Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Tes Kehamilan.


__ADS_3

Karena Bara terus meyakinkan Kyara akan cintanya itu dan juga dengan cinta yang Kyara miliki, pada akhirnya Kyara pun mengikuti Bara untuk pulang ke rumah. Ia membatalkan niatnya untuk pergi ke luar negeri karena Bara telah meyakinkan jika pria tersebut bisa terus bersama dengannya.


Meskipun Kyara tahu ini sangatlah salah dan pastinya lebih menyakitkan lagi bagi Rania, tetapi bukankah ia juga berhak bahagia bersama dengan orang yang dicintainya?


Bara pun membawa Kyara ke sebuah apartemen miliknya, karena tidak mungkin ia membawa wanita yang dicintainya itu untuk tinggal bersama dengan Rania yang sudah pasti akan sangat memancing amarah istrinya tersebut dan pastinya Kyara lah yang akan menjadi sasaran emosinya.


Bara berniat akan menyembunyikan Kyara sampai nanti hubungannya dengan Rania berakhir. Ia berniat akan menggugat cerai Rania, terlebih lagi saat ini Rania sedang hamil meskipun Bara belum tahu kebenarannya. Tetapi meskipun itu benar sudah jelas Rania bukan hamil anaknya melainkan anak Steven yang memang malam itu tidur bersama dengannya.


"Bara, kenapa kau membawaku ke sini? Apa kau yakin ini tidak akan menjadi masalah?" Tanya Kyara saat mereka sudah tiba di salah satu apartemen mewah milik Bara.


"Ini tidak akan menjadi masalah Sayang, justru ini adalah pilihan yang tepat. Jika aku membawamu pulang ke rumahku, itu yang akan menjadi masalah untuk Rania. Aku yakin kau akan aman berada di sini asalkan keluargamu tidak ada yang tahu. Aku mohon kau bersabar dulu ya, aku akan menyelesaikan urusanku dulu dengan Rania agar nantinya kita bisa bersama," ucap Bara yang meyakinkan Kyara.


Kyara benar-benar tersentuh, ia tak menyangka jika Bara pria yang dikenalnya sebagai cowok arogan ternyata dia adalah pria yang baik dan mampu membuatnya jatuh cinta.


"Iya Bara, aku akan menunggumu," jawab Kyara lirih diiringi anggukan kepalanya. Ia sudah siap dibenci oleh keluarganya dengan pilihannya saat ini, toh apa bedanya ia pergi ke luar negeri pun mereka juga tetap membencinya.


"Ya sudah kalau begitu kau tunggu saja aku di sini. Jangan keluar dari apartemen atau membukakan pintu untuk siapapun, karena jika aku yang pulang pun aku bisa langsung masuk ke dalam apartemen ini. Dan 1 lagi seluruh keperluanmu juga sudah aku siapkan, jika kau lapar kau bisa memasak makanan instan yang ada di dalam kulkas terlebih dulu. Nanti aku akan pulang membawa makanan untukmu. Sekarang aku harus pergi, aku masih ada urusan dengan Rania," ucap Bara yang memegang pundak Kyara dengan lembut, lalu mencium keningnya dengan mesra.


Kyara mengangguk dan merasa sangat senang mendapatkan perlakuan yang begitu romantis dari Bara yang telah mampu membuatnya terasa ingin terbang melayang ke udara.


Setelah Kyara masuk ke dalam kamar yang sudah ditunjukkan oleh Bara, kini Bara pun pergi meninggalkan apartemen untuk menemui wanita yang masih sah menjadi istrinya itu, mereka sudah berjanji akan bertemu di salah satu rumah sakit.


*****


Bara ternyata tidak punya celah untuk mengelak lagi, pasalnya Rania sudah memberitahu semua keluarganya termasuk Kakek Hardi tentang kehamilannya. Tujuannya tentu saja ingin mencari dukungan dari mereka semua, agar Bara tidak lagi memikirkan Kyara.


"Jangan jadi pengecut kau Bara, setelah menghamili kedua putriku, sekarang kau justru ingin lari dari tanggung jawab?" Nugraha begitu murka sekali, setelah kabar yang sangat mengejutkan ini.


"Aku memang yang menghamili Kyara, tapi tidak dengan Rania. Aku bersumpah jika sampai sejauh ini aku tidak pernah menyentuh putrimu," bantah Bara begitu emosi rasanya, kini ia sedang didesak oleh banyak orang.


"Kau memang sangat ba ji ngan Bara, setelah mendapatkan apa yang kau mau dari Rania, aku mau membuangnya begitu saja dan memilih bersatu dengan ja la ng itu?" hardik Sandra sama kesalnya pada menantunya itu.


"Tutup mulutmu jika menyebut nama wanitaku!" bentak Bara hampir saja menghajar wanita tua itu karena menyebut Kyara ja la ng.

__ADS_1


"Hentikan! Sebaiknya kita buktikan saja sekarang juga, jika Rania memang benar-benar hamil, aku sendiri yang akan menyuruh Bara untuk tanggung jawab." Hardi langsung menyela begitu saja sebelum perdebatan itu semakin panas. Ia juga merasa sangat pusing karena kelakukan cucunya yang bisa-bisanya menghamili dua bersaudara itu.


"Dan aku tegaskan pada Kakek, kalau aku tidak akan tanggung jawab karena itu bukan anakku." Bara menyahut tak kalah tegasnya, pun dengan tatapan matanya yang begitu tajam.


