
"Sudah, sampai disini saja," ucap Kyara menahan Bara saat pria itu akan ikut masuk ke kamarnya.
Bara mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat tidak setuju. "Aku tidak akan pergi, kita harus tidur disini malam ini," kata Bara tegas seperti biasa.
"Disini tidak aman, aku hanya takut kak Nia akan melihat kita. Tolong kali ini saja, aku sangat memohon padamu, Bara." ujar Kyara lagi-lagi menatap Bara penuh permohonan, sungguh malam ini ia ingin sendiri dan merenungkan apa yang telah dilakukannya barusan.
"Ck, jangan kau kira setelah kau memberikan semuanya, aku akan melepaskanmu semudah itu Kya, tidak akan pernah," kata Bara begitu kesal, kesabarannya setipis tisu yang harus diuji oleh Kyara.
"Aku tahu Bara, aku hanya memintamu kali ini saja, tolong mengertilah. Bukankah aku tidak akan pergi kemana-mana?" ucap Kyara sekali lagi harus memohon kepada Kakak iparnya itu, sungguh ia ingin sendiri malam ini.
Bara mengertakkan giginya erat, wajahnya begitu kesal karena hatinya benar-benar mulai lemah saat melihat mata Kyara. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung saja pergi meninggalkan kamar Kyara dan pergi ke kamarnya sendiri.
Bara berjalan menyusuri lorong-lorong kosong vila itu. Namun, ketika ia belum sampai ke kamarnya, Alex tiba-tiba meneleponnya. Bara langsung saja mengangkatnya karena tahu jika Alex menghubunginya ada hal penting yang harus dibicarakan.
"Halo Alex?" ucapnya langsung begitu panggilan tersambung.
"Tuan ..."
Bara mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh Alex. Wajah pria itu seketika langsung berubah memerah dengan tangannya yang mengepal sangat kuat.
"Brengsek!"
*******
Rania terbangun saat matahari bersinar begitu cerah hingga membuat matanya kesilauan. Wanita itu perlahan-lahan membuka matanya yang indah dan menatap sekelilingnya. Mengingat apa yang terjadi semalam, Rania segera membuka selimutnya.
"Astaga," ucap Rania menutup mulutnya sendiri. Kaget namun bersamaan dengan itu ia juga bahagia karena akhirnya bisa menyatu dengan Bara.
"Bara ...," lirih Rania memegang bibirnya sendiri, mengingat malam panas mereka semalam. Bagaimana Bara menyentuhnya dengan begitu menggebu-gebu membuat Rania begitu senang. Sekarang Rania merasa sudah sempurna menjadi istri Bara.
"Ehm, tapi kemana Bara?" gumam Rania menatap sekelilingnya yang tampak kosong, ia lalu melihat ponselnya yang ada dinakas dan tidak sengaja melihat sebuah kalung yang tertinggal di kasurnya.
"Kalung ini?" Rania mengingat-ingat dimana ia pernah melihat kalung itu. "Ini punya Bara, ya aku sering melihatnya memakai kalung ini," ucap Rania mengangguk yakin, semakin bertambah kesenangannya karena yang semalam bersamanya adalah Bara.
Rania lalu mencoba turun dari ranjang perlahan-lahan karena miliknya masih cukup nyeri. Ia membuka ponselnya dan melihat ada pesan yang dikirimkan oleh Alex.
__ADS_1
Tuan Bara sedang ada urusan bisnis di luar negeri. Beliau tidak bisa mengabari langsung karena sangat terburu-buru. Anda bisa pulang bersama Nona Kyara menggunakan supir yang sudah disediakan, Nona.
"Oh, pantaslah dia langsung pergi begitu saja." Rania memaklumi kalau suaminya yang super sibuk itu tidak sempat menghubunginya, untuk itulah ia meminta Alex melaporkan semua yang dilakukan Bara padanya.
Baiklah, aku akan pulang bersama Kyara nanti. Sampaikan salamku pada Bara, aku mencintainya.
Rania mengetikkan balasan itu dengan penuh senyum yang sangat manis. Ia langsung membersihkan dirinya setelah itu lalu menemui Kyara dikamarnya.
*****
"Kyara, habis ini bersiaplah, kita akan kembali ke Jakarta. Tapi kita sarapan dulu, aku sangat lapar sekali," ucap Rania begitu sampai kamar Adiknya.
"Iya Kak," sahut Kyara melirik Kakaknya sekilas, tapi ia sedikit heran melihat Kakaknya yang sejak tadi tersenyum manis. "Kak Nia kenapa? Sepertinya sangat bahagia sekali?" tanya Kyara penasaran, apa yang membuat Kakaknya itu tersenyum seperti itu.
"Apakah terlalu terlihat?" Rania memegang kedua pipinya, semakin malu karena ketahuan Adiknya tersenyum tidak jelas.
"Ya, ada apa Kak? Apa Kakak memenangkan tender?" tanya Kyara ikut tersenyum, menebak mungkin saja Kakaknya itu memenangkan tender besar, pasalnya Rania sering seperti itu jika memenangkan tender.
