
"Kak Rania? Gumam Kyara yang dibuat tercengang melihat kedatangan kakaknya dengan membawa sebuah koper.
Kyara yakin sudah pasti Rania datang untuk memarahi atau memaki-makinya lagi. Akan tetapi tak mengapa bagi Kyara, yang terpenting Rania bisa memaafkan semua kesalahan yang dilakukannya, meskipun itu pasti sangatlah sulit. Seandainya Kyara yang berada di posisi Rania, sudah pasti Kyara juga akan bersikap yang sama dengan apa yang Rania lakukan.
"Kak kau datang ke sini? Kenapa kau membawa koper, apa kau ingin pergi? Aku mohon jangan Kak. Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal atas apa yang sudah aku lakukan. Kau boleh melakukan apapun terhadapku Kak, yang penting kau mau memaafkanku dan jangan pergi," ucap Kyara dengan tatapan sendu dan terus memohon.
Rania menatap nanar mata Kyara, sangat terlihat jika adiknya itu memang benar-benar menyesal dengan apa yang dilakukannya. Tetapi tak akan semudah itu untuk Rania memaafkan. Kini ia pun mencoba untuk sabar menghadapi Kyara sesuai dengan rencananya.
"Sepertinya kau sangat ingin mendapatkan maaf dariku," ucap Rania ketus.
"Tentu saja Kak, aku sangat ingin kau memaafkanku. Apakah masih pantas untukku mendapatkan maaf darimu Kak," ucap Kyara penuh harap.
"Tentu saja aku akan memaafkanmu, tapi dengan syarat kau harus benar-benar pergi dari kehidupanku dan Bara. Aku membawa koper ini bukan aku yang ingin pergi tapi kau yang harus pergi ke luar negeri. Di dalam koper ini aku sudah menyiapkan semuanya, termasuk paspor dan juga kartu ATM yang sangat cukup untuk menghidupimu dan anakku itu saat disana nanti. Bukankah itu janjimu yang kau katakan waktu itu? Lagipula kau juga tidak akan bisa terus bersama dengan Bara. Karena ... sekarang aku juga sedang mengandung anak Bara," kata Rania yang membuat Kyara pun membelalakkan matanya, lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan kakaknya itu.
"Apa? Kak Nia hamil?" Tanya Kyara, antara senang atau sedih bercampur aduk di dalam dirinya. Wajar saja jika Rania hamil karena memang Bara juga melakukan kepada kakaknya.
"Iya, aku juga hamil anak Bara. Apa kau pikir dengan seperti ini kau yang lebih pantas bersama Bara? Tidak Kyara. Yang lebih pantas bersama Bara tetaplah aku, karena aku adalah istrinya."
"Aku adalah istri sahnya dan anak didalam perutku ini juga darah daging Bara, jadi kau sama sekali tidak punya hak apapun. Apa kau masih berniat untuk merebut Bara dariku? Jika kau tidak mau pergi dari sini, kau harus menggugurkan kandunganmu itu Kyara. Supaya Bara sudah tak lagi memikirkanmu, apalagi berniat akan bertanggung jawab atas kehamilanmu," ucap Rania yang ucapannya itu terasa menusuk-nusuk ke relung hati, terasa sangat menyakitkan bagi Kyara.
Kyara terdiam, ia mencoba menetralisir perasaannya, manakah yang lebih menyakitkan dari apa yang Kyara alami saat ini? Akan tetapi, Kyara berusaha bersikap tenang karena berada di posisi yang sulit dengan dua pilihan tersebut.
"Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk merebut Bara darimu Kak, apalagi jika keadaannya sudah seperti ini. Aku janji akan pergi sejauh mungkin, aku akan meninggalkan kehidupan kalian sekarang juga," ucap Kyara menahan perih di dadanya, ia berucap sangat yakin dengan keputusannya saat ini.
Mau bagaimanapun juga memang benar hanya Rania yang lebih berhak atas Bara. Ia juga tidak mungkin tega menyakiti anak di dalam kandungan Rania dengan merebut Ayahnya. Bagaimanapun juga kesalahan berawal dari dirinya yang memulai, jika mengingat malam taruhannya bersama Franda di pesta waktu itu.
"Baiklah, kalau begitu sekarang juga kau harus pergi. Aku akan membantumu keluar," kata Rania menarik sudut bibirnya, terlihat senyum licik dibibir wanita itu.
"Tapi bukankah di luar ada Bara dan Kakek?" Tanya Kyara. Sudah pasti Bara akan mencegahnya.
__ADS_1
"Mereka tidak ada, kalau mereka ada di luar sudah pasti aku tidak akan mungkin diperbolehkan masuk. Jadi aku minta sekarang kau pergi sebelum ada yang melihatnya," pinta Rania.
Kyara mengigit bibirnya, berusaha keras menahan air matanya yang tiba-tiba ingin turun. Semuanya terasa begitu menyesakkan membuat Kyara rasanya kesulitan bernafas. Ia berusaha bangkit dari ranjangnya dengan dibantu oleh Rania.
"Kak, aku benar-benar minta maaf. Aku selalu menyayangimu, Kak," ujar Kyara memeluk Kakaknya sebelum wanita malang itu benar-benar pergi.
Rania tersentak saat mendapatkan pelukan tiba-tiba ini. Ia seperti dihantam oleh perasaan yang begitu aneh, tapi ia segera menepisnya.
