
"Sudah sampai disini saja Stev."
Rania meminta Steven menurunkannya didepan pagar rumah. Ia tidak bisa mengajak pria itu masuk karena saat ini kondisi keluarganya sangat kacau. Ia sudah lebih tenang setelah menceritakan semua masalahnya dengan Steven dan memutuskan untuk langsung pulang saja karena hari juga sudah sangat larut.
"Terima kasih sudah mau mengantarku pulang, terima kasih juga karena sudah mau mendengar ceritaku Stev," ujar Rania memandang Steven.
"Tidak perlu berterimakasih seperti itu Rania, melihatmu bahagia sudah lebih cukup bagiku. Mulai sekarang kau tidak perlu memikirkan pria brengsek seperti Bara, masih banyak pria yang lebih darinya," sahut Steven balas memandang Rania begitu lembut dan dalam.
"Tidak semudah itu Stev, Bara adalah suamiku. Aku yang lebih berhak atas Bara daripada Kyara, mau bagaimanapun juga kondisinya saat ini, Bara harus kembali kepadaku Stev," ucap Rania dengan senyum kecutnya, ia tidak bisa menerima begitu saja jika Bara dan Kyara akan melenggang bebas setelah apa yang telah dilakukan padanya.
"Rania ... menurutku lebih baik kau lepaskan Bara saja. Bukannya kau bilang dia mencintai adikmu?" kata Steven, merasa tidak rela jika Rania akan kembali lagi kepada Bara. Karena menurutnya Bara sudah sangat keterlaluan dan pastinya hal itu akan menyakiti Rania lagi, mengingat Bara hanya mencintai Kyara.
"Semua orang pasti bisa jatuh cinta, mungkin saja perasaan mereka itu hanya sesaat Stev. Kau tahu 'kan, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Aku yakin bisa membuat Bara berpaling dari Kyara dan kembali padaku, lagipula Kyara bilang akan pergi dari kehidupan kami. Jadi, aku rasa ini waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan kami," ujar Rania begitu percaya diri.
"Semudah itu kau akan memaafkan pengkhianat seperti Bara?" sergah Steven cukup emosi rasanya, tapi ia menahannya untuk tidak melampiaskannya pada Rania.
"Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua Stev, dan aku percaya Bara pasti akan berubah. Apalagi kami sudah ... cukup dekat, dan hanya membutuhkan waktu sedikit lama untuk merubah segalanya," ucap Rania meyakinkan dirinya sendiri jika ia dan Bara pasti bisa bersatu meski sebanyak apapun rintangan yang harus dihadapinya.
Steven berdecak pelan, ia benar-benar kecewa dengan keputusan yang Rania pilih. Bukankah seharusnya saat ini Rania membenci Bara, karena pria itu sudah mengkhianatinya bersama Adiknya. Tapi sayangnya Rania justru akan memberikan kesempatan kedua pada Bara yang menurut Steven adalah hal yang sangat tidak berguna. Karena Steven tahu, jika Bara tidak akan pernah bisa mencintai Rania.
"Jika itu keputusanmu, aku hanya mendoakan yang terbaik. Jika suatu saat nanti kau membutuhkan tempat sandaran lagi, aku selalu ada untukmu Rania," ucap Steven menatap Rania begitu sendu, terlihat sekali perasaan yang mendalam dari sorot mata itu.
__ADS_1
Sayangnya Rania tidak bisa melihatnya sama sekali. Wanita itu hanya mengangguk sekilas lalu berpamitan pergi untuk masuk kedalam rumahnya.
******
"Anak itu benar-benar keterlaluan, dia persis seperti ja la ngmu itu. Seharusnya aku memang tidak pernah mengizinkannya tinggal dirumah ini. Sekarang kau lihat? Dia persis seperti Ibunya yang suka merebut suami orang."
Malam sudah cukup larut, tapi Sandra masih marah-marah karena mengingat apa yang terjadi pada putrinya. Sandra merasa Dejavu dengan kejadian ini, sama persis seperti kejadian dua puluh tahun yang lalu. Dimana suaminya itu berkhianat dengan wanita lain dan membawa seorang anak yang masih berwarna merah kepadanya.
"Ma, sudahlah. Dengan Mama marah-marah, tidak akan menyelesaikan masalah. Kyara itu anakku juga Ma, tolong jangan terus menyalahkannya karena dosaku di masa lalu," tutur Nugraha memijit kepalanya yang terasa ingin pecah.
"Bagaimana mungkin aku tidak menyalahkannya! Dia sudah merusak rumah tangga putriku, apa kau pikir aku akan diam? Tidak akan, aku tidak akan tinggal diam Nugy, aku pastikan anak itu tidak akan bisa mencapai tujuannya. Bara harus tetap kembali kepada Rania, apapun yang terjadi," ujar Sandra menatap suaminya begitu sengit.
