
"Sherina." Panggilan itu membuat Sherin yang tengah berbaring santai diatas kasur mengangkat kepalanya tanpa merubah posisi tubuhnya.Matanya berbinar melihat siapa yang datang.
"Mama." Sherin mendadak bangkit dan langsung memeluk wanita yang dirindukannya.
"Kangen." Gumam Sherin masih memeluk ibunya itu.Dibalik pelukannya,Zea tersenyum senang.Putrinya benar-benar berubah.
"Mama juga kangen sama kamu.Padahal cuma sehari ya kita nggak ketemu." Zea melepaskan dekapannya mengelus kepala Sherin yang ternyata melebihi tinggi badannya.
"Gimana kabar kakek sama nenek,mereka sehat kan?."
Tepatnya kemarin,ibu dan ayahnya itu pergi mengunjungi kakek dan neneknya.Sebenarnya Sherin ingin sekali ikut dengan mereka,hanya saja,tugas sekolahnya yang menumpuk,membuat Sherin harus tetap berada dirumah.
"Kabar mereka baik kok.Kakek sama nenek nanyain kamu terus." Jawab Zea yang membuat Sherin melepas pelukannya dengan wanita itu.
"Tuh kan,aku kemarin mau ikut aja nggak boleh." Zea tertawa melihat putrinya merajuk.Kemarin dia dan suaminya memang melarang Sherin untuk ikut bersama mereka,karena anak gadisnya itu harus mengurus tugas sekolahnya.
"Ya udah,nanti kalo ada waktu kita kesana ya." Meskipun merajuk,Sherin tetap menganggukkan kepalanya.
"Sherina." Ibu dan anak itu menoleh kearah asal suara.Dilihatnya Ferdy yang berjalan mendekat,namun yang menjadi fokus Sherin saat ini adalah raut wajah ayahnya yang terlihat,marah?.
"Papa." Sherin berganti memeluk ayahnya itu.Berbeda dari Zea yang membalas pelukannya,Ferdy sama sekali tak bergerak sedikit pun.Sherin berpikir apakah ayahnya ini mempunyai masalah,tapi kenapa pria paruh baya ini berbeda dari biasanya.
Namun pikiran itu segera ditepisnya ketika Ferdy kini membalas pelukannya,bahkan lebih erat.
"Jujur sama papa Sherin." Sherin yang tadinya memejamkan mata,mendadak membukanya lebar saat ayahnya mengucapkan hal itu.
Sherin perlahan melepas pelukannya,menatap bingung pada pria paruh baya itu."M-maksud papa apa?,Jujur soal apa?." Tanya Sherin yang mendadak gugup.
Ferdy menghela napasnya.Tangannya terulur memegang kedua bahu kecil putrinya."Papa tau masalah kamu." Sherin menatap ayahnya terkejut.
"P-papa tau masalah Sherin?." Ferdy mengangguk membuat Sherin lesu.
Ia tidak mengharapkan hal ini.Ia tak ingin orangtuanya tau tentang masalahnya.Karena jika itu terjadi,dia tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutan Diana disekolah itu.
"Papa udah bilang kan sama kamu,kalo kamu ada masalah,cerita sama papa atau sama mama.Jangan mendam semuanya Sherina."
"Sebelumnya Sherin mau minta maaf,karena Sherin nggak bisa terbuka tentang apa yang Sherin alamin sama kalian,sherin cuma nggak mau masalah kecil doang,mama sama papa sampai terlibat.Sherin udah dewasa,Sherin yakin bisa ngatasin semua ini sendiri."
"Kami tau sayang,tapi ada baiknya kalau kamu cerita tentang masalah kamu ke mama sama papa.Mama sama papa berhak tau apa yang terjadi sama kamu." Zea yang sedari tadi hanya memperhatikan anak dan suaminya itu pun ikut bicara.
__ADS_1
"Sherin cuma nggak mau kalian terbebani karena masalah ini.Sherin nggak mau nyusahin kalian." Saat Sherin mengatakan hal itu,sebuah pelukan yang begitu nyaman ia rasakan dari kedua orang tuanya.
"Hanya orang tua bodoh yang menganggap anaknya sebagai beban." Ferdy berujar pelan sembari mengusap surai hitam putrinya."Kamu nggak nyusahin mama sama papa sayang,buktinya kamu mau nyelesain masalah kamu sendiri tanpa campur tangan kita." Ucap Zea yang diangguki oleh suaminya.
Sherin bersyukur,Sherina memiliki orangtua yang menyayanginya,seperti yang ia tuliskan didalam cerita novel miliknya.
Setelah beberapa menit,pelukan itu terlepas,Sherin menunjukkan senyum terbaiknya pada suami istri yang telah menjadi orangtuanya.
"Makasih ma,pa.Sherin sayang kalian."
"Kami juga." Jawab Zea dan Ferdy kompak.Mereka pun tertawa bersama melupakan sejenak tentang masalah yang beberapa waktu lalu mereka bahas.
.........
Hari ini Sherin datang ke sekolah seperti biasa,diantar oleh papanya.Dan seperti sudah menjadi kebiasaan,Rafka,Maudy,Satria dan Zidan menunggu dirinya diparkiran.
"Lain kali langsung masuk kelas aja,kan bisa ketemuannya dikelas,nggak usah nungguin gue disini." Ujar Sherin menatap keempat temannya.
"Kalo di kelas,gue yang nggak bisa ketemu sama lu." Protes Rafka yang hanya diacuhkan oleh Sherin,karena gadis itu kini sudah pergi terlebih dahulu bersama sahabatnya,Maudy.
