Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
[B.D.S.B 2] 4


__ADS_3

"Aku tidak tau apa yang kau pikirkan, tapi Anna ini sepertinya sangat membuatmu tertarik. Baiklah aku akan mencari tau nya untukmu, kau tunggu saja." Jelas Zohan.


****************


Keesokan harinya Anna sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus dengan menaiki bus, ternyata tanpa dia ketahui di luar gerbang terlihat ada sebuah mobil yang sedang menunggu sesuatu.


Anna menghampiri mobil tersebut. Ketika Anna menghampiri mobil itu, seseorang keluar dari dalam mobil.


Sambil tersenyum orang itu menyapa Anna. "Anna selamat pagi." Sapa Feyrin.


Melihat senyuman Feyrin Anna hanya terdiam dan tidak membalas sapaan dari Feyrin.


"Anna kenapa kau diam?"


Feyrin terus mengoceh memanggil Anna, tetapi tetap sama Anna hanya mendiamkannya.


"Apa ini, apakah yang dikatakan kak Miguel itu adalah kebohongan. Lalu kenapa pagi ini Feyrin tersenyum padaku tanpa ada beban sama sekali." Batin Anna terkejut melihat senyuman Feyrin.


Feyrin pun menepuk pundak Anna hingga membuat Anna tersadar dari lamunannya.


"A'Aa … iya selamat pagi." Reflek nya.


"Anna aku memanggilmu dari tadi, apa yang kau lamun kan." Kesal Feyrin karena terus didiamkan oleh Anna.


"Tidak, tidak ada."


"Kalau begitu ayo naik ke mobilku, supir pribadiku akan mengantar kita ke kampus."


"Tapi …"


"Sudahlah ayo!" Ajak Feyrin sembari memegang tangan Anna dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Mobil pun bergerak menuju ke kampus.


Di perjalanan Anna bertanya pada Feyrin tentang dirinya. "Feyrin apa jurusan mu?"


"Aku jurusan seni."


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"


"Tentu, kau ingin menanyakan apa Anna?"


"Bukankah ibumu sudah meninggal."


"Yaa …"


"Kakak ku mengatakan kalau kau tak pernah tersenyum semenjak kematian ibumu."


Feyrin hanya menutup rapat mulutnya dan tidak berkata apapun pada Anna.

__ADS_1


Anna meraih tangan Feyrin laku menggengam nya. "Feyrin lihat aku."


Feyrin menatap Anna. "Feyrin … yang mati tidak bisa hidup kembali, maka jangan membebankan dirimu akan hal itu. Sama seperti masa lalu, yang lalu biarlah berlalu, bukan untuk melupakan melainkan jadi pengajaran untuk ke depan." Jelas Anna.


"Tapi kau tak pernah merasakan bagaimana rasanya di posisiku Anna …" Lirih Feyrin.


"Benar, tapi aku merasakan kesakitan yang kau rasakan. Kehilangan orang yang kau cintai dan kau sayangi itu sangatlah sakit, tapi aku tau itu tidak berguna sama sekali."


"Aku pernah sepertimu, tetapi akhirnya aku disadarkan oleh orang yang selalu berada di sampingku. Mereka mengingatkan ku tentang janji yang ku lupakan."


"Janji?" tanya Feyrin bingung.


"Ya janji. Hanya karena sebuah janji aku tersadar dari rasa terpuruk ku. Dari situ aku tau, jika aku tidak mewarnai hidupku maka hidupku akan gelap selama-lamanya."


"Lalu bagaimana denganku? apakah aku juga sama sepertimu?"


"Tidak, aku kehilangan orang yang ku cintai bukan kehilangan orang tuaku tetapi kesakitan yang kurasakan sama sepertimu."


"Jadi, bagaimana cara aku mengubahnya."


"Kau masih mempunyai ayah, juga mempunyai kakak. Bukankah mereka selama ini ingin mengubah mu, tetapi kau yang selalu mengelak. Maka tunjukan pada mereka bahwa kau sudah berubah."


Mendengar nasehat dari Anna membuat air mata Feyrin tidak bisa dibendung lagi olehnya, ia memeluk Anna sambil menangis tersedu-sedu.


"Hiks … hiks … hiks … terimakasih Anna. Berkatmu aku sadar, aku telah mengabaikan semua orang termasuk keluargaku sendiri. Ketika aku pertama kali melihatmu, aku melihat ada sesuatu yang indah di dalam dirimu karena itulah aku ingin dekat denganmu."


