Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
B.D.S.B 11


__ADS_3

"Lepaskan tanganmu dari pundak ku," ucap Felix dingin tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Katharine.


"Alihkan dulu matamu itu dari Katharine." Kata Simon berbisik pada Felix.


"Kau!" kesal Felix dan menoleh melihat Simon.


Ketika Felix ingin berbicara, tiba-tiba saja Bella datang. "Ada apa ini, kenapa masih belum latihan. Dan Simon untuk apa kau datang kemari."


Simon lalu melepaskan tangannya dari pundak Felix. "Ah' aku kemari karena aku ingin melihat latihannya."


"Oh' ternyata begitu. Lalu Felix, kenapa kau masih belum memberikan kertas dialog itu pada mereka?" tanya Bella melihat Felix yang masih memegang kertas dialog.


"Ah' maafkan aku, aku lupa karena keasikan mengobrol dengan Anna," jawab Felix beralasan.


"Kau sengaja melibatkan aku dalam masalahmu Felix, heh' murahan sekali trik mu." Batin Anna melihat Felix dengan tatapan sinis nya.


"Apakah itu benar Anna?" tanya Bella pada Anna.


"Entahlah aku tidak tau, kenapa kau tidak menanyakan pada saksi mata yang berada disini,"ujar Anna.


Seluruh murid yang berada di Aula tidak berani mengatakan yang sebenarnya kecuali Angel, Brian, Katharine, Simon dan Lucanne.


"Angel, Brian katakan apa yang terjadi."


"Anna, ketika Felix baru saja sampai ia lalu menggoda Felix untuk mengobrol dengannya. Hingga membuat Felix terbawa oleh arus pembicaraan nya." Jelas Angel.


"Apa yang kau katakan Angel, bukan seperti itu kejadiannya. Sebenarnya yang membuat semua masalah ini adalah Lucanne, dia membuat keributan hingga membuat Anna dalam kesulitan." Timpal Brian yang menyalahkan penjelasan Angel.


"Aku tidak bisa mempercayai apa yang kalian katakan. Satu menyalahkan Anna dan satunya lagi menyalahkan Lucanne, kata-kata kalian berdua tidak bisa dipercaya. Baiklah Lucanne, sebagai pembelaan dirimu karena sudah disalahkan, kau ingin mengatakan apa?"


"Aku … akulah yang membuat Anna dalam masalah ini," ucap Lucanne sembari menundukkan kepalanya.


"Haih … tidak ada bentuk pembelaan."


"Aku akan mengatakan yang sebenarnya." Timpal Katharine dengan nada suaranya yang meninggi.


Katharine pun mulai menceritakan yang sebenar-benarnya kepada Bella, hingga Bella paham. Dan Simon yang ikut mengiyakan perkataan Katharine, karena kurang percaya Bella lalu menanyakan pada seluruh murid yang berada di Aula.


"Apakah benar yang di katakan oleh Katharine tadi? kalian bisa menjawab iya tanpa harus ada rasa takut sedikitpun dalam menjawabnya."

__ADS_1


Mereka semua menganggukkan kepalanya dan mengatakan. "Iya."


"Felix sepertinya kau tidak perlu mengawasi mereka, biar aku saja yang mengawasi mereka." Tegas Bella.


"Lalu tugasku apa?" tanyanya.


"Kau cek setiap kelas yang sudah mulai menghias kelas mereka." Jelas Bella.


Felix pergi dari Aula dan melakukan apa yang dikatakan oleh Bella. Sedangkan Bella meminta maaf pada siswa/i yang berada di Aula atas kejadian yang baru saja terjadi.


Setelah meminta maaf Bella memberikan kertas dialog yang dimintanya pada Felix kepada siswa/i yang mengikuti pentas drama.


Bella pun meminta mereka menghapal satu persatu dialog mereka masing-masing sebelum latihan dimulai.


Saat merasa bahwa mereka sudah bisa mengingat semua dialog mereka masing-masing, akhirnya latihan pentas drama Putri Tidur dimulai.


Ketika memasuki awal cerita semuanya baik-baik saja, hingga memasuki akur cerita di mana sang Peri Jahat mengutuk sang Putri.


"Hahaha' … kenapa aku tidak diundang." Tawa jahat Katharine yang memerankan Peri Jahat terdengar di Aula.


