Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Kekalutan Hati.


__ADS_3

Kyara melangkahkan kakinya dengan pelan menyusuri tepian pantai yang sangat sunyi itu. Ia sesekali mengusap pelan lengannya yang kedinginan saat angin berhembus cukup kencang. Sejak tadi air matanya terus meleleh, menyesali segala apa yang terjadi pada hidupnya saat ini.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini Tuhan, aku sangat menyesal, andai waktu itu aku tidak menciumnya, mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini," lirih Kyara begitu menyesal, karena tantangan bodohnya bersama Franda, kini ia harus menerima konsekuensinya.


Kyara terus melangkahkan kakinya sampai ia lelah, ia tidak tahu ada dimana, dan ia langsung berhenti begitu saja lalu mendudukkan dirinya di pasir, menikmati kesunyian malam yang membuat jiwanya lebih rileks.


"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau terus mengkhianati Kak Nia seperti ini. Apa aku pergi saja dari kota ini? Tapi ... bagaimana dengan Kak Nia? Ayah," gumam Kyara dengan wajahnya yang berpikir sangat keras.


Kyara hanya menghela nafas lelah dan menundukkan wajahnya dikedua lipatan lututnya, semua jalan yang dilakukannya saat ini seolah buntu. Kyara sudah seperti buah simalakama, mau berbuat apapun akan membuat dirinya sendiri dan orang terdekatnya terluka.


Saat Kyara tengah melamun, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggungnya, ia terkejut dan langsung mengangkat wajahnya.


"Kau! Untuk apa kau kesini," kata Kyara melirik Bara dengan penuh amarah, ia lalu melihat jas pria itu yang diletakkan dibahunya, dengan segera ia menariknya dan membuangnya dengan kasar.


Bara menghela nafas panjang, ia mengambil jasnya lalu mendudukkan dirinya disamping Kyara. Wanita itu tentu langsung menjauh, tapi ia segera menahannya dan kembali memakaikan jas miliknya.


"Berhentilah menjadi wanita keras kepala, udara disini sangat tidak bagus, kau bisa sakit nanti," tutur Bara terdengar cukup lembut mengatakannya.


Kyara mengernyitkan dahinya, ia begitu heran kenapa Bara tiba-tiba berubah baik. Tapi, Kyara tidak ingin tertipu.


"Jangan sok perduli denganku, bahkan aku lebih ingin mati daripada hidup dengan pria brengsek sepertimu," ketus Kyara tidak lagi berontak, tapi ia menganggap Bara tidak ada disampingnya.


Bara menipiskan bibirnya, wajahnya terlihat kembali emosi, tapi ia menahannya dengan sekuat tenaga. Tadi ketika ia minum dan tidak menemukan Kyara dimana-mana, tiba-tiba hati Bara merasa sangat khawatir. Memang tidak seharusnya ia menggunakan hati untuk hubungan ini. Namun, sepertinya sekarang hatinya mulai keluar dari jalur scenario yang ia buat sendiri.


"Kau ingin aku menghentikan ini?" tanya Bara menatap Kyara.


"Untuk apalagi kau bertanya?" Kyara menyahut dengan sangat ketus.


"Jika kau yang memintanya, aku akan menghentikannya," ujar Bara lagi namun membuat Kyara sangat terkejut.


"Kau? Tidak mungkin, aku sudah sangat mengenalmu, pria brengsek sepertimu tidak akan semudah itu merubah pikiranmu," ketus Kyara tidak akan tertipu dengan trik iblis seperti Bara itu.


"Aku tidak berbohong kali ini, aku akan mengentikan semuanya, hubungan ini termasuk hubunganku dengan Kakakmu. Setelah itu aku akan menikahimu agar kau tidak menganggap aku-"


"Kau gila! Kau ingin membuatku dibenci oleh seluruh keluargaku?" Bentak Kyara sudah menduga jika Bara tidak sebaik itu melepaskan dirinya secara cuma-cuma.

