
Meskipun terdengar suara yang mencegahnya, tetapi Bara sama sekali tak peduli. Ia tetap saja memukuli Steven tanpa ampun seakan tak pernah puas hingga di saat itu Hardi pun mendekati Bara lalu menarik tubuhnya dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan Bara? Sudah Kakek katakan berhenti tetapi kau tetap saja berlaku kasar seperti itu. Apa kau sengaja ingin membunuh sepupumu sendiri?" Tanya Hardi sehingga Bara pun tampak menatap tajam ke arah kakeknya itu.
"Kenapa kau menatap Kakek seperti itu? Ada apa ini, kenapa tengah malam seperti ini kau ribut di rumah Kakek dan ingin menghabisi Steven? Apa kau sama sekali tidak punya pikiran!" Bentak Hardi.
"Apa Kakek mau tahu dia yang sudah memancing emosiku Kek. Pria brengsek ini ya sudah menghamili Rania, bukan aku. Aku tidak mungkin menghamili dua wanita sekaligus. Ya aku akui mungkin kesalahanku karena aku sudah menghamili Kyara, tapi karena aku mencintainya dan aku tidak tahu apa alasan Steven meniduri Rania hingga wanita juga hamil," kata Bara yang membuat Hardi pun begitu terkejut mendengarnya.
"Jangan mengada-ngada Bara, mana mungkin Steven melakukan hal seperti itu terhadap istrimu," sangkal Hardi yang tak mempercayainya.
"Jika Kakek tidak percaya padaku, kakek boleh bertanya langsung kepada pria ba ji ngan ini," ucap Bara yang menunjuk Steven.
"Cepat jelaskan kepada Kakek, akui bahwa kau yang sudah melakukannya kepada Rania. Aku tidak mau berlama-lama untuk menutupi masalah ini," ucap Bara penuh emosi.
"Stop Bara!" Sergah Hardi dengan nada membentak saat melihat Bara yang hendak menghajar Steven kembali. Padahal di saat itu Steven sedang berusaha untuk bangun karena tubuhnya begitu terasa sakit dan lemah karena dihajar oleh sepupunya itu.
Sehingga Bara pun mengurungkan niatnya, jika menghabisi Steven sekarang pun sudah pasti tak ada gunanya karena yang Bara butuhkan hanyalah pengakuan dari mulut Steven agar masalah cepat selesai.
"Steven, jelaskan apa benar yang dikatakan oleh Bara? Apa benar kau yang telah menghamili Rania?" Tanya Hardi menatap Steven, meminta penjelasan.
"Tidak Kek, aku tidak melakukan itu. Atas dasar apa Bara menuduhku, memang dia punya bukti apa?" Bantah Steven yang enggan mengakuinya.
"Bang sat! Bisa-bisanya kau berpura-pura. Lebih baik sekarang kita pergi ke kediaman keluarga Nugraha, kau harus menjelaskannya secara langsung,' ucap Bara.
"Menjelaskan apa? Aku tidak melakukan apapun, kenapa aku harus menjelaskan kepada mereka?" Tolak Steven.
"Kau masih tidak mau mengakuinya juga? Di dalam sini aku mempunyai semua buktinya," kata Bara yang akhirnya pun menunjukkan sebuah flashdisk yang ada di tangannya.
"Bukti apa Bara?" Tanya Hardi.
"Lebih baik sekarang kita pergi ke rumah Papa Nugraha agar semuanya jelas, Kakek juga harus ikut," titah Bara melayangkan tatapan yang sangat tajam pada Steven.
__ADS_1
"Ya sudah Steven, jika kau memang tidak bersalah kau harus ikut ke sana. Kau tidak perlu takut, kau harus membantah ucapan Bara agar semuanya cepat selesai. Kau tahu 'kan bahwa keadaan saat ini sedang kacau," pinta Hardi hingga pada akhirnya Steven pun terpaksa mengikuti permintaan kakeknya itu.
Meskipun Steven tidak yakin jika Bara memiliki bukti yang kuat tetapi tetap saja ia merasa was-was takut jika Rania akan tahu semuanya dan akan membencinya, bahkan bisa saja Rania sudah tak mau lagi mengenalnya.
******
"Ada apa ini? Kenapa malam-malam seperti ini Tuan Hardi, Steven dan Bara datang ke rumah saya? Apa ada masalah penting yang mau dibahas?" Tanya Nugraha yang kebetulan di saat itu belum tidur dan menyambut kedatangan mereka bertiga.
"Tuan Nugraha maaf jika kedatangan kami ke sini mengganggu, tapi kami datang ke sini karena-"
"Aku tidak ingin berbasa-basi Pa, aku datang ke sini karena ingin menyelesaikan kesalahpahaman diantara kita semua," sela Bara sebelum kakeknya itu menyelesaikan ucapannya.
"Apa maksudmu Bara? Kesalahpahaman apa? Sudah jelas kau bersalah tapi sekarang kau mau melakukan pembelaan apalagi," ucap Nugraha yang tampak emosi.
"Aku memang bersalah, tapi kesalahanku hanya satu, yaitu menghamili Kyara. Tidak dengan Rania," sergah Bara dengan nada sarkas.
"Jaga ucapanmu Bara, biar Kakek yang berbicara terlebih dulu kepada Tuan Nugraha!" Bentak Hardi, sehingga Bara pun bungkam.
