Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Anugerah Terindah.


__ADS_3

Suara lengkingan tangis bayi terdengar memenuhi salah satu rumah sakit terbesar di kota Jakarta. Suara itu berasal dari kamar bersalin dimana Kyara berada. Ya, tepat di penghujung tahun baru itu, Kyara berhasil melahirkan seorang putra yang digadang-gadang akan menjadi pewaris keluarga Perkasa.


Kyara melahirkan bayinya dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Bara juga senantiasa menemani Kyara selama proses itu berlangsung, ia bahkan tidak beranjak sedikitpun dari sisi istrinya. Melihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana perjuangan sang istri yang bersusah payah melahirkan putranya.


"Sayang, terima kasih, aku sangat-sangat terima kasih karena kau sudah melahirkan seorang putra untukku. Terima kasih Sayang, aku mencintaimu," ucap Bara tidak henti memberikan ciuman manis diseluruh wajah Kyara yang masih penuh dengan keringat itu.


"Aku juga mencintaimu," balas Kyara mencoba tersenyum meski saat ini tubuhnya masih begitu nyeri pasca melahirkan.


"Permisi Tuan, Nyonya, saya akan membersihkan Nyonya terlebih dulu. Tuan bisa menunggu diluar," titah seorang Dokter menghampiri mereka.


Bara menoleh sekilas, ia kembali menatap Kyara dengan seulas senyum dibibirnya. "Aku akan keluar dulu ya, kau tidak apa-apa 'kan disini sendiri dulu?" ucap Bara menatap Kyara dengan begitu lembut.


"Tidak apa-apa Bara," sahut Kyara mengangguk mengiyakan.


Bara tersenyum tipis, ia mencium kening Kyara sebelum ia keluar menemui keluarga yang lain. Hari itu semua keluarganya berkumpul, Kakek Hardi, Steven dan Rania, bahkan Papa Nugraha juga datang untuk melihat cucu pertamanya. Sedangkan Mama Sandra masih belum menerima semuanya dan masih betutu membenci Bara dan Kyara, jadi wanita itu tidak datang.


"Bara, bagaimana keadaan Kyara? Apa dia baik-baik saja?" tanya Papa Nugraha terlihat begitu panik, ia terlihat Dejavu karena ingat saat Ibunya Kyara melahirkan dulu.


"Semuanya baik Pa, Kyara baik-baik saja dan juga putraku," sahut Bara dengan cuping hidung yang mengembang, terlihat sekali pria dingin itu tengah diliputi kebahagiaan yang luar biasa karena baru saja mendapatkan gelar baru, yaitu seorang Ayah.


"Putra? Anakmu laki-laki? Wah, selamat Bara, aku ikut senang mendengarnya," ujar Steven mengulas senyum tipisnya, meksipun dalam hatinya ada sedikit rasa nyeri karena ia belum memiliki anak sampai sekarang.


"Terima kasih," sahut Bara berusaha tetap cool meski hatinya begitu membuncah.


"Kakek juga ucapakan selamat, semoga kelak dia akan menjadi anak yang hebat seperti Ayahnya," kata Kakek Hardi menepuk-nepuk pundak Bara, pria tua itu terlihat lebih bahagia karena akhirnya ia bisa memiliki cicit.


"Pasti Kek, anakku harus mirip denganku," kata Bara tersenyum seraya mengangguk-angguk pasti.


______


Seminggu kemudian, Kyara sudah diizinkan pulang kerumah. Ia tampak terus menyunggingkan seulas senyum dibibirnya saat melihat putranya terlihat begitu lelap dalam gendongannya.


"Ayo kita masuk," ucap Bara merangkul pinggang Kyara dan mengajak wanita itu masuk ke dalam rumah.


Kyara mengangguk mengiyakan, mereka berdua lalu masuk dan disambut langsung oleh Rania. Ya, semenjak Kyara dan Rania berbaikan, wanita itu kembali dekat seperti dulu lagi, bahkan sangat dekat karena baik Kyara dan Rania sering menghabiskan waktu bersama kalau suami mereka bekerja.


"Selamat datang," kata Rania dengan senyum manis dibibirnya.


"Kak Nia, terima kasih sudah datang kesini," ucap Kyara balas mengulas senyum tipisnya.


"Harus dong, sini keponakan ganteng. Aunty gendong yuk," ucap Rania mendekati Adiknya dan meminta bayi menggemaskan itu untuk digendongnya.


