
"Lihatlah bulan itu, aku pernah berpikir menjadi dirinya tetapi akhirnya pemikiran ku itu berubah. Aku lebih memilih menjadi awan dan Ael adalah langitnya," ujar Miguel yang melihat ke langit.
"Kenapa Kakak tidak berpikir menjadi bulan saja?" tanya Anna bingung.
"Karena jika aku menjadi bulan aku terlalu bersinar, sedangkan disaat aku menjadi awan jika di malam hari aku gelap maka di siang hari aku terang. Sedangkan Ael dia bisa melihatku seperti itu, tanpa menjadi bulan ataupun matahari."
"Kalau aku, aku akan tetap memilih menjadi bulan karena tanpa sinarnya matahari bulan tidak akan bersinar. Aku ingin pasangan ku ada disamping ku, bukan dibelakang ku. Walau terkadang aku bisa melihatnya di depan, tetapi dia jugab isa melihat ku dari belakang."
"Kita mempunyai pemikiran kita sendiri-sendiri. Ohh' soal cinta pertama yang kau tanyakan tadi aku akan menjawabnya dengan detail. Kita bisa mengetahuinya jika jantung kita berdegup dengan kencang ketika bertemu dengannya." Jelas Miguel pada Anna.
"Selalu memikirkan hal-hal yang berkaitan dengannya, tidak mau melihatnya dengan orang lain dan tidak ingin dia pergi jauh dari diri kita. Seperti itu, apakah kau mengerti?" tanya Miguel.
"Ya aku mengerti."
"Ada yang ingin kau tanyakan lagi, jika ada sebaiknya kau mencari taunya sendiri dalam posisi apa hatimu saat ini."
"Kalau begitu aku akan mencari taunya sendiri."
"Ee' baiklah, aku akan masuk dan mengerjakan pekerjaan ku."
"Ohh' iya. Aku juga mempunyai urusan, kalau begitu aku ingin pergi ke kamarku."
Miguel dan Anna lalu masuk ke dalam rumah dan mengerjakan urusan mereka masing-masing.
Di dalam kamar Anna memikirkan perkataan kakaknya.
"*Apakah yang kakak katakan itu benar? apakah aku menyukainya atau aku hanya menganggapnya sebagai teman. Tapi, kakak mengatakan aku tak pernah sedih ketika seorang pria tidak datang ke rumahku."
Tapi tiba-tiba saja aku merasa sedih, euuhh' … sudahlah aku tidak ingin memikirkannya*." Batin Anna yang mulai menghilangkan beban pikiran yang ada di kepalanya.
Karena Anna tidak mau terlarut memikirkan perkataan kakaknya, ia lalu memutuskan untuk tidur.
****************
Keesokan harinya Anna yang bangun pagi-pagi sekali bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tidak lupa pula ia membawa alat untuk mengukur badan.
Anna kemudian turun ke bawah untuk sarapan pagi, seperti biasa ia meminta pelayan Jack menyiapkan bekal untuknya.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan Miguel lalu mengantarkan Anna ke sekolah. Sesampainya di sekolah Anna kebetulan bertemu dengan Katharine.
"A'Apa yang harus dicari tau? apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku Anna.
"Haih … aku memang tidak bisa menyembunyikan nya darimu ya." Anna menghela napas.
Anna kemudian menceritakan segalanya pada Katharine, mereka mengobrol sambil berjalan hingga sampai ke dalam kelas.
"Baiklah semuanya, hari ini aku akan mengukur badan kalian," ujar Anna yang baru saja sampai ke dalam kelas.
"Silahkan semuanya untuk berbaris," ucap Simon pada semua murid yang ada di kelas itu.
Anna mulai mengukur satu persatu teman sekelasnya termasuk dengan Katharine, Simon dan Lucanne.
"Emm' Anna seperti apa model bajunya?" tanya Katharine pada Anna.
"Ohh' kalau soal. itu aku sudah membuat sketsa model bajunya di buku gambarku, Tapi karena buku gambar ky itu terlalu mesak jadi aku tidak membawanya." Jelas Anna.
"Nanti ketika pulang sekolah kita kan pergi ke rumahmu, bolehkah aku melihatnya?" Pinta Katharine yang ingin melihat model baju untuk Cafe mereka.
