Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
(S2) Bab 1. Menjadi Egois.


__ADS_3

Senja menunggu suaminya datang sembari bermain ponsel, ia masih di tempat pameran lukisan yang ia datangi bersama ibu mertuanya tadi. Harusnya ia sudah pulang, tapi Rajendra menghubunginya dan mengatakan ingin datang menjemput.


"Ternyata kamu masih disini."


Senja langsung menoleh begitu mendengar suara Kalea yang mampir ditelinganya. Wanita itu datang dengan gayanya yang seperti biasa, anggun tapi sedikit angkuh.


"Ya, aku sedang menunggu suamiku datang," sahut Senja seadanya saja.


"Suami?" Kalea tersenyum sinis mendengar sebutan Senja untuk Rajendra itu. "Yang menjadi istrinya itu harusnya aku, bukan kamu, Senja. Kamu hanya orang asing yang dengan lancang telah menggeser posisiku," ucap Kalea memandang Senja penuh kebencian yang tidak ditutupi.


"Jika aku boleh memilih, aku tidak akan mau berada di posisi ini. Aku sangat tahu perasaanmu, tapi menyalahkan aku juga bukan hal yang benar. Anggap saja pertemuanku dengan Rajendra itu takdir," kata Senja, mencoba bersikap tenang.


"Takdir? Cih, omong kosong. Yang benar itu adalah kamu wanita yang tidak tahu diri. Ja lang murahan yang mengumpankan tubuhmu untuk merebut perhatian Rajendra, begitu 'kan?" tukas Kalea dengan nada sarkas.


"Bagaimana jika kata-katanya aku balik? Kamu yang sebenarnya wanita tidak tahu diri itu, Kalea. Sibuk mengejar seorang pria yang jelas-jelas sudah memiliki istri, apa sebutan yang pantas untuk wanita seperti itu? Pe la cur!"


Plak!!


Kalea langsung melayangkan tamparan yang sangat keras ke arah Senja hingga wanita itu terhuyung ke belakang. Pipinya yang putih langsung memerah bekas telapak tangan Kalea. Tamparan itu benar-benar sangat kuat sekali hingga suaranya menggema.


"Kurang ajar! Berani sekali kamu menyebutku seperti itu?!" teriak Kalea benar-benar marah sekali.


Sudah cukup selama ini ia menahan perasaannya, ia lelah memendam rasa sakit itu dan ingin sekali meluapkan kepada satu-satunya orang yang menjadi dalang kekacauan ini, yaitu Senja.


"Kamu begitu bangga menyebut dia suamimu 'kan? Tapi setelah ini aku yakin, kamu tidak akan berani melakukannya. Sejak dulu Rajendra hanya milikku, kamu sama sekali tidak berhak. Termasuk menggunakan cincin ini."


Kalea yang sudah sangat marah dan cemburu akhirnya gelap mata, ia menarik tangan Senja lalu mengambil cincin yang dipakai Senja dengan sangat kasar lalu membuangnya ke arah lapangan.


"Kalea!" teriak Senja begitu kaget, ia mengabaikan rasa perih di jarinya karena sikap kasar Kalea. "Kamu benar-benar keterlaluan!" teriak Senja lagi, segera mendorong Kalea lalu berlari ke arah lapangan untuk mencari cincinnya.


Kalea tersenyum sinis. "Carilah sampai lelah, Senja. Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau," ucap Kalea seraya berlalu pergi dari sana.


Hatinya sudah cukup puas karena sudah memberikan tamparan yang keras pada Senja dan membuat wanita itu kelimpungan mencari cincinnya.


Senja mencari cincinnya dengan panik, cincin itu merupakan benda yang sangat berharga untuknya karena pemberian Rajendra dan juga sebagai simbol pernikahannya. Jika sampai ia tidak menemukannya, ia pasti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Tolong, ketemulah. Aku mohon," ucap Senja perlahan-lahan mencari cincinnya di rerumputan yang cukup rimbun itu.


Senja mencari tanpa kena lelah, yang mengabaikan panas matahari yang begitu terik serta keringat yang tak henti mengucur di dahinya. Apapun yang terjadi ia harus menemukan cincin itu.


"Kemana, kenapa tidak ada?" Senja menangis frustasi, ia kebingungan mencari cincinnya dimana-mana, tapi ia tidak menemukannya sama sekali.


Rajendra yang baru saja datang mencari Senja, ia mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat.

__ADS_1


Namun, ia jutsru menemukan istrinya itu sedang berpanas-panasan sendirian.


"Senja!" teriak Rajendra.


Senja menoleh, melihat suaminya ia justru semakin menangis. Ia bangkit dan menunggu suaminya datang, lalu ia memeluk pria itu saat Rajendra sudah berada didekatnya.


"Rajendra ..." Senja ingin bercerita, tapi ia sudah menangis terlebih dulu.


