
"Apalagi yang kau ragukan? Malam itu apa kau melihat jika aku yang melakukannya?" tanya Bara menatap Rania begitu serius.
Rania terdiam sesaat, ia mengingat semua kejadian malam itu. Dan apa yang dikatakan oleh Bara benar, ia tidak melihat wajah Bara dengan jelas karena ruangannya yang gelap. Ia juga tidak tahu siapa yang sebenarnya menyentuh dirinya, karena ia sudah merasa berhasil setelah memberikan obat perangsang kedalam minuman Bara.
"Meskipun malam itu aku tidak melihat dengan jelas, tapi kau tidak akan bisa mengelak lagi Bara. Karena aku juga punya bukti kalau kau yang telah melakukan itu padaku," kata Rania balas menatap Bara dengan sengit, ia baru teringat akan satu bukti yang ia punya, dan Rania yakin kalau Bara tidak akan mengelak lagi setelah ini.
"Bukti apa Rania?" tanya Kakek Hardi.
Bara pun hanya mengerutkan dahinya, menebak bukti apa yang Rania maksud itu.
"Aku akan menunjukkannya, tapi jika Bara memang terbukti sudah melakukan ini semua. Dia harus bertanggung jawab penuh atas anak yang aku kandung dan berhenti memikirkan Kyara," ujar Rania.
"Cih, berhentilah berbicara omong kosong Rania. Sekarang buktikan saja kalau memang aku pelakunya, aku tidak akan mengelak ataupun lari dari tanggung jawab. Tapi ... jika kau tidak bisa membuktikannya, bersiaplah aku akan menghancurkan keluarga kalian," kata Bara, menatap satu persatu seluruh anggota keluarga Rania dengan tatapannya yang tajam layaknya elang.
"Bara!" bentak Kakek Hardi tidak suka dengan sikap cucunya yang kurang ajar itu.
Bara tidak menggubrisnya, ia hanya terus menatap Rania yang sama-sama beradu tatapan sengit dengannya.
"Baiklah, kita buktikan sekarang." Rania berucap dengan suara yang tegas, ia lalu beranjak pergi menuju kamarnya untuk mengambil bukti itu.
Yaitu sebuah kalung yang tidak sengaja tertinggal di kasur setelah kejadian waktu itu. Rania menggenggam kalung itu sangat erat, hanya itu satu-satunya bukti yang ia miliki dan ia yakin jika setelah ini Bara benar-benar tidak akan bisa mengelak.
Semua orang dibawah menunggu dengan keadaan yang sangat tegang. Steven bahkan tidak bisa duduk dengan tenang karena tatapan Bara yang sangat tajam seolah bisa menusuk jantungnya. Ia beberapa kali harus mengusap keringat dingin yang membasahi wajahnya.
Tak lama kemudian, Rania kembali kesana, membuat semua orang langsung menatap kearahnya, terutama Bara yang langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Apa yang kau bawa Rania? Cepat tunjukkan kepada kami, biarkan bukti itu membungkam mulut besar pria arogan ini," ujar Nugraha begitu tidak sabar, sejak tadi ia sudah menahan dirinya yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Bara.
"Papa tenang saja, setelah ini Bara tidak akan bisa mengelak lagi. Karena ... waktu kejadian itu Bara tidak sengaja menjatuhkan kalungnya," kata Rania segera mengeluarkan bukti yang ia punya.
Semua orang langsung menatap sebuah kalung yang memiliki liontin dengan batu pertama yang berwarna biru gelap itu. Bara tentu terkejut saat Rania membawa kalung itu karena, memang kalung itu milik keluarga mereka.
"Kalung itu ..."
"Ya, kalung ini adalah milikmu 'kan? Kau tidak akan bisa mengelak lagi Bara, jadi sebaiknya hentikan semua ini. Akuilah kalau kau memang yang telah melakukan itu padaku Bara," ujar Rania tampak sangat emosional dan juga sakit hati.
Bara terdiam sesaat, tapi sedetik kemudian ia tersenyum sinis membuat Rania dan kedua orang tuanya bingung.
"Beraninya kau tersenyum seperti itu, kau memang ba ji ngan!" Sandra yang sejak tadi diam segera merangsek maju dan mengangkat tangannya untuk menampar Bara.
