
Bara membawa Kyara ke sebuah kamar yang baru saja disewanya. Ia baru pulang dari luar negeri karena harus mengurus bisnis keluarganya yang terkena masalah cukup serius. Sebenarnya itu semua tugas Alex, tapi pria itu tidak bisa pergi sebab malam itu Alex tidak sengaja meminum minuman yang berisi obat perangsang yang dibuat oleh Rania.
Bara memang sudah sangat mencurigai Rania saat wanita itu memberinya minuman, dan kecurigaannya itu terbukti saat Alex yang meminum minuman itu langsung bereaksi.
"Sialan, kenapa Steven bisa tahu kalau aku dan Kyara ...," Bara bergumam sendiri seraya merebahkan Kyara ke ranjang.
Satu hal yang membuat ia terkejut adalah, saat ia tidak sengaja melihat Steven keluar dari kamar Rania saat ia hendak kembali untuk mengambil barangnya. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata Steven juga tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Kyara.
"Bara ... kau jahat sekali ... kenapa kau tega mempermainkanku seperti ini?" Kyara kembali merancau dengan mata yang masih terpejam, ia tampak gelisah dalam tidurnya.
"Sshhh ... Kyara, tidurlah lagi, kau dalam keadaan yang tidak baik," tutur Bara mengusap-usap lembut rambut Kyara. Dua Minggu tidak bertemu wanita itu membuat ia sangat merindukannya, ingin sekali menghabiskan malam berdua tapi sayangnya Kyara dalam kondisi mabuk.
Bukanya menuruti perkataan Bara, Kyara justru langsung mendudukkan dirinya. "Kau sudah pulang?" tanya Kyara mengerutkan dahinya, menatap Bara yang terlihat kabur dimatanya.
"Ya, ayo tidurlah lagi. Baru aku tinggal dua Minggu kau menjadi sangat liar, siapa yang menyuruhmu minum?" sergah Bara terlihat jengkel karena melihat Kyara mabuk-mabukan.
"Tidak, kau baru saja pulang, kenapa menemuiku? Temui Kak Rania sana, kau jahat, kau ba ji ngan, aku membencimu Bara!" Kyara berteriak mengamuk, memukuli dada Bara meluapkan emosi dan rasa sakit hati yang terpendam selama dua Minggu ini. "Kenapa kau buat seolah hanya menginginkan aku, tapi ternyata kau juga melakukannya pada Kak Rania? Kau jahat Bara ... hatiku sakit sekali ... apa kau bisa merasakannya?" ucap Kyara menangis histeris seraya terus memukuli Bara.
"Kyara ..." Bara menahan tangan Kyara agar wanita itu berhenti. "Apapun yang pernah kau dengar, itu semua bukanlah sebuah kebenaran, aku dan Rania tidak pernah melakukan apapun," ujar Bara.
Pukulan Kyara seketika berhenti, ia menatap Bara begitu tajam. "Kau pembohong! Aku tidak akan percaya padamu," kata Kyara mendorong tubuh Bara dengan kasar.
"Aku tidak pernah berbohong padamu Kyara," kata Bara kembali menarik tangan Kyara agar wanita itu menatapnya kembali.
__ADS_1
Kyara tertegun, kepalanya sangat pusing sekali saat ini. Ia melihat Bara yang berbuah menjadi dua orang. Melihat wajah dingin pria itu lagi, membuat hati Kyara merasa seperti berdebar-debar, apalagi dua Minggu ini dia tidak bertemu Bara dan sangat merindukannya.
"Bara ... aku sangat merindukanmu," lirih Kyara menyentuh pipi Bara seraya mengulas senyum manisnya. Efek mabuk yang begitu kuat membuat Kyara tidak sadar apa yang dilakukannya saat ini.
"Kyara?" Bara tentu terkejut melihat hal itu.
Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba Kyara bangkit dan langsung mencium bibirnya lalu mendorong tubuhnya hingga jatuh ke ranjang. Wanita itu mencium bibirnya dengan sangat panas dan menindih perutnya. Bara tentu syok, tapi ia senang karena Kyara menciumnya terlebih dulu. Bara segera membalas ciuman itu tak kalah panas dan memeluk erat tubuh Kyara.
Ciuman mereka saling berbalas dan menggebu-gebu, Kyara seperti bukan dirinya sendiri, ia melepaskan bajunya sendiri hingga polos di depan Bara dan dengan tidak sabar melepaskan baju Bara, menciumi dadanya dengan penuh gairah.
