Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
( S2 ) Bab 2. Jodoh Tidak Ada Yang Tahu.


__ADS_3

Kalea bergegas menemui Rajendra yang ada di ruang tamu, ia sudah sangat bersemangat ingin melihat wajah tampan Rajendra. Akan tetapi semangatnya langsung pupus begitu melihat wajah Senja yang ikut datang. Bertambah kesal tatkala ia melihat gandengan tangan mereka.


"Untuk apa kalian datang kesini?" tanya Kalea dengan sangat ketus.


Rania ikut ke sana, ingin memastikan jika tidak ada masalah yang serius nantinya. Ia juga ingin tahu apa maksud kedatangan Rajendra ke sana.


"Hanya ingin mengambil yang seharusnya menjadi miliki istriku," jawab Rajendra masih dengan sikapnya yang dingin, wajahnya tidak berubah sama sekali.


"Apa maksudmu, kak? Jika tidak penting, lebih baik kalian pulang saja. Aku sedang sibuk," kata Kalea seraya mengalihkan pandangannya, entah kenapa ia gugup sekali melihat wajah Rajendra.


"Aku akan pergi setelah kamu mengembalikan cincin istriku," ucap Rajendra memandang Kalea sangat tajam.


Kalea terkejut, ia langsung menyembunyikan tangannya dari Rajendra. Ia tidak menyangka jika Rajendra akan mengetahuinya dengan mudah.


"Cincin apa? Aku tidak tahu apapun, pergilah dari sini kalian," ujar Kalea dengan wajahnya yang ketakutan.


"Sepertinya peringatan saja tidak cukup untukmu, Lea. Kembalikan cincin istriku sekarang!" bentak Rajendra memukul meja kaca yang di hadapannya hingga retak.


Prakkkkkk!


Kalea begitu ketakutan, tapi ia masih tidak mau menyerahkan cincinnya.


Rajendra mendesis kesal, ia bangkit dari duduknya lalu mendekati Kalea, ia menarik tangan wanita itu dengan kasar.


"Tidak seharusnya kamu melakukan ini, Lea. Kamu dengan lancang sudah membuat istriku menangis dan kepanasan, kamu pikir siapa dirimu?" bentak Rajendra menatap Kalea penuh amarah.


"Kakak membentakku?" lirih Kalea menahan tangisnya.


"Aku bisa melakukan yang lebih dari ini jika kamu melewati batasmu, Lea. Kembalikan cincinnya," titah Rajendra, tapi Kalea malah menyembunyikan tangannya kembali.


Rajendra begitu geram, tidak peduli ada Rania disana, ia langsung menarik tangan Kalea dengan kasar lalu mengambil cincin Senja yang dipakai oleh Kalea.


Senja yang melihat cincinnya begitu kaget, ia tidak menyangka jika Kalea selicik itu. Wanita itu sengaja membuatnya berpanas-panasan, tali ternyata Kalea telah menyembunyikan cincinnya. Benar-benar sangat licik.


"Aduh," rintih Kalea merasakan perih di jarinya.


"Rajendra, bisakah kamu bersikap lembut? Kamu bisa memintanya baik-baik," tutur Rania, tidak tega melihat putrinya diperlakukan seperti itu.


"Aku bersikap sebagaimana dia bersikap pada istriku. Dia sudah keterlaluan membuat istriku kepanasan dan melukai wajahnya. Kali ini aku masih bisa memaafkannya, katakan pada anak Bibi, jangan pernah menganggu istriku lagi," kata Rajendra dengan suara tegasnya.


Rajendra ingin menegaskan pada Kalea jika sudah tidak ada lagi tempat dihatinya untuk wanita itu. Selama ini sepertinya sikap diamnya belum membuat Kalea mau mundur.


"Kakak jahat! Kakak mengatakan mencintaku, tapi hanya karena ja lang ini datang, Kakak langsung melupakan aku. Dia memang wanita murahan!" teriak Kalea.

__ADS_1


Plak!!


Sebuah tamparan keras langsung mendarat sempurna di pipi Kalea. Semua orang sangat terkejut, dan mereka lebih terkejut karena yang telah melakukan itu adalah Rania.


"Mama!" Kalea berteriak seraya menangis, tidak menyangka jika ibunya akan menamparnya seperti itu.


"Rajendra, lebih baik kamu bawa istrimu pulang," kata Rania tanpa menatap kearah mereka, ia hanya menatap lurus pada putrinya yang tengah menangis itu.


Rajendra tidak menyahut, tapi ia bergegas mengajak Senja pergi. Sudah bukan ranahnya mengurusi Kalea.


"Mama jahat!"


Sepeninggal Rajendra, Kalea langsung berteriak marah pada ibunya. Ia tidak terima di pukul seperti itu hanya karena wanita seperti Senja.


"Mama akan menjadi ibu yang lebih jahat kalau membiarkan kamu berada dijalan yang salah. Cobalah ikhlaskan dia, Nak," kata Rania dengan sendunya.


"Mama pikir semua itu mudah? Aku yang lebih dulu mencintai dia, kenapa bukan aku yang jadi pemenangnya?!" jerit Kalea begitu frutasi karena semua orang menentang dirinya.


