Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
( S2 ) Bab 3. Bagaimana Biasanya Kita Melakukannya?


__ADS_3

Celia dilanda ketakutan yang luar biasa, ia bukan hanya takut, tapi juga cemas dengan nasib hidupnya. Ia benar-benar tidak tahu menahu tentang siapa Revan yang sebenarnya. Ia hanya dicurhati sahabatnya jika ia sedang hamil, tapi pacarnya tidak mau bertanggung jawab dan bernama Revan.


Celia yang merasa marah sahabatnya dikhianati dan dicampakkan berniat balas dendam dengan mencari pria yang bernama Revan. Saat di kampus juga teman-temannya mengatakan kalau Revan adalah Revan yang itu. Tapi sialnya ia malah salah alamat.


"Bodoh! Kamu memang sangat bodoh, Celia. Seharusnya kamu cari informasinya dengan jelas terlebih dulu." Celia tak henti memukuli kepalanya sendiri, mengutuk kebodohannya yang bertingkah sembarangan.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan, mami!!!!" Celia berteriak keras di dalam kamarnya, bingung harus melakukan apa agar terhindar dari pernikahan yang akan terjadi nantinya.


Disela-sela kekalutannya, pintu kos-kosannya diketuk dari luar. Celia mengernyit heran, ia melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, siapa yang datang semalam itu?


Dengan malas Celia menyeret langkahnya untuk membukakan pintu. Semua tenaganya seolah lenyap setelah mengetahui fakta yang benar-benar mengesalkan. Sekarang ia harus mencari cara agar terhindar hari pernikahan itu.


Dak Dak Dak Dak!


Pintu rumahnya kembali diketuk dengan keras membuat Celia jengkel. Siapa gerangan yang telah sangat kurang ajar bertingkah seperti itu.


"Siapa sih? Nggak sabar banget jadi orang!" seru Celia seraya membuka pintu dengan kasar. Ia sudah bersiap mengomeli siapa saja kamu yang bersikap sangat kurang ajar itu.


Namun, begitu melihat sosok pria yang berdiri di depannya, lutut Celia mendadak lemas.


"Selamat malam, calon istri." Revan menyeringai melihat wajah terkejut Celia.


Celia menahan napasnya, seketika lututnya langsung lemas. Keberanian yang tadi berapi-api itu langsung pupus begitu saja begitu melihat wajah Revan. Ruangan dingin itu tak mempan membuat punggungnya yang tiba-tiba basah berubah kering.


'Sialan! Kenapa Revan bisa tahu tempat tinggalku?'


"Ini sudah malam, ibu kost bisa marah kalau ada tamu malam-malam. Pergilah," ujar Celia buru-buru masuk.


Namun, dengan cepat Revan menahan pintu itu dengan kakinya.


"Kenapa terburu-buru calon istri? Bukannya kamu bilang sedang mengandung anakku? Aku ingin menjenguknya, tidak masalah bukan?" kata Revan mengulas senyum mengejek, tapi matanya terlihat begitu sinis.


"Aku tidak tahu maksudmu, pergilah dari sini atau aku akan teriak?" ancam Celia.

__ADS_1


"Hahaha, kenapa sih kamu sangat takut sekali? Kita sudah punya hubungan, bahkan aku sudah membuatmu hamil. Kenapa harus takut seperti itu?" ucap Revan tiba-tiba saja mendorong pintu kost itu dengan keras membuat Celia terhuyung ke belakang.


Celia langsung mundur, ia memperhatikan Revan yang mengunci pintu kamar kostnya. Ia melirik sekelilingnya, mencari celah agar bisa keluar, tapi kost-kostan itu sangat sempit, hanya ada kamar tidur dan kamar mandi. Bagaimana ia bisa keluar?


"Jangan memasang wajah takut seperti itu. Kamu bilang kamu sedang hamil anakku, aku jadi penasaran bagaimana kita melakukannya dulu. Tak masalah 'kan kita mengulanginya lagi?" ucap Revan membuka kancing kemejanya satu persatu, membiarkan dada dan perut sixpack-nya terlihat.


Celia membesarkan matanya, ia terkejut melihat apa yang dilakukan Revan. Tapi ia lebih terkejut melihat perut kotak-kotak Revan yang begitu menggoda. Celia malah membayangkan ingin memegangnya.


'Astaga Celia! Apa yang sedang kamu pikirkan!" umpat Celia seraya menoyor kepalanya sendiri karena berpikiran mesum.


"Katakan padaku, bagaimana biasanya kita melakukannya? Dengan cara halus atau kasar?" bisik Revan menghembuskan napasnya yang berat hingga menerpa leher Celia.


Celia terkejut melihat Revan yang sudah sangat dekat dengannya. Ia segera menjauhkan dirinya dari pria itu.


"Menjauhlah Revan! Kamu ini apa-apaan? Aku akan mengatakan kepada ibumu kalau kamu berani macam-macam," ancam Celia.


"Sejak kapan kamu menjadi dekat dengan ibuku. Aku sebenarnya heran, kenapa aku bisa membuatmu hamil? Aku ingin membuktikannya, apakah aku benar-benar telah menghamilimu? Ayolah, aku janji tidak akan kasar," kata Revan dengan sengaja mendorong Celia ke ranjang lalu menindihnya.


"Akhhhhhhh! Apa yang kamu lakukan!" teriak Celia begitu panik, ia mencoba bangkit tapi sialnya Revan sudah memerangkap tubuhnya.


