
Malam telah berganti menjadi pagi.Dan hari ini sekolah kembali dimulai.Upacara bendera yang dilaksanakan setiap hari senin,harus ditiadakan untuk hari ini katena hujan turun cukup lebat.
"Tau gitu bawa jaket gue." Gumam Sherin sembari memeluk dirinya sendiri.
Biasanya gadis itu akan tahan walaupun cuaca dingin,namun hari ini berbeda.Sherin merasa kedinginan,ia pikir karena hujan yang turun dipagi hari,jadi hawanya lebih terasa dingin.
"Nih." Sherin hampir saja mengumpati gadis yang baru saja datang.
"Hoodie siapa nih?,asal ngasih ke gue aja lu." Ujar Sherin meneliti hoodie berwarna hitam dengan ukuran cukup besar.
"Anak curut nitipin itu ke gue.Katanya suruh kasih ke lu." Jawab Maudy setelah mendudukkan dirinya dibangkunya.
"Rafka?."
"Iyalah siapa lagi." Ketus Maudy.Setelah mendapat jawaban dari sahabatnya itu Sherin bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana lu?." Sherin berhenti saat tangan Maudy mencegahnya.
"Mau balikin ini." Sherin kembali melanjutkan tujuannya untuk mengembalikan benda milik Rafka mengabaikan Maudy yang kini meneriakinya.
Kelas Rafka dan Sherin tak begitu jauh,jadi jika bel masuk,Sherin tidak terlalu buru-buru untuk kembi kedalam kelasnya.
"Zidaan!!." Teriak Sherin saat kebetulan melihat seseorang yang baru saja dipanggilnya keluar dari kelas.Biasanya laki-laki itu selalu menempel dengan Rafka,tapi kenapa sekarang dia akan pergi sendiri.
"Iya ibu,ada yang bisa saya bantu?." Tanya Zidan dengan nada yang ia buat-buat.
"Oh ada om." Jawab Sherin berganti meledek Zidan yang tadi memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Nggak jelas emang." Zidan yang kesal membuat Sherin tertawa melihatnya.Sherin dan Zidan sama-sama mendekat.
"Ada apaan Sher?,tumben ke kelas gue,setelah sekian lama." Dari nada bicaranya,Zidan seperti meledek dirinya.Mengingatkan kejadian Sherina dulu.
"Gue cuma mau nitip ini,kasihin ke Rafka." Sherin menyerahkan hoodie yang tadi Maudy berikan padanya.
"Lah ini bukannya Rafka kasih ke Maudy buat dikasih lagi ke lu,kok dibalikin?."
"Iya,tadi Maudy ngasih ini ke gue,katanya dari Rafka.Gue balikin karena gue nggak butuh,Rafka yang lebih butuh itu." Jelas Sherin pada Zidan.
__ADS_1
"SHERIN!!." Teriakan itu membuat Zidan Dan Sherin terkejut dan langsung menatap horot kearah Maudy yang kini malah menampilkan deretan giginya.
"Ngapain sih lu teriak-teriak?,Dikira orang nggak punya kuping apa ya." Kesal Zidan sembari mengusap kedua telinganya.Sedangkan Sherin hanya menatap malas pada gadis yang berdiri disampingnya ini.
"Iya maaf." Maudy bergelayut ditangan Sherin dengan wajah yang ia tekuk.Kebiasaan Maudy jika dimarahi memang seperti itu aslinya.
"Ya udah deh itu aja yang mau gue bilang.Gue balik kelas dulu ya."
"Nggak mau ketemu sama..." Ucapan Zidan terpotong saat seseorang yang akan ia sebut namanya tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka.
"Sherin." Rafka yang tak disadari kedatangannya oleh ketiga orang itu merentangkan tangannya berniat untuk memeluk Sherin yang masih digelayuti oleh Maudy.
"Inget!!." Ujar Sherin menunjuk Rafka.Laki-laki itu seketika berhenti dan memanyunkan bibirnya.
"Jangan gitu Raf,mendadak mual gue sumpah." Tautan tangan Maudy pada lengan Sherin terlepas kala melihat ekspresi Rafka yang membuatnya merasa geli.
"Gue balik ke kelas dulu ya."
"Siap,nanti istirahat kita meet dikantin." Sherin dan Maudy mengangguk setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan Satria yang menenangkan Rafka yang merengek karena tidak bisa memeluk Sherin.
.........