Rania semakin mengembangkan senyumnya, ia menggelengkan kepalanya perlahan lalu menggandeng bahu Adiknya dan mengajaknya keluar dari kamar untuk sarapan.
"Apa sih Kak? Nggak mau cerita sama aku? Jangan buat penasaran deh," kata Kyara sedikit merengek kepada Kakaknya itu, semakin penasaran saja alasan Kakaknya menjadi full senyum.
Rania terkekeh geli, ia mencubit hidung Kyara dengan gemas. "Kau masih kecil, jadi tidak boleh tahu," kata Rania masih saja merahasiakan apa yang membuatnya begitu bahagia, ia malu jika harus menceritakan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Bara kepada Kyara.
"Ish, aku sudah 20 tahun Kak. Ayo dong, kasih tahu aku, aku marah nih sama Kak Nia," ucap Kyara masih merengek, wajahnya cemberut dibuat-buat agar Kakaknya luluh.
Rania semakin tertawa geli, ia mencubit kedua pipi Kyara dengan gemas. "Baiklah baiklah, dasar adik pemaksa!" cetus Rania.
"Jadi apa?" tanya Kyara sama sekali tidak sabar.
"Semalam ... aku dah Bara sudah melakukannya," ucap Rania menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, antara malu dan juga senang.
"Apa?" Senyuman Kyara langsung pupus begitu saja mendengar ungkapan dari Rania. Jantungnya tiba-tiba terasa ditusuk-tusuk oleh duri tidak kasat mata yang luar biasa menyakitkan.
"Maksud Kak Nia, kalian?" Kyara mencoba menanyakan lebih pasti, apa yang di maksud Kakaknya itu.
__ADS_1
"Ya Kyara, aku dan Bara sudah menjadi suami istri yang seutuhnya. Kau tahu pernikahan kami dilandasi dengan perjodohan, tapi semalam Bara ...," Rania tidak jadi melanjutkan ucapannya, ia sudah kembali tersenyum karena langsung terbayang malam panasnya semalam.
Deg
Jantung Kyara semakin sakit sekali, ia menatap Kakaknya yang sangat bahagia itu dan disaat itu pula matanya tidak sengaja melihat beberapa kissmark yang memenuhi leher Rania. Tanpa sadar air mata Kyara menggenang disudut mata.
"Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Kak Rania adalah istri sah Bara, dan memang sudah seharusnya mereka melakukannya. Aku saja yang bodoh dan hampir percaya kalau Bara hanya menginginkanku. Aku harus rela karena Kak Nia lebih berhak daripada aku. Tapi ... kenapa hatiku sakit sekali Tuhan ..." batin Kyara menjerit begitu tersiksa, bagaimana bisa ia dan Kakaknya harus terikat dengan pria yang sama. Kyara sedih karena semalaman ia sudah memikirkan segalanya, dan sialnya hatinya memang sudah tidak bisa berpaling dari sosok Bara.
Namun, kini semuanya seolah hancur berkeping-keping meninggalkan luka yang begitu menganga dan menyakitkan.
"Kyara, kau menangis?" Rania bertanya bingung saat melihat adiknya menangis seperti itu.
"Oh, aku hanya terharu Kak. Akhirnya Kak Nia sudah berhasil menjadi istri Bara seutuhnya, aku ucapkan selamat ya Kak. Maafkan aku," ucap Kyara tiba-tiba saja ingin sekali memeluk Kakaknya itu dengan sangat erat, dan begitu ia mencium bau tubuh Kakaknya yang sangat menenangkan, air matanya tidak terbendung lagi.
"Eh? Kenapa kau meminta maaf Kya?" Rania justru kebingungan dengan sikap Adiknya itu.
"Tidak apa-apa Kak, hatiku sangat kacau sekali belakangan ini," sahut Kyara mengusap air matanya yang terus saja bertahan.
"Kenapa?" tanya Rania begitu bingung.
"Karena ..." Kyara terdiam sesaat, ia bingung harus menjawab apa kepada Kakaknya.
"Apa karena Saga? Aku dengar waktu itu dia sakit, apa karena itu?" tanya Rania lagi.
Kyara langsung mengangguk cepat-cepat. "Ya, karena Saga Kak. Ehm, sepertinya kita harus segera sarapan dan pulang Kak, aku ada urusan penting," kata Kyara.
"Baiklah, nanti kita pulang bersama supir karena Bara mengatakan kalau dia ada urusan di luar negeri yang tidak bisa ditinggalkan," ucap Rania mengangguk tanpa rasa curiga sedikitpun.
Kyara mengigit bibirnya, hatinya semakin sakit saja karena nyatanya Bara hanya menghubungi Kakaknya, bukan dirinya. Lagipula apa yang dia harapkan? Bukankah dia hanya seorang wanita yang menjadi boneka mainan Bara? Yang bisa dimainkan sepuas hatinya dan akan dibuang ketika bosan.
Sungguh menyedikan.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1