
Mendengar suara yang tak asing, membuat Bara dan Kyara pun sontak terkejut dan langsung melihat ke arah sumber suara.
"Kak Nia?" Ucap Kyara yang langsung menepis tangan Bara dengan kasar, ia sangat takut melihat tatapan Rania yang saat ini berdiri di depan pintu kamarnya.
Begitu juga dengan Bara yang terlihat sangat gugup dan langsung saja menjauh dari Kyara, lalu mendekati istrinya itu.
"Rania, kau salah paham. Aku bisa menjelaskannya," ucap Bara.
Rania tak menggubrisnya, ia masih tampak diam mematung dan menatap keduanya secara bergantian, seolah tak percaya dia orang yang sangat dipercaya dan sangat disayanginya itu telah tega mengkhianatinya. Itulah yang ada di dalam benak Rania saat ini.
Tak mau memperpanjang masalah karena memikirkan nasib Kyara, kini Bara pun menarik tangan Rania dan menuntunnya hingga masuk ke dalam kamar.
"Kak Nia, aku minta maaf. Aku bisa jelaskan Kak, ini tidak seperti apa yang Kakak lihat," ucap Kyara, rasanya ia belum siap jika Rania harus marah dan sangat membencinya.
"Benar apa yang Kyara katakan, kau hanya salah paham. Tadi aku ke sini hanya ingin memastikan keadaan Kyara saja, aku hanya khawatir terhadap Kyara. Aku sama sekali tidak bermaksud apapun." Bara juga ikut mencoba untuk menjelaskan.
"Dengan apa yang sudah aku lihat di depan mataku, apa kalian pikir aku akan percaya begitu saja dengan kalian berdua, hah!" Ucap Rania yang kini membuka suaranya.
"Tapi memang itu kenyataannya Rania, jika kau tidak percaya padaku, ya sudah untuk apa lagi kita mempertahankan rumah tangga ini," ucap Bara yang bermaksud hanya untuk menggertak Rania, tetapi ia juga sama sekali tak takut jika hubungannya dan Rania saat ini juga akan berakhir. Apalagi wanita itu juga sudah melihat dengan jelas apa yang tadi ia lakukan terhadap Kyara.
Mendengar akan hal itu, membuat Kyara dan Rania sangat terkejut. Tentu saja Rania tidak mau melepaskan Bara begitu saja, karena ia sudah terlanjur mencintai pria tersebut.
"Bara kenapa kau malah mengancam ku seperti itu?" Segah Rania yang tak terima.
"Bara, kau tidak boleh berbicara seperti itu terhadap Kak Nia. Kak Nia itu istrimu," kata Kyara melotot kesal pada Bara, merasa ucapan pria itu justru akan memperkeruh suasana.
"Diam kau Kyara! Ini urusanku dengan suamiku, jadi lebih baik sekarang kau diam saja," kata Rania untuk pertama kalinya ia membentak adiknya itu, sehingga membuat Kyara pun bungkam dan merasa sangat sedih.
__ADS_1
"Stop! Kalian berdua tidak perlu bertengkar. Aku akui ini kesalahanku, aku minta maaf Rania. Bukankah tadi aku sudah mengatakan jika aku sangat mengkhawatirkan Kyara, karena aku tidak mau kau terkena masalah? Jadi tadi aku memang menghampiri Kyara di sini, aku melihat wajah Kyara begitu pucat sehingga tidak sengaja refleks masuk ke kamarnya. Dan apa yang kau lihat tadi aku hanya ingin memastikan keadaannya saja. Coba sekarang kau lihat sendiri bagaimana keadaan Kyara, wajahnya begitu pucat, dia sedang sakit," ucap Bara yang menunjuk ke arah Kyara. Meskipun rasanya ini benar-benar konyol, baru kali ini Bara merendahkan dirinya untuk terus membujuk dan meminta maaf kepada seorang wanita, tetapi semua demi membela dan melindungi wanita yang dicintainya.
Lalu Rania memandang adiknya, benar saja di saat itu ia melihat Kyara yang begitu pucat dan terlihat sedang sakit.
"Kya, jadi kau benar-benar sakit?" Tanya Rania untuk memastikannya.
"Iya Kak, aku memang sedang tidak enak badan, untuk itu aku hanya berada di kamar saja dari tadi," jawab Kyara.
"Rania, sekarang kau percaya 'kan. Aku sama sekali tidak bermaksud apapun terhadap Kyara. Itu semua hanya rasa kekhawatiranku saja sebagai kakak ipar," ucap Bara yang lagi-lagi membujuk Rania dengan jurus mautnya. Ia memegang pipi mulus milik Rania, lalu mencium keningnya dengan sangat mesra, sehingga membuat Rania pun luluh kembali.
