Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Dibalik Sifat Kejam Terbentuk.


__ADS_3

"Makan ya, dari kemarin kau belum makan apapun. Kasihan bayimu yang ada didalam perut, kau pasti tidak ingin terjadi apapun padanya 'kan? Ayo, makan sedikit saja Sayang, aku akan menyuapimu."


Pagi sudah datang, menampakkan sinarnya yang begitu cerah. Bara terlihat sudah lumayan segar setelah membersihkan dirinya. Kini pria yang dikenal dengan sikap dinginnya dan kejam itu terlihat sedang sibuk membujuk Kyara untuk mau makan. Pasalnya semenjak kejadian kemarin, Kyara tidak mau memakan apapun lagi.


"Atau kau mungkin ingin sesuatu yang lain? Biar aku belikan," ujar Bara lagi, tidak lelah membujuk Kyara meski wanita itu bungkam seribu bahasa.


"Pergi." Hanya satu kata yang meluncur dari mulut Kyara, membuat Bara kebingungan. "Aku ingin kau pergi," ucap Kyara lagi mengulangi perkataannya lebih jelas lagi.


Bara menghela nafas panjang, ia menatap Kyara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa? Semuanya sudah terbongkar Kya, kau mau apalagi? Jangan terus memikirkan perasaan orang lain, pikirkan juga perasaanmu. Ini waktunya kita memulai semua dari awal lagi, dengan hubungan yang baru bersama calon anak kita," ujar Bara.


Kyara tersenyum begitu sinis, ia melirik Bara sangat tajam. "Hanya orang bo doh yang ingin membangun hubungan diatas luka dari Kakaknya sendiri. Jika boleh aku meminta, sebaiknya kau pergi meninggalkan aku dan kembali pada Kak Nia. Aku tetap bisa hidup meskipun tanpa kehadiranmu," ketus Kyara.


Bara mengepalkan tangannya begitu erat, sejak kemarin ia sudah mencoba menahan dirinya, tapi sepertinya justru menganggap dirinya sudah mulai lemah hingga bisa bersikap seenaknya saja.


"Kau tahu sumpahku Kyara, mau kau memohon seperti apapun, aku tidak akan melepaskanmu. Lebih baik aku membunuhmu daripada aku harus kehilanganmu. Dengarkan hal itu baik-baik, sampai matipun kau akan tetap bersamaku, tidak perduli kau suka atau tidak. Kau hanya milikku," ujar Bara menatap Kyara begitu tajam, sama persis seperti tatapan matanya saat pertama kali ia menyentuh Kyara dan memutuskan untuk memiliki wanita itu.


Setelah mengatakan hal itu, Bara langsung beranjak dari sisi Kyara dan bersiap pergi. Akan tetapi sebelum ia pergi, pintu ruang rawat Kyara terbuka membuat pandangan mereka teralihkan. Terlihat Kakek Hardi beridiri disana dan menatap Bara dengan tatapan membunuh.


"Kakek?" ucap Bara sedikit kaget melihat Kakeknya tiba-tiba datang.


Tidak ada angin ataupun hujan, Kakek Hardi tiba-tiba mendekati Bara lalu menampar pria itu dengan sangat keras. Suaranya menggema di ruangan itu membuat Kyara terbelalak kaget.


"Memalukan!" bentak Hardi terlihat sangat murka, ia baru saja mendapatkan kabar yang membuat ia memutuskan untuk datang ke rumah sakit ini.

__ADS_1


Bara mendesis pelan, pipinya terasa begitu panas karena tamparan Kakeknya tidak main-main kekuatannya.


"Kakek, aku-"


Plak!


Belum juga Bara sempat berbicara, tapi Hardi sudah lebih dulu menamparnya lagi.


"Berhenti melakukan pembelaan, Kakek sudah tahu kebusukanmu selama ini. Apa ini yang Kakek ajarkan padamu? Sungguh memalukan kau Bara!" hardik Hardi tanpa memberi kesempatan Bara untuk menjelaskan apapun.


"Berapa kali Kakek katakan padamu, jaga sikapmu, tapi apa yang kau lakukan? Bukan hanya membuat Kakek malu, tapi kedua orang tuamu mungkin akan bangkit dari kuburnya karena kelakukanmu ini. Kurang apa Rania sampai kau menyakitinya seperti ini? Menjjikan," ujar Hardi tidak melepaskan sedikitpun tatapannya pada Bara.


