Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Dua Hati Yang Terluka.


__ADS_3

"Hentikan ucapanmu Sandra!" Teriak Nugraha yang sangat terkejut mendengar ucapan istrinya itu, begitu juga Rania, Kyara dan juga Bara.


"Ma, apa maksud Mama berbicara seperti itu? Kyara ini juga anak Mama 'kan?" Tanya Rania tak mengerti.


"Iya Ma, kenapa Mama bisa mengatakan tentang Ibuku seperti itu? Apakah maksudnya Mama ini bukan ibu kandungku?" Tanya Kyara yang meminta penjelasan.


"Ya itu memang benar, Mama bukanlah ibu kandung Kyara. Kyara hanyalah anak dari hubungan terlarang Papa kalian dengan wanita ja lang yang sudah berani menggoda suami Mama," ucap Sandra yang rasanya sangat sakit jika mengingat masa lalu itu.


"Apa maksud Mama? Papa sudah berkhianat di belakang Mama? Itu nggak mungkin Ma," ucap Rania yang tahu persis bagaimana ayahnya itu sangat mencintai ibunya.


"Tapi memang itu kenyataannya Nia, Papamu sudah berkhianat sampai akhirnya dia pulang membawa anak haramnya bersama wanita murahan itu. Jika waktu itu Mama tidak menerima wanita ja alang ini, pasti saat ini dia sudah mati. Tapi siapa sangka anak ini sama sekali tidak tahu diri, tidak tahu terimakasih dan dengan teganya menyakitimu. Dia begitu tega menyakiti Anak Mama," ucap Sandra yang menatap Kyara dengan penuh kebencian.


"Berhenti Sandra, sudah cukup! Aku mohon jangan mengatakan apapun lagi, kasihan Kyara," bentak Nugraha serta menatap Sandra dengan sangat tajam, seolah tak terima istrinya itu terus saja menghina Kyara dan ibunya.


"Kenapa Mas? Memang itu kenyataannya 'kan. Aku rasa sudah tidak ada lagi yang harus aku tutup-tutupi supaya anak ini tahu diri dan sadar kalau dia itu hanya anak haram dari hubungan yang tidak sah!" ucap Sandra menunjuk ke arah Kyara, tak peduli jika saat ini anaknya itu sedang menangis karena merasa sangat terpukul mendengar dua kabar yang menyakitkan sekaligus. Di saat ia mengetahui bahwa dirinya hamil anak Bara, dan sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa ia bukanlah anak kandung Sandra.


"Enggak itu nggak mungkin, katakan padaku bahwa itu bohong 'kan Ma. Mana mungkin aku bukan Anak Mama, aku tahu Mama adalah Mama kandung aku. Aku tahu Mama marah dan kecewa sama aku, tapi tolong jangan seperti ini Ma. Jangan mengatakan kalau aku ini bukan Anak Mama," ucap Kyara dengan air matanya yang terus saja bercucuran, bak air sungai yang mengalir deras. Rasanya sangat sulit untuk menerima kenyataan di luar nalarnya.


Nugraha yang sangat tidak tega melihat anaknya itu langsung saja meraih tubuhnya ke dalam dekapannya.


"Kyara yang sabar Nak, semua ini adalah salah Papa," ucap Nugraha yang juga tak bisa menahan kesedihannya. Meskipun ia seorang lelaki, tetapi ia juga mempunyai perasaan yang sensitif sehingga membuatnya pun ikut menangis.


"Aku mohon hentikan drama ini, aku benar-benar muak!" Ucap Rania yang langsung saja berlari keluar meninggalkan ruang pemeriksaan.

__ADS_1


Nugraha dan Sandra pun ikut keluar untuk mengejar Rania, sedangkan Bara diminta oleh Nugraha untuk tetap berada di ruangan tersebut menemani Kyara.


"Kyara aku mohon jangan menangis, kau masih memiliki aku di sini. Kau juga harus ingat kalau kau sedang hamil," ucap Bara.


Rasanya ikut sakit melihat wanita yang dicintainya saat ini dalam keadaan terpuruk. Bara sangat khawatir jika Kyara akan rapuh dengan masalah yang sedang dihadapinya, terlebih lagi Kyara juga sedang mengandung anaknya, tentu saja Bara tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap wanita tersebut.


"Tutup mulutmu Bara! Aku tidak membutuhkan belas kasihan darimu, yang membutuhkanmu saat ini adalah Kak Nia bukan aku. Apa kau puas Bara? Sekarang Kak Nia dan keluargaku sudah sangat membenciku. Apa kau sudah puas sekarang?" ucap Kyara diiringi isak tangisnya.


