Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Deal With The Pain.


__ADS_3

Semua kejadian bergerak cepat tanpa bisa dicegah. Kini Rania dan Papanya tengah menunggu dengan cemas didepan ruang ICU setelah tadi mereka dibuat panik saat Mama Sandra tiba-tiba pingsan. Disana hanya ada mereka berdua, Kakek Hardi dan juga ba ji ngan laknat yang sudah menodai Rania, siapa lagi kalau bukan Steven?


Rania sama sekali tidak ingin melihat wajah pria itu, karena ia benar-benar sangat marah. Semua mimpi dan masa depannya seolah hancur dalam sekejap karena dirinya dinodai pria yang bukan suaminya sendiri.


"Rania, aku-"


"Papa, apa aku boleh meminta pria ini pergi darisini?" Rania langsung menyela sebelum Steven mengatakan apapun. Pria itu terlihat begitu menyesal, tapi tidak memupuskan kebencian Rania terhadapnya.


Nugraha menghela nafas panjang, ia melirik Steven dan Kakek Hardi yang tampak hanya diam saja itu.


"Tuan Hardi, saya mohon sebaiknya bawa cucumu ini pergi. Terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan kepada kedua putriku, aku rasa hubungan keluarga kita tidak bisa dilanjutkan lagi," ujar Nugraha langsung saja mengambil keputusan tegas. Ia tidak mungkin membiarkan kedua putrinya hidup dengan para ba ji ngan itu.


"Tuan Nugraha, ini semua memang sangat mengejutkan kita. Tapi sebaiknya kita bicarakan lagi semuanya dengan kepala dingin, apalagi sekarang baik Rania dan Kyara sama-sama mengandung keturunan keluarga Perkasa," ucap Kakek Hardi menggeleng tidak setuju, bagaimana pun juga saat ini ada kehidupan baru yang harus mereka pikirkan masa depannya.


"Jika Kakek memikirkan tentang anakku, Kakek tidak usah khawatir. Aku masih bisa membesarkannya sendiri tanpa tanggung jawab dari pengecut itu," sergah Rania melirik Steven dengan penuh kebencian.


"Rania, aku benar-benar minta maaf. Malam itu aku khilaf dan aku-"


"Per setan dengan alasanmu brengsek! Kau tetap seseorang yang telah menghancurkan hidupku dan tidak akan aku maafkan sampai kapanpun!" bentak Rania penuh emosi tapi juga terlihat kesedihan yang mendalam dari sorot matanya.


Steven mengepalkan tangannya, seketika saja hatinya begitu sakit melihat tatapan Rania yang begitu membencinya. Dan inilah yang ia takutkan jika mengakui segalanya, Rania akan sangat membencinya.


"Kau boleh membenciku Rania, tapi izinkan aku bertanggungjawab atas anak yang ada didalam kandunganmu. Apa kau tega membiarkan dia lahir tanpa seorang Ayah?" tutur Steven, mencoba merayu Rania dengan menggunakan anak mereka.


Bukannya semakin tenang, Rania justru semakin meradang. Ia hampir saja memaki pria itu lagi namun niatnya diurungkan tatkala ruangan tempat Sandra dirawat terbuka. Seorang Dokter keluar darisana membuat semua pandangan langsung tertuju padanya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Papa Nugraha langsung saja.


"Keadaan pasien cukup mengkhawatirkan Tuan, pasien mengalami darah tinggi dan posisi jatuhnya tadi membuat sebagian tubuh beliau tidak bisa digerakkan. Atau kita bisa menyebut saat ini pasien mengalami gejala stroke sebagian," ujar Dokter menjelaskan seraya menatap satu persatu keluarga dari pasien yang baru saja ditanganinya.


"Apa? Mama saya terkena stroke dok?" tanya Rania tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Benar Nona, lebih tepatnya stroke di bagian tubuh sebelah kiri," jawab Dokter memperjelas segalanya.

__ADS_1


Rania menutup mulutnya tidak percaya, ia langsung menjatuhkan dirinya kepelukan sang Papa dan menangis sejadi-jadinya. Hari ini adalah hari terburuk sepanjang perjalanan hidup Rania. Ia harus menerima fakta jika ia sudah hamil anak pria yang bukan suaminya, ditambah saat ini Mamanya justru terkena serangan stroke. Sungguh penderitaan yang sangat lengkap sekali.


______


Kyara terbangun saat merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Ia menyipitkan matanya menatap hari yang masih gelap. Ia lalu melirik tangan besar yang menimpa perutnya.


"Bara," panggil Kyara dengan suara seraknya, khas bangun tidur.


"Hmm ... tidurlah lagi, ini masih malam," sahut Bara menciumi rambut Kyara dan mengeratkan pelukannya.


"Sekarang jam berapa?" tanya Kyara memutar tubuhnya, menatap Bara dengan matanya yang masih setengah wat.


"Baru jam 4 pagi, tidurlah lagi," ujar Bara menjawab seadanya.


"Hmm ... dingin." Kyara mengangguk singkat, ia mencari posisi ternyamannya dengan kembali memeluk tubuh tegap Bara. Mendengarkan irama detak jantung yang membuat ia seperti mendengar musik pengantar tidur yang indah.


