
Revan tertawa kecil melihat kekesalan Celia, ia mendorong wanita itu dengan cukup kasar sampai punggungnya menyentuh tembok. Ia lalu memerangkap wanita itu agar tidak pergi kemana-mana.
"Jika bukan uang yang kamu butuhkan, memangnya apa lagi? Asal kamu tahu, mungkin kamu bisa membodohi ayah dan ibuku, tapi tidak denganku. Kamu ingin mencari kambing hitam atas kesalahan yang kamu buat sendiri?" ucap Revan memandang remeh pada Celia.
Revan memang menebak jika Celia ini salah satu penggemarnya atau mungkin wanita-wanita centil yang setiap malam selalu mengganggunya dengan mengirimkan pesan-pesan yang tidak penting.
"Ck, baiklah, aku mengaku kalau aku salah. Kita bisa membatalkan semua rencana itu dan aku akan mengatakan pada kedua orang tuamu kalau aku tidak hamil," kata Celia mencoba bernegosiasi.
"Rencana apalagi yang sedang kamu pikirkan? Aku tidak sedang ingin bermain-main. Katakan saja berapa yang kamu butuhkan," sahut Revan.
"Aku bilang aku tidak butuh uang! Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia? Aku itu tidak hamil!" teriak Celia, masa bodoh suaranya menggema didalam kamar kecil itu, ia kesal karena Revan tak percaya padanya.
Revan mengernyitkan dahinya, ia memandang Celia yang terlihat sangat mungil itu jika sedang bersanding dengannya. Meskipun mungil, suara wanita itu sangat keras.
"Kebohongan apalagi ini? Aku jadi semakin yakin kalau kamu ini memang pembohong kecil yang sedang mencari mangsa. Sebelumnya kamu meminta tanggung jawab, tapi malah menolak saat aku mau mempertangung jawabkan semuanya. Sekarang aku menawarkanmu uang, kamu berpura-pura lagi jika tidak hamil. Apakah ini salah satu trikmu agar aku percaya kamu gadis yang suci?" ucap Revan begitu sinis.
"Aku tidak sedang berbohong! Aku memang tidak hamil, Revan. Aku belum menikah, bagaimana aku bisa hamil, aku hanya salah-"
"Baiklah, kalau begitu ayo kita buktikan. Apakah kamu benar-benar belum pernah melakukannya," tukas Revan tiba-tiba menarik pinggang Celia hingga tubuh mereka menempel erat.
"Revan!" Celia berteriak keras, ia paling tidak bisa bersentuhan dengan pria seperti ini. Celia sangat takut.
"Sepetinya aktingmu sangat luar biasa. Berpura-pura menjadi gadis yang polos, tapi aku yakin aslinya kamu tidak se suci itu," ucap Revan meremehkan Celia.
"Terserah! Aku tidak peduli kamu percaya padaku atau tidak. Dan aku tegaskan, aku memang bersalah dan terjadi salah paham. Selebihnya aku tidak berniat apapun," kata Celia menjelaskan segalanya.
"Sayangnya gara-gara salah paham itu aku yang harus disalahkan. Kamu harus tanggung jawab membersihkan namaku, jika kamu ingin lolos," ujar Revan dengan wajahnya yang serius, sorot mata tajam itu sangat terlihat membuat Celia menelan ludahnya kasar.
"Tenang saja, aku pasti akan menjelaskan kepada orang tuamu kalau sebenarnya aku tidak hamil. Dan aku akan meminta kepada mereka untuk membatalkan pernikahan kita," kata Celia dengan cepat.
"Kamu yakin?" Revan kembali bertanya, ia malah merasa aneh dengan kata-kata Celia yang ingin pernikahan mereka batal.
"Tentu saja, jangan-jangan kamu sendiri yang sebenarnya ngebet pengen nikah sama aku?" cibir Celia memandang Revan dengan tatapan menuduh.
Revan langsung memundurkan tubuhnya, ia sedikit terkejut melihat wanita yang berani menatapnya seperti itu. Sejauh ini hanya Senja yang berani melakukannya.
"Terlalu percaya diri itu tidak baik untuk kesehatan tubuh. Lebih baik buang pikiran gilamu itu jauh-jauh. Tidak ada dalam kamusku jatuh cinta dengan wanita pendek dan gendut sepertimu," cemooh Revan.
__ADS_1
"Apa!" Celia berteriak tidak terima.
Revan tidak tahu jika kata "gendut" adalah hal yang sangat sensitif bagi wanita. Celia langsung marah karena ejekan Revan itu.
"Apa? Lihatlah tubuhmu yang gemuk itu, kakimu juga kecil, pasti akan sangat merepotkan jika memiliki pacar atau istri sepertimu," ujar Revan semakin mengejek Celia.
Padahal sebenarnya Celia itu tinggi dan tubuhnya mungil, tapi jika bersanding dengan Revan, Celia terlihat seperti jempol dan telunjuk.
"Kurang ajar! Tutup mulutmu atau aku merobeknya!" teriak Celia, tiba-tiba mengamuk dan mendorong Revan ke ranjang, ia tidak terima jika tubuh seksinya dihina seperti itu.