Tiba-tiba Bella masuk ke dalam kelas mereka. "Yang sudah di pilih dalam bermain peran kemarin, silahkan pergi ke Aula untuk latihan dan di sana nanti ketua OSIS yang akan memberikan kertas dialognya, ada pertanyaan?"
Katharine, Lucanne dan Anna lalu berjalan pergi ke Aula, ketika mereka sudah sampai di depan pintu Aula Brian menghalangi mereka bertiga untuk masuk.
"Eh' ada Anna," ucap Brian menghampiri Anna.
"Menyingkirlah!" tegas Anna sembari menghalangi Brian agar tidak mendekati Lucanne.
"Kenapa kau selalu membela si cupu ini."
"Itu bukan urusanmu."
"Hei! bisakah kau jangan seperti tiang lampu yang menghalangi jalan orang lain." Kesal Katharine melihat Brian yang menghalangi jalan mereka.
"Aku tidak bertanya padamu, jadi bisakah kau diam."
"Ha? aku diam, jangan bercanda."
__ADS_1
"Menyingkir." Anna menolak Brian menjauh dari hadapannya. Sambil memegang tangan Lucanne dan Katharine menjauh dari Brian.
"Anna aku mencintaimu!" teriak Brian pada Anna yang berjalan pergi meninggalkanmu dirinya.
"Tapi aku tidak mencintaimu," jawab Anna tanpa menoleh ke arah Brian.
"Eh' lo mikir dikit lah kalau mau nolak perasaan orang." Timpal Angel.
"Kalau lo suka sama dia ya lo ambil aja, kok ribet banget sih." Ketus Katharine menatap sinis ke arah Angel.
Seluruh murid yang berada di dalam Aula, yang telah di pilih untuk berperan di pentas drama hanya bisa terdiam dan tidak mengatakan sepatah kata apapun.
Hingga ada salah satu siswa yang mengajak Anna berbicara. "Eh' Anna, ada apa ini?" tanya Felix yang baru saja datang ke Aula.
"Gak apa-apa kok Felix," jawab Anna.
"Ketua OSIS kau baru datang, dari tadi ada keributan kau kemana saja." Cibir Katharine melihat Felix yang baru saja datang.
"Aku sedang menyiapkan kertas dialog untuk kalian." Ucap Felix mengerutkan alisnya sambil menatap dingin para siswa/i yang mengikuti pentas drama.
"Felix Costa sekaligus Ketua OSIS kami, jangan percaya dengan omongan gadis rubah ini." Lirik Brian pada Katharine.
"Cukup Brian. Aku percaya dengan apa yang aku lihat dan ku dengar, terkadang mulutmu itu suka bertolak belakang. Anna sudah empat tahun tidak berbicara denganmu dan terlebih lagi, sepertinya kau mempunyai teman baru." Ucap Felix.
"Tidak hanya Katharine dan Simon, melainkan ini … ee' Lucanne kah?" tanya Felix melihat Lucanne.
"Iya, aku adalah Lucanne," jawab Lucanne.
"Jangan mencampuri urusanku, aku tidak ingin ribut denganmu Felix." Tekan Anna menatap tajam Felix.
"Hahaha' maafkan aku, tetapi melihat tanganmu yang memegang tangan mereka berdua aku merasa mataku ternoda melihatnya."
"Kalau memang matamu merasa ternoda, maka tutup saja matamu. Atau jika perlu aku yang akan mencabut matamu dari wajahmu itu." Tegas Katharine merasa kesal dengan ucapan Felix.
"Ee' … A'Anna, lepaskan saja tanganku," ucap Lucanne sembari mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Anna.
"Tidak." Kekeh Anna menguatkan genggaman tangannya pada Lucanne dan Katharine.
__ADS_1
Tiba-tiba Simon datang ke Aula untuk melihat latihan Katharine, Anna dan Lucanne.
Simon berjalan ke arah Felix dan memegang salah satu pundaknya. "Apa ini ketua OSIS? di Aula ini hanya terdengar keributan karena masalah sepele. Bisakah kalian latihan saja tanpa ada perdebatan, aku ingin melihat orang berharga bagi hidupku latihan." jelas Simon.