Bara tersenyum tipis, ia mencium kening Kyara lalu memeluk kembali tubuh wanita itu. Semua masalah sudah terselesaikan dan ia hanya tinggal mengurus perceraiannya dengan Rania agar bisa memiliki Kyara seutuhnya secara hukum dan agama mereka.


Beberapa jam sebelum pagi menjelang itu, kedua pasangan yang baru saja melakukan perayaan cinta itu tertidur dengan tubuh yang saling berpelukan. Ketika Bara terbangun di pagi hari, ia bingung saat tidak menemukan Kyara ada di pelukannya. Ia buru-buru bangkit dengan wajah sangat panik.


"Kyara!" Bara terus berteriak-teriak memanggil wanita itu seraya keluar dari kamarnya, ia mencari Kyara di setiap sudut Apartemennya dan tidak menemukan Kyara ada disana.


"Kyara, kau dimana Kyara? Jangan pergi Kyara." Bara berbicara dengan nada yang begitu kacau, matanya bahkan mulai berkaca-kaca membayangkan jika Kyara akan meninggalkan dirinya. Bara akhirnya pergi ke dapur, satu-satunya tempat yang mungkin ada Kyara disana. Namun, hasilnya nihil, Kyara tidak ada disana.


"Kyara kenapa kau pergi meninggalkanku lagi ... aku sangat mencintaimu Kyara," lirih Bara menundukkan wajahnya, untuk pertama kali seumur hidupnya Bara menangis karena tidak bisa menemukan Kyara. Ia sudah berpikir jika wanita itu memang meninggalkannya lagi.


"Kyara ..."


"Bara, kau sudah bangun?"


Bara tersentak saat mendengar suara wanita yang dicari-carinya sejak tadi. Ia mengangkat wajahnya dan sontak langsung tersenyum begitu melihat Kyara berdiri didepannya.


"Kyara, akhirnya kau kembali Sayang. Jangan tinggalkan aku lagi," kata Bara langsung menarik pinggang Kyara dan memeluknya sangat erat, ia juga menangis dalam pelukan Kyara karena rasa takut yang luar biasa.

__ADS_1


"Eh? Aku memang dari IndoApril depan untuk membeli beberapa makanan. Kau ... menangis?" Kyara malah kebingungan dengan sikap Bara yang tiba-tiba memeluknya sembari menangis seperti itu.


"Tidak! Aku tidak menangis, aku hanya takut kalau kau akan pergi meninggalkanku lagi," sahut Bara tidak berani mengangkat wajahnya, bisa mati kutu ia kalau sampai Kyara tahu ia menangis.


"Enggak, kau menangis 'kan? Astaga, seorang Bara menangis?" Kyara menarik kepala Bara agar mendongak dan ia bisa melihat jelas wajah pria itu basah membuat Kyara menahan tawanya.


"Tuh kan, kau menangis, malu sama umur Tuan muda," celetuk Kyara tertawa kecil.


"Ck, ini juga gara-gara kau. Kenapa kau pergi tanpa sepengetahuanku? Apa kau tidak tahu bagaimana cemasnya aku tadi?" kata Bara mencari-cari alasan, sekarang baru ia merasa malu setelah apa yang dilakukannya.


Benar-benar menyebalkan.


"Aku hanya membeli makanan ringan Bara, aku sangat lapar sekali. Maaf, tadi aku mengambil uang di dompetmu. Aku tidak punya uang," kata Kyara menunjukkan satu kantong plastik belanjaan miliknya.


"Tidak apa-apa, habiskan saja uangku dan habiskan waktumu bersamaku. Itu sudah membuatku sangat senang," ucap Bara kembali memeluk Kyara dan menguyel-uyel perutnya.


"Bara Ih, geli tau. Lepasin deh, aku mau makan," kata Kyara merengek dengan suaranya yang manja.


"Baiklah, baiklah, kau menang harus banyak makan agar anak kita sehat," ujar Bara melepaskan Kyara, ia lalu menarik satu kursi untuk tempat wanita itu duduk.


Kyara tersenyum tipis, sebuah perbuatan sederhana, tapi terasa begitu manis.


"Setelah ini aku mungkin akan pergi, nanti aku akan mengirimkan orang untuk membantumu disini. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja padaku," ujar Bara menatap Kyara yang mulai memakan roti yang cari saja dibelinya.


"Kau mau kemana?" tanya Kyara.


"Aku harus mengurus surat perceraianku dengan Rania agar kita bisa secepatnya menikah," jawab Bara seadanya.


Kyara terdiam sesaat, kenapa rasanya begitu sakit saat mendengar keputusan Bara. Tapi ini semua juga demi kebahagiaan mereka. Mungkin benar kata orang, kita harus menjadi sedikit egois agar bisa membuat diri kita bahagia. Dan Kyara sedang berada di fase itu, bersikap egois dengan menikung Kakaknya sendiri.


"Kau sabar 'kan menunggu aku menyelesaikan ini dulu? Aku pasti akan segera menikahimu setelah semuanya selesai," ujar Bara menggenggam tangan Kyara dengan lembut.


"Iya, aku pasti menunggumu."

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2