
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke Jakarta, Kyara tampak lesu seolah menampakkan jika sedang ada masalah yang benar-benar menggangu pikirannya saat ini. Rania yang menyadari sikap adiknya itu pun merasa kebingungan dan sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Kya, ada apa? Kalau memang sedang ada masalah lebih baik sampaikan saja. Kau tidak pernah menyembunyikan rahasia apapun dariku," kata Rania yang tak ingin melihat adiknya sedih, sementara ia sedang merasa sangat bahagia.
"Oh, aku tidak apa-apa Kak. Aku hanya sedikit lelah." Kyara menjawab asal, yang terpenting kakaknya itu tidak curiga kepadanya.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal yang sebenarnya padamu Kak. Sudah pasti kau pasti akan merasa sangat kecewa dan membenciku jika kau mengetahui hubunganku dengan Bara di belakangmu dan saat ini aku sedang kecewa karena ternyata Bara juga menginginkanmu Kak. Maafkan aku Kak, aku tahu perasaan ini sangat salah," batin Kyara menahan sesak di dadanya.
"Ya sudah, kalau kau memang lelah lebih baik kau istirahat saja, tidur. Nanti setelah kita sampai di rumah, aku akan membangunkanmu," kata Rania.
Kyara menganggukkan pelan kepalanya, lalu ia pun memejamkan mata tetapi bukan untuk tidur, hanya untuk menetralisir perasaannya agar ia bisa menerima apa yang telah terjadi di dalam hidupnya. Berharap jika ia pun bisa tertidur, saat terbangun menyadari jika semua hanyalah mimpi.
Tidak membutuhkan waktu lama, karena sang supir menyetir dengan kecepatan tinggi, membuat mereka saat ini sudah tiba di depan rumah.
"Kya, kau sudah bangun?" Ucap Rania yang melihat Kyara membuka matanya.
"Iya Kak, aku sudah bangun," jawab Kyara yang memang tidak tidur sama sekali.
Mereka pun langsung saja turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya masing-masing.
Kyara menghempaskan tubuhnya ke atas kasur King size miliknya. Masih terbayang-bayang bagaimana rasanya saat Bara menyentuhnya dengan penuh kelembutan untuk pertama kalinya dan ia juga ikut menikmati permainannya itu, serta menyadari jika saat ini ia telah memiliki secuil perasaan terhadap Bara. Rasanya sangat sulit menerima, ingin marah karena ternyata Bara telah menipu dirinya. Siapa yang bisa menyangka jika Bara yang baru saja mengatakan bahwa telah menjadikan ia miliknya, tetapi pada kenyataannya setelah berhubungan dengan Kyara, Bara malah menjamahi tubuh Rania. Kyara merasa jika dirinya benar-benar wanita yang sangat bodoh, karena bisa terbelenggu oleh kakak iparnya yang bejat itu.
"Bagaimana aku harus bersikap sekarang? Apakah harus senang atau aku harus sedih?" Kyara menjerit di dalam hatinya dengan air mata yang terus saja mengalir.
Tok … tok … tok …
Hingga di saat itu pun terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya tersadar dari lamunan. Segera saja Kyara menghapus air matanya, berusaha untuk menutupi kesedihan yang sedang dirasakannya saat ini. Lalu ia bangkit dari tempat tidur dan membukakan pintu tersebut.
"Ada apa Kak?" Tanya Kyara yang melihat Rania sudah berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Kok kamu belum ganti baju juga. Ayo kita makan siang di rumah Mama, aku sudah sangat merindukan masakan Mama," kata Rania yang terlihat begitu antusias, sejak kejadian tadi malam telah membuatnya sangat ceria.
"Lebih baik kau saja Kak, aku sangat lelah dan ingin beristirahat saja," tolak Kyara, rasanya sangat enggan untuk bertemu dengan keluarganya dalam keadaan seperti ini. Sang ayah pastinya sangat tahu jika saat ini ia sedang memiliki masalah, sebagai orang yang paling terdekat dengannya dibandingkan sang ibu.
"Ayolah Kya, 'kan kau tahu sendiri jika hari ini Papa sedang libur dan berada di rumah, jika aku tidak membawamu ke sana pasti Papa akan memarahiku," ujar Rania.
"Katakan saja kalau aku sangat lelah atau aku kurang enak badan Kak," kata Kyara.
"Dasar adik yang bodoh, kalau aku mengatakan seperti itu, sudah pasti Mama dan Papa malah akan memarahiku karena aku telah meninggalkanmu sendiri di rumah." Rania terus saja mencari alasan agar adiknya itu ikut bersama dengannya.
"Ya sudah Kak, kalau begitu aku akan bersiap-siap dulu," kata Kyara yang pada akhirnya pun menyetujuinya.