__ADS_1


"Itu lebih baik, daripada dibenci nanti, lebih baik dibenci sekarang. Bukannya kau juga kasihan dengan Kakakmu? Percayalah aku tidak akan pernah mencintainya," kata Bara sangat santai sekali, tidak berpikir jika tindakannya itu aja membuat posisi Kyara semakin sulit.


"Lalu, kenapa kau tidak bisa mencintai Kakakku? Dia bahkan lebih baik dariku," kata Kyara tidak habis pikir kenapa Bara tidak bisa mencintai Kakaknya.


"Kau sudah tahu jelas alasannya Kyara," sahut Bara mengalihkan pandangannya hingga menatap lurus mata Kyara yang menurutnya sangat indah itu.


Kyara tertegun saat melihat pertama kali Bara dengan sangat dekat seperti ini. Meksipun sebelumnya mereka sering bercinta, tapi Kyara selalu menghindari kontak mata dengan Bara. Ia menatap lekat-lekat wajah Bara yang terpahat sangat sempurna itu. Dari mata, hidung, bibir dan garis wajahnya yang sangat sempurna. Benar-benar makhluk ciptaan Tuhan yang sangat indah.


"Lepaskan aku Bara, kau sudah memilih jalanmu dengan menikahi Kakakku. Aku berjanji akan pergi sejauh mungkin, belajarlah mencintai Kakakku, dia wanita yang sangat baik," kata Kyara dengan tatapan mata sayunya.


"Apa kau tidak menginginkanku?" Bukannya menjawab ucapan Kyara, Bara justru berbicara hal lain.


Lagi-lagi Kyara tertegun, ia tidak menyangka Bara akan menanyakan hal itu padanya. Ia mencoba menanyakan pada hatinya sendiri, namun ia tidak bisa menemukan jawabannya. Namun, saat ia kembali menatap mata Bara, ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Aku tidak menginginkanmu karena kau adalah suamiku Kakakku, hubungan ini terjadi juga gara-gara kau! Kau yang telah memaksaku melakukan dosa ini, aku sangat membencimu," kata Kyara segera menjauhkan dirinya, ia tidak boleh terlena hanya karena tatapan mata tajam itu.


Bara langsung menarik tangan Kyara sebelum wanita itu pergi hingga Kyara jatuh ke pangkuannya.


"Bara!" seru Kyara.


"Tidak akan! Aku akan selalu membencimu dan selamanya akan membencimu," sahut Kyara begitu lantang.


"Kita buktikan setelah ini," kata Bara langsung saja me lu mat bibir tipis Kyara.


Seperti biasa, Kyara langsung berontak dan berusaha menghindari ciuman itu. Namun, Kyara merasakan ciuman Bara terasa berbeda, masih penuh paksaan seperti biasa. Tapi kali ini lumayan lembut, diiringi irama yang pasti dan membuat Kyara perlahan-lahan mulai terhanyut dengan tautan bibir itu.


Semakin lama ciuman itu semakin memanas, tangan Bara sudah berhasil menurunkan resleting gaun Kyara dan ia mengelus punggungnya dengan lembut. Perlahan-lahan ia mulai menanggalkan gaun itu hingga melorot sampai ke perut Kyara dan ia menyentuh dua gundukan kenyal yang ukurannya semakin besar itu. Sepertinya karena kekuatan tangan Bara yang membuat dua gundukan itu semakin membesar.


"Bara ... jangan ...," lirih Kyara masih mencoba mempertahankan kewarasannya, ia masih ingat jika saat ini masih ada ditepi pantai.


Bara mengangguk mengerti, ia kembali mencium bibir Kyara lalu menggendong wanita itu layaknya koala dan mengajaknya ke mobil. Bara tidak sedikitpun melepaskan tautan bibir mereka sampai ia sampai di mobil dan membuka pintu mobil bagian belakang lalu merebahkan Kyara disana.


"Bara ..." Kyara menatap Bara dengan tatapan sayunya, ia ingin mengatakan kalau jangan melakukan hal itu, tapi ia malah kaget saat tiba-tiba Bara berjongkok disamping mobil dan melepaskan underwear miliknya.