Entah kenapa rasanya begitu sakit bagi Kyara saat melihat pemandangan tersebut, hingga tanpa disadari air mata menetes begitu saja. Akan tetapi ia harus tetap berusaha tegar, karena bagaimanapun juga Bara memanglah suami Rania, yang itu artinya memang kakaknya itu yang pantas mendapatkan cinta dari pria tersebut.
"Ya sudah, aku minta maaf. Kya, aku juga minta maaf karena tadi sudah membentakmu seperti itu, apa kau sudah minum obat?" Tanya Rania yang tak bisa menyembunyikan rasa kekhawatirannya.
"Sudah Kak dan ini juga sudah mendingan kok," jawab Kyara.
Sesuai permintaan Bara agar tidak terjadi kesalahpahaman, Rania pun tidak menceritakan apa yang tadi baru saja terjadi kepada kedua orang tuanya.
******
Saat makan siang bersama bahkan sampai makan malam, sama sekali tak ada percakapan antara Kyara dan Bara. Mereka berdua terlihat seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal. Tidak ada yang aneh, keluarganya itu hanya menganggap jika saat ini Kyara memang sedang tidak enak badan sehingga tidak mood untuk berbicara.
Padahal kenyataannya Kyara benar-benar merasa dilema karena telah terjebak dalam kondisi seperti sekarang ini. Rasanya ingin lari sejauh mungkin agar ia bisa keluar dari zona yang sangat menyakitkan, tetapi apalah daya ia tak mampu, sehingga hanya bisa mengikuti alurnya saja.
Waktu berjalan dengan cepat, hingga tidak terasa waktu saat ini sudah menunjukkan pukul 22.00. Bara dan Rania memutuskan untuk menginap di kediaman Nugraha sesuai dengan permintaan Bara dengan alasan akan membahas soal pekerjaan dengan ayah mertuanya. Meskipun itu memang benar, tetapi tentunya Bara juga memiliki tujuan lain, apalagi kalau bukan untuk selalu dekat dengan Kyara dan memastikan jika wanita tersebut dalam keadaan baik-baik saja.
"Bara, kau suka warna apa?" tanya Rania ketika sampai dikamarnya, wanita itu masih berupaya untuk merayu suaminya lagi.
__ADS_1
"Warna apa saja aku suka," sahut Bara begitu cuek, ia sibuk mengutak-atik ponselnya karena mengirimkan pesan kepada Kyara.
"Ih, aku serius Bara. Malam ini, apa kau tidak ingin mengulangi malam itu lagi? Aku sebenarnya masih kesal karena kau meninggalkanku begitu saja, tapi karena aku tahu alasanmu untuk bekerja, jadi aku maafkan," kata Rania memasang wajah ngambeknya, ia melipat tangannya diatas perut agar Bara merayunya.
Bara terkesiap, ia baru ingat jika malam itu yang bersama Rania adalah Steven. Dan sepertinya Rania salah paham, menganggap pria itu adalah dirinya.
"Rania, aku-"
"Aku apa Bara? Ayo katakan," kata Rania langsung menyela tidak sabar, ini termasuk momen langka karena Bara mau diajak mengobrol setelah mereka menikah selama empat bulan.
"Lupakan saja, aku lelah dan mau tidur." Bara memilih tidak mau membahas hal apapun lagi, ia langsung menyimpan ponselnya lalu merebahkan dirinya di kasur.
Rania berdecak kesal, baru saja ia merasa senang, tapi sekarang Bara sudah kembali bersikap sangat cuek. Rania sampai heran, sebenarnya terbuat dari apa hati Bara ini. Akhirnya daripada pusing memikirkan Bara, Rania ikut menyusul tidur.
"Bara, apa kau tidak ingin memelukku?" tanya Rania menatap punggung lebar Bara yang ada didepannya, sangat dekat namun terasa sangat jauh.
Bara tidak menyahut, ia berpura-pura tidak mendengar dan tetap diam saja. Ia ingin secepatnya Rania tidur dan ia bisa menemui Kyara.
Tepat tengah malam setelah memastikan jika Rania benar-benar tertidur lelap, Bara perlahan-lahan turun dari ranjangnya agar tidak menimbulkan suara. Ia juga menempatkan sebuah guling disisi Rania sebagai ganti dirinya. Setelah itu pun Bara beranjak dari tempat tidur dan mengendap-endap keluar dari kamar, lalu pergi menuju ke kamar Kyara yang tidak jauh dari kamar Kyara.
Bara hanya tidak tahu, jika sejak tadi Rania hanya berpura-pura tidur dan kini wanita itu sedang membuka matanya lebar-lebar.
"Mau kemana Bara?"
Happy reading.
TBC.
__ADS_1