Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Kau Sama Sekali Tidak Romantis.


__ADS_3

"Kenapa kau diam saja?" Bara bertanya saat ia dan Kyara sampai di rumah.


Selama dalam perjalanan pulang ke rumah. Wanita itu sejak tadi hanya diam saja dan membuat Bara bingung. Padahal biasanya Kyara sering berbicara atau meminta hal aneh-aneh padanya.


"Aku marah padamu," ketus Kyara langsung saja.


"Marah? Memangnya aku kenapa? Aku sedang terluka, seharusnya kau itu menciumku biar cepat sembuh," ujar Bara mengerucutkan bibirnya, badannya juga cukup nyeri setelah adu kekuatan dengan Steven tadi.


"Bodo amat, kau senang melakukan apapun tanpa memberitahu 'kan? Sekarang kau juga obati lukamu sendiri," sergah Kyara masih begitu ketusnya, ia buru-buru masuk ke kamar tanpa menghiraukan Bara.


"Sayang, kenapa jadi seperti itu? Aku memangnya salah apa?" Bara semakin bingung, ia mengikuti Kyara sampai mereka berdua masuk kedalam kamar.


"Kau masih bertanya kenapa Bara? Sebenarnya kau itu mencintaiku atau tidak?" kata Kyara menatap Bara dengan sangat kesal.


"Kau masih meragukannya? Bukannya aku sudah memberikan bukti kalau aku sangat mencintaimu? Bahkan di dalam perutmu adalah bukti cintaku yang paling nyata," ujar Bara asal saja.


"Astaga Bara!" bentak Kyara semakin kesal, ia memukul lengan pria itu karena bisa-bisanya bercanda disaat ia sedang marah.


"Aku mengatakan yang sebenarnya Sayang, itu memang bukti cinta kita berdua," sahut Bara cuek.


"Ish, aku serius Bara. Kenapa kau melakukan hal itu pada Kak Nia? Kau juga tidak memberitahuku kalau kau tahu jika Kak Nia yang hampir mencelakai aku?" tanya Kyara menatap Bara begitu tajam.


"Lalu? Salahnya dimana? Sekarang kau juga sudah tahu 'kan?" Bara masih menanggapi ucapan Kyara dengan santai. Membuat Kyara semakin dongkol dengan Ayah bayi yang ada didalam kandungannya itu.

__ADS_1


"Tapi seharusnya kau memberitahu saja, tidak perlu melakukan hal itu pada Kak Nia Bara. Apa kau tidak kasihan dengannya? Kita berdua juga salah dalam hal ini," tutur Kyara menghela nafas panjang.


Kyara sangat sedih melihat kondisi Kakaknya yang harus terbaring di rumah sakit seperti itu. Padahal dulunya Rania adalah wanita yang memiliki semangat yang luar biasa, melihat Rania seperti ini membuat Kyara benar-benar sedih.


"Aku tahu kita salah, tapi apa yang terjadi pada Rania saat ini bukan salah kita. Tapi salah dirinya sendiri, dia memiliki niat buruk yang ingin mencelakai mu, sekarang dia sudah mendapatkan balasannya," sahut Bara tak begitu perduli, baginya wanita itu sama sekali tidak penting untuk dirinya.


"Ck, kau memang benar-benar menyebalkan. Pokoknya mulai sekarang jika kau ingin melakukan sesuatu harus membicarakannya dulu padaku," ujar Kyara dengan nada memerintahnya, tatapan tajam itu terus ia layangkan kepada Bara agar pria itu tidak menganggap dirinya main-main.


"Baiklah, baiklah Nona cerewet, lain kali aku akan mengatakan apapun yang aku lakukan dan akan aku lakukan padamu. Kalau perlu aku akan menyuruh Alex menuliskan semua jadwalku setiap hari untukmu," sahut Bara sekenanya saja.


"Bara! Kau memang menyebalkan, ih!" Kyara yang semakin kesal segera memukul lengan pria itu, tapi Bara sudah lebih dulu sigap menarik tangannya hingga ia jatuh ke pangkuannya.


"Bara!"


"Iya Sayang, jangan marah-marah terus dong. Kau ini tega sekali memarahi calon suamimu," ujar Bara berpura-pura kesal.


"Bagaimana kalau langsung menikah?" kata Bara spontan.


"Ha?" Kyara malah terbengong-bengong mendengar ucapan Bara.


"Ya, bagaimana kalau kita langsung menikah? Aku sudah resmi bercerai dengan Rania," kata Bara datar-datar saja.


"Kau pikir menikah itu mudah?" gerutu Kyara.

__ADS_1


"Tentu, kita tinggal menikah," sahut Bara begitu santai.


"Tidak semudah itu Bara, semua butuh persiapan. Kau bahkan belum membelikan aku cincin, pria macam apa kau ini, benar-benar tidak romantis," tukas Kyara semakin sebal, pasalnya Bara memang tidak pernah bersikap romantis padanya. Sikapnya hanya sedikit lebih baik, tapi tetap saja datar dan dingin seperti gunung Himalaya.


"Oh cincin ..." Bara mengangguk-angguk pelan, ia lalu mengambil sesuatu dari saku celananya dan menunjukkannya pada Kyara.


"Maksudmu yang seperti ini?" ucap Bara dengan ekspresi wajahnya yang masih datar saja.


Namun, hal itu membuat Kyara sangat kaget bukan kepalang. Wajahnya yang semula ditekuk seketika berubah demi melihat sebuah cincin berlian yang berkilauan begitu indah.


"Bara ... kau?" Kyara sampai tidak bisa berkata-kata karena masih terlalu syok.


"Aku mungkin bukan pria yang romantis Kyara, tapi percayalah aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa berjanji untuk hal yang tidak bisa aku tepati, tapi mulai detik ini, aku berjanji padamu ... aku akan selalu ada untukmu dan selalu menjadi pria yang melindungimu dengan segenap jiwa ragaku. Kyara ... " Bara menghentikan ucapannya sejenak, ia memindahkan Kyara agar duduk disampingnya lalu ia berjongkok di depan wanita itu.


"Kyara, Will you marry me?" ucap Bara menatap lurus mata Kyara yang indah.


Kyara menutup mulutnya tidak percaya, air matanya tiba-tiba meleleh begitu saja melihat sikap Bara yang menggetarkan hatinya itu. Kyara sama sekali tidak menyangka jika pria yang ia benci setengah mati karena sosoknya yang arogan dan suka seenaknya saja itu bersimpuh di hadapannya.


Ya, dia pria yang sama yang kini memiliki seluruh hati dan jiwanya.


"Kau masih bertanya? Yes, I Will Bara!" teriak Kyara begitu lantang dan tanpa keraguan sama sekali.


Bara tersenyum manis, ia segera memasangkan cincin berlian itu ke jari manis Kyara dan ternyata begitu pas. Setelah itu Bara mencium kedua tangan Kyara dan mereka saling berpulang sangat erat, seolah tidak ingin terlepas sedikitpun seperti hubungan mereka.

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2