"Jadi begini Tuan Nugraha, saya minta maaf tapi lebih baik sekarang kita dengarkan dulu apa yang hendak Bara sampaikan di sini. Kami sengaja membawa Steven karena menurut Bara Steven terlibat dalam hal ini, jadi apakah bisa saya minta tolong untuk panggilkan Rania dan juga Nyonya Sandra, mereka juga harus tahu," pinta Hardi.
Di saat itu terlihat Steven yang tampak gugup tetapi berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini, bahkan ia tidak tahu apakah bukti yang Bara maksud itu benar-benar akan menjatuhkannya atau tidak.
"Baik, saya akan panggilkan istri dan anak saya," kata Nugraha memang saat ini Rania berada di rumah orang tuanya setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Bara.
Rania dan Sandra tampak kebingungan di saat Nugraha memanggil mereka untuk berkumpul di ruang keluarga dan melihat di saat itu telah ada Bara, Steven dan juga Hardi. Tentunya mereka yakin jika ini ada masalah yang begitu penting sampai di tengah malam seperti ini mereka berkunjung di kediaman Nugraha.
"Ada apa? Apakah Bara datang ke sini ingin menjemput ku? Apakah Bara sudah menyadari kesalahannya?" Tanya Rania ketus tetapi sangat berharap.
"Kau terlalu percaya diri, aku datang kesini membawa Steven yang akan mengatakan hal yang sebenarnya di depan keluargamu," kata Bara.
"Mengatakan tentang apa?" Tanya Sandra pula, ia merasa kebingungan dengan apa yang dimaksud oleh menantunya itu.
__ADS_1
"Biar ba ji ngan itu sendiri yang menjelaskan, berani berbuat harus berani bertanggungjawab," tukas Bara kembali melirik Steven yang hanya bungkam.
"Stev, cepat katakan apakah benar yang Bara katakan bahwa kau lah yang telah menghamili Rania bukan Bara?" Tanya Hardi yang membuat keluarga Nugraha sangat terkejut.
"Apa ini maksudnya? Bara tidak mau mengakui jika dia yang telah menghamili Rania dan sekarang malah melimpahkan kepada orang lain, begitu? Benar-benar ba ji ngan kau Bara! Kau datang ke sini hanya ingin membuat masalah baru denganku ternyata," kata Nugraha yang tampak begitu emosi. Sedangkan Rania tampak terdiam syok dan berusaha ditenangkan oleh sang ibu.
"Rania, kau yang tenang. Mama yakin ini hanya akal-akalan Bara saja agar bisa menghindar darimu," ucap Sandra sembari mengusap lembut pundak sang anak.
"Bara, kenapa kau begitu tega padaku. Apa salahku? Kenapa kau mau lepas tanggung jawab begitu saja? Kau tidak mau mengakui anakku, kenapa kau harus melimpahnya kepada orang lain? Kenapa kau harus meminta Steven untuk mengakuinya, apa maksudmu Bara? Apa Kau pikir aku sama sepertimu dan wanita ja lang itu yang telah berkhianat di belakang, jangan menuduhku sembarangan," ucap Rania dengan air matanya yang menetes, rasanya begitu sakit bagi ditusuk ribuan jarum, ia tak terima atas tuduhan yang Bara berikan.
"Stop menyebut wanitaku dengan sebutan seperti itu. Aku tidak menuduhmu apalagi menyalahkanmu, mungkin waktu itu kau tidak sadar tetapi memang benar Steven lah yang menidurimu. Jadi jika saat ini kau hamil itu bukan anakku, tetapi anak Steven," ucap Bara dengan sangat yakin.
"Sudah cukup Bara! Sekarang dengarkan dulu apa yang akan Steven jelaskan," ucap Hardi dengan tegas.
Steven tampak tertunduk, ia sangat takut untuk menatap wajah Rania yang di saat itu terlihat sangat sedih. Baru mendengar dari Bara saja Rania sudah terlihat sangat terpukul, bagaimana jika ia mengakuinya secara langsung?
"Tidak! Aku tidak melakukannya. Ini hanya karangan Bara saja, Bara yang memaksaku untuk mengakui bahwa Rania hamil anakku, tapi aku sama sekali tidak melakukannya," bantah Steven yang membuat Bara pun semakin marah dan langsung saja melayangkan tangannya hendak menghajar Steven. Akan tetapi saat ini Steven tak tinggal diam dengan menangkis tangan Bara, hingga di saat itu Nugraha dan Hardi melerai keduanya.
"Cukup Bara! Masalah ini tidak akan selesai jika kau selalu saja menyelesaikannya dengan kekerasan. Bukankah kau mengatakan mempunyai bukti? Jika memang itu benar, sekarang lebih baik kau tunjukkan saja bukti itu agar kita semua percaya ucapanmu!" Titah Hardi.
"Kakek benar, selain ba ji ngan dia juga seorang pecundang. Kau ingin tetap bungkam? Baik, biarkan fakta yang berbicara," ujar Bara mengambil flashdisk yang ia miliki.
Bara pun langsung saja memasukkan flashdisk pada sebuah televisi yang ada di ruangan tersebut. Disana terlihat jelas disaat Steven datang ke kamar Rania dan pergi setelah beberapa saat kemudian, Steven pergi terburu-buru dengan begitu panik.
"Malam itu aku tidak datang kesana, tapi Steven yang datang. Aku sedang bersama Kyara waktu itu," kata Bara tersenyum sinis melihat ekspresi syok dari semua orang.
"Tidak mungkin," lirih Rania dengan tatapan mata kosongnya.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1