"Apakah sudah?" Bara menjawab ucapan Kakaknya dengan nada begitu datar, pun tatapannya yang sangat dingin.


"Terbaik?" Bara terkekeh-kekeh kecil. "Kakek selalu mengatakan jika semua ini terbaik untukku, tapi apakah Kakek pernah bertanya sekali saja apa keinginanku? Tidak 'kan Kek? Kakek selalu memutuskan sendiri aku harus ini, harus itu. Kakek tidak pernah memberikanku ruang untuk menyuarakan keinginanku! Sadarkah Kakek itu semua? Sejak kecil Kek, sejak kecil aku selalu menuruti apa keinginan Kakek. Sekarang ... apa aku tidak berhak menentukan apa keinginanku sendiri?" ujar Bara dengan wajahnya yang masih begitu datar, tapi tidak dengan sorot matanya yang terlihat suram.


Hardi sontak terdiam seribu bahasa mendengar ucapan Bara. Ia bisa melihat wajah Bara yang sangat tertekan itu.


"Kenapa Kakek diam? Jawab aku Kek, apa aku tidak berhak menentukan kebahagiaanku sendiri? Aku memang salah ... tapi perasaanku tidak pernah salah Kek. Aku jatuh cinta sekarang, dengan wanita pilihanku Kyara. Aku bahagia jika bersama dia Kek," kata Bara mengucapkan dengan gamblang perasannya di depan Kakeknya.


Hardi masih tidak bisa menjawab, ia hanya bisa diam menatap Bara dan juga Kyara bergantian. Setelah itu ia langsung pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.


Bara sudah lelah selama bertahun-tahun hidup dalam dunia yang hanya ada warna hitam dan putih. Sejak kepergian orang tuanya karena kecelakaan, Bara yang baru berumur 10 tahun terus dididik menjadi seorang pewaris yang harus memiliki mental sekuat baja. Bara tidak pernah merasakan yang namanya sebuah pilihan. Dia hanya bisa menuruti keinginan Kakeknya karena semua itu yang terbaik untuk dirinya.

__ADS_1


Sampai dewasa akhirnya Bara tumbuh menjadi anak yang memiliki watak sangat keras. Ia tidak pernah mengenal cinta, ia hanya tahu bisa melakukan segalanya dengan kekuasaannya. Ia jadi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, seperti itu juga caranya mendapatkan Kyara. Dengan kekuasaannya, Bara merasa memiliki dunia ini.


Namun, ketika Kyara yang menolak dirinya, tidak silau akan paras wajahnya dan juga segala yang ia miliki, membuat pandangan Bara berubah, jika ada seorang wanita yang membuat dirinya tunduk dan mengalah.


"Bara ...," panggil Kyara, menatap punggung lebar Bara yang terlihat bergetar.


"Aku akan keluar sebentar, hubungi saja aku jika kau membutuhkan sesuatu," sahut Bara memijat pangkal hidungnya yang terasa sangat pengar.


Kyara menggigit bibirnya bawahnya, melihat Bara seperti saat ini entah kenapa hati Kyara menjadi begitu iba. Pria itu terlihat begitu kejam, tapi sebenarnya memiliki hati yang sangat rapuh. Kyara bisa mendengar nada putus asa ketika Bara berbicara kepada Kakeknya.


Dan yang paling membuat Kyara tersentuh adalah, Bara tanpa ragu mengatakan perasannya kepada semua orang. Hal itu tentu membuat hati Kyara begitu tersentuh, karena merasa Bara begitu tulus mencintainya, bukan sekedar obsesi seperti dulu.


"Apa sekarang waktunya aku menerima Bara? Tapi ... bagaimana dengan Kak Nia?" lirih Kyara menatap langit-langit kamarnya dengan begitu bingung. Kyara lalu ingat akan sosok kehidupan baru yang tumbuh dirahimnya.


"Jika aku pergi ... apakah aku sanggup merawat bayi ini sendirian?" Kyara menghela nafas panjang, benar-benar dilanda kekalutan yang luar biasa. Ia bingung harus memilih jalan yang mana.


Jika ia memilih bersama Bara, Kakaknya akan terluka, jika ia mengikhlaskan Bara, justru ia sendiri yang terluka, sungguh dilema yang begitu menyesakkan dada.


Saat Kyara dilanda kebingungan akan perasaannya, tiba-tiba pintu ruangannya kembali terbuka, membuat ia segera mengangkat wajahnya dan sontak terkejut melihat siapa sosok yang datang.


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2