Sesuai dengan kesepakatan, saat ini Bara dan Rania pun sedang berada di ruang pemeriksaan untuk memeriksa apakah benar di saat ini Rania sedang hamil atau tidak. Rania tampak gugup, karena ia yang berpura-pura hamil tentunya hasil itu akan negatif.


Tetapi ia juga tak bisa mengelak, seandainya nanti memang terbukti ia tidak hamil pastinya Rania sudah memikirkan apa yang akan ia katakan kepada Bara, ia akan mencari 1001 alasan agar Bara tetap mempercayainya dan berada di sisinya. Terlebih lagi Rania menganggap jika saat ini Kyara sudah tidak ada di Indonesia, itu artinya Bara tidak akan mungkin bisa bersama dengan adiknya itu.


"Kenapa kau terlihat gugup sekali Rania?" Tanya Bara saat keduanya sudah berada di luar ruangan menunggu hasil laporan pemeriksaan.


"Ti-tidak, kenapa kau bisa mengatakan aku gugup," jawab Rania yang mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Dari nada bicaramu saja sudah terlihat jika kau sangat gugup," kata Bara.


"Ya aku hanya gugup karena kau akan mengetahui secara langsung dan setelah itu kau pasti akan bertanggung jawab atas anak kita Bara," ucap Rania yang memegang tangan Bara.


"Lepaskan," ucap Bara ketus sembari menyingkirkan tangan Rania dengan kasar.


"Kenapa Bara? Kau itu suamiku, kita juga sudah melakukannya, tapi kenapa kau seperti terlihat jijik denganku?" Tanya Rania.


"Maksudmu?"


Krek …


Belum sempat Bara menjawabnya, di saat itu pun terdengar suara pintu terbuka dan seorang Dokter keluar dari ruang pemeriksaan, lalu menghampiri mereka.


"Dokter, bagaimana hasilnya?" Tanya Rania kepada sang dokter.


"Lebih baik Tuan dan Nyonya ikut saya, saya akan menyampaikannya di dalam ruangan saya," ucap dokter.


Lalu Bara dan Rania pun beranjak dari tempat duduk dan mengikuti dokter masuk ke dalam ruangannya. Semua keluarga juga ikut masuk karena ingin mendengar sendiri hasil tes itu.


"Bagaimana ini? Apa Bara akan marah jika tahu yang sebenarnya? Aku benar-benar takut kehilangan Bara," batin Rania.

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya Dokter?" Tanya Bara tak ingin membuang waktunya lagi.


"Jadi begini Tuan, Nyonya, dari hasil pemeriksaan Nyonya Rania dinyatakan positif hamil. Selamat untuk Tuan dan Nyonya karena sebentar lagi akan memiliki anak pertama," ucap dokter yang membuat Rania pun begitu terkejut mendengarnya.


"Apa? Jadi aku benar-benar hamil?" Batin Rania yang tak mempercayainya. Ia pun segera saja mengambil selembar kertas yang diserahkan oleh dokter dimana tertulis jelas di atas kertas tersebut bahwa memang Rania positif hamil.


Sedangkan Bara sama sekali tak bergeming, ia benar-benar tak peduli karena tak merasa pernah menyentuh Rania, hanya Steven lah yang pernah meniduri istrinya itu dan sudah jelas anak tersebut adalah anak Steven, bukan anaknya. Jadi Steven pula yang harus bertanggung jawab. Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan tersebut, Bara dan Rania segera keluar dari ruangan dokter.


"Sekarang semuanya sudah terbukti jika Rania benar-benar hamil, mau mengelak seperti apa lagi kau!" bentak Nugraha menatap Bara begitu tajam.


"Bagaimana Bara, apa kau sudah puas sekarang? Aku benar-benar hamil dan itu artinya kau harus bertanggung jawab. Kau tidak bisa meninggalkanku Bara. Apalagi sekarang Kya sudah tidak ada lagi di kehidupan kita, wanita itu sudah pergi jauh," kata Rania ikut menimpali.


"Jawabanku sama sekali tidak berubah, aku tidak akan menikahimu, karena aku hanya mencintai Kyara," jawab Bara begitu lantang.


"Kurang ajar! Kau memang bedebah Bara!" teriak Nugraha merangsek maju, menarik kerah baju Bara dan langsung memukul pria itu dengan begitu keras.


"Papa!" teriak Rania kaget.


Belum puas hanya dengan memukul Bara, seorang Ayah yang sangat murka itu kembali menghajar Bara sampai mereka harus dipisahkan oleh Hardi.


"Hentikan ini Tuan Nugraha, kendalikan dirimu," ucap Hardi bukan bermaksud melindungi cucunya, tapi ia merasa jika bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah.


"Katakan pada cucumu ini Tuan Hardi, jika dia nekat menceraikan Rania dan lari dari tanggung jawab. Bersiap saja dia akan membusuk di penjara!" hardik Nugraha begitu marah, ia segera meninggalkan ruangan itu setelah meluapkan emosinya.


Sandra pun mengikutinya dibelakang hingga tertinggal Bara, Rania dan Kakek Hardi.


"Kita bicarakan ini di rumah," kata Hardi ikut meninggalkan Bara yang cukup babak belur itu.


Bara mendesis pelan, bibirnya terasa pedih seperti robek. Ia melirik Rania yang terlihat mengkhawatirkannya itu. Ia beranjak pergi tapi Rania dengan cepat menahan tangannya.


"Lepaskan tanganmu!"


Happy reading …

__ADS_1


TBC.


__ADS_2