
Meskipun Rania yang tidak sengaja mendorong Kyara dan menyebabkan wanita yang dicintainya seperti ini, tetapi tetap saja Bara merasa jika ia yang paling bersalah. Jika ia tidak memulainya, tentu saja semua ini tidak akan terjadi. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan perasaannya, apakah salah jika ia mencintai Kyara dan menginginkan Kyara seorang?.
Untungnya jalanan saat ini juga cukup sepi karena sudah larut malam, Bara pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai ke rumah sakit. Ia sangat takut setengah mati akan terjadi sesuatu dengan wanita yang telah berhasil membuatnya tergila-gila.
"Akh Bara, perutku sakit sekali. Aku sudah tidak kuat Bara," rintih Kyara sembari memegangi perutnya di sepanjang perjalanan. Wajahnya semakin pucat, begitu juga dengan keringat dingin yang semakin mengucur deras membasahi wajah serta tubuhnya. Membuat Bara pun merasa sangat kasihan dan semakin khawatir.
"Kau harus kuat Sayang, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit," ucap Bara sembari mengusap lembut rambut Kyara.
Setibanya di salah satu rumah sakit terdekat, segera saja Bara menggendong Kyara dan setengah berlari membawanya untuk mencari dokter.
"Maaf Tuan, silahkan menunggu di luar terlebih dulu," sergah suster di saat Bara hendak masuk ke dalam ruangan IGD.
"Jangan melarangku, aku ingin melihat keadaan kekasihku!" Teriak Bara yang menatap suster dengan tajam.
"Maaf Tuan, tapi tolong ikuti prosedur rumah sakit agar dokter bisa bekerja dengan maksimal. Dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kekasih Anda," ucap suster lalu menutup pintu.
Bara hanya bisa menjambak rambutnya dengan sangat kasar, ia merasa sangat terpukul tetapi hanya bisa pasrah di saat dokter sedang menangani Kyara, sembari berdoa agar wanita di dalam sana dalam kondisi baik-baik saja.
Melihat keadaan Kyara, tentu saja tidak membuat Nugraha terdiam, ia merasa sangat khawatir terhadap anak bungsunya, sehingga mengajak istri dan anak sulungnya untuk menyusul ke rumah sakit.
"Bara, bagaimana keadaan Kya sekarang?" Tanya Nugraha saat mereka sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju ke ruang IGD.
"Kyara masih ditangani Dokter Pa," jawab Bara yang tampak cemas.
Meskipun saat ini Rania sangat marah dan membenci Kyara dan juga Bara, tetapi ia sama sekali tak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya. Bagaimanapun juga Kyara tetaplah adik kecil satu-satunya yang sangat ia sayangi sejak dulu. Kesalahan apapun yang Kyara lakukan saat ini, tetap saja ia takut terjadi sesuatu dengannya. Apalagi jika mengingat pertengkaran mereka tadi dan ia jugalah yang menyebabkan Kyara menjadi seperti sekarang ini.
"Bara, ini semua belum berakhir. Jangan kau pikir dengan keadaan Kya sekarang kau sudah bebas," kata Sandra yang menatapnya tajam penuh kebencian.
"Terserah apa yang mau kalian lakukan, tetapi aku mohon untuk sekarang tolong pikirkan keadaan Kyara terlebih dulu," ucap Bara dengan tegas.
"Berani sekali kau berkata seperti itu Bara! Apa kau sama sekali tidak memikirkan perasaan Rania? Saat ini kau hanya mementingkan Kyara, istrimu itu Rania bukan Kyara!" Bentak Sandra.
__ADS_1
"Ma, sudah Ma. Dalam kondisi darurat seperti ini, tolong jangan menambah masalah, apalagi membuat keributan di rumah sakit," ucap Nugraha meminta pengertian dari sang istri.
"Oh sekarang Papa malah menyalahkan Mama menambah masalah. Papa sadar tidak, ini tidak bisa dibiarkan Pa, jangan terus membela Kyara tanpa memikirkan perasaan Rania. Rania itu juga anak Papa," ucap Sandra yang sudah merasa sangat muak dengan sikap suaminya yang selalu saja membela anak bungsunya itu.
"Stop! Aku mohon kalian berhenti berdebat. Benar apa kata Bara, lebih baik sekarang kita pikirkan dulu keadaan Kyara. Kalian tenang saja, aku juga bukan wanita bodoh yang akan terus mengalah dengan apa yang sudah aku lihat dengan mata kepalaku sendiri," ucap Rania hingga semuanya pun bungkam.
******
Setengah jam pun telah berlalu. Hingga saat itu terlihat seorang Dokter yang keluar dari ruang IGD, sehingga membuat Nugraha dan Bara yang begitu antusias langsung mendekati dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Kyara saat ini?" Tanya Bara yang sangat ingin mendengar jawaban itu secepatnya.
