
Bara tidak henti mengumpat kata-kata kasar dan menyebut segala isi kebun binatang disaat ia terjebak macet yang sangat panjang. Padahal saat ini ia sedang berkejaran dengan waktu. Bara sangat takut jika Kyara akan benar-benar pergi meninggalkannya bersama anak mereka.
"Rania ... kau benar-benar belum tahu siapa aku. Jika sampai Kyara pergi, aku benar-benar akan menghancurkanmu beserta keluargamu," geram Bara memukul setir mobilnya dengan sangat keras. Wajah pria itu memerah dan sorot matanya begitu tajam.
"Ayolah, kenapa mereka semua ban sat sekali. Come on ..." Bara menyalahkan klakson mobilnya berkali-kali, berharap jika para pengguna jalan yang menurutnya sangat tidak penting itu bergegas pergi.
Namun, tentu saja hal itu percuma saja karena saat ini sedang terjadi kecelakaan dan korbannya sedang dievaluasi. Membuat Bara tidak punya pilihan lain selain turun dari mobilnya dan berlari menuju Bandara.
"Tidak ada jalan lain, aku harus mendapatkan Kyara saat ini juga," kata Bara menerobos teriknya matahari siang itu demi mengejar wanitanya yang akan terbang sebentar lagi.
Seumur hidupnya, Bara hampir tidak pernah berkeringat atau panas-panasan seperti ini. Tapi, demi Kyara, dia melawan apapun yang ada didepannya. Benar-benar definisi cinta mengalahkan segalanya.
*****
Sementara itu di sebuah Bandara Internasional, terlihat Kyara yang di saat itu masih duduk melamun menunggu pesawat take off, setelah 1 jam delay.
"Maafkan aku Bara, mungkin ini adalah yang terbaik. Aku harus pergi meninggalkanmu dengan membawa anak kita. Aku tidak tahu apakah aku sanggup atau tidak menjaga anak ini sendirian, tapi aku yakin dengan cinta yang aku miliki aku bisa menjaganya. Daripada aku harus menggugurkan kandungan ini, lebih baik aku pergi meninggalkan kau dan Kak Nia. Semoga kalian berdua bahagia," gumam Kyara dengan air matanya yang menetes sembari mengelus perutnya yang masih tampak rata.
Di saat itu pun terdengar pengumuman bahwa pesawat tujuan New York Amerika Serikat akan segera take off, hingga Kyara beranjak dari tempat duduknya.
"Selamat tinggal, Bara." Kyara segera mengusap air matanya dengan kasar, menguatkan hati dan kakinya untuk melangkah pergi meninggalkan kota yang menyimpan sejuta kenangan baginya itu.
Sedangkan Bara baru saja sampai di Bandara, pria itu terus berlari menerobos banyaknya orang yang berlalu lalang. Minimnya informasi yang ia dapatkan tentang tujuan perginya Kyara membuat Bara sangat kebingungan.
"Kyara, kau dimana? Jangan pergi Kyara." Bara tidak henti mengulangi kata-kata yang sama sepanjang langkahnya mencari wanita itu.
Bandara yang sangat luas itu sudah dikelilingi oleh Bara hingga nafas pria itu tersengal-sengal dan keringat membasahi wajahnya. Bara menduduk dan ingin sekali menyerah, air matanya pun terlihat mulai menghiasai matanya yang hitam kelam.
"Jangan pergi Kya ... kau dimana?" lirih Bara mengusap wajahnya dengan kasar, benar-benar sangat frustasi tidak menemukan Kyara dimanapun.
Akan tetapi, sepertinya takdir berkata lain. Saat Bara berbalik dan ingin mencari lagi, matanya tidak sengaja menatap siluet tubuh wanita yang sangat ia kenali. Kibasan rambutnya dan caranya berjalan membuat Bara tahu jika itu adalah wanita yang dicarinya.
__ADS_1
"Kyara berhenti!" Bara berteriak sangat keras hingga suaranya terdengar menggema di Bandara itu.
Terdengar suara seseorang yang menghentikan langkah Kyara dan ia sangat terkejut saat membalikkan tubuhnya, melihat seseorang yang sudah berdiri tidak jauh dari tempat ia berdiri saat ini.
"Bara?" Kyara menyebut nama pria itu tanpa suara.
Bara tidak membuang waktunya, ia segera berlari menghampiri Kyara yang bersiap untuk melakukan boarding pass. Akan tetapi, sebelum Bara sampai, ia sudah lebih dulu dicegah oleh petugas karena ia tidak memiliki kepentingan disana.
"Brengsek! Lepaskan aku!" hardik Bara berontak dari pegangan kedua petugas itu.
"Maaf Tuan, orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk, ini area terlarang," ujar petugas dengan suaranya yang tegas.
"Bang sat! Aku harus menemui wanitaku, Kyara! Jangan pergi Kya, kita harus berbicara, jangan tinggalkan aku," ujar Bara menatap Kyara dengan tatapannya yang nanar, ia juga terus berontak dari kedua petugas sialan itu.
