
"Akh …sakit Bara!" rintih Kyara sembari memegangi pipinya. Ia juga tertunduk seperti sedang menahan perih.
"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja dan tidak bermaksud untuk menyakitimu. Percayalah, mana mungkin aku tega menyakiti wanita yang aku cintai," ucap Bara yang terlihat sangat khawatir. Ia takut setengah mati jika Kyara merasa kesakitan karena ulahnya dan akan marah kepadanya.
Di saat itu Kyara hanya terlihat diam saja, lalu ia pun melepaskan diri dari Bara dan menjauh darinya.
"Tapi aku bohong. Aku hanya ingin mengerjaimu saja Bara, ha … ha … ha … ," ucap Kyara diiringi tawanya karena merasa lucu melihat pria yang terkenal begitu dingin dan galak saat ini terlihat mati kutu karena melihatnya diam. Membuat Bara menjadi gemas sendiri melihat wanita yang baru saja ia persunting menjadi istrinya itu.
"Kyara, awas ya. Berani sekali kau menggodaku," ucap Bara lalu mengejar Kyara.
Karena asik menggoda suaminya, tiba-tiba saja Kyara tidak sengaja terpijak gaunnya sendiri hingga tubuhnya terhuyung ke depan, Bara yang melihat akan hal itu langsung saja berlari dan menangkap tubuh istrinya itu.
Akan tetapi karena Bara kurang menyeimbangkan tubuhnya, menyebabkan keduanya malah terjatuh di atas tempat tidur dengan posisi Bara yang ada di bawah Kyara serta bibir keduanya yang saling menempel. Bara tersenyum senang karena pada akhirnya Kyara berada dipelukannya.
"Sekarang kau mau lari kemana lagi Kyara, kau sudah tidak bisa lagi kabur dariku," ucap Bara mengulas senyum tipis.
"Bara, aku mau mandi." Kyara mengulangi keinginannya lagi sembari mengangkat tubuhnya tetapi sangat sulit karena Bara menahannya.
"Sudah aku katakan kau boleh mandi setelah ini," kata Bara lalu ia pun kembali melu mat bibir Kyara dengan sangat lembut, membuat Kyara tak mampu untuk menolaknya.
Kyara mengalungkan kedua tangannya pada leher Bara dan membalas ciuman tersebut dengan tak kalah gairahnya. Keduanya saling bertukar lidah dan saliva hingga ciu man tersebut semakin memanas, membuat Bara semakin bergairah dengan terus memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat istrinya itu pun seakan terbang melayang ke udara karena merasakan sensasi yang luar biasa dari Bara.
"Argh … Bara," ucap Kyara diiringi de sa hannya.
Bara tersenyum puas karena berhasil membuat Kyara yang takluk di hadapannya. Kini ia pun siap untuk melanjutkan ke adegan selanjutnya, gaun yang tadinya terasa sangat sulit untuk dilepas saat ini sangat mudah tentunya karena bantuan Kyara juga. Hingga tanpa sadar kini keduanya pun telah polos tanpa sehelai benang pun.
"Akh … Bara …!" Teriak Kyara sembari menunjuk, yang membuat Bara merasa terkejut dan ikut melihat sesuatu yang ada di bawahnya.
__ADS_1
"Kenapa Kya? Kenapa kau begitu terkejut melihat belalai gajahku. Bukankah kau sudah terbiasa menikmatinya?" Tanya Bara tersenyum geli.
"Maaf Bara, mungkin karena sudah sebulan kita tidak melakukannya, aku jadi sedikit syok," ucap Kyara yang melihat ular kobra milik Bara tampak berdiri tegak dan siap untuk mematuk kepemilikannya.
Lagi-lagi Bara tersenyum geli, lalu ia pun memasukkan ular kobra miliknya itu ke dalam lembah kenikmatan milik sang istri yang sudah lama tidak ia cicipi hingga beberapa kali, sampai keduanya benar-benar merasa sangat lelah dan tanpa sadar tertidur di kamar Villa tersebut, hingga terlupa jika acara pernikahan mereka belum selesai.
_____
Tanpa terasa perjalanan rumah tangga Bara dan Kyara sudah memasuki usia tiga bulan lamanya, keduanya terlihat semakin bahagia dan romantis, terlebih lagi saat ini Kyara sedang mengalami masa-masa ngidamnya yang terkadang suka membuat Bara kewalahan tetapi merasa sangat bahagia karena bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan istrinya itu.
