
"Kyara apa kau yakin kondisimu baik-baik saja? Aku merasa sangat khawatir, aku tidak mau jika terjadi sesuatu denganmu ataupun anak kita. Aku akan menjaga kalian berdua dengan baik," ucap Bara saat mereka baru saja tiba di apartemen.
"Bara, aku baik-baik saja. Aku sama sekali nggak kenapa-napa, seperti yang kau lihat," ucap Kyara meyakinkan pria yang ada di depan matanya itu.
"Baiklah aku percaya, tapi jika nanti kau merasakan sesuatu yang tidak enak pada perutmu, kau harus mengatakannya padaku. Lagipula bukankah kau memang harus memeriksa kandunganmu? Aku tidak mau jika nantinya malah akan membahayakan nyawa kalian, bagaimanapun juga tadi kau terjatuh Kya," kata Bara yang begitu overprotektif terhadap wanita yang dicintainya.
"Iya Bara kau benar, tapi saat ini aku baik-baik saja. Nanti aku pasti akan memeriksa kandunganku, beberapa hari lagi aku ada jadwal memeriksa kandungan," ucap Kyara.
"Oh ya? Kalau begitu aku akan menemanimu. Aku akan menemani calon istriku untuk memeriksa kondisi calon anak kita," tukas Bara.
"Memangnya kau tidak ada pekerjaan? Aku bisa pergi sendiri Bara," ujar Kyara yang tak ingin merepotkan Bara atau siapapun.
"Tidak, tidak, kau tidak boleh pergi sendiri. Aku akan menemanimu, bagiku kau segalanya sekarang," ucap Bara yang menatap Kyara serius.
Kyara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Memang jika sudah merupakan keinginan pria keras kepala itu, pastinya tidak akan ada satu orang pun yang bisa membantah.
"Ya sudah sekarang aku mau mandi dulu ya, rasanya sudah sangat gerah karena seharian jalan-jalan," ucap Kyara.
"Aku ikut!" Sahut Bara.
"Bara, aku hanya mau ke kamar mandi, kau tidak perlu khawatir. Kalau kau mau mandi, kau bisa mandi di kamar mandi yang lain," kata Kyara yang sudah tahu maksud terselubung Bara.
"Tidak mau, aku ingin mandi bersamamu. Apa kau lupa kalau tadi aku sudah mengatakan saat di rumah aku tidak akan melepaskanmu, aku juga sudah menurutimu jalan-jalan hari ini," ucap Bara yang mengerlingkan sebelah matanya menggoda wanitanya itu, sehingga Kyara pun hanya bisa menurutinya saja dan pasrah.
Sudah tidak perlu dijelaskan lagi apa yang mereka lakukan di dalam kamar mandi, tentunya Bara tidak akan melewati kesempatan untuk bisa bermadu kasih bersama dengan wanita yang dicintainya itu.
______
Beberapa hari kemudian, kondisi Rania sudah membaik. Kini ia pun sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Meskipun Rania selalu saja menolak, tetapi Steven tetap selalu berada di sampingnya, tak sedikitpun ia pergi meninggalkannya barang sejenak di saat tidak ada Nugraha di sana. Ia terlihat setia menemani Rania untuk memastikan jika kondisi wanita tersebut baik-baik saja, tak peduli saat Rania memaki dan memarahinya serta memintanya untuk pergi.
"Kau? Untuk apa kau masih berada di sini? Bukankah aku sudah memintamu untuk pergi!" Bentak Rania.
__ADS_1
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri Rania. Bukankah sudah katakan juga bahwa aku akan selalu ada untukmu, aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu," ucap Steven.
"Per setan dengan itu semua, aku minta sekarang kau keluar dari sini! Aku sama sekali tidak butuh belas kasihan dari siapapun," ucap Rania.
Steven tak menggubrisnya, ia malah memeluk Rania untuk meluapkan rasa bersalah dan juga rasa sayangnya kepada wanita tersebut.
"Lepaskan aku Steven, aku mohon lepaskan aku!" Pinta Rania yang terus saja memberontak hingga suaranya semakin melemah, rasanya sudah sangat lelah terus saja berteriak dan menangis tiada henti meratapi nasib buruk yang menimpanya saat ini.
Rania hanya merasa sedikit lebih tenang jika ada sang ayah yang berada di sampingnya. Akan tetapi sayangnya Nugraha tidak bisa selalu menemaninya karena sibuk dengan sang istri yang saat ini juga membutuhkannya, bahkan pekerjaannya saja selalu ia limpahkan kepada sang asisten.
Menyadari Rania yang sudah tak lagi memberontak, Steven memeluk Rania dengan erat hingga semakin lama wanita itu pun terlihat pasrah berada di dalam pelukan Steven.
"Rania, aku tahu aku yang sangat bersalah di sini, aku yang telah menghancurkanmu. Aku terlalu pengecut karena aku yang sudah lama diam-diam mencintaimu tetapi malah menghancurkan hidupmu. Aku juga tidak bisa menjagamu dengan baik sampai kau menjadi seperti sekarang ini. Tapi aku janji mulai saat ini aku akan selalu ada untukmu, aku akan menemani hari-harimu dan menjagamu Rania. Aku pastikan kau tidak akan pernah terlepas dari pandangan mataku," ucap Steven yang begitu serius.
