Belenggu Kakak Ipar

Belenggu Kakak Ipar
Kondisi Rania.


__ADS_3

Steven melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan rintangan yang menghadang di jalan, yang terpenting ia bisa segera tiba di rumah sakit. Setelah mendapatkan kabar dari sang kakek bahwa saat ini Rania berada di rumah sakit karena kecelakaan, tentunya membuat Steven begitu khawatir dan ingin segera melihat keadaan wanita yang dicintainya itu.


Setibanya di rumah sakit, ia pun berlari menuju ke ruang IGD dimana tempat Rania saat ini sedang ditangani. Sama sekali tidak ada keluarganya di sana kecuali Kakek Hardi karena memang saat ini ayahnya sendiri sedang sibuk mengurusi ibunya yang terkena stroke dan dirawat di salah satu rumah sakit yang berbeda.


"Kek bagaimana keadaan Rania? Bagaimana Kakek bisa tahu Rania kecelakaan dan berada di sini?" Tanya Steven ngos-ngosan karena sehabis berlari.


"Tidak penting Kakek tahu dari mana, yang terpenting saat ini Rania sangat membutuhkan kita. Kakek yakin jika Tuan Nugraha belum mengetahui soal ini karena dia sangat sibuk mengurusi istrinya," kata Hardi.


"Iya Kek, lalu bagaimana keadaan Rania sekarang?" Steven mengulangi pertanyaannya.


"Entahlah, kita tunggu saja sampai Dokter selesai menangani Rania," jawab Hardi karena memang belum mengetahui kondisi Rania saat ini.


Steven tampak mondar-mandir menunggu di depan ruang IGD, rasanya sudah tidak sabar lagi ingin melihat keadaan Rania. Hingga di saat itu pun pintu ruang IGD terbuka lebar dan terlihat seorang dokter yang keluar dari sana.


"Dokter, bagaimana keadaan Rania?" Tanya Steven yang menghampiri dokter tersebut.


"Apakah kalian keluarganya?" Dokter bertanya balik.


"Iya Dokter kami adalah keluarganya. Apa kamu boleh bertemu dengan Rania?" Tanya Steven begitu antusias.


"Untuk saat ini kondisi pasien masih sangat kritis. Beliau banyak mengalami luka ditubuhnya mengingat kecelakaan ini begitu serius. Dan kami minta maaf dengan sangat, karena kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang berada didalam kandungannya," jelas Dokter itu terlihat menghela nafas panjang.


Bak disambar petir disiang bolong, tubuh Steven langsung bergetar hebat mendengar kabar itu.


"Ma-maksud Dokter? Rania keguguran?" tanya Steven terbata-bata.


"Maafkan kami Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kondisi janin yang masih muda begitu rentan. Jadi, kami tidak bisa mempertahankannya," sahut Dokter lagi, wajahnya terlihat menyesal karena gagal menyelamatkan bayi Rania.


Steven tertunduk lesu, hatinya seolah hancur mendengar sang buah hati yang baru saja diketahuinya ada itu justru sudah meninggalkan dunia ini.


"Ikhlaskan Nak, Tuhan pasti punya rencana lain dibalik ini semua," tutur Kakek Hardi menepuk-nepuk punggung Steven pelan.


"Ini semua salahku Kek, Tuhan mengambil nyawanya karena dia tahu Ayahnya seorang pengecut," kata Steven tidak bisa menahan air matanya yang tiba-tiba lolos begitu saja.


"Tidak apa-apa, yang terpenting sekarang keadaan Rania. Semoga dia baik-baik saja," ujar Kakek Hardi lagi.


Meksipun sangat marah dengan kelakukan para cucunya, tapi Kakek Hardi tahu jika sebenarnya Bara dan Steven sangat mencintai wanitanya. Hanya saja, mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan itu dengan benar.

__ADS_1


"Kakek benar, Dokter bagaimana keadaan Rania? Dia baik-baik saja 'kan?" Steven mengangkat wajahnya dan langsung bertanya kepada Dokter itu.


Dokter itu menghela nafas panjang membuat wajah tegang Steven langsung meningkat. "Seperti yang saya bilang tadi, kecelakaan pasien sangat parah. Saya tidak bisa memastikan pasti, tapi sepertinya pasien akan mengalami kelumpuhan sementara," jelas Dokter.


"Lu-m-puh?" Steven menggelengkan kepalanya tidak percaya, lengkap sudah semua penderitaannya. Anaknya meninggal sebelum sempat dilahirkan, kini bertambah wanita yang dicintainya justru divonis lumpuh oleh Dokter.


"Tapi bisa disembuhkan 'kan Dokter?" tanya Kakek Hardi mewakili Steven yang masih syok itu.


"Bisa saja Tuan, selama pasien sering mengkonsumsi obat dan juga melakukan terapi, pasien bisa sembuh kembali," jawab Dokter.


"Sekarang, bisakah aku menemuinya?" tanya Steven dengan wajah penuh harap.


Dokter itu mengangguk pelan, ia mengizinkan Steven untuk masuk tapi harus menggunakan pakaian khusus karena kondisi Rania yang masih butuh pemantauan.


Steven mencuci tangannya sampai bersih, setelah itu ia diarahkan menuju ruangan dimana Rania berada. Steven sempat berhenti saat melihat sosok Rania yang terbaring lemah dengan beberapa kabel yang menancap ditubuhnya. Melihat hal itu air mata Steven seolah langsung menetes kembali.