Ya, Rania kini juga sudah bisa berjalan lagi karena ia rutin mengkonsumsi obat dan juga melakukan terapi. Tapi, sayangnya sampai saat ini ia belum bisa hamil juga karena efek obat yang pernah diminumnya itu masih ada. Ia masih tetap harus sabar menunggu.


"Apa dia tidur terus?" tanya Rania mengusap-usap pipi bulat anak Kyara.

__ADS_1


"Iya Kak, dia sering tidur kalau siang. Kalau malam, huh, jangan ditanya. Ayahnya harus siap-siap bergadang pokoknya," kata Kyara mengerlingkan matanya pada Bara.


"Harus, harus itu. Ayahnya juga ikut andil dalam pembuatan, jadi harus ikut andil dalam perawatan," seloroh Steven ikut menggoda sepupunya itu.


"Tanpa kau minta aku juga melakukannya Stev," cetus Bara dengan sikapnya yang dingin, membuat semua yang ada diruangan itu tertawa.


"Dia sangat tampan sekali Kyara, siapa namanya?" tanya Rania lagi, masih mengagumi mahluk kecil didalam gendongannya itu.


"Rajendra Christoper Perkasa," sahut Bara langsung saja.


"Namanya bagus," kata Rania tersenyum tipis, trus mengusap-usap pipi Rajendra yang begitu bulat dan menggemaskan.


Mereka lalu lanjut mengobrol ringan, membicarakan berbagai macam hal yang membuat hubungan mereka kembali hangat. Sampai akhirnya Rajendra menangis dalam gendongan Rania.


"Kya, sepertinya dia ingin minum susu," kata Rania.


"Iya Kak, aku akan menyusuinya dulu," sahut Kyara meminta Rajendra dari gendongan Kakaknya.


"Eh, kau mau apa?" Bara melotot saat mendengar ucapan Kyara. "Kau tidak boleh menyusui putraku disini, ayo kita ke kamar," titahnya buru-buru bangkit dan menutupi Kyara dari pandangan Steven.


Kyara hanya memutar bola matanya malas. Bara ini sama sekali tidak berubah, masih begitu posesif meski sudah memiliki anak.


"Kak Nia, aku masuk dulu ya. Selain Rajendra, Ayahnya juga sering rewel," celetuk Kyara.


"Itu bukti kalau aku mencintaimu, tidak akan aku biarkan pria manapun melihat sejengkal tubuh istriku, ayo masuk," sergah Bara segera menggandeng istrinya itu dan masuk kedalam kamar meninggalkan tawa para keluarga yang ada disana.


______


Saat hari sudah cukup sore, Rania dan Steven memutuskan pulang ke rumah mereka sendiri. Sejak tadi Steven memperhatikan istrinya dan wanita itu terlihat pucat, Rania juga hanya diam saja membuat Steven yakin jika istrinya itu pasti memikirkan tentang anak.


"Sudah sembilan bulan Stev, sudah selama itu aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu. Aku tahu kau begitu menginginkannya, apa lebih baik kita-"


"Buang pikiranmu itu jauh-jauh Rania. Berapa kali aku bilang padamu? Meskipun kau tidak bisa memberikanku anak, itu tidak akan mengubah apapun," sergah Steven langsung menyela ucapan istrinya.


"Tapi aku merasa gagal Stev, aku tidak tahu sampai kapan penantian kita ini akan berakhir," ucap Rania tidak bisa menahan air matanya untuk keluar. Hatinya benar-benar sakit jika mengingat ia yang belum bisa hamil juga.


Steven menghela nafas panjang, ia segera menghentikan mobilnya lalu menarik Rania kedalam pelukannya.


"Kau tidak gagal, aku mohon jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri untuk masalah ini. Kalau memang sudah rejeki, kita pasti akan mendapatkannya Rania," tutur Steven mencium kening Rania dengan hangat, ia sama sekali tidak mempedulikan jika ia tidak bisa memiliki anak, baginya memiliki Rania saja sudah cukup. Jika memang diberi, itu justru anugerah terindah.


Rania perlahan-lahan mulai tenang, ia mengusap air matanya dan memandang Steven dengan sendu. Pria itu lalu mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut, membuat kegusaran hati Rania seolah lenyap begitu saja.


"Aduh ..." Sesaat setelah Steven menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Rania meringis kesakitan seraya memegang kepalanya.


"Ada apa Rania?" tanya Steven panik.

__ADS_1


"Kepalaku pusing, sepertinya vertigoku' naik lagi Stev," jawab Rania seraya terus memegang kepalanya.


"Ini pasti karena kau kecapekan dan banyak pikiran. Ayo kita ke Dokter sekarang," ujar Steven semakin cemas.


