
Karena Kyara mabuk cukup parah, Steven akhirnya membawa wanita itu pergi dari tempat itu. Jika dibiarkan disana terus, bisa jadi ada orang iseng atau ingin berniat jahat kepada wanita itu. Jadi, Steven segera memapah tubuh Kyara dan membawanya pergi.
Namun, baru saja beberapa langkah ia memapah tubuh Kyara, tiba-tiba saja ada yang menendangnya dari belakang hingga ia jatuh tersungkur. Steven langsung menoleh dan ia terkejut saat melihat Bara menatapnya dengan tatapan membunuh, pria itu juga langsung merampas Kyara dari pelukannya.
"Ba ji ngan kau! Apa yang akan kau lakukan pada Kyara?" hardik Bara dikuasai emosi yang membara, matanya nyalang menatap Steven yang ada didepannya itu.
"Dia sedang mabuk, aku hanya mencoba menyelamatkannya. Kenapa kau tiba-tiba marah Bara?" Steven menatap Bara dengan pandangan aneh, bukankah terlalu berlebihan jika Bara langsung marah melihatnya memapah adik iparnya?
"Mencoba menyelamatkannya atau mencari keuntungan didalam kesempitan?" sergah Bara begitu sinisnya.
"Jika iya, lalu apa masalahnya denganmu? Apa kau kekasihnya?" ujar Steven sengaja memancing Bara.
"Brengsek! Aku peringatkan padamu, jangan mendekati Kyara atau kau akan habis ditanganku, tidak perduli kau sepupuku atau bukan," umpat Bara mengertakkan giginya begitu kuat, semakin emosi mendengar ucapan Steven itu.
Bukannya takut, Steven justru berjalan santai mendekati Bara, lalu berbisik tepat ditelinga pria itu. "Aku juga peringatkan padamu, hentikan hubungan gilamu dengan Adik iparmu ini dan jangan membuat Rania tersakiti, atau aku sendiri yang akan memberimu pelajaran tidak perduli kau sepupuku atau bukan," ucap Steven memandang Bara begitu tajam.
Bara terdiam sesaat, ia menarik sudut bibirnya seolah mengulas senyum mengejek. "Aku bukan anak kemarin sore yang perlu kau ajari mana yang baik dan bukan. Jangan kau pikir dengan diamku selama ini, aku tidak tahu apa yang sudah kau lakukan pada istriku. Aku harap kau bermain bersih dan tidak membuatnya hamil," kata Bara balas menatap Steven lebih tajam dari sebelumnya.
Steven terlihat begitu syok, seketika mulutnya langsung bungkam, karena ia tidak menyangka jika Bara mengetahui apa yang dilakukannya pada Rania.
"Ini semua gara-gara kau ba ji ngan. Kenapa kau tega mempermainkan Rania, jika kau tidak bisa mencintainya, setidaknya jangan pernah menyakitinya brengsek! Apa kau bisa membayangkan jika sampai Rania tahu hubunganmu dengan Adiknya?" bentak Steven begitu emosi, tangannya mengepal erat mengingat dimana ia tidak sengaja melihat Bara dan Kyara ber cu mbu dengan panas ditepi pantai.
__ADS_1
"Itu jika dia tahu, jika kau diam saja, maka semua akan aman-aman saja, termasuk rahasia jika kau pria yang telah meniduri Rania," kata Bara begitu santainya, ia mengulas senyum licik seraya berlalu membawa Kyara pergi meninggalkan Steven yang hanya bisa berdiri mematung.
Steven menjambak rambutnya frustasi, mengutuk kebodohannya sendiri yang dengan sangat sadar telah menjadi pria brengsek yang telah meniduri Rania secara diam-diam. Ingatannya langsung melayang pada saat malam yang sangat panas itu.
Malam itu, Steven berniat mencari angin untuk menghilangkan rasa lelah karena baru saja kembali dari luar negeri. Selain itu, ia menenangkan hatinya yang mendadak sangat sakit saat tahu, Rania wanita yang dicintainya secara diam-diam telah menjadi istri dari sepupunya sendiri, Bara.