"Hmm' …" Feyrin mengangguk sembari mengurai pelukannya pada Anna.


Saat sampai di kampus Feyrin telah menghapus air matanya, hingga ia terlihat baik-baik saja.


Di depan gerbang kampus terlihat Lean dan Silva yang sedang menunggu kedatangan Feyrin.


Ketika mobil Feyrin berhenti di depan gerbang kampus, Feyrin dan Anna turun dari mobil.


Melihat Anna yang keluar bersama Feyrin dari mobil, sontak membuat Lean dan Silva terkejut.


Feyrin menggenggam tangan Anna lalu menariknya untuk menyapa Lean dan Silva.


"Lean, Silva selamat pagi." Sapa Feyrin disertai senyuman.


"Ha! aku tak pernah melihatmu seperti ini lagi Feyrin, apa yang sudah wanita itu lakukan padamu, hingga kau menjadi seperti ini." Batin Lean bingung dan terkejut melihat wajah Feyrin yang berseri-seri.


"Feyrin, kenapa kau bersamanya. Bukankah kau tau kalau dia sudah memukul Kakak ku." Kesal Silva melihat Anna bersama Feyrin.


"Lagipula itu kesalahan yang tidak di sengaja." Ketus Anna.


"Kau!"


Tiba-tiba Evri temannya Silva datang. "Eh' Silva, selamat pagi." Sapanya.

__ADS_1


"Udahlah Evri ayo kita pergi saja, ada wanita rendahan disini bikin gue gerah."


"Yaudah yuk, sesuai keinginanmu."


Evri dan Silva pergi ke ruangan mereka meninggalkan Lean, Feyrin dan Anna.


"Anna, jangan terlalu diambil hati, Silva memang begitu," ucap Feyrin.


"Iya tidak apa-apa, hanya saja aku sedikit tersinggung dengan perkataannya."


"Hei! apa yang sudah kau lakukan pada Feyrin?" tanya Lean pada Anna.


"Apa maksudmu Lean." Feyrin melihat Lean.


"Kau pasti sudah dicuci otak dengannya bukan!"


Dengan cepat Anna langsung mencengkram mulutnya Lean. "Untuk apa aku mencuci otaknya Feyrin, lebih baik aku mencuci otak mu yang kotor itu."


Feyrin menatap dingin ke arah Lean. "Lean, jika kau tidak mengenali orang, maka jangan asal berbicara. Jika kau berbicara seperti itu lagi, aku akan membantu Anna merobek mulutmu itu."


Anna melepaskan cengkraman nya dari mulut Lean, dan pergi bersama Feyrin.


Ketika sampai di ruangan Anna. "Anna, apakah kau ingin pulang bersama ku nanti?" tawar Feyrin pada Anna.


"Ya tentu." Angguk Anna pelan.


"Benarkah!" Feyrin tersenyum senang.


"Iya." Balas Anna dengan senyuman.


"Kalau begitu aku akan pergi ke ruangan ku."


"Tentu, silahkan."


Feyrin pergi meninggalkan Anna yang masuk ke dalam ruangannya dan duduk di tempat duduknya.


Silva dan Evri mendatanginya sambil memukul meja Anna. "Hei! lo sebaiknya jauh-jauh dari kakak gue dan Feyrin, lo itu gak setara sama kita!" Tegas Silva.


"Iya nih, masa ada orang ke kampus kayak gini." Timpal Evri.


Anna hanya membiarkan mereka yang berbicara seenak jidat mereka di depan Anna.


Karena merasa diacuhkan oleh Anna, Silva tidak tinggal diam. Ia lalu mengambil gunting yang ada di dalam tasnya. Ia berniat ingin memotong rambutnya Anna yang tidak diikat dan tertata rapi.


"Eh' rambut lo ini terlalu panjang, sini biar gue bantu pendekin," ucapnya sembari memegang gunting hendak memotong rambut Anna.


Ketika Silva ingin memotong rambut Anna, Anna langsung berdiri dan menggenggam kuat tangan Silva lalu mengambil gunting dari tangannya.


"Apa gak mu memotong rambut ku," ujar Anna dengan tatapan dinginnya menatap Silva yang meringis kesakitan karena tangannya di cengkram sangat kuat oleh Anna.

__ADS_1


__ADS_2