Namun sayangnya Bara sudah lebih sigap menangkap tangan Sandra. "Sebaiknya jangan mengotori tanganmu Ma, lebih baik kau tampar saja ba ji ngan yang membuat putrimu hamil. Kalung itu bukan kalungku," kata Bara menghempaskan tangan Sandra dengan kasar.
"Masih mencoba mengelak juga Bara? Kalung ini jelas adalah kalungmu, aku sering melihat kau memakainya! Berhentilah berpura-pura Bara!" teriak Rania merasa sudah habis kesabarannya.
"Rania, kau memang wanita yang cerdas. Tapi sayangnya kali ini kau salah, kalung itu hanya mirip dengan kalungku. Tetapi milikku masih aku pakai sampai detik ini, kalung itu miliki Steven," ujar Bara menunjukkan kalung miliknya yang masih terpakai dan melirik Steven yang diam dengan wajah pucat pasi.
"Apa?" Rania lagi-lagi dibuat syok, ia memperhatikan kalung yang ia bawa dan kalung yang dipakai oleh Bara. "Bagaimana mungkin? Kau pasti membuat kalung baru setelah kalungmu ini hilang 'kan?" tuduh Rania tidak semudah itu percaya.
"Apa kau pikir aku seluang itu? Perhatikanlah baik-baik Rania, batu pertama di kalung itu sangat berbeda dengan kalung yang aku pakai. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Kakek, aku rasa Kakek juga tahu akan hal ini," kata Bara mengulas senyum penuh kemenangan, dengan adanya kalung itu justru menguatkan bukti jika Steven yang telah menghamili Rania.
"Kakek?" Rania beralih menatap Kakek Hardi yang hanya bisa bungkam. Wajah pria tua itu seolah bisa menjawab segalanya.
__ADS_1
"Kakek, jawab Rania Kek. Ini kalung milik Bara 'kan? Ini kalung keluarga Kakek," kata Rania mendesak.
"Itu memang milik keluarga Kakek," sahut Kakek Hardi membuat Rania sedikit tersenyum. Tapi ucapan selanjutnya membuat seluruh dunianya seolah berhenti saat itu juga.
"Tapi Kakek membuatkan untuk Bara dengan warna biru laut, dan kalung yang kau bawa itu berwarna biru gelap Rania, itu artinya kalung itu milik ... Steven. Dibelakang kalung itu juga ada inisal nama mereka, karena Kakek sengaja memberikannya agar tidak tertukar."
Rania tampak begitu syok, ia mencoba melihat kalung yang dibawanya itu dengan lebih teliti. Lalu dengan perlahan ia membalikkan liontinnya dan ada inisial ST disana, menjadi bukti nyata jika kalung itu memang milik Steven.
"Tidak mungkin ... jadi malam itu ..." Rania menggelengkan kepalanya berkali-kali, mencoba mengingat segala sentuhan yang membuat ia lupa segalanya. Ia berpikir itu Bara, namun nyatanya adalah Steven?
"INI TIDAK MUNGKIN!" Rania berteriak histeris seraya menjambak rambutnya sendiri, rasa marah, malu dan jijik seolah bercampur menjadi satu.
"Rania ... aku minta maaf," ucap Steven seolah ikut terluka melihat Rania seperti itu.
Rania langsung mengalihkan pandangannya kearah Steven, tatapannya sangat tajam mengerikan. Ia bergegas menghampiri pria itu dan tanpa ragu langsung menamparnya sangat keras.
"Brengsek! Beraninya kau melakukan itu padaku, Arghhhhh! Aku membencimu Stev!!!!" Rania mengamuk memukuli Steven dengan membabi buta, seluruh mimpi dan masa depannya seolah hancur saat tahu jika pria yang telah menghamilinya bukanlah pria yang dicintainya.
Steven sendiri tidak menangkis pukulan itu, ia lebih merelakan tubuhnya disakiti oleh Rania agar wanita itu puas.
"Maafkan aku, maafkan aku ..." hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut pecundang seperti Steven.
Rania masih begitu histeris dan tidak terima. Namun, beberapa saat kemudian mereka semua justru syok saat tiba-tiba Sandra terjatuh seraya memegang dadanya dengan ekspresi wajah yang tampak sangat kesakitan.
"Mama!"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.