"Sudah jangan membuang waktu, cepat pergi darisini," sergah Rania buru-buru melepaskan pelukan Kyara dan menyuruh wanita itu pergi.
Meskipun Kyara masih dalam kondisi yang sangat lemah, belum diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, tetapi karena niat Kyara yang sudah bulat, dengan bantuan Rania kini ia pun bisa keluar dari rumah sakit dengan menyamar.
Rania yang begitu menyayangi adiknya, seakan berubah menjadi monster karena tak mau kehilangan Bara. Bahkan ia tega menyakiti kyara agar menjauh dari kehidupannya, sama sekali tak memikirkan bagaimana kondisi kyara saat ini. Hingga saat ini Kyara sudah sedang berada di perjalanan menuju ke bandara.
******
"Aku mohon sekali ini saja Kek, tolong mengerti aku. Aku hanya ingin bahagia dengan wanita pilihanku, selebihnya terserah Kakek apa yang ingin kakek lakukan. Bukankah selama ini aku juga selalu menurut kata kakek? Jadi kali ini aku mohon Kek, hanya inilah permintaanku selama aku hidup bersama Kakek," ucap Bara yang langsung saja pergi meninggalkan Hardi.
Sedangkan Hardi hanya tampak termenung menatap punggung kepergian Bara yang semakin menjauh darinya.
Bara pun langsung saja berlari menuju ke ruang rawat inap Kyara, akan tetapi setibanya di sana ia tidak menemukan sosok wanita yang dicarinya itu melainkan Rania yang berada di dalam sana.
"Rania Kenapa kau bisa berada di sini, dimana Kyara?" Tanya Bara yang terlihat begitu cemas.
"Ck, sudah kuduga pasti kau akan mencari wanita itu. Tapi sayangnya Kya sudah tidak ada lagi di sini, dia sudah memilih pergi menjauh dari kehidupan kita dan itu pilihannya sendiri," kata Rania tersenyum kecut.
"Brengsek! Pasti kau 'kan yang memintanya untuk pergi," tuding Bara yang menunjuk wajah Rania, tatapannya begitu tajam penuh emosi.
"Memangnya kenapa kalau aku yang memintanya untuk pergi? Bukankah itu hal yang wajar. Dia bukan siapa-siapa dalam hidupmu Bara! Aku adalah istrimu" ucap Rania.
__ADS_1
"Apa semaunya belum jelas Rania? Dia satu-satunya wanita yang aku cintai dan saat ini dia sedang mengandung anakku," ucap Bara dengan tegas.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga sedang mengandung anakmu," ucap Rania yang membuat Bara sontak terkejut dan menatap ke arah sang istri.
"Kau hamil?" Kata Bara mengulangi ucapan Rania.
"Ya aku hamil. Apa sekarang setelah kau tahu kau akan tetap memilih Kya?" Tanya Rania.
Bara tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya. "Kau hamil bukan urusanku, karena itu jelas bukan anakku," kata Bara sangat percaya diri, karena ia yakin jika Rania hamil pastinya anak dari Steven, bukan dirinya.
"Apa maksudmu? Kau pikir aku berselingkuh begitu? Aku hamil anakmu Bara, apa se ba ji ngan itu kau, sampai kau tidak mau mengakui anak kandungmu sendiri!" bentak Rania begitu marah.
"Terserah apa katamu Rania! Yang jelas anakitu bukan anakku, lagipula aku tidak percaya kau hamil," ujar Bara tersenyum sinis, ia tahu jika saat ini Rania bisa saja berpura-pura agar bisa mengelabuinya.
"Apa kita perlu membuktikannya sekarang juga?" ujar Rania menantang, ia tidak peduli jika kebohongannya akan terbongkar, yang terpenting saat ini Bara tidak pergi dan mencari Kyara.
"Aku tidak bisa, karena sekarang aku harus mencari keberadaan Kyara. Katakan padaku dimana Kyara!" Ucap Bara yang mengguncang tubuh Rania dengan tatapan tajam seakan ingin menerkamnya.
"Percuma saja kau mengejarnya, karena Kya sudah pergi jauh dari sini. Dia sudah pergi ke luar negeri meninggalkan kita," kata Rania yang sangat yakin jika pesawat Kyara sudah take off. Karena ia sendirilah yang memesan tiket sehingga tahu jadwal jam penerbangan tersebut.
"Sial! Kau tahu sendiri 'kan bagaimana keadaan Kyara saat ini? Dia masih sangat lemah dan kau begitu tega Rania. Jika terjadi sesuatu pada Kyara atau Kyara benar-benar pergi dariku, aku tidak akan pernah mengampunimu!" Ucap Bara yang menghempaskan tubuh Rania dengan kasar, lalu ia pun segera saja beranjak pergi meninggalkan istrinya itu.
Rania hanya dapat tersenyum kecut sembari menatap Bara hingga tak terlihat lagi bayangannya, menahan perih di dadanya yang rasanya begitu sangat menyiksa. Ia benar-benar tak menyangka jika Bara setega itu padanya demi membela wanita lain, membuat Rania merasa semakin membenci Kyara.
Kini Bara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke Bandara. Ia sangat berharap jika belum terlambat dan masih bisa untuk bertemu dengan wanita yang dicintainya itu.
Happy reading.
TBC.
__ADS_1