"Bara, apa yang kau ... Akhhhh!!!" Kyara tidak sempat melanjutkan ucapannya, ia berteriak kaget saat Bara tiba-tiba mencium miliknya dengan sangat brutal.

__ADS_1


"Bara akhhhh ... " Kyara semakin belingsatan, ia menjambak rambut Bara agar pria itu menghentikan apa yang dilakukannya. Tubuh Kyara gemetar hebat merasakan lidah Bara menusuk-nusuk lubang miliknya.


"Bara, hentikan, aku ..." Kyara tidak sanggup untuk menahan godaan itu, miliknya tiba-tiba berkedut-kedut manja.


"Lepaskan saja," ucap Bara berganti menciumi paha dalam Kyara dan mengusap millik Kyara yang sudah basah kuyup karena ulahnya.


Kyara mengigit bibirnya, ia menjambak rambut Bara semakin keras dan merasakan tubuhnya bergetar hebat karena pelepasannya. Bara tersenyum manis karena berhasil membuat Kyara lemas, ia mendekati wanita itu dan mencium bibirnya seraya melepaskan celananya sendiri. Sejak tadi pisang ambon miliknya sudah bergerak meminta masuk kedalam sarangnya.


Kyara yang melihat itu tiba-tiba langsung duduk dan tanpa ragu meraih pisang milk Bara lalu memasukkannya ke mulutnya. Entahlah, malam ini ia hanya ingin mengikuti apa kata hatinya.


"Kyara ... ahhhhh ...," Bara sangat-sangat terkejut Kyara melakukan hal itu, ia menggenggam pintu mobil dengan sangat kuat saat merasakan bibir hangat Kyara yang begitu nikmat. "Kyara ... oh ... kau ..." Bara sudah tidak tahan lagi, Kyara terlalu menggoda dan membuat ia seperti akan meledak, dengan segera ia menarik tangan Kyara lalu memposisikan wanita itu untuk membelakanginya dan ia langsung menusukkan pisang ambonnya dengan cepat.


"Ahhhhhh ..." De sa han langsung lolos dari mulut keduanya saat mereka berhasil menyatu, Bara sendiri langsung bergerak liar memaju mundurkan pinggulnya dengan irama yang pasti.


Dengan ditemani semilir angin pantai yang sejuk, Bara dan Kyara meleburkan perasaan yang menggebu-gebu didalam hati mereka. Kyara sendiri tidak tahu kenapa ia bisa jadi seperti ini, ia seperti merelakan saja tubuhnya dijamah oleh Bara malam itu. Bahkan tidak hanya sekali mereka melakukannya, berkali-kali dengan berbagai gaya sampai Kyara lemas dipangkuan Bara setelah wanita itu mendapatkan pelepasan yang terakhir kalinya.


"Tidurlah," bisik Bara mencium kening Kyara yang masih penuh peluh itu, ia juga memeluk erat pinggang Kyara tanpa melepaskan penyatuan mereka.


"Pulang," ucap Kyara lirih, suaranya habis setelah keasikan men de sah sejak tadi.


"Tidur disini-"


Kyara menggelengkan kepalanya pelan. "Pulang saja, aku takut Kak Nia mencariku. Dia akan curiga kalau kita tidak pulang," ucap Kyara menjauhkan dirinya, jika terus bersama Bara, ia seperti bukan dirinya sendiri.


"Dia tidak-"


"Aku mohon, kita pulang saja malam ini," ucap Kyara kembali menyela, ia menatap Bara dengan penuh harap.


Bara menghela nafas panjang, baru kali ini ia merasa kalah melihat tatapan mata Kyara. Ia sebenarnya masih belum puas menghabiskan waktu dengan Kyara, jika tidak bercinta, ia hanya ingin berpelukan dengan wanita itu malam ini. Tapi Kyara benar, Rania akan curiga kalau mereka sama-sama tidak pulang. Dengan sangat berat hati ia mengangguk dan mencium bibir Kyara sesaat.


"Kita akan pulang sekarang."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2