
"Kau terluka, biarkan aku mengobatimu," kata Rania begitu perhatian, tidak tega tentunya melihat pria yang dicintainya terluka seperti itu.
"Jangan sok perduli denganku!" bentak Bara menepis tangan Rania dengan sangat kasar, pria itu juga langsung pergi begitu saja membuat Rania begitu kesal karena diacuhkan.
"Kau benar-benar keterlaluan Bara, setelah ini kau pasti akan menyesal karena melakukan ini padaku!" teriak Rania sangat-sangat kesal, semua cara sudah ia lakukan, tapi tidak sedikitpun membuat Bara tertarik pada dirinya. Sekarang justru Bara semakin membenci dirinya.
"Semua ini gara-gara Kyara," gumam Rania begitu geram, ternyata menyingkirkan Kyara bukan cara yang sangat tepat, karena Bara sema sekali tidak berubah.
Rania sama sekali tidak tahu jika saat ini Kyara masih berada di ibu kota dan tinggal bersama suaminya, Bara.
*****
"Astaga Bara, kenapa dengan wajahmu?" Kyara berseru panik saat melihat Bara kembali ke Apartemen dengan wajah yang babak belur, padahal saat pergi tadi pria itu baik-baik saja. "Siapa yang melakukan ini Bara? Astaga, ini harus segera di kompres," ucap Kyara benar-benar cemas,
"Aku tidak apa-apa Sayang, ini hanya luka kecil, anggap saja sedikit akibat untuk mendapatkanmu," sahut Bara berusaha tersenyum meski sedetik kemudian ia meringis tatkala bibirnya yang robek tertarik.
"Tidak apa-apa bagaimana? Kau ini sakit, ayo ke kamar dulu, aku akan mengobatimu," kata Kyara jutsru mengomel kesal, ia segera mengajak Bara ke kamar dan mengambil kotak p3k serta baskom berisi air untuk mengompres luka Bara.
Bara yang melihat Kyara begitu cemas, malah tersenyum-senyum kesenangan. Ia senang karena Kyara menunjukkan perhatiannya. Jika sudah begitu perhatian, bukankah artinya Kyara benar-benar mencintainya?
"Ini gimana ceritanya bisa kayak ini? Ish, ini pasti sakit banget," ucap Kyara mengompres luka Bara dengan sangat hati-hati, ia tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya luka itu.
"Aku rasa, aku rela terluka ribuan kali jika kau seperti ini," sahut Bara dengan senyum tipis yang mengembang diwajah tampannya.
"Ish, jangan berkata seperti itu Bara. Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, bukannya kau bilang ingin melindungiku dan anak kita?" Kyara menyahut dengan kesal, ia mana tega jika harus terus melihat Bara terluka.
"Tentu saja Sayang, selama kau ada di sampingku, semuanya akan baik-baik saja," ujar Bara memegang tangan Kyara lalu menciumnya dengan penuh cinta.
Kyara menipiskan bibirnya, menahan dirinya agar tidak tersipu-sipu malu didepan Bara. Jantungnya mulai tidak aman melihat tatapan dari Bara yang tajam menghanyutkan itu.
"Apaan sih, gombal banget," ketus Kyara menarik tangannya, ia bisa gila jika Bara terus bersikap manis seperti itu.
Bara tertawa kecil melihat tingkah Kyara yang malu-malu itu. Wajahnya yang cantik semakin terlihat cantik karena memerah seperti kepiting rebus. Melihat wanita yang dicintainya didepan matanya, Bara tentu tidak bisa menahan dirinya, ia tiba-tiba mengambil handuk yang dibawa Kyara lalu meletakkannya di nakas.
"Eh? Kenapa kau mengambilnya? Aku belum selesai mengobatimu," ujar Kyara kebingungan.
"Aku tidak butuh obat, karena obatku adalah kau!" Dengan gerakan halus dan berpengalaman, Bara segera menarik tangan Kyara dan membuat wanita itu terbaring diranjang lalu ia menindihnya. Bara sangat berhati-hati karena takut akan menyakiti anak mereka.
__ADS_1
"Ba-ra kau mau apa?" Kyara bertanya terbata-bata, ia semakin gugup saat melihat Bara sudah berada diatasnya.
"Kenapa kau harus bertanya? Aku menginginkanmu Sayang," bisik Bara mengusap pipi Kyara dengan lembut.
Kyara menahan nafasnya, ia memperhatikan wajah Bara yang babak belur itu. Meskipun babak belur, tidak mengurangi sedikitpun ketampanan pria itu. Sepertinya memang dalam kondisi apapun Bara akan selalu terlihat tampan.
"Kau sedang sakit Bara," ucap Kyara menahan dada Bara saat pria itu akan menciumnya.
"Tidak untuk yang satu ini." Setelah lima kalimat itu meluncur, Bara langsung saja mencium bibir manis Kyara yang menjadi candunya itu. Ia mengabaikan rasa perih di bibirnya sendiri dan memilih segera mengungkapkan perasaannya yang menggebu-gebu.
Kyara sendiri tidak kuasa menolak, ia membalas ciuman itu begitu lembut. Tidak terburu-buru, saling menikmati ciuman penuh cinta yang beradu dengan hasrat yang membara.
Mungkin seperti inilah rasanya jika melakukan hubungan dengan seseorang yang dicintainya. Tanpa paksakan dan juga dengan kesadaran penuh. Selama pergumulan itu terjadi, tidak sedikitpun Kyara memejamkan matanya, ia ingin mengukir wajah pria yang dulu yang dibencinya itu, kini perlahan-lahan menyusup masuk dan menguasai hatinya.