"Hei, wanita jadi-jadian. Apa yang kamu lakukan?" Revan begitu kaget, ia tidak menyangka jika Celia akan semarah ini.
"Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Sejak tadi kamu selalu kurang ajar! Apa kamu tahu, aku sudah diet dan berolahraga mati-matian. Tapi tega-teganya mengatakan aku gendut? Arghhhhhhhh, aku harus diet seperti apalagi ...."
Celia berteriak-teriak kesal sampai Revan ingin menyumbat gendang telinganya yang akan robek karena suara Celia. Tapi tiba-tiba saja Celia menangis, meraung dan menjatuhkan tubuhnya di samping Revan.
"Huaaaaaaaa ... Kenapa semua pria selalu memandang fisikku? Apa aku benar-benar gendut?" Celia menangis terisak-isak.
Dari dulu Celia udah mencoba diet karena pernah ada yang mengatakan dirinya gendut dan jelek. Celia menganggap kata-kata itu sebagai motivasi dan menjadikan dirinya menjadi lebih baik dengan diet dan berolahraga.
"Huaaaaaaaa ... Apa ini alasan semua pria tidak mau denganku? Aku gendut dan jelek, dadaku rata, apalagi? Huaaaaaa ... Aku juga mau seksi," kata Celia menangis-nangis tidak jelas.
Revan menahan senyumnya, tidak menyangka kata-kata yang terakhir itu akan keluar dari mulut Celia. Dan sialnya ia malah melihat da da Celia yang memang masih rata.
"Hei, sudah sudah. Kenapa malah menangis? Aku hanya bercanda tadi," kata Revan mencoba menghibur.
Celia mengentikan tangisnya, ia masih memasang wajahnya yang cemberut. "Jangan bercanda seperti itu lagi, aku sudah diet, dan sekarang aku sudah kecil. Jangan menyebutku gendut," ucap Celia dengan wajah cemberutnya yang imut.
"Iya, tapi kalau pendek, tidak masalah 'kan?" ejek Revan lagi, suka sekali melihat wajah Celia yang kesal.
"Ish! Kamu memang tidak punya perasaan. Mentang-mentang tinggi, seharusnya kamu itu transfer ketinggian itu padaku," ketus Celia.
"Mana bisa seperti itu? Mau tinggi ya olahraga, dasar pemalas," kata Revan, ia reflek mengacak-acak rambut Celia karena begitu gemas dan wanita yang menurutnya sangat lucu.
"Ish, jangan merusak rambutku. Aku jadi jelek nanti," rengek Celia.
"Memangnya sejak kapan kamu cantik?" ejek Revan.
__ADS_1
"Sudahlah, aku marah sama kamu. Mendingan kamu pergi deh, kita tidak sedekat itu. Lagipula kamu ini sangat lancang sekali, seorang pria tidak boleh masuk kamar wanita tanpa izin, bisa digerebek pak RT nanti," omel Celia sekaligus menggerutu.
"Tadinya aku hanya ingin membahas masalah tadi," sahut Revan sekenanya.
"Sekarang sudah jelas 'kan? Aku tidak hamil dan kamu tidak perlu bertanggung jawab. Sudah puas? Sebaiknya kamu pulang sekarang!" kata Celia, ia langsung bangkit dan menarik tangan Revan agar berdiri.
"Eh? Kenapa kamu mengusirku? Kamu belum tahu siapa aku ya?" Revan menggerutu kesal, Celia ini benar-benar wanita yang tidak sopan sekali.
"Tahu, nama kamu Revan 'kan? Lalu mau apa? Urusan kita sudah selesai, pergi sana!" Celia mendongakkan dagunya angkuh, dengan sangat berani ia mendorong Revan agar keluar dari kamar kostnya.
"Kamu-"
BRAKKKKKKKK
"Oh shittttt!" Revan mengumpat kasar melihat sikap Celia yang sangat menyebalkan itu. Tidak seharusnya wanita itu bersikap seperti itu padanya, lihat saja nanti, Revan pasti akan memberikan pelajaran pada Celia yang lancang itu.
"Awas saja nanti," omel Revan sebelum pria itu pergi meninggalkan kos-kosan Celia.
Baginya hal mudah saja untuk mengetahui dimana lokasi Celia, anak buah Ayahnya banyak dan anggota geng motonya juga punya jaringan yang luas. Yang terpenting sekarang semua sudah terselesaikan, Celia tidak hamil.
"Dia tidak hamil? Benarkah?" Revan mengerutkan dahinya, ia memandang kos-kosan Celia kembali.
"Ahh, untuk apalagi aku memikirkan wanita jadi-jadian itu. Jika dia memang tidak hamil, itu artinya tugasku sudah selesai," ucap Revan dengan suara lirihnya.
Revan memutuskan langsung pulang dan menjelaskan kepada ibunya jika Celia tidak benar-benar hamil. Lagipula sebenarnya ia pun tidak pernah sembarangan mengenal wanita, apalagi sampai berhubungan dan membuat hamil. Jelas itu bukan gaya pacarannya.
Happy Reading.
TBC.
Visual Revan dan Celia.
__ADS_1