Namun Celia lebih sigap, ia memalingkan wajahnya sehingga ciuman itu mengenai pipinya. Sekarang ia sadar jika saat ini Revan sedang sangat marah padanya.


"Jangan menolakku," kata Revan menarik dagu Celia agar menatapnya.


"Aku minta maaf," ucap Celia dengan mata terpejam. "Aku benar-benar minta maaf, aku menuduhmu yang tidak-tidak karena salah paham. Percayalah aku tidak bermaksud melakukannya. Tolong maafkan aku," lanjut Celia tidak kuasa menahan tangisnya.


Celia mungkin terlihat sangat galak dan berani, tapi sebenarnya Celia merupakan gadis yang sangat manja dan cengeng. Celia selalu bersikap sembrono dan tidak berpikir panjang, itulah sebabnya ia dengan sembarangan mengaku-ngaku hamil anak Revan hanya karena ingin membantu temannya.


"Lalu, apakah dengan kata maaf bisa membersihkan namaku yang sudah kamu rusak?" ucap Revan begitu geram, ia memandang Celia seolah bisa ingin menerkam wanita itu.


"Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku akan menjelaskannya pada ibumu kalau aku tidak benar-benar hamil, aku minta maaf," kata Celia dengan mata yang masih terpejam, wanita itu takut melihat sorot mata Revan yang sangat tajam.


Revan tidak langsung menjawab, pria muda itu Tengah memperhatikan lekat-lekat wajah Celia yang sangat dekat dengannya itu.

__ADS_1


Celia memiliki struktur wajah yang unik, cantiknya dan manis itu perpaduan sempurna yang terlukis diwajah Celia. Wajahnya blasteran dengan bibir yang sedikit tebal tapi menggoda. Kulitnya putih bersih dan memiliki mata bulat yang indah. Benar-benar gadis yang sempurna.


"Hei, kenapa kamu diam saja? Cepat jawab aku," kata Celia masih tidak berani membuka matanya.


"Jika sedang berbicara dengan seseorang, seharusnya kamu lihat lawan bicaramu. Bukan malah menutup mata, sungguh tidak sopan!" tukas Revan merasa Celia ini sangat aneh sekali.


"Kalau begitu menyingkirlah, kamu pikir kamu tidak berat?" ketus Celia baru memberanikan diri untuk menatap Revan.


Begitu membuka matanya, Celia langsung terpana dengan ketampanan mahluk Tuhan yang ada didepannya itu. Ia sampai tidak berkedip karena wajah Revan yang sangat tampan seperti pangeran berkuda putih di cerita dongeng-dongeng.


'Astaga, kenapa dia tampan sekali? Jantungku seperti kesetrum rasanya. Tuhan, aku mau yang ini." Batin Celia dengan begitu bodohnya.


"Kenapa melihatku terus? Apakah aku sangat tampan?" goda Revan.


Tak disangka Celia mengangguk cepat-cepat. "Ya sangat tampan," ucap Celia keceplosan.


"Sudah aku duga, kamu ini pasti salah satu penggemar fanantikku. Berpura-pura hamil anakku hanya karena ingin mendekatiku," sinis Revan segera menjauhkan dirinya, ia mengusap bajunya seolah jijik baru saja bersentuhan dengan Celia.


Celia membulatkan matanya tidak percaya, ia begitu geram karena Revan memperlakukannya layaknya sampah.


"Hei, jangan terlalu percaya diri, Tuan muda. Aku tadi hanya keceplosan, bagiku kamu sama sekali tidak tampan. Dan apa tadi? Kamu bilang aku penggemar fanatikmu? Cih, bahkan jika aku tidak terpaksa melakukan hal itu, aku tidak tahu jika ada manusia sepertimu," sergah Celia memberanikan dirinya untuk melawan Revan. Masa bodohlah kalau nanti Revan akan lebih marah, ia harus menunjukkan kalau dirinya pemberani.


"Oh, lalu apa alasanmu mengaku hamil anakku? Apa kekasihmu tidak mau tanggung jawab? Tapi melihat gayamu yang menyebalkan, sepertinya orang pun malas memiliki teman sepertimu apalagi seorang istri," ujar Revan dengan nada mengejek kental.


"Sembarangan, kamu tahu sudah banyak pria diluar sana yang mau denganku, tapi tidak satupun aku menerima mereka. Apalagi sampai hamil, no never," tukas Celia melirik sinis pada Revan.


"Mana ada maling yang mau mengaku? Semua orang pasti ingin menunjukkan versi dirinya yang terbaik. Katakan saja, berapa yang kamu butuhkan? Aku akan mentransfer uangnya, mengenai anak itu, aku akan memastikan dia terjamin sampai besar nanti. Bagaimana, apakah itu cukup?" ujar Revan yang mengira jika Celia benar-benar hamil.


Revan sudah memikirkannya matang-matang, mungkin Jika benar ia pernah menyentuh wanita ini dan wanita ini hamil ia pasti tanggung jawab. Tapi masalahnya di sini ia tidak mengenal Celia sama sekali. Revan tentu tidak ingin sisa hidup dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal.


"Kamu pikir aku apa? Barang yang bisa dibeli oleh uang?" Celia berteriak tidak terima, meskipun ia hanya hamil pura-pura, tapi ia juga tidak terima jika diperlakukan seperti itu. Semua seolah bisa dibeli dengan uang, hal yang sangat Celia benci adalah orang yang mempunyai sifat seperti ini.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.



__ADS_2