Rania yang melihat bagaimana Bara begitu khawatir terhadap Kyara, membuatnya sangat yakin jika suaminya itu memang benar-benar mencintai adiknya. Tetapi kenapa Bara juga melakukan terhadapnya? Itu semua membuat Rania merasa sakit hati dan ingin segera menuntaskan masalah ini secepatnya. Tetapi saat ini ia tidak mau egois, sehingga berusaha untuk menahannya terlebih dulu.
"Iya Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Nugraha pula.
"Lebih baik sekarang keluarga masuk saja ke dalam, saya akan menjelaskannya di dalam," ucap dokter.
"Jadi apa yang terjadi dengan Kyara Dok?" Bara mengulangi pertanyaannya.
"Alhamdulillah keadaan pasien baik-baik saja. Tetapi saya harap hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, karena bisa membahayakan dua nyawa sekaligus," ucap dokter.
"Membahayakan dua nyawa, apa maksud Dokter?" Tanya Nugraha tak mengerti dan mewakili rasa bingung keluarganya itu.
"Iya benar, dua nyawa. Karena setelah saya melakukan pemeriksaan, pasien ternyata tengah hamil," ucap Dokter yang membuat semua yang ada di sana pun sangat terkejut mendengarnya.
Jederrrr!!!
Semua orang tercengang mendengar penjelasan dokter itu, terutama Bara yang tidak menyangka jika Kyara sedang mengandung anaknya. Termasuk Kyara sendiri, ia tidak menyangka jika saat ini sedang hamil anak Kakak iparnya.
"Apa? Bagaimana mungkin kau bisa hamil Kya, sementara kau tidak memiliki suami. Katakan siapa yang sudah menghamilimu? Atau jangan-jangan-" Sandra menghentikan ucapannya, tak percaya saat pikirannya itu langsung melayang pada sosok Bara. Mengingat tadi Rania sudah menceritakan apa yang terjadi di antara Bara dan Kyara.
__ADS_1
"Jangan bilang kau hamil anak Bara?" tuduh Sandra langsung saja.
Sementara itu Kyara menggelengkan kepalanya, air matanya terus saja mengalir karena tak mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini. Bagaimana bisa ia hamil anak dari suami kakaknya sendiri, tapi tidak bisa dipungkiri jika ini memang benar adanya, karena hubungannya dengan Bara memang sudah melewati batas.
Rania sendiri hanya bisa menggenggam tangannya dengan sangat kuat, hatinya bertambah sakit karena tahu jika Bara dan Kyara sudah melakukan hubungan yang lebih dari dugaannya.
"Kenapa kau diam saja! Cepat jawab sekarang Kyara, bayi siapa yang mau kandung itu!" bentak Sandra dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya, ia mendekati wanita itu dan mengguncang tubuhnya dengan kasar.
"Maafkan aku Ma." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Kyara saat ini, mau mengelak pun sudah tak ada gunanya.
"Menjijikan kau Kyara!" bentak Sandra mendorong tubuh Kyara begitu kasar.
"Hentikan itu Ma, jangan pernah menyalahkan Kyara dalam hal ini karena dia tidak bersalah. Semua ini adalah salahku, aku yang memulainya," kata Bara yang melindungi Kyara, karena memang ia dalang dari semua kekacauan ini.
"Kalian benar-benar tega, aku pikir hubungan kalian hanya sekedar perasaan cinta, tapi ternyata ..." Rania tidak sanggup melanjutkan ucapannya, hatinya terlampau sakit hingga air matanya saja yang bisa menjelaskan segalanya. Melihat hal itu Sandra seolah ikut merasakan sakit hati, ia juga semakin membenci Kyara.
"Bara, Kya, kalian berdua benar-benar keterlaluan. Apa kalian tahu jika apa yang kalian lakukan ini benar-benar kesalahan yang tidak bisa dimaafkan!" Ucap Nugraha yang begitu kecewa. Padahal ia sangat percaya dan menyayangi Kyara, tetapi tidak menyangka bahwa anak kesayangannya itu sudah berbuat hal yang sangat memalukan.
"Maafkan aku Pa ..." ucap Kyara, hatinya sangat pilu melihat kekecewaan yang terpancar dari wajah sang ayah.
Plak …
Sandra yang mereka amarahnya telah sampai di puncak ubun-ubun, langsung saja melayangkan tamparan di pipi mulus Kyara dengan sangat kuat, hingga membekas kemerahan dan terasa sangat perih.
"Omong kosong!" Tidak tahu bagaimana maksudmu? Kau melakukannya secara sadar dan setelah ini terjadi kau bisa mengatakan tidak tahu."
"Kau ini benar-benar wanita munafik, wanita ja lang yang tidak tahu diri. Memang sudah seharusnya dari dulu aku tidak membiarkanmu masuk kedalam keluargaku."
"Karena bagaimanapun juga buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Sifatmu yang menjijikan ini sangat persis dengan sifat Ibumu. Sekalinya ja lang akan tetap menjadi ja lang mau sebaik apapun kita mendidiknya!"
Happy reading.
__ADS_1
TBC.