"Bara ...," Kyara memeluk Bara seraya mencium leher pria itu saat dirinya dibuat tidak menjejak bumi dalam waktu sesaat.
Bara sendiri tidak seperti biasanya, menyentuh Kyara dengan lembut dan penuh pemujaan. Bukan hanya mengandalkan nafsunya, ia sangat berhati-hati karena takut akan melukai anak mereka.
Namun, meskipun begitu tidak mengurangi keintiman mereka sama sekali. Justru pergumulan itu terasa panas dan juga penuh cinta. Saling melebur menjadi satu dengan tangan yang saling menggenggam dan mata saling memandang. Benar-benar perayaan cinta yang begitu indah.
******
Dengan perlahan-lahan, Bara menarik selimut untuk menutupi punggung Kyara yang terbuka. Ia lalu turun dengan sangat pelan dan mengambil ponselnya, tidak lupa mencium kening Kyara sebelum ia memunguti bajunya yang berserakan lalu memakainya dan beranjak pergi untuk menghubungi seseorang.
"Bagaimana Alex?" tanya Bara langsung saja tanpa basa-basi.
"Saya sudah mendapatkannya, Tuan." Alex sendiri langsung menyahut dengan lugas, tahu jika saat ini Tuannya sedang mode sangat serius.
"Bagus, simpan itu baik-baik. Kita selesaikan malam ini juga Alex." Bara segera mematikan sambungan telepon itu setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkannya.
Bara lalu masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya. Ia harus segera menyelesaikan semua kekacauan ini agar ia bisa hidup tenang dengan wanita yang dicintainya, Kyara.
Sesaat sebelum Bara pergi, Bara menutup semua jendela dan menciumi pipi Kyara berkali-kali, seolah menenangkan hatinya sebelum memulai segalanya. Setelah semuanya beres, ia bergegas pergi meninggalkan Apartemen dengan mengendari mobilnya sendiri.
Udara malam itu sangat dingin, tapi tidak sedingin wajah Bara saat ini. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu mencari satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan kekacauan ini.
"Tuan Bara? Anda datang larut sekali, Tuan Hardi sudah tidur." William, asisten Kakek Hardi langsung menegur Bara saat pria itu data ke rumah utama.
__ADS_1
"Aku bukan ingin bertemu dengan Kakek, tapi bertemu dengan Steven, dimana ba ji ngan itu?" Bara menyahut begitu geram, ia langsung menyelonong masuk begitu saja ke dalam rumah Kakeknya, karena ia tahu jika Steven berada disana.
"Steven! Keluar kau! Steven!" Bara berteriak sangat keras hingga suaranya menggema di rumah megah itu.
"Steven! Aku tahu kau disini, keluar sekarang juga bang sat!" Bara kembali berteriak, kali ini ia tidak segan membanting sebuah guci besar rumah itu hingga menimbulkan suara yang berisik.
Bara sendiri tidak peduli, siapapun yang membuat dirinya marah, pasti akan mendapatkan konsekuensinya. Sudah cukup ia dan Kyara terus dipermalukan, sekarang saatnya ia membongkar segalanya.
Seluruh penghuni rumah itu terbangun mendengar suara ribut-ribut yang disebabkan oleh Bara. Para pelayan sendiri tidak ada yang berani menghentikan Bara, mengingat perangai pria itu begitu buruk.
"Bara, kenapa kau membuat keributan disini?" Steven juga begitu kaget melihat Bara yang tiba-tiba datang mencari dirinya.
Bara tersenyum sinis melihat Steven datang, ia menunggu sampai pria itu berada didekatnya dan ia langsung menarik kerah bajunya dengan kasar.
"Bara! Apa-apaan ini!" seru Steven semakin kaget.
"Jangan berpura-pura bo doh! Setelah kau membuat kekacauan, seharusnya kau mengakuinya brengsek! Bukan hanya diam seperti pecundang dan melimpahkan semua kesalahanmu padaku!" hardik Bara begitu murka, ia merasa Steven sudah tahu jika saat ini Rania hamil, tapi pria itu sengaja diam saja.
"Apa maksudmu Bara?" tanya Steven mendadak gugup.
"Kau sangat tahu maksudku Steven! Per setan kau adalah sepupuku, cepat temui wanita itu dan akui jika saat ini dia sedang mengandung benih sialanmu itu!" Teriak Bara, sudah begitu emosi membuat ia tanpa ragu langsung menghantam wajah Steven dengan sangat keras.
Steven langsung jatuh tersungkur, tapi pria itu masih belum mengerti apa maksud Bara. "Wanita siapa? Aku tidak tahu maksudmu Bara," kata Steven terbata-bata.
"Brengsek! Apa sekarang otakmu ini sudah tidak berfungsi, ha!" Bara semakin murka, ia kembali menarik baju Steven lalu memukulnya lagi. "Wanitamu Rania itu sedang hamil dan dia menuduhku yang menghamilinya bang sat!" Bara terus saja memukuli Steven dengan membabi buta, karena ia merasa jika Steven adalah dalang dari semua ini.
"Ra-nia hamil?" Steven mencoba berbicara disaat tubuhnya teras remuk.
"Ya! Dia hamil dan kau harus tanggung jawab," sahut Bara menghempaskan tubuh Steven dengan sangat kasar.
"Tapi ... itu tidak mungkin," ucap Steven masih begitu syok.
Hal itu tentu membuat kemarahan Bara memuncak, ia akhirnya kembali menghajar Steven tanpa peduli pria itu adalah sepupunya.
"Kau memang ba ji ngan! Mati saja kau!"
"Hentikan itu Bara!"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.