Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Meminta Restu.


__ADS_3

Hari demi hari terus berjalan, tidak terasa dua minggu telah berlalu dimana saat Bara melamar Kyara dan wanita tersebut menerima Bara untuk menjadi calon suaminya. Kyara dan Bara terlihat sibuk mempersiapkan pernikahan mereka karena sudah mendapatkan restu dari sang kakek.


"Bara, aku rasa restu dari Kakek saja tidak cukup. Aku tidak mungkin melupakan Mama dan Papa yang selama ini sudah merawatku, apalagi tidak bisa dipungkiri jika Papa Nugraha adalah Papaku, dia adalah ayah kandungku dan nantinya beliau juga yang akan menikahkanku Bara," ujar Kyara saat mereka berdua sedang duduk santai menonton televisi.


"Apa kau yakin ingin menemui dan meminta restu dari mereka? Bukankah kau tahu sendiri mereka sangat menentang hubungan kita, mengingat kondisi Rania yang saat ini lumpuh. Papa Nugraha menyalahkan kita berdua yang menyebabkan Rania dalam kondisi terburuk seperti saat ini. Bahkan Papa juga tidak menganggapmu sebagai anaknya," tukas Bara yang rasanya sangat enggan untuk menginjakkan kaki lagi di kediaman keluarga Nugraha, ia tidak mau jika calon istrinya akan disakiti lagi oleh mereka.


"Aku tidak peduli Bara. Lagipula aku yakin jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam Papa masih tetap menyayangiku. Aku juga anak kandungnya Bara, jadi tidak mungkin jika Papa melupakanku begitu saja. Aku mohon Bara, aku ingin kita meminta restu kepada mereka. Pernikahan kita hanya tinggal dua minggu lagi, aku sangat ingin Papa yang merupakan satu-satunya keluargaku hadir di sana dan menikahkanku," ucap Kyara dengan tatapan mendamba, sangat berharap jika Bara akan menuruti keinginannya.


Bara menghela nafas panjang sembari menatap sendu wajah kekasihnya yang penuh harap, rasanya tidak tega jika harus menolak keinginan wanita yang sangat dicintainya itu. Apapun resikonya nanti, Bara sudah siap akan melindunginya paling depan.


"Ya sudah, kalau begitu besok pagi kita akan ke sana. Sekarang sudah malam, lebih baik kita istirahat saja," ucap Bara.


"Baiklah, terimakasih Sayang karena kau sudah menuruti keinginanku," ucap Kyara tersenyum lalu memeluk Bara sebagai bentuk rasa terimakasih dan rasa sayangnya itu. Bara pun membalas memeluk erat calon istrinya itu dengan perasaan yang sangat bahagia.


_____


"Untuk apa kalian berdua datang ke sini? Berani sekali kalian menginjakkan kaki di rumah ini. Bukankah sudah aku katakan jika kita tidak memiliki hubungan apapun lagi, hubungan kekeluargaan kita sudah putus!" Nugraha langsung marah begitu melihat kedatangan Bara dan Kyara. Pria paruh baya itu tidak mau menambah luka putrinya yang satu lagi jika melihat keduanya datang.


"Memang benar kita tidak memiliki hubungan apapun lagi karena aku dan Rania sudah berpisah, tapi bagaimanapun juga Kyara ini adalah anak kandung Papa Nugraha, mereka memiliki ikatan darah yang tidak akan mungkin bisa terputus," ucap Bara mengingatkan.


"Lancang sekali kau berbicara seperti itu padaku. Semenjak Kyara memutuskan untuk mengkhianati kakaknya sendiri, itu artinya dia juga sudah memilih memutus hubungan dengan keluarga ini. Jadi lebih baik sekarang kalian pergi sini!" Bentak Papa Nugraha begitu geram melihat Bara, pasalnya pria itu yang telah menghancurkan keluarganya hingga menjadi seperti ini.


"Pa, aku mohon jangan usir Kya Pa. Aku datang ke sini tidak mau membuat masalah. Aku datang ke sini karena mau meminta restu karena aku dan Bara akan menikah," ucap Kyara.

__ADS_1


Plok … plok …


"Wow … suatu berita yang menghebohkan ya. Setelah kau merebut kebahagiaan Kakakmu, membuat kakakmu kehilangan anak dan dia juga lumpuh, sekarang tanpa perasaan sedikitpun kau datang ke sini untuk mengatakan bahwa kau akan menikah dengan mantan suami kakakmu. Benar-benar keterlaluan kau Kyara!" Ucap Nugraha ang menepuk tangannya, lalu menatap tajam ke arah Kyara.