"Kenapa harus Rania?" gumam Steven dengan hati yang berkecamuk tak karuan, ia berjalan-jalan menyusuri pantai yang begitu sejuk.
Cukup jauh Steven berjalan, hingga tidak sengaja netranya melihat pemandangan yang sangat mengejutkan. Steven awalnya tidak mau percaya, tapi begitu ia mendekat, ia akhirnya bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi antar Bara dan Adik iparnya itu.
"Brengsek, berani-beraninya mereka bermain gila seperti ini. Aku harus memberitahu Rania," kata Steven tentu sangat emosi, karena tahu jika wanita yang dicintainya ternyata sudah dikhianati oleh orang terdekatnya.
Steven memandang Bara dan Kyara yang asyik berciuman sangat panas itu sekilas, lalu ia memilih pergi meninggalkan tempat itu dan kembali ke hotel. Niat hati ingin menemui Rania untuk mencoba menghibur wanita itu, tapi dia malah khilaf saat melihat Rania memakai pakaian yang begitu menggoda imannya sebagai seorang laki-laki normal.
"Rania ...," panggilnya dengan suara berat, terdengar begitu bergairah.
"Bara, kau sudah pulang?" Rania menyahut dengan suara lembutnya membuat Steven semakin berdebar-debar.
"Ya, aku sangat menginginkanmu," sahut Steven tanpa membuang waktunya lagi, langsung saja mendorong tubuh Rania ke ranjang, kondisi kamar yang remang-remang membuat Rania tidak bisa mengenali siapa dirinya dan menganggap kalau ia adalah Bara.
"Bara, aku juga menginginkanmu," kata Rania tanpa ragu memeluk leher Steven yang ia kira adalah Bara.
__ADS_1
Steven tidak menyahut, tapi ia langsung membungkam mulut Rania dengan ciuman panasnya. Wanita itu tentu langsung membalas tak kalah panasnya. Sejenak Steven lupa jika wanita yang bersamanya itu adalah istri dari sepupunya, tapi mengingat jika Bara sudah mengkhianati wanita ini membuat Steven tidak mempedulikan apapun lagi. Steven mencu mbu Rania dengan sangat lembut dan penuh pemujaan.
Hingga pada saatnya ia melakukan penyatuan dan ia sangat syok saat Rania tiba-tiba mencakar punggungnya sangat kuat.
"Bara, sakit ..." lirih Rania seraya menangis.
Melihat Rania yang kesakitan, Steven ingin menyudahi aktivitasnya itu, ia tidak tega jika harus menyakiti wanita yang dicintainya. Namun, sebelum Steven sempat beranjak, Rania sudah lebih dulu menahan tangannya agar tidak jadi pergi.
"Tidak apa-apa Bara, aku rela memberikan semua ini untukmu, aku mencintaimu, Bara." Rania langsung berbicara sebelum Steven mengatakan apapun, ia juga kembali mencium pria itu sebagai kode untuk meneruskan apa yang sudah terjadi.
Rania benar-benar sudah dibuat gila oleh sentuhan-sentuhan Steven sebelumnya sampai tidak menyadari jika pria itu bukanlah suaminya Bara, melainkan Steven.
Steven tidak tahu harus berkata apa, dalam hati ia tidak henti mengutuk sikapnya malam itu yang telah menjadi pria yang sangat brengsek sedunia karena telah merenggut kesucian Rania tanpa sepengetahuan wanita itu. Ia bahkan tidak sanggup lagi menemui Rania setelah kejadian itu dan memilih langsung pergi begitu saja.
"Maafkan aku Rania," lirih Steven mengusap wajahnya kasar jika mengingat malam itu. Sekarang ia tidak tahu lagi harus melakukan apa, berkata jujur pun tidak berani karena takut jika Rania akan membencinya.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1