"Rania," panggil Steven dengan suara pelan, ia mengambil kursi lalu duduk di samping Rania dan memegang tangan wanita itu dengan lembut.


"Rania, ini aku. Maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini. Aku sangat menyesal Rania, tolong bangunlah, apa kau tidak ingin memarahiku lagi?" ucap Steven dengan suaranya yang bergetar menahan tangis.


"Aku ... siap menerima jika kau akan terus memarahiku Rania. Ayo, sekarang bangunlah, kau wanita hebat dan kuat. Bangun dan marahi aku lagi Rania, aku pria brengsek 'kan?" Steven terus saja berbicara sendiri, berharap jika Rania akan segera bangun. Ia lebih suka Rania memarahinya daripada wanita itu harus terbaring lemah seperti ini.


Tidak ada sahutan apapun selain layar monitor, Steven masih setia menggenggam erat tangan Rania. Sampai beberapa saat kemudian, tangan wanita itu bergerak dan membuat Steven terkejut.


"Rania?" ucapnya begitu senang.


Rania membuka matanya perlahan-lahan, tubuhnya sangat lemah dan nyeri dimana-mana. Matanya menyipit saat sinar lampu begitu mengenai matanya.


"Rania, akhirnya kau sadar juga Rania. Aku sangat mencemaskanmu," kata Steven langsung saja menciumi tangan Rania dengan penuh cinta.


Rania mengerutkan dahinya, ia melirik Steven yang ada disampingnya. Menyadari jika Steven adalah ba ji ngan kurang ajar yang telah menodainya, membuat Rania marah. Dengan kasar Rania menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Steven.


"Pergi ..." lirih Rania.


"Rania, aku minta maaf Rania. Aku sangat menyesal, tolong biarkan aku menebus segala kesalahanku. Berikan aku kesempatan," ucap Steven, tidak menyerah untuk membujuk Rania.


"Apa kau tuli? Aku sedang tidak mau bertemu denganmu, pergilah atau aku yang akan pergi?" Rania memaksa tubuhnya yang sangat lemah untuk bangkit, karena ia begitu muak melihat wajah Steven.

__ADS_1


"Rania, jangan lakukan itu Rania. Kau baru saja dioperasi, jangan terlalu banyak bergerak dulu," kata Steven begitu panik, ia menahan tangan Rania agar wanita itu tidak pergi.


Rania tidak peduli, ia tetap mencoba bangkit. Namun, saat ia ingin bangkit, perutnya terasa sangat nyeri dan tak lama darah segar merembes dari balik bajunya. Rania tentu kaget melihat hal itu, ia memegang perutnya yang sangat sakit.


"Anakku?" lirih Rania, pikirannya langsung tertuju pada bayi yang ada didalam kandungannya. "Kenapa berdarah? Anakku dimana?" tanya Rania, menatap Steven dengan wajah kaget yang tidak bisa ditutupi.


Steven mengigit bibirnya, ia langsung memeluk Rania sangat erat. "Dia sudah pergi, ikhlaskan dia Rania, Tuhan lebih menyayangi dia," ucap Steven.


Rania membuka mulutnya tidak percaya, ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak mungkin, kemarin aku masih bisa merasakan kehadirannya. Tidak mungkin dia ..." Perlahan suara Rania melemah, air matanya mulai berjatuhan membasahi wajahnya yang cantik.


"Dia sudah tenang Rania," tutur Steven masih terus memeluk Rania dan ia pun menangis.


Rania mengertakkan giginya, ia kembali mendorong Steven dengan kasar. "Semua ini gara-gara kau brengsek! Kau adalah orang yang menjadi pembawa sial dalam hidupku. Cepat pergi darisini, arghhhhhhhh!" Rania mengamuk dengan membuang bantal miliknya, ia mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk dan tetep mengusir Steven.


"Rania, kendalikan dirimu Rania," kata Steven mencoba mendekati Rania.


Namun, Rania justru semakin mengamuk dan disaat itu ia ingin turun dari ranjang. Tapi karena kondisi kakinya yang lumpuh, ia malah terjatuh ke lantai dengan sangat keras.


"Arghhhhhhhh!" Teriak Rania begitu kesakitan.


"Rania, astaga ..." Steven buru-buru membantu wanita itu, tapi lagi-lagi menolak dirinya.


"Kakiku, kakiku kenapa? Kakiku kenapa seperti ini?" tanya Rania.


Steven mendudukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah Rania yang sudah sangat terpukul karena kehilangan bayinya. Steven tidak sanggup mengatakan jika wanita itu mengalami kelumpuhan.


"Jawab aku Stev, kenapa dengan kakiku? Kenapa tidak bisa digerakkan?" Rania kembali bertanya dengan mendesak.


"Kau ... mengalami kelumpuhan."


Setetes air mata kembali membasahi wajah Rania, ia menatap kakinya sendiri dengan tatapan nanar.


"Lumpuh? Tidak mungkin, aku tidak mungkin lu-m-puh. Ini semua tidak mungkin, arghhhhhhhh!" Rania kembali mengamuk, kali ini ia memukuli kakinya sendiri dengan sangat keras, berharap kaki itu bisa digerakkan lagi.


Steven sudah berulang kali mencoba menenangkan Rania. Akan tetapi wanita itu semakin lama semakin histeris sehingga ia harus memanggilkan Dokter dan Rania diberikan obat penenang. Kini wanita itu kembali berbaring dengan Dokter yang merawat luka diperutnya karena tadi jahitan Rania sempat terbuka saat wanita itu mengamuk.


"Maafkan aku, Rania."

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2