas." Ucap Sherin yang membuat kedua laki-laki yang berjalan disampingnya ini menoleh.


"Diemin aja Sher,mereka cuma iri." Kata Zidan yang seakan tau apa maksud Sherin barusan.


"Satria,Zidan!!." Teriakan yang lebih seperti bentakan membuat Ketiga orang,khususnya Satria dan Zidan berhenti dan melihat kearah seseorang yang tadi memanggilnya.

__ADS_1


"Rafka?." Ujar kedua laki-laki disebelah Sherin bersamaan.Didepan mereka kini berdiri sosok pria yang menatap tajam mereka berdua.


"Heh lu pada dipanggil tuh sama pak Bos,kenapa malah bengong.Sana samperin!." Ujar Sherina mengambil alih sebagian buku yang Satria pegang.


"Nggak usah disamperin juga dia dateng sendiri." Gumam Zidan yang masih bisa didengar oleh gadis itu.


Saat akan pergi,Sherin dikejutkan dengan Rafka yang sudah berada didepannya,karena tadi ia memalingkan kepalanya.


"Lu nggak papa?." Tanya Rafka yang membuat Sherin kebingungan.


"Gue kenapa-kenapa." Jawab Sherin memasang wajah sedih.Diluar dugaan gadis itu,ternyata Rafka menjadi panik.


"Apa yang sakit?,bilang sama gue." Ucap pria itu masih menatap lekat Sherin.


"Mata gue sakit ngeliat lu.Sana minggir." Sherin sengaja menabrak bahu kekar milik Rafka agar menyingkir dari hadapannya.Gadis itu tak ingin terus-terusan terlibat dengan pria itu.


Saat diperjalan kembali ke kelasnya,Sherin tak sengaja bertatapan dengan gadis yang tadi sempat ditemuinya ditoilet.


"Permainan akan segera dimulai." Bisik Diana tepat ditelinga Sherin.


.........


"Bye." Sherin melambai pada Maudy yang sudah mengendarai jauh motornya.Kini tinggal dirinya dan beberapa murid lain yang masih tersisa.


Saat berangkat tadi,Ferdy selaku ayahnya mengatakan jika ia akan menjemputnya.Namun sampai saat ini ayahnya itu belum sampai disekolah.


Ketika hendak mengeluarkan ponsel yang ia letakkan didalam tas,sebuah tangan membekap mulutnya dan tubuhnya tertarik kebelakang.Tak ada yang tau kejadian itu,sebab Sherin berada dimeja resepsionis yang tak ada satu orang pun disana.


Ternyata gadis itu dibawa ketoilet yang didalamnya sudah ada Diana dengan seringai diwajahnya.


"Halo Sherina." Sherin yang mulutnya masih dibekap tak bisa berkata apa-apa.Sampai pada akhirnya Diana meminta orang yang membekap mulutnya itu  melepaskan bekapannya.


"Gila,lu ceb*k nggak cuci tangan ya?." Ujar Sherin setelah tangan itu terlepas dari mulutnya.Sedangkan gadis yang membekap Sherin tadi memandang kesal kearahnya.

__ADS_1


"Sherina!." Panggilan itu membuat Sherina menoleh.Dilihatnya Diana dan satu orang lagi yang kini menatapnya dengan pandangan yang sama.


"Maksud lu apa bawa-bawa gue kesini?.Mau labrak gue?,nyari tempatnya yang bagusan dikit kenapa?,toilet dipake buat ngelabrak,nggak aesthetic banget."


Sherin mencoba melawan rasa takutnya.Bagaimana tidak,tiga lawan satu sudah bisa dipastikan siapa yang akan K.O terlebih dahulu.


"Nggak usah kebanyakan mulut." Ujar gadis yang berdiri disamping Diana.


"Heh,buta lu mata lu?.Mulut gue cuma satu ." Tegas Sherin yang membuat gadis itu mendorong kesal kearahnya.Hal itu tak berlangsung lama karena Diana menghentikan aksi dari gadis yang Sherin duga adalah sahabat Diana.


"Gue udah bilang kan sama lu.Gue bakalan rebut lagi perhatian Rafka." Sherin mendengus sebal mendengarnya.Rafka lagi,Rafka lagi.Suga BTS nya kapan?."


"Aduh Di,gini ya.." ucapan Sherin terpotong akibat Diana.


"Jangan manggil gue gitu,harus yang lengkap!!."


"Dih ogah amat,lu siape?." Sherin hendak meninggalkan ketiga gadis itu,namun tak jadi karena Diana kembali menyeretnya lebih dalam ketoilet.


"Heh,apaan sih?." Sherin memandang tak terima kearah Diana.Namun yang menjadi fokusnya saat ini bukan gadis itu,melainkan teman Diana yang satu lagi sudah tak ada disekitarnya.Ada yang tidak beres.


Dilihatnya Diana yang mengacak-acak sendiri rambutnya,disusul guyuran air dari gayung yang entah kapan sudah  diambilnya,serta tangan yang menampar wajahnya sendiri.


"Sherin aku tau kamu benci sama aku,tapi nggak gini caranya." Sherin terkejut melihat Diana yang tiba-tiba menangis sembari memegang pipi yang belum lama gadis itu tampar sendiri.


Saat hendak mengatakan sesuatu,pintu toilet yang sedari tadi ditutup kini terbuka lebar,menampilkan Rafka dan dua kurcacinya,Zidan dan Satria.


Akhirnya Sherin paham.Diana sengaja meminta kawannya untuk membawa dirinya ketempat ini,lalu gadis itu merubah penampilannya seakan-akan ia tengan dibully.Dan satu lagi yang menjadi membuat Sherin curiga.Salah satu teman Diana yang awalnya berada didalam toilet,kini sudah berdiri diantara ketiga laki-laki yang tengah menatap nyalang padanya,terutama Rafka.


"Ada apa ini?." Tanya Zidan melihat situasi dihadapannya.


Sherin hanya bisa diam saat teman-teman Diana mengatakan,jika dirinya yang melakukan itu semua.Dan tanpa mereka sadari,sesuatu telah merekam perbuatan mereka sejak awal.


...Tbc...

__ADS_1


__ADS_2