
Untungnya mata Bara begitu jeli sehingga di saat itu pun Kyara selamat dari mobil yang melaju kencang dan sepertinya dengan sengaja ingin menabraknya, karena Bara dengan cepat memeluk dan membawa wanitanya itu ke tepi jalan. Meskipun keduanya terjatuh serta tangan Bara yang terantuk pembatas jalan.
Kyara tampak syok, akan tetapi setelah melihat pria yang ada di bawahnya pun membuat Kyara lebih tenang dan sekarang malah tampak khawatir melihat keadaan Bara yang sepertinya kesakitan menahan tubuhnya itu.
"Bara, aku minta maaf," ucap Kyara yang langsung saja membangunkan dirinya lalu duduk di samping Bara. Begitu juga dengan Bara yang kini telah duduk dan tampak cemas memeriksa keadaan ibu dari calon anaknya itu.
"Bara, kau kenapa?" Tanya Kyara kebingungan melihat perlakuan Bara.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? Apakah perutmu sakit? Kita ke rumah sakit ya sekarang, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu dan anak kita. Aku benar-benar minta maaf karena tadi telah lalai menjagamu, hampir saja kau celaka gara-gara aku," ucap Bara yang terlihat sangat menyesal dan sangat panik, ia menatap Kyara dari atas sampai bawah seolah memastikan wanita itu tidak terluka sedikitpun.
"Jangan meminta maaf padaku Bara, kau sama sekali tidak salah. Lagipula aku baik-baik saja dan ini semua karena kau yang telah menolongku. Aku juga sama sekali tidak merasakan sakit di perutku, aku yakin anak kita baik-baik saja," ucap Kyara dan di saat itu pun matanya tertuju pada siku bara yang mengeluarkan darah segar.
"Bara, kau terluka!" Kyara menjerit serta merasakan nyeri melihat luka yang cukup besar pada siku Bara.
"Aku tidak apa-apa Kya, ini hanya luka kecil, tidak seberapa karena keselamatanmu lebih penting bagiku," ucap Bara yang meyakinkan Kyara bahwa ia baik-baik saja. Baginya luka itu sama sekali tidak ada apa-apanya, jika ia bisa, ia bahkan akan merelakan nyawanya untuk Kyara.
"Luka kecil bagaimana, ini darahnya banyak banget. Aku tidak mau kau terluka apalagi gara-gara menyelamatkanku Bara," ucap Kyara yang terlihat tampak cemas.
"Kya, kau mau kemana?" Tanya Bara yang melihat Kyara bangkit dan hendak pergi.
__ADS_1
"Kau tunggu saja di sini, aku akan mencari obat untukmu. Kebetulan di seberang jalan sana ada toko obat," ucap Kyara yang menunjuk ke arah Apotek yang dimaksudnya.
"Jangan Kya, aku tidak mau akan ada bahaya lagi yang menghampirimu," sergah Bara, sekilas ia melihat plat mobil yang sempat hampir mencelakai Kyara, tangannya sontak mengepal erat setelah menebak siapa dalang dari semua ini.
"Lebih baik sekarang kita ke mobil saja, di dalam mobil ada kotak P3K," sambungnya dan ditanggapi anggukan kepala oleh Kyara yang menyetujuinya. Lalu keduanya pun berjalan menuju ke mobil.
______
"Arghhhhhhhh! Sialan! Brengsek kau Kyara, beraninya kau membohongiku!" Rania mengamuk di dalam mobilnya setelah ia gagal mencelakai Kyara. Wanita yang menjadi penghalang kebahagiannya dan juga menjadi sumber penderitaannya.
Ya, memang Rania yang dengan sengaja ingin mencelakai Adiknya itu. Wanita itu begitu marah setelah tadi ia tidak sengaja melihat bagaimana Kyara masih ada berada di kota Jakarta bersama Bara.
Karena stok persediaan obat di rumah sakit di saat itu telah habis sementara Sandra membutuhkan obat itu segera, sehingga dokter meminta keluarga untuk mencarikan obat tersebut. Nugraha yang awalnya ingin mencarikan obat itu tetapi terhalang karena tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya sakit, mungkin karena sudah beberapa hari kurang istirahat karena menjaga istrinya itu di malam hari tanpa tidur sama sekali.
Namun, setelah selesai membeli obat dan keluar dari Apotek tersebut dari kejauhan tidak sengaja matanya tertuju pada sosok Bara dengan seorang wanita yang sangat tidak asing baginya, membuatnya pun membelalakkan matanya karena merasa sangat terkejut dan memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
"Bara dan Kyara? Jadi ternyata Kyara ada di sini? Aku yakin pasti Bara yang sudah menyembunyikan wanita ja lang itu. Brengsek! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kau hidup tenang Kyara. Kau telah menghancurkan hidupku dengan mengambil pria yang aku cintai, bahkan saat ini Mama juga stroke itu semua gara-gara kau," gumam Rania yang menatap tajam penuh amarah dan kebencian.
Rania melihat dengan jelas bagaimana Bara dan Kyara berjalan dengan begitu mesra. Bara bahkan tidak henti menatap wajah Kyara dengan seulas senyuman manis di bibirnya. Sebuah senyuman yang hampir tidak pernah Rania dapatkan, dan kini sekarang Bara tersenyum sangat manis saat bersama Kyara.
__ADS_1
Rania sangat benci melihat itu semua, Rania benci karena mereka berdua justru bahagia disaat hidupnya hancur berkeping-keping.
"Brengsek kau Kyara, kau benar-benar wanita ja la ng. Jangan harap aku akan membiarkanmu bahagia selama aku masih hidup. Jika aku tidak bisa mendapatkan Bara, kau juga tidak akan bisa," ujar Rania dengan penuh kebencian yang nyata.
Rania lalu masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Entah apa yang dipikirkannya saat itu, ia hanya tidak ingin melihat Kyara lebih bahagia dari dirinya. Setelah itu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan sengaja hendak menabrak Kyara.
"Kau harus mati bersama bayi sialan itu," gumam Rania benar-benar sudah dibutakan amarah dan dendam sehingga ia tidak perduli lagi dengan apa yang dilakukannya saat ini.
Rania melaju dengan sangat kencang dan sudah sangat siap menabrak Kyara. Akan tetapi, sialnya Bara justru lebih cepat darinya dan berhasil menyelamatkan Kyara.
"Oh shitttt" Teriak Rania begitu marah karena usahanya sia-sia. Jika mengingat itu semua Rania begitu meradang.
"Kali ini kau bisa lolos Kya, tapi tidak lain kali," kata Rania dengan nada yang penuh kekesalan, ia lalu melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan penuh. Ia seolah meluapkan amarahnya dengan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang.
Rania menyalip beberapa kendaraan yang menurutnya menghalangi jalannya. Sayangnya karena begitu emosi, Rania malah jadi tidak fokus dan disaat bersamaan ada sebuah mobil truk besar yang melaju dari arah berlawanan.
"Akh …!" Rania berteriak keras saat melihat mobil itu, ia mencoba membanting setir kearah kanan. Namun, naas justru ada mobil lain yang langsung menyambut mobil Rania hingga tabrakan pun tidak terelakkan.
Dentuman itu sangat keras hingga terdengar membahana, gesekan besi mobil dan decitan ban terdengar begitu memekakkan. Mobil Rania kehilangan kendali dan terpental sangat jauh. Rania juga langsung kehilangan kesadarannya diantara ringseknya mobil.
__ADS_1
Happy reading.
TBC.