"Cinta kamu tidak salah, tapi cara kamu yang salah, Lea. Mau sekuat apapun kamu mencintainya akan tetap kalah dengan seseorang yang dia cintai. Tolong, jangan seperti ini, Lea, sudah cukup dulu Mama merasakan sakit karena cinta yang tidak terbalas. Pergilah, cari kebahagiaanmu yang lain," tutur Rania tidak bisa menahan tangisnya, luka hatinya yang dulu seolah terasa kembali karena melihat putrinya yang juga mendapatkan nasib yang sama.


Kalea semakin mengencangkan tangisnya, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis sejadi-jadinya.


"Aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa, Ma," ucap Kalea.


Rania segera memeluk putrinya. "Bisa, kamu pasti bisa, Lea. Papa dan Mama, akan mengenalkanmu dengan seseorang. Mama harap, kamu akan bisa menemukan kebahagiaanmu yang lain," ujar Rania.


"Mama sudah berbicara-"


"Papa yang akan menjodohkanmu," sela Steven yang tiba-tiba saja muncul, pria itu baru pulang bekerja dan sempat mendengar pembicaraan putrinya.


"Kalian ini apa-apaan? Aku tidak mau dijodohkan!" Kalea kembali menjerit tidak terima.


"Papa tidak sedang menawarkan, tapi ini hal yang harus kamu lakukan. Jika kamu memang menyayangi Papa dan Mama, kamu harus menerima perjodohan ini," ujar Steven dengan sangat lantang dan tegas.


"Papa, aku-"


"Papa akan mengatur pertemuannya. Mama tolong jelaskan pada putri Mama ini," sergah Steven tidak mau lagi mendengar bantahan apapun dari putrinya. Menurutnya keputusannya ini yang paling baik untuk Kalea.


_______


"Sini, aku akan memakaikan cincinnya."


Setelah dari rumah Kalea, Rajendra mengajak Senja pergi ke kota tua untuk menikmati sore dengan secangkir teh. Memandang pemandangan langit yang dihiasi semburat warna Senja yang indah. Menjadi sebuah momen yang sangat membahagiakan.

__ADS_1


Senja menurut, ia mengulurkan tangannya kepada Rajendra lalu pria itu memasangkan di jari manisnya.


"Cantik banget," kata Rajendra membawa tangan Senja ke bibirnya.


Senja tersipu-sipu. "Aku selalu cantik," kata Senja berpura-pura mencibir untuk menutupi salah tingkahnya.


"Kamu benar, wanita yang paling cantik, yaitu istriku," ucap Rajendra melempar senyum indahnya.


"Berhenti menggombal, Tuan muda. Katakan padaku, darimana kamu tahu kalau cincinnya berada ditangan Kalea?" tanya Senja dengan raut wajah penasaran.


"Aku sudah mengenalnya sejak kecil, aku tahu apa yang selalu dia pikirkan," sahut Rajendra seadanya saja.


"Oh, pantaslah. Seharusnya memang kalian itu bersama," ketus Senja merasa cemburu karena suaminya lebih mengenal wanita lain ketimbang istrinya sendiri.


Rajendra tertawa kecil, ia mencubit gemas pipi Senja yang kini kian berisi itu. "Apakah ini namanya cemburu, Nyonya besar?" ejek Rajendra.


"Mana ada? Aku tidak cemburu," elak Senja masih dengan sikap ketusnya.


"Sudah cemburu saja, padahal tinggal mengatakan. 'Aku tidak suka kamu memikirkan dia, Sayang.' Apa sih susahnya?" ucap Rajendra semakin suka mengejek istrinya itu. Ia tahu jika gengsinya Senja ini diatas angin.


"Iya iya, aku ngaku kalau aku cemburu. Puas kamu?" kesal Senja mencubit lengan suaminya dengan keras karena begitu sebal.


"Hahaha, nah gitu dong. Tapi aku seneng kalau kamu gini terus, artinya kamu cinta sama aku," kata Rajendra tersenyum-senyum senang.


"Kalau pun aku nggak cinta, kamu tetep maksa aku buat cinta," cibir Senja.


Rajendra semakin mengencangkan tawanya, ia lalu menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan.


"Aku sudah pernah mengatakannya belum, kalau aku sangat beruntung bisa bertemu denganmu," kata Rajendra memandang Senja penuh cinta.


"Aku ingin berterima kasih, karena sudah hadir dalam hidupku."


"Terima kasih, karena sudah mau menerima segala sifat burukku."


"Terima kasih juga karena kamu sudi menerima pria brengsek seperti dirimu. Pria yang selalu membuatmu menangis, dan pria yang telah menghancurkanmu. Terima kasih, Senja, terima kasih untuk segalanya, aku mencintaimu," tutur Rajendra terdengar sangat dalam sekali, penyesalan itu masih terdengar sangat jelas di dalam nada suaranya.


"Aku mencintaimu seperti aku mencintai langit. Mau seburuk apapun cuacanya, perasaanku tidak akan berubah. Seperti itu juga perasaanku padamu, Rajendra. Mungkin kamu juga tidak pernah merasakannya, tapi aku lebih mencintaimu dari apapun di dunia ini. Love you ...." bisik Senja tersenyum manis, ia lalu memberanikan diri untuk mencium bibir Rajendra terlebih dulu.


Rajendra memeluk Senja semakin erat dan membalas ciuman penuh cinta itu. Mendapatkan cinta yang begitu besar membuat rasa bersalah itu kian besar. Tapi Rajendra sudah berjanji untuk selalu menjadi alasan kebahagiaan Senja.


'Terima kasih telah melahirkannya untukku, Tuhan.'


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.



__ADS_2