
Bara masih belum bisa menerima apa yang terjadi antar Kyara dengan pria yang bernama Saga itu. Hari pria itu sangat panas sekali karena mengingat hal itu, Bara merasa sangat kesal karena Kyara berani mengagumi pria lain setelah apa yang sudah terjadi antara keduanya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Kyara adalah milikku, dan selamanya akan menjadi milikku," gumam Bara seraya meminum alkohol ditangannya.
Saat ini Bara sedang berada disebuah club' karena ingin menenangkan dirinya. Berada dirumah benar-benar membuatnya muak sekali. Mungkin ia akan pulang setelah hatinya benar-benar tenang nanti.
*****
Sementara itu di rumah, Rania terlihat mondar-mandir cemas di ruang tamu rumahnya. Sudah jam 1 malam tapi Bara sama sekali belum pulang. Rania sangat khawatir jika akan terjadi sesuatu kepada suaminya itu.
"Kak Nia? Kakak belum tidur?" Terdengar suara Kyara yang baru saja turun dari kamarnya. Wanita itu sedang ingin mengambil minum, tapi ia heran saat melihat Kakaknya belum tidur dan masih berdiri diruang tamu.
"Kya, aku tidak bisa tidur. Bara belum pulang," ujar Rania tidak menyembunyikan wajah cemasnya.
"Bara belum pulang?" tanya Kyara sedikit kaget, pantaslah sejak tadi Bara tidak mengganggunya, pria itu ternyata tidak ada dirumah.
"Belum Kya, aku sudah mencoba menghubunginya, tapi nomornya tidak aktif. Ini sudah sangat malam, kemana dia?" ucap Rania lagi.
"Kak Nia jangan terlalu mengkhawatirkannya, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Aku yakin dia pasti baik-baik saja," kata Kyara, bahkan ia tidak percaya kalau ada orang yang berani mencelakai Bara, mungkin malah pria itu yang akan mencelakai orang lain. Mengingat bagaimana perangai Bara yang sangat kejam itu.
"Tapi aku tidak bisa tenang Kya," ucap Rania lagi.
"Percayalah padaku Kak, sebaiknya Kak Nia sekarang tidur saja. Sebentar lagi Bara pasti pulang, dia tidak mungkin membiarkan istrinya mencemaskannya di rumah," ucap Kyara, mencoba membujuk Kakaknya sekali lagi, ia tidak mau melihat Kakaknya itu menyiksa dirinya dengan menunggu pria brengsek seperti Bara.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya Kya? Aku tidak akan tidur sebelum Bara pulang," ujar Rania dengan keras kepala.
Kyara menghela nafas panjang, tidak ada gunanya juga memberitahu Kakaknya, wanita itu sudah terlampau mencintai Bara, jadi sudah sewajarnya Rania mengkhawatirkannya, apalagi Bara adalah suaminya.
"Terserah Kakak saja," ujar Kyara sambil lalu, ia langsung saja pergi ke dapur untuk mengambil minum dan kembali ke kamarnya. Lebih baik ia istirahat karena sepertinya malam ini Bara tidak akan pulang dan yang pasti tidak akan mengajaknya bercocok tanam lagi.
*****
__ADS_1
Bara pulang saat hari sudah sangat larut, sepertinya waktu menunjukkan pukul 3 pagi, mengingat hawa dingin yang begitu menusuk saat ia turun dari mobilnya bersama Alex. Bara sendiri langsung masuk kedalam rumah, sesaat ketika sampai di ruang tamu, ia melihat Rania yang tertidur di sofa.
"Untuk apa wanita bo doh ini tidur disini, sungguh membosankan," gerutu Bara kesal sendiri, ia mengabaikan Rania dan lebih memilih pergi ke kamar Adik iparnya.
Dalam otak Bara saat ini hanya ingin menemui Adik iparnya itu dan ingin memeluknya sangat erat, tentu saja yang paling penting untuk berbagi kehangatan bersama. Bagi Bara tiada hari tanpa seorang wanita, tapi sekarang ia hanya butuh satu wanita, yaitu Kyara.
"Kyara ...," panggil Bara begitu masuk kedalam kamar Kyara melalui pintu rahasia miliknya.
"Bara?" Kyara terkejut saat Bara datang ke kamarnya, sejak tadi ia memang belum tidur karena belum bisa. Padahal tadinya ia ingin tidur nyenyak ketika Bara tidak pulang.
Bara tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Ia lalu berjalan sempoyongan mendekati Kyara yang hanya bisa berdiri mematung. Ia tahu seharusnya ia pergi, tapi kakinya mendadak tidak bisa digerakkan.
"Wanita pembangkang, kenapa kau belum tidur? Kau menungguku?" ujar Bara melantur, khas orang mabuk.
"Tidak, kenapa kau datang kesini? Apa Kak Rania tahu? Sejak tadi dia menunggumu," kata Kyara, menahan dada Bara yang tiba-tiba ingin menciumnya.