"Kenapa hidupku harus seperti ini? Kenapa aku harus mengalami kesialan di dalam hidupku, kenapa masalah terus aja menghampiriku? Kenapa? Sekarang aku hanyalah wanita cacat, suamiku sudah tak menginginkanku lagi, hidupku benar-benar sudah hancur Stev," ucap Rania diiringi air matanya yang terus saja mengalir bak air sungai.
Steven yang mendengar akan hal itu juga ikut merasa sangat terpukul, hatinya begitu hancur karena melihat wanita yang dicintainya harus terpuruk di depan matanya sendiri.
Betapa terkejutnya Rania saat melihat Bara yang datang bersama dengan Kyara, bukan hanya Rania saja tetapi Kyara sendiri pun sangat terkejut karena tak menyangka jika teman yang dimaksud Bara sedang dirawat di rumah sakit adalah Rania, kakaknya sendiri. Kyara baru saja selesai memeriksa kandungannya dan Bara yang mengajaknya datang ke sini.
"Bara? Kyara?" Gumam Rania yang menatap keduanya dengan penuh amarah.
"Kak Rania kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" Tanya Kyara sembari berjalan mendekati Rania.
"Jangan mendekatiku, untuk apa kalian berdua datang ke sini hah? Pasti kalian senang 'kan melihat keadaanku seperti ini? Pasti kalian ingin menertawakanku 'kan?" Tuding Rania yang menatap keduanya dengan tajam secara bergantian.
"Tidak Kak, aku bahkan tidak tahu kalau Kakak berada di sini. Aku baru saja memeriksa kandunganku Kak, Bara yang mengajakku untuk datang ke sini," terang Kyara.
Mendengar akan hal itu membuat Rania merasakan hatinya begitu perih, karena lagi-lagi ia teringat baru saja kehilangan buah hatinya.
"Pasti kau senang 'kan Kyara karena saat ini aku telah kehilangan anakku, sedangkan kau bisa berbahagia dengan anak yang ada di dalam perutmu itu? Stev aku mohon tolong usir mereka dari sini, aku tidak mau melihat mereka," pinta Rania.
__ADS_1
"Apa yang Kakak maksud, kenapa dengan kandunganmu Kak?" Tanya Kyara kebingungan. "Bara ini sebenarnya ada apa, kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Tolong jelaskan Bara," pintanya.
"Kak, aku mohon jelaskan Kak dan jangan usir aku dari sini. Tolong beritahu aku apa yang terjadi." Kyara terus saja memohon dan mendekati Rania.
Akan tetapi Rania malah mendorong tubuh Kyara dengan sangat kasar, sehingga membuat emosi Bara yang sedari tadi ditahannya langsung meluap dan mendekati dua wanita itu.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sekali-sekali kau menyakiti wanitaku!" Bentak Bara sembari merangkul tubuh Kyara yang tadi hampir saja terjatuh.
"Kya, kau tidak apa-apa 'kan Sayang?" Tanya Bara, tetapi sama sekali tak dijawab oleh Kyara. Tentunya Kyara sangat marah karena Bara telah menyembunyikan masalah ini darinya.
"Heh Bara, kau yang diam! Seharusnya kau tidak berada di sini, kau telah menyakiti Rania dan sekarang berani sekali kau datang ke sini. Untuk apa Hah!" Bentak Steven yang akhirnya ikut angkat bicara. Ia tidak mau lagi ada seorang pun yang menyakiti wanitanya, sama halnya dengan Bara yang ingin melindungi wanita yang dicintainya itu.
"Cih pecundang, akhirnya kau bicara juga. Aku datang kesini juga tidak bermaksud untuk mengganggu wanita ini, aku datang kesini karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Bara mengulas senyum liciknya.
"Aku rasa kau tidak punya urusan apapun lagi dengan Rania. Kedatanganmu ke sini hanya akan semakin memperburuk keadaan. Kau sudah tahu 'kan kabarnya, aku yakin kau pasti tahu dari Kakek. Aku senang karena kau sama sekali tidak datang ke sini, tetapi Kenapa hari ini tiba-tiba saja kau muncul? Pasti kau sengaja ingin menertawakan Rania seperti apa yang Rania katakan tadi atau kalian berdua sengaja ingin memamerkan kebahagiaan kalian berdua. Iya 'kan?" Tuding Steven.
Kyara menggelengkan kepalanya sembari menangis, membantah tudingan Steven dan Rania kepadanya.
"Jaga ucapanmu bang sat! Aku datang ke sini hanya ingin memberikan surat ini," kata Bara sembari mencampakkan sebuah amplop coklat yang sedari tadi dipegangnya, bahkan Kyara sendiri saja tidak tahu apa isi amplop coklat tersebut. Memang Bara baru mendapatkannya karena Alex yang mengantarnya ke rumah sakit.
"Apa ini?" Tanya Rania menatap amplop itu dan Bara bergantian.
"Lebih baik kau buka saja!" Titah Bara ketus.
Rania menatap Bara sekilas, ia lalu membuka amplop coklat itu. Entah kenapa perasannya begitu tidak enak. Perlahan-lahan Rania mengeluarkan isinya, dan baru saja ia membaca tulisan yang ada dibarisan paling atas, air matanya langsung meleleh begitu saja.
Ternyata ... semuanya memang sudah hancur tidak tersisa.
Happy reading.
TBC.
__ADS_1