
Rania rasanya lelah berteriak meminta Steven untuk berhenti. Pria itu tetap membawanya pergi entah kemana. Hingga beberapa saat kemudian, kini mereka pun telah tiba di salah satu gereja yang ada di dekat rumah Rania.
"Apa yang ingin kau lakukan Stev?" Tanya Rania kebingungan bercampur amarah.
"Tentu saja aku ingin menikahimu, aku ingin kau benar-benar melupakan Bara dan dan memulai hidup bersamaku dalam sebuah ikatan pernikahan," ucap Steven langsung saja, ia juga kembali menggendong Rania tanpa memperdulikan protesan wanita itu.
"Apa maksudmu Stev? Apa kau pikir pernikahan itu adalah hal yang main-main?" Teriak Rania justru semakin meradang, ia mencoba berontak tapi Steven justru memeluk tubuhnya terlalu kuat.
"Aku tidak pernah mengatakan pernikahan itu sebuah hal yang main-main. Aku memang serius ingin menikahimu Rania," ujar Steven tetap membawa Rania masuk kedalam gereja itu dan menemui pendeta yang ada disana.
"Jangan gila Steven!" hardik Rania semakin berontak, ia tidak mau jika Steven benar-benar akan menikahinya disaat kondisinya seperti ini.
Steven segera menurunkan Rania karena wanita itu terus saja berontak. Ia mendudukkan wanita itu disalah satu kursi dan ia duduk berjongkok di depannya.
"Rania, aku mungkin pria yang sangat brengsek di matamu. Tapi kau harus tahu satu hal, perasaanku padamu bukan sekedar main-main. Aku juga sangat menyesal karena telah menghancurkan masa depanmu. Aku sangat menyesalinya Rania, tolong berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya. Aku ingin menikahimu Rania," tutur Steven memegang kedua tangan Rania dengan erat.
__ADS_1
"Jika kau memang merasa bersalah, baiklah aku maafkan. Tapi untuk menikah, tidak perlu melakukannya Stev, aku ini hanya wanita lumpuh dan tidak pantas untukmu," ujar Rania mulai melembutkan hatinya, selama ini ia memang sudah tidak percaya diri lagi karena kondisinya yang tidak bisa berjalan. Ia malu, sangat-sangat malu sekali.
Steven menghela nafas panjang, ia menarik dagu Rania agar mata wanita itu sejajar dengannya.
"Hei, siapa bilang kau tidak pantas untukku? Kau sangat pantas Rania, jika kau berpikir aku menikahimu hanya karena sekedar rasa kasihan, semua itu salah besar. Aku bukan menikahimu karena kau bisa berjalan di sampingku atau tidak, aku menikahimu juga bukan karena kata-kata indahmu atau mungkin segala kesempurnaan fisikmu."
"Aku menikahimu karena kau Rania, aku sangat mencintaimu, tidak peduli kau bisa berjalan atau tidak, bagiku dunia ini akan tetap sama saja. Tolong Rania, berikan aku kesempatan itu, izinkan aku menikahimu," ucap Steven benar-benar sangat tulus dan lembut, perlahan-lahan mampu membuat hati Rania luluh begitu saja.
"Stev ..." Rania menangis sesenggukan, ungkapan cinta Steven benar-benar terdengar sangat dalam membekas dihatinya dan mampu memupuskan segala keraguan dalam diri Rania. Wanita itu sangat terharu karena kata-kata cinta Steven yang sangat manis.
Rania mengigit bibirnya, ia mengangguk perlahan sebagai jawaban dan Steven pun akhirnya bisa bernafas begitu lega. Ia langsung saja menarik Rania ke dalam pelukan hangatnya.
"Terima kasih Rania, terima kasih sudah memberimu kesempatan. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan selalu mencintaimu sampai aku tidak bernafas lagi," ucap Steven memeluk Rania sangat erat.
Rania lagi-lagi hanya mengangguk karena tidak tahu lagi harus mengungkapkan perasaannya seperti apa. Ia lalu melepaskan pelukannya dan disaat itu juga ia melihat Papa dan Mamanya datang.
__ADS_1
"Papa, Mama?" ucapnya kaget.
Steven tersenyum tipis. "Aku sengaja mengundang mereka untuk menjadi saksi pernikahan kita Rania," ucap Steven menjelaskan tanpa diminta.
Rania semakin tidak percaya, ia menatap Papa dan Mamanya yang tampak memasang wajah penuh keharuan yang sama. Steven benar-benar bukan hanya meyakinkan Rania tentang perasannya, tapi juga kedua orang tuanya yang ternyata sudah memberikan restu kepada mereka berdua.
"Waktu baiknya akan segera tiba Tuan," ujar Pendeta mengingatkan Steven.
Steven mengangguk singkat, ia menatap Rania kembali dengan seulas senyum dibibirnya. Ia lalu bangkit dan menggendong kembali Rania lalu berjalan ke depan pendeta itu.
Tepat dihari yang cerah itu, Steven dan Rania mengawali hubungan mereka dengan sebuah ikatan pernikahan yang resmi. Kedua orang tua Rania yang menjadi saksi bagaimana Steven dan Rania mengikat janji suci dihadapan Tuhan.
Sepanjang acara pernikahan itu dilakukan, Rania tidak henti menitihkan air matanya. Ia sangat terharu dan bahagia menjadi satu. Akhirnya setelah kehidupannya yang hancur berkeping-keping, kini Tuhan menggantikannya dengan sebuah kebahagiaan yang begitu membuncah. Mamang benar apa kata orang, rencana Tuhan akan lebih indah dari apapun di dunia ini.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.