"Astaga Ma, sekarang Kyara itu hamil anaknya Bara. Bagaimana mungkin Mama akan membuat Bara kembali dengan Rania. Lebih baik, mereka bercerai saja," kata Nugraha tidak habis pikir dengan keputusan istrinya.
Kebenciannya selama bertahun-tahun kepada Kyara kini bertambah berkali lipat dan harus segera dituntaskan. Sandra tidak peduli lagi meski suaminya akan marah atau bagaimana, ia hanya ingin memperjuangkan hak putrinya yang direnggut paksa oleh Kyara.
Nugraha menghela nafas panjang, kepalanya semakin berdenyut-denyut tidak karuan. Rasanya saat ini ia seperti ingin mati saja, setelah dosa yang puluhan tahun ia simpan sangat rapat itu akhirnya terbongkar begitu saja.
Kyara, putrinya yang lahir dari rahim wanita lain karena sebuah kesalahan. Dan sebenarnya tidak pernah sedikitpun Nugraha mengkhianati istrinya. Karena kejadian waktu itu terjadi karena ia dan Ibunya Kyara dijebak hingga menyebabkan wanita itu hamil.
"Aku akan mengugurkan kandunganku, Tuan. Aku tidak mau membuat keluarga Tuan hancur, setelah ini aku juga akan pergi."
__ADS_1
Nugraha teringat akan dimana seorang gadis polos yang kala itu magang dikantornya menemuinya dengan tubuh yang gemetaran dan membawa sebuah testpack yang menunjukkan dua garis merah.
"Andin, jangan pernah berpikiran untuk mengugurkan anak itu. Taruhannya nyawa Andin, kau juga masih sangat muda. Aku akan tanggung jawab Andin, anak itu tidak bersalah," kata Nugraha tentu mencegah saat Andin ingin menggugurkan kandungannya.
"Tanggung jawab apa Tuan? Tuan sudah punya anak dan istri, aku tidak mau dicap menjadi wanita yang buruk. Apalagi keluargaku di kampung, mereka pasti akan kecewa. Lebih baik aku mengugurkan anak ini saja," ujar Andin dengan berlinang air mata, gadis malang yang tidak tahu apa-apa justru dijebak hingga tidur bersama bosnya sendiri yang sudah memiliki anak dan istri.
"Tidak, aku tidak akan mengizinkanmu Andin. Aku akan tetap bertanggung jawab, setidaknya sampai anak itu lahir ya, aku akan membiayai semua kebutuhanmu dan keluargamu. Aku berjanji tidak akan mengatakan ini pada siapapun, ini antara kita berdua," tutur Nugraha begitu lembut membuat Andin perlahan-lahan luluh dan mau mempertahankan bayinya.
Akhirnya Nugraha memberikan tempat tinggal khusus untuk wanita itu tinggal dan membiayai semua kebutuhan keluarganya yang ada di kampung. Nugraha benar-benar menyimpan rapat rahasia itu sampai usia kehamilan Andin menginjak usia tujuh bulan.
Namun, sayangnya saat malam-malam ia mengantarkan wanita itu untuk periksa ke dokter, ia tidak sengaja bertemu Sandra dan terjadilah keributan hebat yang membuat Andin terpaksa melahirkan bayinya lebih cepat.
Dan karena kejadian itu juga, Andin tidak bisa bertahan karena banyak kehilangan darah, apalagi usia Andin waktu itu baru 19 tahun membuat kondisinya sangat lemah dan meninggalkan dunia ini dihari yang sama dengan kelahiran putrinya Kyara.
"Sandra, kau tidak boleh membencinya, karena dia hadir karena kesalahanku. Tolong kali ini saja, aku mohon rawat putriku seperti kau merawat Rania. Dia sudah tidak punya siapapun selain aku," kata Nugraha terpaksa membawa putrinya yang baru lahir itu ke rumah istrinya Sandra, karena Kyara tidak punya siapapun lagi selain dirinya.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Pa. Tapi aku akan tetap merawatnya, jangan pernah kau menyuruhku untuk bersikap adil kepadanya, karena dia ini adalah bukti pengkhianatanmu dengan wanita itu," sahut Sandra tidak setega itu membiarkan bayi kecil yang baru saja lahir itu kehilangan Ibunya, akhirnya dengan sangat terpaksa ia menerima Kyara dan mengakuinya sebagai anak.
Rania pun tidak pernah tahu jika Kyara bukan adik kandungnya. Ia hanya tahu jika sudah memiliki Adik dan selalu menyayangi Adiknya dari kecil.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.