
"Itu surat putusan dari pengadilan, mulai detik ini kau bukan lagi istriku Rania. Dan kau jangan pernah menyalahkan Kyara atas semua ini. Karena aku yang datang padanya, bukan dia," kata Bara datar tanpa ekspresi, ia tidak perduli jika ucapannya itu justru menambah luka dihati Rania.
Kyara yang mendengar itu sebenarnya cukup senang karena tahu jika Bara benar-benar mencintainya. Tapi di satu sisi ia kasihan dengan Kakaknya yang harus menderita karena dirinya.
"Apa memang tidak ada harapan lagi? Semuanya sudah selesai sekarang? Kau benar-benar memilih dia daripada aku? Katakan Bara, kenapa harus dia? Apa yang kurang dariku sampai kau tega melakukan ini?" lirih Rania menatap Bara penuh luka, air matanya kembali meleleh begitu saja karena kabar yang mengejutkan ini.
Bara menghela nafas panjang. "Aku tahu kau wanita baik, maafkan aku jika tidak bisa pernah memberikan hatiku untukmu. Sekarang ... sudah ada pria lain yang lebih mencintaimu, dan itu bukan aku," kata Bara sedikit lembut mengatakannya, bagaimanapun juga Rania tidak pernah salah dalam hal ini. Semua salah dirinya sendiri yang ingin mendapatkan Kyara dengan cara kotor.
Rania tersenyum kecut, ia menunduk tanpa ingin melihat wajah Bara lagi. "Stev, tolong bawa mereka pergi, aku ingin istirahat," ucap Rania.
"Ya, aku akan menyuruh mereka pergi. Kau beristirahatlah," sahut Steven mengangguk singkat, ia bergegas mendatangi Bara dan bersiap untuk mengusir mereka.
"Tunggu dulu, aku kesini sebenernya bukan hanya ingin memberikan surat itu. Tapi aku juga ingin memperingatkanmu Rania, jangan coba-coba mendekatiku dan Kyara lagi. Atau mungkin berniat untuk melakukan hal gila yang seperti kau lakukan kemarin. Aku masih memaafkanmu karena Kyara dan anakku baik-baik saja, tapi tidak dengan lain kali," tutur Bara kembali ke setelan awalnya, datar dan dingin, sorot matanya begitu tajam mengingat jika Rania berniat untuk mencelakai Kyara.
Semua orang yang ada diruangan itu begitu kaget mendengar ucapan Bara. Terutama Kyara yang tidak menyangka jika Kakaknya bisa mempunyai niat untuk mencelakai dirinya.
"Kak, apa ini semua benar? Kakak yang ingin menabrak aku kemarin?" desak Kyara mendekati Kakaknya.
Rania mendadak panik, ia begitu kesusahan menelan ludahnya karena ternyata Bara sudah mengetahui jika ia yang ada dibalik insiden kemarin itu.
__ADS_1
"Kak Nia, jawab aku Kak, apa benar Kak Nia yang sudah melakukan itu Kak?" Kyara kembali mendesak Kakaknya, kali ini ia mencoba memegang tangan Rania.
Namun, tiba-tiba saja Steven mendorong tubuh Kyara dengan keras hingga ia terhuyung ke belakang. Untungnya Bara lagi-lagi lebih sigap menahan tubuh Kyara.
"Bang sat! Apa yang kau lakukan!" hardik Bara begitu marah.
"Jangan asal menunduh jika tidak ada bukti, pergi kalian berdua dari sini!" bentak Steven tak kalah marahnya, ia tidak terima melihat Rania di pojokkan seperti ini.
"Kau membela wanitamu yang jelas-jelas sudah bersalah. Pria macam apa kau, ha!" Bukannya pergi, Bara jutsru balas mendorong Steven seperti saat pria itu mendorong Kyara, ia juga tidak terima melihat Kyara di perlakukan dengan kasar.
"Lalu, bagaimana dengan kau? Kau juga membela wanitamu yang jelas-jelas juga bersalah. Dia bahkan wanita yang sangat kejam yang tega mengkhianati Kakaknya sendiri! Apa sebegitu murahannya kau Kyara?" ucap Steven menatap Kyara dengan tatapan merendahkan.
"Bara!"
"Steven!"
Kyara dan Rania memekik kaget melihat apa yang dilakukan oleh Bara. Dan kini keadaan justru semakin memanas karena Steven juga tidak mau kalah, ia balas menendang perut Bara hingga pria itu membungkuk kesakitan.
"Bedebah, ayo kita selesaikan sekarang juga brengsek!" Teriak Bara semakin marah, ia lagi-lagi merangsek maju dan menghajar Steven tanpa ampun.
__ADS_1
Steven beberapa kali menangkis pukulan Bara, tapi pria itu lebih cekatan membuat ia begitu kewalahan. Pekikkan Rania dan Kyara juga semakin terdengar melihat kedua pria itu berkelahi.
"Bara, hentikan Bara, ini dirumah sakit!" teriak Kyara bergegas menarik tangan Bara, ia melirik Steven yang sudah babak belur karena ulah Bara, jika dibiarkan Steven bisa saja mati.
"Lepaskan aku, biarkan aku membunuh pria ini agar mulutnya tidak berbicara sampah!" umpat Bara masih menatap Steven penuh dendam, keringat dan beberapa nyeri ditubuhnya ia abaikan begitu saja.
"Kau yang manusia sampah!" Steven balas mengumpat.
"Kurang ajar!" Bara kembali merangsek maju tapi Kyara dengan cepat menahannya kembali.
"Kalau kau ingin melanjutkannya, aku akan sangat marah padamu," ancam Kyara menatap Bara begitu tajam.
Bara berdecak kesal, ia menarik tangannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan ruangan itu, padahal ia belum puas menghajar Steven. Tapi jika Kyara sudah mengancamnya, ia tidak akan bisa melakukan apapun.
Melihat Bara pergi, Kyara segera menyusul pria itu dibelakang. Semua yang terjadi itu, Rania tentu melihatnya dan hanya bisa tersenyum kecut. Hanya dengan ancaman seperti itu saja Bara langsung luluh, membuat Rania yakin jika Bara memang benar-benar mencintai adiknya itu.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1