"Yang sabar ya bro." Ucap Satria dan Zidan bersamaan.Dua laki-laki itu memang selalu kompak dalam hal apapun.
Rafka hanya mengabaikan dua sahabatnya itu dan memilih untuk menyusul Sherin yang sudah berjalan jauh meninggalkan area parkir.
.........
"Emang tadi nggak sarapan?." Tanya Sherin dan kembali fokus pada buku tulisnya.
"Nggak sempet gue." Maudy semakin mengeluh.Ia meletakkan kepalanya diatas meja,membuat rambutnya yang tergerai menutupi sebagian dari buku tulis Sherin.
"Rambut lu Mau!!,gue potong nih!." Ancam Sherin yang memang tidak suka digganggu jika ia tengah fokus mengerjakan sesuatu.
"Gue manjangin nih rambut dari orok,lu main potong-potong aja." Karena ancaman dari Sherin,Maudy segera mengikat rambutnya.
Sherin hanya mengedikan bahunya dan kembali fokus untuk mengerjakan soal yang tinggal beberapa nomor lagi.
Saat gadis itu tengah fokus-fokusnya,suara dari speaker didekat kelas berbunyi membuat kelas Sherin yang tadinya cukup ramai terdiam seketika.
"Untuk siswi yang bernama Sherina Zedy,ditunggu kehadirannya diruang kepala sekolah sekarang."
__ADS_1
Sherin yang mendengar namanya disebut mengernyit bingung.Ada urusan apa sampai dia harus datang kesana.
"Kenapa nggak pas istirahat aja sih." Gumam Sherin namun tetap bangkit dari duduknya dan meminta izin pada guru yang mengajar dikelasnya saat ini.
Setelah mendapat izin gadis itu pun segera melangkahkan kakinya keluar dari kelas dan pergi menuju ruang kepala sekolah.Entah kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.Hatinya terus membisikkan padanya untuk menyiapkan mental.
Setelah beberapa menit,akhirnya Sherin sampai didepan ruang kepala sekolah.Ada sedikit keraguan dalam dirinya,namun ia berusaha tenang dan berharap semua akan baik-baik saja.
Ditariknya napas panjang,dan ia pun mulai mengetuk pintu ruangan itu.Setelah mendapat izin,Sherin pun memasuki ruangan.
"Permisi pak." Ucap Sherin sopan.Ternyata firasat buruk yang ia rasakan tadi benar adanya.Disana sudah ada Diana yang tengah menangis sesegukan serta dua orang lainnya yang ia duga mereka adalah orangtua dari gadis itu.
"Kamu sudah datang Sherina." Sherin mengangguk sopan,ia berjalan mendekat,sedikit mengambil jarak dari gadis penuh drama yang berdiri disampingnya.
"Ada keperluan apa bapak memanggil saya?." Tanya Sherin menatap lurus pada pria paruh baya yang mungkin masih seusia dengan ayahnya.
Namun bukan jawaban dari kepala sekolah yang ia dapatkan,melainkan makian dari wanita yang berdiri tepat dibelakang Diana.
"Heh,kamu yang udah bully anak saya kan?!." Ucap wanita yang tak lain adalah ibu Diana.
"Ibu Sarah,tenang dulu."
"Saya nggak bisa tenang pak,dia udah kurang ajar.Orang kaya dia pasti nggak dapet didikan yang benar dari orangtuanya." Sherin yang mendengar wanita itu menyebut orangtuanya,menatap tajam kearahnya.Ia tidak terima orangtuanya dihina.
"Jangan bawa-bawa orangtua saya.Lagi pula apa ibu punya bukti jika saya yang melakukan hal itu pada Diana?." Sherin berusaha tenang meskipun dalam hatinya,ia ingin sekali menampar wanita itu.
"Anak saya sendiri yang bilang ke saya kalau kamu yang udah bully dia." Ternyata Diana benar-benar mengabaikan ucapannya.Ia tidak hanya menyebarkan rumor palsu pada anak-anak sekolah Gemilang,tapi gadis itu juga mengatakan hal tak berdasar pada orangtuanya.
Sherin melirik Diana yang kini menampilkan seringaian setan diwajahnya,tentu saja hanya Sherin yang tau akan hal itu.Sherin menghembuskan napas panjangnya.
"Sebagai orangtua memang harus mendukung apa yang anaknya lakukan.Tapi tidak semua yang anak lakukan mendapat dukungan dari orangtua." Semua orang didalam ruangan itu diam,tidak ada satu oun dari mereka yang berbicara setelah Sherin berkata demikian.
"Jika anak melakukan kesalahan pasti orangtua akan menegurnya.Tapi tidak dengan kalian.Kalian malah membelanya,bahkan percaya dengan rumor palsu yang Diana katakan.Seharusnya kalian mencari tau kebenarannya terlebih dahulu sebelum berkoar-koar dengan menuduh seseorang yang jelas-jelas menjadi korban sesungguhnya." Ucap Sherin panjang lebar.Diana menatap Sherin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kamu menganggap dirimu sebagai korban?."
"Dari pada menyebut dirinya sebagai korban,padahal dia sendiri pelaku yang sebenarnya." Dari yang terlihat oleh mata Sherin,Diana kini menatap penuh benci padanya.Disaat keadaan sedang tegang-tegangnya.Sebuah suara yang terdengar familiar memasuki ruangan.Membuat Sherin tak bisa menahan keterkejutannya.
"Ada apa ini?." Sherin menoleh cepat pada pria paruh baya yang baru saja datang.
__ADS_1
"Papa."
...Tbc...