"Kyara ... ahhhh ..." Bara men de sah, ia beberapa kali mendongak ke atas saat dibuat mabuk kepayang oleh sentuhan-sentuhan Kyara.
Kyara tersenyum tipis, ia menurunkan ciumannya dan bersiap memuja pisang Ambon milik Bara. Namun, Bara dengan cepat meraih tangannya dan bergantian mendidihnya.
"Kau benar-benar membuatku gila," kata Bara dengan hembusan nafas yang berat. Tanpa basa-basi lagi, Bara segera melesatkan pisang Ambonnya yang mengacung tegak kedalam lembah basah yang sudah menunggunya.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat panas untuk mereka berdua. Baik Bara dan Kyara sama-sama menggila dan begitu liar. Bara bahkan sampai tidak mengenali Kyara yang bersamanya malam itu. Namun, tidak bisa dipungkiri ia merasakan kenikmatan yang berkali-kali lipat dari Adik iparnya itu. Mereka langsung tertidur setelah hari menjelang pagi dan Kyara sudah lemas karena terus men de sah.
******
Keesokan harinya, Kyara terbangun terlebih dulu saat merasakan perutnya sangat nyeri. Ia membuka matanya dan ia kaget saat tahu jika sedang tertidur dalam pelukan Bara. Ia segera menjauhkan tubuhnya dan melihat keadaannya yang polos.
"Bara ... kenapa?" Kyara menjambak rambutnya sendiri setelah mengingat apa yang telah terjadi semalam.
__ADS_1
"Aku harus pergi," ucap Kyara bergegas bangkit sebelum Bara terbangun, pria itu pasti tidak akan melepaskannya dengan mudah jika sampai tahu ia sudah sadar.
Namun, saat Kyara hendak melangkahkan kakinya, perutnya kembali terasa nyeri dan kepalanya sangat pusing.
"Perutku ... akhhhh ..." Kyara memekik pelan, merasakan sakit yang luar biasa diperutnya, mungkin karena efek semalaman ia bercinta terlalu panas dan lama membuat perutnya jadi seperti ini.
"Eegghhhhh ..." Terdengar gumaman rendah dari Bara membuat Kyara terkejut, wanita itu buru-buru memunguti bajunya dengan menahan nyeri diperutnya.
Setelah memakai bajunya, Kyara juga langsung pergi, ia tidak mau lagi pulang ke rumah Bara karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak punya hubungan apapun dengan pria brengsek itu. Untuk masalah semalam itu, ia benar-benar tidak tahu apa yang sudah dilakukannya karena ia mabuk dan ia kini hanya mengutuk kecerobohannya itu.
"Aduh ... kenapa perutku sakit sekali," gumam Kyara kembali memegangi perutnya, ia baru saja sampai di depan hotel dan ingin mencegat taksi, tapi perutnya kembali sakit.
"Apa mungkin aku akan menstruasi?" Kyara mengingat-ingat apakah mungkin akan kedatangan tamu bulanan, mengingat hampir dua bulan ini ia tidak kedatangan tamu bulanan.
"Sepertinya iya, aku harus mampir ke apotek dulu sebelum pulang," ucap Kyara mendesis pelan, ia segera mencegat taksi dan pergi ke apotik terlebih dulu sebelum pulang.
Sepanjang perjalanan itu, Kyara habiskan waktunya untuk melamun. Meresapi setiap luka perih dan sakit yang ditorehkan oleh pria yang bernama Bara itu. Mulut Kyara selalu mengatakan jika ia sangat membenci Bara.
Namun, sayangnya hatinya diam-diam mencari sosok pria itu ketika tidak ada. Selalu teringat akan pelukan hangatnya disaat malam-malam panjang mereka. Dan hatinya selalu tidak pernah benar-benar bisa membenci pria itu, menjadi bukti nyata jika Kyara memang sudah kalah dan jatuh sejatuh-jatuhnya sama belenggu Kakak iparnya itu.
"Kenapa harus seperti ini? Harusnya kau tidak pernah datang dalam hatiku, biarkan saja aku membencimu, tolong jangan membuat hatiku lemah dan mencintaimu. Aku ingin selalu membencimu, Bara." batin Kyara menangis lirih, menangisi kebodohannya yang tidak bisa menjaga hatinya sendiri. Kedekatan paksa yang dilakukan Bara sudah terlalu dalam dan tidak bisa membuat ia berpaling lagi.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.