"Bara, kenapa kau lama sekali pulangnya. Bukankah aku sudah mengatakan sangat ingin makan rujak yang ada di Bogor. Jika kau pulang lambat seperti ini bagaimana kau bisa membeli rujaknya," protes Kyara yang telah menunggu kepulangannya suaminya dari 2 jam yang lalu.
"Maaf Sayang, tadi benar-benar ada meeting penting yang tidak bisa ditinggal. Tapi sekarang juga kita masih sempat pergi ke Bogor kok, aku akan mencarikan rujak itu untukmu, untuk anak kita," ucap Bara dengan antusias.
"Tidak perlu Bara, aku sudah tidak menginginkannya lagi. Lagipula apa kau lupa jika jam tujuh malam nanti adalah jadwal kontrol kehamilanku. Sekarang aku menginginkan bubur ayam yang ada di jalan X," tukas Kyara.
"Aku tidak mau tahu Bara, kau harus mencarinya. Kau harus mencari dimana alamat orang yang jual bubur itu dan minta dia membuatkan bubur untukku," seru Kyara.
"Tapi bagaimana jika aku terlambat pulang, nanti pasti kau akan marah lagi karena aku akan terlambat mengantarmu kontrol," ujar Bara yang sudah bisa menebaknya.
"Bara, ini masih jam lima sore. Jadi masih sempat jika kau memang niat mencarikannya dulu untukku," ujar Kyara.
"Oke, sekarang juga aku akan mencarinya. Kau tunggu saja di rumah bersama Bibi, aku pasti akan pulang membawakan bubur yang kau inginkan," kata Bara yang tak ingin lagi melanjutkan perdebatan dengan sang istri, sudah pasti ia tidak akan pernah menang.
"Aku ikut," ucap Kyara.
"Ya sudah ayo," kata Bara yang selalu mengikuti apapun kemauan Kyara asalkan istrinya itu merasa bahagia dan nasib belalai gajahnya aman.
__ADS_1
______
Di tengah kebahagiaan Bara dan Kyara, berbeda hal-nya dengan rumah tangga yang sedang dijalani oleh Rania dan Steven. Keduanya sedang dilanda kegelisahan, pasalnya meskipun usia pernikahan mereka sudah memasuki 4 bulan, sampai sekarang Rania belum juga bisa mengandung karena ia selalu mengkonsumsi obat untuk kesembuhan kakinya yang lumpuh.
Meskipun sebenarnya Steven tak mempermasalahkan hal itu, tetapi Rania merasa jika dirinya telah gagal menjadi seorang istri. Padahal Steven sudah menerima dirinya apa adanya, tetapi Rania tidak bisa memberikan Steven keturunan. Sudahlah cacat, tidak bisa melayani Steven dengan baik dan sekarang ia juga tidak bisa memberikan buah hati tanda cinta mereka.
"Sayang, apa kau memikirkan hal itu lagi?" Tebak Steven yang mendekati Rania saat terlihat sedang termenung di tepi kolam renang.
"Stev, kau sudah pulang? Maaf aku tidak mendengarnya. Iya aku memang selalu memikirkan hal itu, aku takut Kakek akan kecewa karena aku tidak bisa memberikannya cicit seperti Kyara," ucap Rania dengan raut wajahnya yang begitu sedih.
"Nia, sudahlah Sayang. Kakek juga mengerti kau itu sedang sakit, aku juga tidak pernah menuntut akan hal itu," ucap Steven yang langsung meraih tubuh Rania ke dalam dekapannya.
Meskipun jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam Steven sangat ingin memiliki anak, tetapi sekarang yang terpenting ia ingin melihat Rania sembuh dulu. Ia sudah sangat bahagia karena telah menjadi suami Rania, wanita yang sangat dicintainya sejak lama.
"Atau lebih baik aku tidak usah mengkonsumsi obat itu lagi supaya kita bisa memiliki keturunan," ujar Rania yang membuat Steven terkejut mendengarnya.
"Kau ini bicara apa, aku tidak setuju. Aku ingin melihat kau sembuh terlebih dahulu dan keturunan itu anggap saja bonus dari Tuhan untuk kita. Jika memang rezekinya, aku yakin kita pasti akan memiliki anak," ucap Steven.
"Tapi Stev, aku ... Akhhhhhhh!!!"
Tiba-tiba saja Rania merasakan perutnya begitu sakit yang luar biasa seperti sedang diaduk-aduk di dalam sana. Membuat Steven pun merasa sangat khawatir dan merasa takut.
"Rania, kau kenapa Sayang?"
Happy Reading …
TBC.
__ADS_1