"Gimana dah,syarat yang semalem itu udah nggak berlaku?." Tanya Zidan.
"Berlaku bagi gue tapi nggak buat dia." Jawab Sherin melirik kearah Rafka yang kini tengah menyimak sembari mengecupi punggung tangannya.Pada awalnya Sherin berontak atas tindakan Rafka,namun ia jadi lelah sendiri menghadapi laki-laki itu.
"Rafka gila ya,diciumin mulu kebas tangan gue." Sherin berusaha menarik tangan yang digenggam oleh Rafka.Tapi laki-laki itu enggan melepaskannya.
"Jadi bucin dia." Cibir Satria yang disetujui oleh Maudy dan Zidan.
"Sherin dingin." Seakan mengabaikan cibiran dari teman-temannya,Rafka malah bersikap manja pada Sherin yang sudah merasa kesal dengan sikapnya itu.
"Mau yang panas?.Sini gue bakar." Ancam Sherin yang membuat Rafka merengut lalu meletakkan kepalanya dibahu gadis itu.
Tak lama,bel pertanda masuk pun berbunyi.Dengan masih bergelayut manja pada Sherin,Rafka berjalan untuk kembali ke kelas.Dan saat sampai dikelas Sherin,Rafka harus berdrama yang membuat Zidan dan Satria mau tidak mau menarik Rafka agar berpisah dengan gadis itu.
..........
__ADS_1
Sesuai janji ayahnya semalam.Ferdy mengajak Sherin untuk pergi memborong jajanan kesukaan putrinya itu.
"Beli yang lain juga,sekalian buat stock cemilan dirumah." Ujarr Ferdy yang disetujui anak semata wayangnya.
"Pa,kok mama nggak diajak sih?,kan seru kalo bertiga."
"Mama katanya ada janji sama temen sekolahnya.Tadi sebelum kesekolahan kamu,papa nganterin mama dulu." Jawab Ferdy sembari mendorong troly.
Sherin hanya mengangguk.Zea dan Ferdy memang jauh dari rumor perselingkuhan atau apalah itu.Karena memang Zea adalah cinta pertama bagi Ferdy,dan begitu juga sebaliknya.Itu sebabnya hubungan mereka langgeng sampai sekarang Sherin tumbuh dewasa.
"Loh Sherin?." Suara itu membuat Sherin dan Ferdy menoleh.
"Diana." Entah sengaja atau tidak,kedua gadis itu berpelukan.Sejak kejadian hari itu,Sherin tak pernah lagi bertemu dengan Diana.
"Lu sendiri?." tanya Sherin memastikan tidak ada siapa pun yang datang dengan gadis ini ketempat itu.
Diana hanya tersenyum malu-malu membuat Sherin menatap aneh kearahnya lalu beralih menatap ayahnya yang hanya mengedikan bahu.
"Papa kekasir dulu ya buat bayar ini,nanti kamu tunggu diluar aja."
"Oke pa." Setelah itu Ferdy pun pergi meninggalkan Sherin dengan Diana yang sepertinya masih ingin berbincang.
"Gue kesini sama cowok gue." Bisik Diana yang membuat Sherin tak percaya.
"Serius lu?." Diana mengangguk,lalu gadis itu menunjuk kearah,seorang laki-laki berhoodie hitam yang kini berjalan kearah mereka berdua.
"Maaf ya lama,ada masalah sedikit tadi pas ditoilet." Sherin melihat interaksi antara keduanya.Gadis itu akui mereka sangat cocok.
"Oh iya Fan,ini temen aku pas disekolah yang dulu.Sher kenalin ini Refan,dan Refan kenalin ini Sherina."
Laki-laki bernama Refan itu mengulurkan tangannya terlebih dahulu dan tak lama Sherin pun menerima uluran tangan itu.
"Oh iya Diana,sorry nggak bisa lama-lama ngobrolnya.Gue harus pergi." Ujar Sherin teringat dengan pesan sang ayah.
"Iya Sher nggak papa kok,mungkin lain kali kita bisa meet bareng lagi." Ujar Diana yang diangguki oleh kekasihnya.
"Pasti,ya udah kalo gitu gue pergi dulu ya.Bye." Sherin dan Diana sama-sama melambaikan tangan.Akhirnya,kedua gadis itu berpisah dengan Sherin yang menyusul ayahnya sedangkan Diana melanjutkan acara kencannya dengan Refan.
__ADS_1
...Tbc...