******
Tidak berapa lama kemudian, Rania dan Kyara telah tiba di kediaman orang tua mereka. Bertepatan di saat itu mereka melihat kedua orang tuanya itu baru saja keluar dari rumah dan tampaknya hendak bepergian.
"Loh kamu kenapa datang tidak mengabari Mama dan Papa dulu?" Sandra langsung saja memeluk Rania dengan penuh kasih sayang. Tetapi tidak dengan Kyara, bahkan di saat Kyara menyalami tangannya, ia malah terlihat acuh. Berbeda dengan Nugraha yang memberikan pelukan hangat untuk Putri bungsunya itu.
"Oh … begitu. Kebetulan Papa dan Mama baru saja mau keluar dan kita ingin makan di luar, di restoran favorit kita. Kalian ikut saja, kita makan di sana saja," kata Nugraha.
"Makan di restoran terus bosan Pa, aku ingin makan masakan Mama," kata Rania mengerucutkan bibirnya. Tidak biasanya Rania bersikap seperti itu, malah Kyara yang biasanya banyak protes saat ini terlihat hanya diam saja.
"Makan masakan Mama nanti malam saja ya Sayang, kebetulan bahan-bahan masakan di rumah juga sudah habis, jadi Mama dan Papa ingin makan di restoran sekalian belanja. Kalau Mama tahu kamu sudah pulang, pasti Mama akan memasak makanan favorit kamu Sayang," ucap Sandra yang tersenyum kepada Rania. Meskipun Kyara selalu merasa di anak tirikan oleh Sandra, tetapi ia mencoba untuk bersikap sabar. Mungkin karena sifatnya yang keras kepala dan suka membangkang, membuat ibunya itu terkadang bersikap tidak baik padanya.
Setelah semua menyetujuinya, kini keluarga Nugraha itu pun masuk ke dalam mobil yang sama menuju ke restoran favorit mereka.
******
"Kenapa bisa ada minuman ini di sini? Aku 'kan sama sekali nggak memesan minuman ini," protes Kyara yang merasa sangat kesal saat ia baru saja kembali dari toilet.
__ADS_1
"Ya sudah lebih baik minta ganti saja Kya, kenapa kamu banyak protes sekali sih," hardik Sandra
"Bukan seperti itu Ma, tapi memang aku sama sekali nggak memesan lemon tea. Aku pesannya jus jeruk Ma," ucap Kyara
"Sama-sama jeruk juga 'kan. Tidak ada salahnya juga jika kamu minum," ujar Sandra.
"Mama gimana sih, Mama 'kan tahu sudah jelas-jelas aku itu nggak suka lemon, jelas aja beda lemon dengan jeruk," ucap Kyara dengan nada meninggi, entah kenapa tiba-tiba saja emosinya itu muncul hanya karena masalah kecil.
"Sudah-sudah, Mami, Kya. Kalian tidak malu berdebat seperti itu hanya karena masalah sepele. Ini di tempat umum," ucap Nugraha sehingga membuat keduanya pun terdiam.
"Kya, biar aku ke sana langsung minta ganti minumannya ya. Jadi kamu nggak perlu menunggu lama lagi," kata Rania bermaksud ingin membantu adiknya.
"Nggak usah Kak, biarkan aja," tolak Kyara ketus.
Rania menghela nafas panjang, ia semakin yakin jika saat ini Kyara memang sedang ada masalah. Untuk itulah ia tidak membiarkan Kyara berada di rumah sendirian dan sengaja mengajaknya keluar untuk jalan-jalan agar otaknya itu lebih fresh. Dan di saat ini pun ia juga selalu mencoba untuk bersikap sabar menghadapi adiknya itu.
"Aku ganti ya minumannya, kebetulan aku juga mau ke toilet sebentar," ucap Rania yang langsung saja beranjak dari tempat duduknya.
"Ya sudah kalau begitu, terserah Kak Nia aja. Aku juga nggak bolek nolak 'kan," sahut Kyara.
Lalu segera saja Rania pergi dengan membawa minuman yang salah dan hendak memesan kembali sesuai pesanan Kyara dengan langkah cepat.
Akan tetapi karena terburu-buru, malah membuat Rania tidak sengaja menabrak seseorang, sehingga minuman yang dibawanya pun tumpah mengenai seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Dengan ekspresi wajah yang takut bercampur cemas, Rania memejamkan matanya dan perlahan mencoba untuk menghadap pria itu.
"Rania?" Ucap pria tersebut, sehingga membuat Rania sontak terkejut dan membuka matanya lebar-lebar mendengat suara yang tak asing di telinganya menyebut namanya itu.
"Steven?" Ucap Rania pula, saat menyadari jika yang ada di hadapannya saat ini benar-benar pria yang sudah dikenalnya.
Happy reading.
__ADS_1
TBC.