"Oh, Kakakmu yang bo doh itu? Biarkan saja, aku hanya menginginkanmu Sayang," ucap Bara menepis pelan tangan Kyara, ia dengan cepat langsung mendorong wanita itu ke ranjang. Sudah tidak sabar lagi ingin merasakan manis dan legitnya tubuh adik iparnya itu.
Kyara terdiam, ia tidak berontak seperti biasanya dan malah menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bahkan jika aku menolak pun kau akan tetap memaksaku 'kan? Untuk apalagi aku harus melawan? Toh, hasilnya sama saja," ujar Kyara dengan wajah biasa saja, tapi tidak dengan tatapannya yang begitu sendu.
Bara tertegun, baru kali ini ia merasa seperti tertampar oleh ucapan Kyara. Namun, sesaat kemudian ia teringat akan keinginannya mendapatkan wanita itu seutuhnya.
"Jauhi pria tadi," kata Bara tiba-tiba.
"Kau tidak berhak mengaturku, kau mungkin bisa memiliki tubuhku Bara, tapi tidak dengan jiwaku. Kau akan tetap menjadi pria antagonis yang akan aku benci seumur hidupku," ucap Kyara dengan tatapan yang sangat tajam, bahkan sampai membuat Bara terkejut, karena Kyara satu-satunya wanita yang berani melakukan hal itu.
"Dan apa kau pikir aku akan peduli?" Setelah mengatakan hal itu, Bara langsung saja me lu mat bibir Kyara dengan penuh nafsu. Tangannya bergerak sangat liar dan bergerak tidak sabar untuk menyentuh setiap jengkal tubuh Kyara.
Semakin Kyara menolaknya, semakin kuat Bara ingin menaklukkannya. Dan Bara merasa satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah memaksa Kyara untuk menerima kehadirannya, setelah ini Bara yakin, jika Kyara tidak akan melupakannya dengan mudah.
__ADS_1
******
Keesokan harinya, terjadi keheningan di meja makan kediaman rumah Bara. Pria itu sendiri menjawab sangat dingin ketika istrinya bertanya. Padahal Rania terlihat sangat mencemaskan karena tidak melihat suaminya sejak semalam.
"Apa kau sekarang sudah buta? Aku duduk di depanmu dan baik-baik saja, kenapa kau terus mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali!" bentak Bara sangat muak sekali karena sejak tadi Rania menanyakan apakah dia baik-baik saja. Moodnya yang sudah jelek semakin jelek karena hal itu.
"Bara aku ..." Rania mengigit bibirnya, air matanya perlahan membasahi wajahnya yang cantik karena dibentak seperti itu oleh suaminya.
Kyara sendiri terkejut mendengar suara Bara, ia menatap pria itu sangat tajam. "Kau itu sama sekali tidak bermoral, Kak Rania menanyakannya karena dia khawatir padamu. Tidak bisakah kau menghargainya sedikit saja?" sergah Kyara sangat geram, tidak terima Kakaknya di perlakukan kasar seperti itu oleh Bara.
Bara mengertakkan giginya erat, ia menghempaskan sendok dan garpunya begitu saja. Semakin kesal karena sikap Kyara yang berani melawannya seperti itu.
"Kya, sudah," ucap Rania menatap Adiknya, ia menggelengkan kepalanya meminta Adiknya untuk tidak ikut campur.
"Tidak bisa Kak, pria ini sangat keterlaluan. Jika memang tidak suka, setidaknya jangan pernah menyakitimu Kak. Aku heran kenapa Ayah bisa menjodohkan Kakak dengan pria ini," ucap Kyara tidak peduli apapun, melupakan segala kekesalannya yang terpendam selama ini.
"Kalau Kakakmu tidak suka, dia boleh menceraikanku," kata Bara menatap Kyara sangat tajam.
"Jangan Bara, tolong jangan katakan itu. Aku tidak mau membuat orang tuaku sedih," ucap Rania langsung menyela sebelum Kyara sempat berbicara.
Mendengar ucapan Kakaknya, Kyara sangat syok, ia balas menatap Bara dengan sengit dan dibalas senyum puas oleh pria itu. Seolah mengatakan pada Kyara kalau dirinya akan selalu menang mau sekuat apapun Kyara berusaha membuat orang membencinya.
Hal itu tentu saja membuat kebenciannya terhadap Bara bukannya berkurang justru semakin bertambah berkali lipat. Sialnya, Kakaknya sudah terlalu mencintai Bara sampai apapun yang dilakukan oleh pria itu adalah kebenaran.
Tanpa mengucapkan apapun, Kyara segera pergi meninggalkan rumah neraka itu. Lebih baik ia pergi ke kampus daripada menghabiskan waktu yang tidak berguna.
Namun, sesampainya di kampus, Kyara justru dikejutkan dengan berita yang membuat jantungnya seperti berhenti mendadak.
"Saga masuk rumah sakit, kayaknya habis di gebukin orang. Papanya juga di pecat secara tiba-tiba dari Universitas tempatnya mengajar. Sekarang lagi butuh banyak dana, soalnya Saga harus dioperasi."
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.