"Maafkan aku Kya, aku sangat mencintaimu. Aku bersumpah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu," tutur Bara menarik tubuh Kyara ke dalam pelukannya, meskipun wanita itu menolak, tetapi Bara tetap saja memaksa hingga akhirnya Kyara pun luluh dan menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Kakak iparnya itu.


"Aku hanya anak haram Bara ... aku anak pungut, mereka semua membenciku," lirih Kyara disela-sela tangisnya yang begitu menyayat.


"Tidak, kau bukan anak haram. Kau wanita baik-baik yang aku cintai," ucap Bara mengeratkan pelukannya, ia tidak henti menciumi rambut Kyara untuk membuat wanita itu tenang. Nyatanya yang lebih menyakitkan dari apapun didunia ini adalah ketika melihat Kyara menangis. Hati Bara seolah ikut sakit jika melihat Kyara seperti ini.


******


Setelah ia rasa kedua orang tuanya sudah tak lagi mengejarnya, Rania pun memilih turun untuk menenangkan pikirannya. Ia sengaja menghindar dari siapapun, saat ini ia benar-benar tidak ingin diganggu sampai keadaannya benar-benar tenang.


Kini akhirnya Rania berjalan luntang lantung sendirian menelusuri jalan setapak dan tidak tahu arah tujuannya. Meskipun waktu sudah sangat malam, Rania seakan tak peduli, ia sama sekali tak takut jika akan ada bahaya yang menghampirinya. Ia tetap saja berjalan tanpa henti dan seakan tak merasakan jika saat ini kakinya sudah sangat lelah untuk melangkah.


Hingga di saat itu tanpa sadar Rania malah berjalan ke tengah-tengah jalan yang tampak sepi. Akan tetapi tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang melaju kencang dan hampir saja menabraknya.


"Rania … awas!"

__ADS_1


Untung saja ada seseorang yang dengan cepat menyambar tubuh Rania hingga keduanya pun jatuh dan terguling di tepi jalan.


"Steven?" Ucap Rania yang begitu terkejut karena Steven telah menolongnya.


"Rania, apa kau baik-baik saja?" Tanya Steven yang sangat mengkhawatirkan keadaan Rania, terlihat jelas di saat itu jika Rania sedang menangis, karena wajahnya terlihat sembab dan hidungnya juga memerah.


"Kenapa kau bisa berada di sini?" Bukannya menjawab, Rania malah balik memberikan pertanyaan kepada Steven.


"Kebetulan aku mau pulang dan melewati jalan ini. Tidak sengaja aku melihatmu jalan sendiri, jadi aku mengikutimu," jawab Steven.


"Rania, kau baik-baik saja 'kan? Ayo aku bantu," ucap Steven yang membantu Rania untuk berdiri, lalu ia pun membawa wanita itu ke sebuah kursi panjang di tepi jalan yang biasa digunakan oleh orang-orang untuk bersantai.


"Seharusnya kau tidak menolongku Steven, biarkan saja aku mati," ucap Rania yang membuat Steven yakin jika Rania memang sedang memiliki masalah yang sangat berat.


"Kenapa kau berbicara seperti itu Rania. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa malam-malam seperti ini kau berada di sini?" Tanya Steven.


Lagi-lagi Rania tak menjawabnya, ia malah menangis sejadi-jadinya karena rasanya tidak sanggup jika harus menceritakan kisah kehidupannya yang begitu buruk pada orang lain, sama saja ia mengungkapkan kembali luka di dalam hatinya itu.


"Rania, aku memang tidak mengetahui apa masalahmu saat ini, tapi aku mohon jangan menangis terus Rania. Jika kau butuh sandaran untuk meluapkan rasa sedihmu aku siap untuk menjadi sandaranmu, atau kau butuh pelampiasan untuk meluapkan amarahmu, aku juga siap, asal kau bisa lega," ucap Steven.


Rania pun langsung saja menaruh kepalanya itu pada dada bidang milik Steven, karena tidak bisa dipungkiri jika saat ini ia memang sangat membutuhkan sandaran. Lalu Steven juga memberanikan diri untuk memeluk dan mengusap pundak Rania dengan penuh kelembutan, sehingga membuat Rania merasa jauh lebih tenang daripada hanya seorang diri.


"Jika kau dikhianati oleh orang yang paling kau percaya, misalnya Adik atau Kakak, bagaimana perasaanmu Stev?" Tiba-tiba saja Rania memberikan pertanyaan yang membuat Steven merasa sangat terkejut dan langsung pikirannya itu melayang pada sosok Kyara dan Bara yang sudah mengkhianati Rania.

__ADS_1


Happy reading.


TBC.


__ADS_2