"Papa, aku minta maaf. Tapi semua sudah berlalu dan sekarang aku datang ke sini karena benar-benar mau meminta restu kalian. Aku ingin Papa menjadi wali nikahku nanti, aku mohon Pa," ucap Kyara.


"Aku tidak menyangka ternyata kau benar-benar tidak memiliki hati Kyara, kau sama sekali tidak memikirkan perasaan Kakakmu. Mereka baru saja berpisah selama dua Minggu dan sekarang kalian berdua sudah datang ke sini mengatakan ingin menikah. Sekarang juga keluar kalian dari sini!" Usir Nugraha dengan penuh emosi.


"Pa ... setidaknya datang Pa, aku selama ini tidak pernah meminta apapun dari Papa 'kan? Aku mohon kali ini Papa datang," lirih Kyara tidak bisa menagan air matanya, ia menatap Papanya dengan begitu sendu.


Nugraha mengepalkan tangannya begitu erat, sebenarnya ia tidak benar-benar membenci putrinya. Tapi ia juga tidak juga dengan keputusan wanita itu. Tanpa mengatakan apapun, Nugraha segera pergi meninggalkan mereka.


Sedangkan Kyara menangis sejadi-jadinya, merasa sangat sedih atas perlakuan ayah kandungnya sendiri. Bara yang tidak tega melihat keadaan Kyara pun segera saja membawanya keluar dari kediaman Nugraha.


_____


Setelah mendapatkan kabar tentang pernikahan Bara dan Kyara, Rania menjadi begitu terpuruk. Ia sering menghabiskan waktunya dengan melamun dan menangisi keadaannya yang sangat menyedihkan. Apakah memang sesusah itu untuk dirinya untuk bahagia?


"Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu seperti ini Rania?" Terdengar suara khas pria yang belakangan ini begitu familiar ditelinga Rania.


Rania hanya melirik sekilas, terlihat Steven beridiri disana. Pria itu perlahan-lahan mendekati Rania, ia datang ke rumah Rania setelah mendengar kabar dari sang Kakek tentang pernikahan Bara dan Kyara. Hal itu tentu membuat Rania begitu terpukul, dan ia datang ingin memberikan penghiburan kepada wanita itu.


"Rania, aku mohon kau jangan seperti ini. Jalan hidupmu masih panjang, kau tidak perlu memikirkan Bara lagi, pria sampah yang sama sekali tidak bisa menghargai cintamu. Buka matamu, ada aku di sini yang tulus mencintaimu," ucap Steven yang menatap nanar mata Rania.

__ADS_1


"Diam kau! Kau sama sekali tidak mengerti arti cinta. Kau tidak pernah merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan dengan orang yang dicintai," kata Rania menatap tajam.


"Siapa bilang? Aku mencintaimu Rania. Aku tahu bagaimana rasa sakitnya kau, aku bisa merasakannya dan sekarang aku juga sedih, aku juga sakit melihatmu seperti ini," kata Steven yang terus membujuk Rania.


"Aku tidak terima mereka menikah sementara aku menderita seperti ini," tukas Rania menahan perih di dadanya.


"Maka, izinkan aku menikahimu juga Rania," ucap Steven dengan begitu lantang.


"Apa?" Rania sedikit terkejut, ia mengulas senyum sinisnya. "Aku tahu kau hanya kasihan padaku 'kan? Kau hanya kasihan dengan wanita lumpuh ini, apa begitu menyedihkannya diriku sampai kau melakukan ini? Berhenti mengasihanku Stev, aku benci itu!" teriak Rania justru semakin meradang.


"Siapa bilang perasaanku padamu hanya sekedar rasa kasihan? Aku benar-benar sangat mencintaimu Rania," kata Steven memegang tangan Rania dengan lembut.


"Jangan bicara omong kosong, tidak akan ada pria yang mau menerima wanita cacat sepertiku," ketus Rania mengusap air matanya dengan begitu kasar.


Steven menghela nafas panjang, ia tahu apa yang dirasakan oleh Rania, wanita itu saat ini sedang berada dititik terendahnya dan Steven benar-benar ingin menebus segala kesalahannya. Tanpa mengatakan apapun, Steven tiba-tiba menggendong Rania dari kursi rodanya.


"Stev, apa yang kau lakukan?" Rania memekik kaget. "Lepaskan aku Stev, kau mau membawaku kemana?" teriak Rania berontak.


"Kau harus tahu kalau aku memang mencintaimu Rania, aku akan menunjukkan padamu, tidak ada bedanya mau kau bisa berjalan atau tidak. Bagiku, kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, selamanya akan seperti itu."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2