Kyara mengigit bibirnya, hatinya sakit sekali saat melihat wajah Bara seperti itu. Tapi lagi-lagi ia mencoba menepis perasannya dan tetap saja melangkahkan kakinya.
"Kyara! Berhenti Kya, jangan tinggalkan aku, percayalah aku sangat mencintaimu Kyara! Jangan pergi dengan membawa anak kita! Kembalilah, aku sangat mencintaimu Kya!" Bara kembali berteriak-teriak, tidak peduli saat ini ia sedang ditempat umum, ia dengan lantang mengungkapkan perasaannya.
Kyara menggelengkan kepalanya, ia tetap melangkahkan kakinya dan membiarkan air matanya jatuh membasahi wajahnya. Ia teringat akan Kakaknya yang saat ini juga mengandung anak Bara, ia tidak mau menjadi wanita egois yang akan memisahkan mereka.
"Hei, hei, jangan lari kamu!" teriak petugas itu seraya meringis kesakitan.
Bara tidak menghiraukannya, ia cepat-cepat berlari menghampiri Kyara dan tanpa ragu langsung menarik tangan wanita itu hingga langkahnya terhenti.
"Bara!" seru Kyara begitu kaget.
"Jangan coba-coba pergi Kya," kata Bara menatap Kyara tajam dan juga sendu secara bersamaan.
"Tidak bisa Bara, aku harus tetap pergi. Kembalilah kepada Kak Nia, lupakan aku. Dia lebih membutuhkanmu daripada aku," ujar Kyara balas menatap pria itu begitu sendu.
"Tidak akan! Kau tahu aku hanya mencintaimu, apa menurutmu Kakakmu akan lebih bahagia jika dia hidup bersamaku?" kata Bara.
__ADS_1
"Setidaknya demi anak kalian Bara, kasihanilah dia, aku tidak mau memisahkan kalian berdua," lirih Kyara menundukkan wajahnya, mencoba menahan rasa perih yang seperti disayat-sayat sembilu tajam.
"Omong kosong! Aku tidak pernah melakukan hal itu selain bersamamu," ucap Bara menjelaskan.
"Apa maksudmu Bara? Kak Nia tidak mungkin berselingkuh," kata Kyara menatap Bara tidak percaya.
"Itu memang kenyataannya Kya, jika Rania hamil, itu pasti bukan anakku. Kau pasti tidak akan percaya, tapi malam itu yang bersama Rania adalah Steven, bukan aku. Kau tahu sendiri saat itu kita berdua bersama!" Bara menjelaskannya dengan nada serius dan menggebu-gebu, ia merasa harus mengatakan hal itu pada Kyara agar wanita itu tidak salah paham.
"Steven?" Kyara membesarkan matanya kaget, sama sekali tidak menyangka jika Steven yang tidur dengan Kakaknya.
Kyara lalu coba mengingat malam itu, memang benar saat itu Bara bersama dirinya dan bercinta sangat panas ditepi pantai. Jadi tidak mungkin jika Bara sempat melakukannya dengan Kakaknya.
"Iya, aku memang belum menjelaskannya pada Rania. Setelah ini, aku pasti akan mengatakan segalanya Kya, aku hanya mohon, jangan tinggalkan aku Kya. Kau begitu memikirkan anak Rania, lalu bagaimana dengan anak kita? Apa kau tega memisahkannya denganku, Ayahnya?" kata Bara memegang kedua lengan Kyara, menatap wanita itu dengan segala perasaan yang dimilikinya. Berharap penjelasanya ini mampu meluluhkan hati Kyara untuk tetap bertahan disampingnya.
"Kita pasti bisa melewati ini semua Kya, percayalah padaku, aku sangat mencintaimu," ucap Bara terus meyakinkan Kyara.
Kyara terdiam seraya menatap mata indah Bara, mencoba mencari kebohongan dari sorot mata itu. Namun, sayangnya Bara menatapnya sangat serius.
"Jalan kita sangat sulit Bara," ucap Kyara sudah bisa membayangkan akan seperti apa jadinya jika mereka bersatu.
"Selama kau terus di sampingku, tidak ada hal yang terasa sulit. Teruslah pegang tanganku Kyara, aku berjanji padamu, aku akan selalu melindungimu dan anak kita. Mari hidup bersama dan melewati ini semua, percayalah padaku Kya," ujar Bara berganti menggenggam tangan Kyara begitu erat. Ucapannya begitu serius membuat perlahan-lahan hati Kyara luluh.
"Aku percaya padamu Bara," sahut Kyara balas menggenggam tangan Bara tak kalah eratnya.
Hembusan nafas lega langsung terdengar dari bibir Bara, pria itu tanpa ragu langsung memeluk Kyara dan dibalas sangat erat oleh wanita itu.
"Terima kasih, terima kasih Kyara. Aku sangat mencintaimu," ucap Bara menciumi rambut Kyara dengan penuh cinta, pelukannya begitu erat seolah tidak ingin terlepas sedikitpun.
"Aku juga ... mencintaimu." Untuk pertama kalinya Kyara mengungkapkan perasaannya, membuat kebahagiaan Bara semakin bertambah.
Kyara tahu semua ini salah, tapi ... dalam cinta tidak ada yang salah.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.