"M'Maafkan kami, kami lupa untuk mengundang mu," jawab Lucanne sebagai Raja.


"Dengan perasaan takut dan khawatir sang Ratu membawa Putri untuk menjauh dari sang Peri Jahat." ucap Bella sebagai MC.


"Hahaha' … sang Putri tepat di usiamu yang ke delapan belas tahun kau akan mati tertusuk oleh jarum." Tawa jahat Katharine menggema dan ia pun mengutuk sang Putri.


"Setelah mengatakan hal itu sang Peri Jahat lalu pergi meninggalkan istana disertai tawa jahatnya."


"Karna takut dengan kutukan sang Peri Jahat akan terjadi pada Putri mereka. Sang Ratu lalu menangis dalam pelukan sang Raja.


"Hiks … hiks … hiks … kanda bagaimana-" tangis Angel terisak sebagai seorang Ratu.


Anna yang tidak tahan melihat Angel berada dalam pelukan Lucanne lantas berteriak. "Stop!"


"Ada apa Anna, apakah ada yang salah?" tanya Bella pada Anna yang tiba-tiba meminta untuk menghentikan latihan.


"Ee' tidak, hanya saja sepertinya Lucanne merasa kelelahan," ujar Anna.


"Benarkah Lucanne, apakah kau merasa kelelahan? jika benar kita bisa beristirahat sebentar."

__ADS_1


"E' tidak, tapi kurasa itu boleh juga," jawab Lucanne.


"Baiklah, kalau begitu kita istirahat sebentar," ucap Bella memutuskan untuk beristirahat sebentar pada para siswa/i yang mengikuti pentas drama.


Lucanne berjalan ke arah Anna yang ingin memberikannya sebotol air minum, begitu pula dengan Katharine yang juga berlari ke arah Anna untuk menanyakan tentang sikap Anna yang menghentikan latihan.


"Anna kenapa kau mengatakan untuk berhenti, apakah terjadi sesuatu?" tanya Katharine pada Anna.


"E' ti'tidak." Jawab Anna gugup.


"Heh' kenapa kau terlalu banyak berkomentar, mungkin saja Anna melihat Lucanne benar-benar letih saat itu." Timpal Simon.


"Emm' kurasa tidak begitu, kalau kulihat sepertinya Anna ini …"


Tanpa membiarkan Katharine selesai berbicara, Simon menepuk pundaknya. "Sudahlah Katharine jangan terlalu banyak berpikir fokus pada dialog mu."


"Baiklah semuanya, karena ingin mempersingkat waktu dan tentunya kalian juga ingin membantu menghias kelas kalian masing-masing. Maka mari kita coba latihan dramanya sekali lagi." Jelas Bella pada semua siswa/i di Aula.


"Eh' ayo, kita harus segera latihan lagi," ucap Lucanne usai mendengar pemberitahuan dari Bella.


"Lucanne, Katharine, jika kalian tidak baik-baik saja katakan padaku," ujar Anna dengan senyum tipis diwajahnya.


"Hmm' iya."


"Tenang saja, aku bukan lah wanita yang lemah." Tukas Katharine.


Lucanne dan Katharine bersiap-siap mengambil posisi adegan.


"Karena kita ingin mempersingkat waktu, maka dramanya di mulai saat Angel menangis diperlukan Lucanne. Kalian mengerti!" tegas Anna.


Mereka masing-masing mengangguk paham. Setelah itu mereka semua mengambil tempat masing-masing.


Sedangkan Anna dan Simon yang berada di ujung Aula mengetahui kalau dramanya dimulai dari sang Ratu yang menangis di pelukan Raja.


"Seharusnya kau yang menjadi pemeran Ratu nya jika kau merasa risih melihat Angel dekat dengannya," ucap Simon melihat ke arah pentas drama.


"Apa yang kau tau, kau tidak tau apa-apa jadi bisakah kau diam Simon," ujar Anna yang ikut melihat ke arah pentas drama.


"Aku memang tidak tau apa-apa tapi kegelisahan mu itu sudah menjelaskan semuanya. Kenapa kau tidak jujur saja kalau kau tidak suka jika Lucanne di dekati oleh wanita lain, selain dirimu."

__ADS_1


Mendengar perkataan Simon yang seperti itu, Anna hanya bisa tertegun dan tidak mengatakan sepatah kata apapun.


__ADS_2