
Sebuah altar megah tampak sudah berdiri kokoh disamping pantai yang indah. Semilir angin tampak meniup-niup kain putih yang menjadi hiasan di sekitar altar itu. Hari sudah sore meninggalkan kemelut warna jingga yang menambah syahdu suasana.
Beberapa tamu undangan juga sudah hadir dan duduk di kursinya masing-masing. Saling berbisik dan bergurau sembari menunggu sang mempelai datang.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Bara dan Kyara akan digelar. Bara memilih lokasi di tepi pantai kota Bali karena tempat itu adalah tempat impian Kyara jika menikah. Pria yang sudah begitu tergila-gila dengan sosok mantan adik iparnya itu tentu menyetujuinya saja, karena baginya permintaan Kyara adalah wajib hukumnya.
"Kyara, sebentar lagi acaranya akan dimulai. Kau sudah siap 'kan?"
Kyara menoleh saat mendengar suara wanita yang memanggilnya. Ia tersenyum tipis seraya mengangguk singkat pada sahabatnya Franda. Wanita itu menyempatkan waktunya untuk hadir menemani Kyara yang saat ini tidak punya siapapun lagi.
"Bagaimana penampilanku Franda? Aku sangat gugup sekali," kata Kyara beberapa kali menatap penampilannya di cermin.
Sebuah gaun putih yang begitu mewah dan elegan tampak membalut tubuh ramping Kyara. Dengan riasan minimalis dan tatanan rambut sederhana, membuat Kyara semakin cantik.
"Selalu cantik dong, malah cantik banget sekarang. Nggak rugi deh Bara nikahin sahabat aku ini, selamat ya Kya, akhirnya kau bisa menemukan kebahagiaanmu," ujar Franda memberikan pelukan hangatnya pada Kyara.
"Terima kasih Franda, terima kasih karena selalu mendukungku," ucap Kyara merasa ingin menangis jika mengingat ketulusan sahabatnya ini. Disaat semua orang membencinya, tapi tidak pernah sedikitpun meninggalkan dirinya.
"Apaan sih, terima kasih segala. Nggak usah nangis, nanti kau terlihat jelek. Kita itu sahabat dan aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku Kya, berbahagialah," kata Franda tersenyum sangat tulus.
Kyara hanya mengangguk singkat, ia kembali memeluk Franda sebelum ia keluar dari kamar dan berjalan menuju altar pernikahan. Setiap langkahnya terasa begitu mendebarkan, bunga mawar putih tampak bertaburan sepanjang langkah Kyara mendekat.
Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya menuju sosok pria yang sudah menunggunya dengan begitu gagah. Bara, pria kejam yang dulu ia benci setengah mati itu kini akan segera menjadi suaminya. Sungguh Tuhan sangat pandai membolak-balikkan keadaan. Dari semula yang begitu membenci, kini begitu mencinta.
Bara sendiri terdiam menunggu pengantinnya datang. Selama hidupnya, ia tidak pernah berpikir untuk menikah. Tapi semenjak ia bertemu Kyara, semuanya terasa berubah. Wanita dingin yang selalu bersikap apa adanya, tapi nyatanya berhasil menembus benteng kokoh yang selama ini melingkupi hatinya.
__ADS_1
"Papa ..." lirih Kyara begitu kaget melihat sosok Nugraha yang berdiri di samping Kakek Hardi. Ia sama sekali tidak menyangka jika Papanya akan benar-benar datang, karena beberapa waktu lalu Papanya menolak kehadirannya.
Nugraha tampak mengulas senyum tipis, namun sudut matanya terlihat basah. Melihat Kyara saat ini seperti mengingatkannya pada sosok Andin, Ibu Kyara yang sudah tenang di surga. Jika Andin tahu anaknya menikah, wanita itu pasti akan sangat senang.
Setelah waktu baik datang, acara pernikahan itu pun segera dimulai. Kyara tampak menggenggam tangan Bara dengan sangat erat di hadapan pendeta. Saat ini hatinya campur aduk tak karuan, antara bahagia bercampur haru.
"Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir, sebagai lambang kasih Kristus, yang tanpa awal dan tanpa akhir. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara Radeya Bara Perkasa dengan suadara Kyara Velencia, untuk meniru kasih Kristus dalam kehidupan rumah tangga dengan mengasihi pasangan tanpa awal juga tanpa akhir."
Pendeta itu melakukan pemberkatan seraya menyerahkan sebuah cincin pernikahan Bara dan Kyara. Setelah itu mereka berdua saling berhadapan dan mengungkapkan janji suci masing-masing.
"Istriku ..." lirih Bara tersenyum lembut pada Kyara seraya memasang cincin pernikahan mereka.
"Suamiku ..." Kyara balas tersenyum meski matanya terlihat berkaca-kaca, perlahan-lahan ia memasangkan cincin pernikahan itu ke jari manis Bara.
"Kami umumkan pernikahan kalian berdua sudah sah," ucap Pendeta mengumumkan pernikahan itu dengan suara yang lantang.
Di hari sore menjelang malam itu, menjadi hari bersejarah untuk Bara dan Kyara. Setelah hubungan terlarang yang di tentang oleh banyak orang, kini mereka berdua akhirnya bisa menemukan kebahagiaan mereka.
_____
"Bara, kita akan kemana? Jangan terburu-buru, kakiku sakit."
Kyara memprotes saat Bara mengajaknya buru-buru pergi, padahal acara masih belum selesai. Tapi pria yang beberapa jam yang lalu menjadi suaminya itu malah mengajaknya masuk ke dalam sebuah vila yang letaknya cukup jauh dari acara di gelar. Mereka bahkan harus menaiki mobil untuk sampai ditempat itu.
"Apa yang kau bayangkan?" Bara justru bertanya seraya merangkul pinggang istrinya dengan mesra.
__ADS_1
"Apa? Kamar?" Cibir Kyara, sudah hafal otak mesum suaminya itu, pasti tidak jauh-jauh dari kasur.
"Hahaha, kau memang sangat pintar. Ingat, sudah satu bulan aku berpuasa, bersiaplah aku akan menghabisimu," bisik Bara tiba-tiba saja langsung meraih Kyara ke dalam gendongannya.
Kyara berteriak kecil karena kaget, tapi ia segera menyembunyikan wajahnya di dada Bara karena rasa malu yang luar biasa. Ia memang sengaja memberikan persyaratan kepada Bara agar pria itu tidak menyentuhnya sebelum mereka menikah. Dan Bara ternyata benar-benar melakukannya.
Bara membawa ke salah satu kamar yang sudah disiapkan. Ia membuka kamar itu dengan satu tangan dengan satu tangan yang menggendong Kyara. Begitu sampai di dalam, baru ia menurunkan Kyara.
"Aku ... akan mandi dulu," kata Kyara begitu gugup.
"Eitssss ... mau kabur kemana Nyonya?" Bara langsung menutup akses sebelum Kyara lolos.
"Aku belum mandi Bara, gerah," kata Kyara gugup, kini tubuhnya sudah terperangkap dibalik pintu yang tertutup.
"Siapa yang mengizinkanmu mandi?" bisik Bara merangsek maju, mengikis jarak antara keduanya. "Kau hanya boleh mandi, setelah ini."
Tepat setelah mengatakan hal itu, Bara langsung saja mencium bibir manis Kyara yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia menarik pinggang wanita itu hingga tubuhnya menempel erat.
Kyara hanya bisa pasrah, ia membalas ciuman Bara dengan panas dan juga liar. Ia lalu mendongak saat Bara mulai menciumi telinga dan lehernya.
"Bara ... ahhhh ..." Kyara men de sah lirih, ia mencengkram lengan Bara saat merasakan sensasi yang begitu geli, geli namun mengasikkan.
"Aku harus melepas ini dulu, gaun mahal tapi sangat menganggu," desis Bara menarik lengan Kyara lalu membalikkan tubuhnya hingga pipi Kyara menghantam pintu dengan cukup keras.
BRAKKKKK!!!!
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.