Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Berdamai Dengan Takdir.


__ADS_3

Setelah selesai memeriksa kandungan, kini Kyara yang ditemani oleh suaminya itu keluar dari ruang pemeriksaan dengan perasaannya begitu bahagia, karena mengetahui jika kondisi anak mereka saat ini baik-baik saja di usia kandungannya yang memasuki 24 minggu. Terlebih lagi Bara juga sudah mengetahui jika anaknya berjenis kelamin laki-laki seperti keinginannya supaya bisa menjaga adik-adiknya nanti.


Bertepatan di saat itu, mereka bertemu dengan Steven yang mendorong kursi roda Rania, karena kini adalah giliran mereka yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kak Nia, Kak Nia apa kabar?" Tanya Kyara yang merasa sangat senang namun juga merasa sungkan bertemu dengan kakaknya itu.


Akan tetapi Rania hanya diam saja dan terlihat datar saat menatap Kyara. Entah karena ia masih sangat membenci wanita itu atau karena rasa bersalahnya yang saat itu dengan sengaja mau mencelakai adiknya sendiri.


"Apa Kak Nia sudah hamil? Kak Nia mau memeriksa kandungan juga 'kan? Tanya Kyara yang rasanya begitu sakit didengar oleh Rania, mengingat jika sampai saat ini ia belum juga bisa mengandung.


"Maaf Kyara, sebenarnya kami datang ke sini hanya ingin memeriksa kondisi Rania. Karena Rania tiba-tiba sakit perut dan dokter menyarankan untuk periksa ke dokter kandungan, karena ini sudah menyangkut perut atau rahim," jelas Steven yang memilih angkat bicara karena melihat wajah sedih yang terpancar dari sang istri. Lagipula mereka juga harus segera masuk ke dalam ruang pemeriksaan karena suster telah memanggil nama Rania kembali.


"Oh begitu, ya sudah silahkan masuk Kak Nia, Kak Steven. Mudah-mudahan Kak Nia baik-baik saja," ucap Kyara yang terlihat cemas.


Tidak ada percakapan antara Bara dan Steven, akan tetapi mata keduanya sempat bertemu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bara, bagaimana jika kita duduk di sini dulu. Aku sangat ingin mengetahui kabar Kak Nia, aku khawatir terhadapnya, boleh ya. Aku juga ingin berbicara dengannya Bara. Bagaimanapun juga aku pernah berbuat salah padanya dan aku rasa ini sudah saatnya kami berbicara dari hati ke hati. Kau juga tahu sendiri 'kan bagaimana Kak Nia selalu menolak di saat aku ingin bertemu dengannya, ini adalah kesempatanku Bara. Aku mohon," ucap Kyara dengan tatapan sendu.


"Tapi apa kau tidak capek, apa tidak masalah jika kita masih lama berada di rumah sakit?" Tanya Bara karena mereka belum pulang sejak mencari bubur tadi, dia tidak mau jika istrinya itu merasa kelelahan.


"Its okey, aku baik-baik saja, aku nggak capek. Soal kandungan, bukannya tadi Dokter juga mengatakan bahwa kandunganku baik-baik saja. Jadi boleh ya," ucap Kyara dengan sangat yakin.


"Ya tentu saja boleh, asalkan aku selalu berada di sampingmu," ucap Bara, lalu ia pun membawa istrinya itu untuk duduk di sebuah kursi panjang di depan ruangan dokter kandungan bersama pasien lainnya yang sedang menunggu giliran.


 

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, terlihat Steven yang di saat itu kembali mendorong kursi roda Rania keluar dari ruang pemeriksaan. Dari wajahnya saja terlihat jika mereka baru saja mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan.


"Tidak apa-apa, hanya menunggu satu tahun itu bukan masalah besar untukku. Yang penting kau harus sembuh dulu Sayang, jangan memikirkan apapun lagi, oke?" tutur Steven menepuk-nepuk lengan Rania, ia juga mencium kening wanita itu dengan lembut sebagai penghiburan.


"Maafkan aku Stev, aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untukmu, aku-"


"Shhhh, jangan berkata seperti itu. Aku tidak pernah meminta kau bisa melahirkan anak untukku atau tidak. Yang penting kau selalu ada di sampingku itu sudah cukup," ujar Steven lagi.


Rania begitu terharu sekali mendengar ucapan suaminya, Steven memang selalu membuat hatinya tenang dengan kata-kata indahnya.


"Ya sudah, kita harus pulang. Kau harus banyak istirahat Sayang," ucap Steven mendorong kursi roda Rania untuk pulang. Bersamaan dengan itu, ia melihat Bara dan Kyara ternyata masih duduk disana.


"Bara, Kyara, kenapa kalian masih berada di sini?" Tanya Steven menatap kebingungan, terlihat juga wajah Rania langsung berubah semakin murung saat melihat perut adiknya sudah membuncit.