"Tidak usah, kita pulang saja Stev, aku tidak apa-apa."


"Jangan membantah, aku tidak mau kau kenapa-kenapa lagi, kita ke rumah sakit sekarang."


Rania tidak membantah saat mendengar suara tegas dari Steven itu. Akhirnya ia hanya diam saja ketika Steven membawanya ke rumah sakit untuk periksa, padahal menurut Rania, ia hanya pusing biasa.


Sesampainya di rumah sakit, Rania segera diperiksa. Ia pikir ia hanya kecapekan biasa, tapi Dokter umum justru menyuruhnya untuk periksa ke Dokter spesialis kandungan.


"Ada apa Dokter? Apa kandungan istri saya bermasalah?" tanya Steven begitu cemas, ia memegang tangan Rania untuk menguatkan wanita itu karena Rania terlihat langsung sedih.


"Oh, bukan Tuan. Saya hanya merasa jika kemungkinan besar saat ini Nyonya sedang mengandung. Tapi untuk lebih pastinya, Tuan bisa memeriksakan ke Dokter spesialis kandungan," jelas Dokter.


"Mengandung?" Stevan dan Rania saling pandang, mereka tentu sangat syok mendengar kabar itu. Apakah mereka tidak salah dengar? Itulah yang ada dipikiran mereka.


Setelah berbasa-basi sejenak, Steven langsung saja membawa Rania ke Dokter kandungan. Pria itu terlihat sangat tidak sabar ingin mengetahui kabar pastinya, benar-benar sangat berharap jika apa yang dikatakan Dokter tadi benar.


"Stev, bagaimana kalau aku tidak hamil?" Tanya Rania begitu takut jika hasilnya akan membuat mereka kecewa.


"Kita coba saja dulu," sahut Steven mengelus punggung tangan Rania dengan perlahan. Lalu setelah itu ia masuk kedalam poli kandungan setelah nama Rania dipanggil.


Rania berbaring di ranjang dengan seorang Dokter menyiapkan segala alat untuk USG. Sebelumnya Rania ditanya kapan terakhir mentruasi dan Rania menjawab lupa, karena jadwal menstruasinya memang tidak pernah teratur.


"Apa sering mengalami pusing?" tanya Dokter mulai mengusapkan sebuah alat ke perut Rania yang masih rata.


"Kadang-kadang Dokter, apakah ada penyakit serius?" Rania menjawab dengan rasa kalut yang luar biasa, ia mere mas tangan Steven untuk menyalurkan perasannya.


"Penyakit?" Dokter itu mengerutkan dahinya, ia menatap layar monitor di depannya dengan sangat serius. "Saya rasa bukan penyakit, tapi ini adalah janin Nyonya. Ada lihat bulatan kecil ini? Ini adalah bayi Anda, dari besarnya yang terlihat, sepertinya baru berusia enam Minggu, masih usia rawan," jelas Dokter itu lagi.


Stevan dan Rania kembali saling pandang, semakin bingung dengan ucapan Dokter itu. Janin? Bayi?


"Apakah istri saya hamil Dokter?" tanya Steven harap-harap cemas.


"Benar Tuan, selamat atas kehamilan istrinya ya. Saya akan menyiapkan resep vitamin untuk Nyonya nanti agar tidak terlalu pusing. Sekali lagi, saya ucapkan selamat untuk Tuan, Nyonya," ucap Dokter kandungan memberikan seulas senyum manisnya.


"Stev, aku hamil Stev?" Rania masih terlalu syok, ia menatap Steven dengan senyum dan juga mata yang berkaca-kaca.


"Iya Sayang, kau hamil, kau benar-benar hamil. Terima kasih, terima kasih Sayang, ini benar-benar keajaiban yang sangat indah Rania. Aku mencintaimu, terima kasih ..." ucap Steven langsung memeluk Rania, ia juga tidak bisa menahan air matanya untuk keluar karena mendengar kabar bahagia ini.


Tangis Rania sendiri langsung pecah, ia balas memeluk Steven dengan erat. Hari itu benar-benar penuh kejutan dan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Rania bahkan tidak pernah menyangka jika Tuhan akan memberikannya anugerah seindah ini. Rania benar-benar sangat bersyukur, karena setelah segala kesedihan dan kehancuran dalam hidupnya, Tuhan memberikannya sebuah kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Sekarang, akhirnya ia bisa memiliki kehidupan rumah tangga yang sempurna.

__ADS_1


..._________ TAMAT ________...


__ADS_2