"Ada apa? Kenapa kamu panas-panasan seperti ini?" tanya Rajendra seraya mengusap air mata Senja, ia begitu prihatin melihat wajah istrinya yang putih itu menjadi merah dengan bekas telapak tangan di pipinya.


"Kenapa dengan pipimu? Apa yang terjadi?" tanya Rajendra lagi, ia yakin satu yang kurang baik pada istrinya.


"Aku sedang mencari cincin pernikahan kita. Tadi Kalea membuangnya disini, aku tidak bisa menemukannya," kata Senja.


"Kalea?" Rajendra begitu terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh istrinya.


"Iya, aku minta maaf. Aku akan mencarinya lagi," kata Senja ingin mencari cincinnya.


"Tidak perlu, kenapa harus menangis hanya karena cincin? Aku bisa memberikanmu lagi," ujar Rajendra, tidak tega melihat wajah istrinya kepanasan seperti itu.


"Tapi cincin itu memiliki arti penting bagiku Rajendra, itu simbol pernikahan kita," kata Senja kekeh ingin mencari cincin itu.


Rajendra menahan tangan Senja. "Tidak perlu mencarinya, katakan padaku, apa Kalea juga yang telah melakukan ini padamu?" tanya Rajendra mengusap pipi Senja yang memerah.


"Ayo ikut aku," kata Rajendra, menggandeng tangan Senja dan membawanya pergi.


"Rajendra, kita akan kemana? Cincin pernikahan kita belum ketemu." Senja begitu bingung, ia ingin mencari cincinnya, tapi kenapa Rajendra malah mengajaknya pergi.


"Percuma kamu mencarinya disini, cincin itu tidak ada disini," sahut Rajendra begitu dingin sekali.


Senja mengerutkan dahinya bingung, apa maksudnya Rajendra?


_______


Senja tidak tahu ke mana Rajendra akan mengajaknya pergi, pria itu sama sekali tidak bicara sepanjang perjalanan mereka. Senja hanya mendengar geraham serta desisan pertanda jika pria itu sedang marah. Sebelumnya Senja tidak pernah melihat Rajendra se-marah ini.


Setelah perjalanan sekitar 45 menit mobil mereka akhirnya tiba di sebuah rumah yang memiliki bangunan begitu megah. Dari luar tampak sangat cantik dan asri dengan pepohonan yang menghiasinya. Senja baru melihat rumah seindah itu selain rumah Ayah mertuanya.


"Ini rumah siapa?" tanya Senja penuh rasa ingin tahu.


"Kamu akan tahu nanti, ayo turun." Rajendra menjawab singkat, iya segera membuka sabuk pengamannya lalu turun dari mobil.


Senja tidak banyak bertanya, ia hanya menurut saja kemana Rajendra membawanya pergi. Pria itu juga langsung menggandeng tangannya dengan begitu erat.

__ADS_1


Rajendra mengetuk pintu rumah itu, Senja menebak-nebak sebenarnya rumah siapa itu. Tapi begitu pintu terbuka, ia malah terkejut melihat sosok Bibi Rania.


"Rajendra, kalian datang?" Rania sendiri terkejut dengan kedatangan Rajendra bersama Senja.


"Ada hal yang perlu aku tegaskan. Dimana Kalea?" ujar Rajendra dengan nada datar.


"Kalea ada, masuk dulu," kata Rania membukakan pintu lebih lebar.


Mereka berdua lalu masuk, menunggu di ruang tamu karena Rania sedang memanggil Kalea yang ada didalam.


Kalea sendiri tengah tersenyum sangat puas melihat cincin yang berkilauan di jari manisnya. Ia mengelusnya dengan perlahan, seolah benda itu begitu berharga.


"Cincin ini memang sangat cocok denganku, dan memang seharusnya aku adalah pemilik cincin ini," kata Kalea dengan senyum liciknya.


"Lea!"


Kalea tersentak mendengar suara ibunya, ia langsung menyembunyikan tangannya dari Rania.


"Iya, Ma?" sahut Kalea seraya menoleh.


"Rajendra datang," kata Rania langsung, ia memperhatikan baik-baik wajah putrinya itu.


"Kak Rajendra datang? Aku akan melihatnya."


Kalea langsung tersenyum ceria mendengar nama pujaan hatinya, ia juga langsung bangkit dan sangat tidak sabar untuk menemui Rajendra.


"Lea," panggil Rania sebelum putrinya beranjak terlalu jauh.


"Ya?" Kalea menyahut, menunggu apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Rajendra datang bersama istrinya."


Senyuman Kalea langsung pupus begitu mendengar kalau Senja ikut. Apalagi Rania menyebut Senja sebagai istri, membuat wajah Kalea berubah masam.


"Aku tidak peduli," sahutnya dengan nada yang ketus, lebih memilih mengabaikan ibunya dan tetap pergi untuk memenuhi Rajendra.


Rania menghela napas panjang, merasa hatinya tidak tenang. Rania takut jika kejadian di masa lalu harus terulang kembali.


Happy Reading.


TBC.


__ADS_1


__ADS_2