"Istriku ingin berbicara dengan istrimu," ucap Bara sedikit merendahkan dirinya, berusaha untuk bersikap baik terhadap Steven meski terlihat datar dan dingin.


"Untuk apa lagi ingin menemui Rania? Sudahlah, jangan menganggu kami, bukankah kalian sudah bahagia?" ujar Steven tidak mau lagi membuat istrinya sedih nantinya.


"Kak Steven, aku mohon Kak. Biarkan aku bicara dengan Kak Nia. Aku mohon ..." ucap Kyara mengatupkan kedua tangannya memohon.


"Baiklah, tapi lebih baik kita berbicara di luar saja," jawab Rania menyetujui.


"Sayang, apa kau yakin?" tanya Steven khawatir.


"Ya." Rania mengangguk meyakinkan.

__ADS_1


"Terima kasih Kak," ujar Kyara tidak kuasa menahan senyumnya. Akhirnya mereka berempat pun segera saja keluar dari rumah sakit dan mencari salah satu restoran terdekat.


______


Setibanya di restoran, Bara dan Steven sengaja meninggalkan Rania dan Kyara dengan duduk di tempat lain yang jaraknya tidak jauh agar keduanya dapat berbicara dari hati ke hati sebagai kakak dan adik. Tentunya Bara dan Steven juga mempunyai pembicaraan lain selain istri mereka itu.


"Kak Nia, aku tahu aku sudah berbuat salah yang begitu fatal terhadap Kakak. Aku menyadari semua kesalahanku Kak, aku telah tega menyakitimu padahal kau adalah kakak satu-satunya yang begitu menyayangiku, kau begitu tulus mencintaiku dan menerima semua kekuranganku sebagai Adikmu. Aku sangat menyesal akan hal itu meskipun menyesal sekarang sama sekali tak ada gunanya, waktu tidak mungkin bisa terulang kembali. Tapi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa dipungkiri jika aku memang mencintai Bara Kak. Aku minta maaf, apakah maaf itu pantas untuk wanita pendosa sepertiku? Apakah kau sudi untuk memaafkanku Kak?" Ucap Kyara yang begitu tulus hingga meneteskan air matanya.


Rania menatap nanar mata Kyara dengan mata yang berkaca-kaca karena mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut adiknya itu. Ia juga bisa melihat jika Kyara memang sangat menyesal atas apa yang dilakukannya.


"Kya, dalam masalah ini sebenarnya bukan hanya kau yang bersalah. Tetapi aku juga salah, aku juga sudah jahat padamu. Aku menghalalkan segala cara karena aku marah dan menganggap kau telah merebut Bara dariku waktu itu. Tapi ternyata aku salah, aku telah memaksa Bara yang sama sekali tak mencintaiku dan aku sadar bahwa cinta itu memang tidak bisa dipaksa. Atas kejadian itu semua, aku bisa memetik pelajarannya, aku bisa menemukan pria yang begitu tulus mencintaiku dan menerimaku apa adanya yaitu Steven. Ck, kenapa kau bodoh sekali bertanya seperti itu Kya, tentu saja aku memaafkanmu," ucap Rania yang mencoba untuk menyembunyikan rasa sedihnya.


"Kak Nia tidak pernah salah, mungkin jika aku berada di posisi Kak Nia aku juga akan seperti itu," kata Kyara menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, lupakan saja apa yang sudah berlalu. Lebih baik kita hidup mengikuti takdir yang sudah ditentukan. Berhenti meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu," ucap Rania datar saja, toh tidak ada gunanya ia memaafkan Kyara atau tidak.


"Kak, apa kau serius memaafkan? Jika iya, tapi kenapa kau tadi diam saja, kenapa kau terlihat sangat membenciku Kak?" Tanya Kyara yang tak mempercayainya.


"Aku hanya malu Kya. Aku malu karena aku telah berbuat salah padamu, aku telah berusaha untuk memisahkan kalian yang saling mencintai, padahal sudah jelas-jelas ada pria yang tulus mencintaiku. Aku juga berniat untuk mencelakaimu dan anak di dalam kandungannya itu, hingga pada akhirnya aku terkena karma, aku yang celaka dan menyebabkanku menjadi seperti sekarang ini, aku juga ... minta maaf," kata Rania dengan senyum kecutnya.


"Jangan minta maaf Kak, bagiku kau adalah Kakak yang paling hebat untukku, aku menyayangimu Kak Nia,' ucap Kyara lalu beranjak dari tempat duduknya dan mereka berpelukan erat diiringi air mata haru bercampur bahagia yang menyelimuti keduanya.


Steven dan Bara yang menyaksikan hal itu pun ikut merasa terharu, tapi mereka terlihat masih begitu canggung. Jadi mereka hanya diam saja melihat kebahagiaan kedua saudara yang akhirnya bisa berbaikan lagi setelah badai besar yang membuat hubungan mereka hancur berkeping-keping.


Happy reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2