
"Hahaha' Anna kau pasti kesusahan menghadapi mereka berdua kan." Lucanne tertawa dan bertanya pada Anna.
"Haih … kau pasti selalu melihatnya bukan. Eh' tapi tunggu sebentar, aku baru kali ini melihat mu tertawa lepas Lucanne," Ucap Anna menyadari kalau ia tidak pernah melihat Lucanne tertawa.
"Emm' itu karena aku sudah mulai terbiasa dengan kalian bertiga."
"Baguslah kalau begitu."
****************
Beralih ke Kepala Sekolah yang sedang mengacak-acak kotak yang berisi kertas nama, akhirnya Kepala Sekolah mendapatkan satu kertas di tangannya.
"Baiklah, ini adalah pemeran terakhir yaitu pemeran Peri Jahat. Yang mendapatkan peran ini adalah …"
"Heh' aku … itu adalah aku." Katharine tersenyum licik melihat kearah Kepala Sekolah yang ingin mengumumkan pemeran Peri Jahat.
"Bisakah kau berhenti berharap." Cibir Simon.
"Bukan urusanmu."
"Yang mendapatkan peran ini adalah Katharine." Kata Kepala Sekolah.
"Hahaha … heh' sudah ku katakan kalau akulah yang akan mendapatkan peran itu," ucap Katharine yang tertawa puas sembari melirik ke arah Angel.
"Ha! tidak kusangka ternyata dia mendapatkan peran itu. Bagaimana bisa." Batin Simon terkejut seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengar nya.
"Hore! selamat ya Katharine firasat mu benar. Semangat Katharine, kita bisa berlatih bersama-sama di rumahku nanti," ujar Anna memberi selamat sekaligus semangat pada Katharine.
"Ya tentu saja, aku juga tidak sabar memerankan peran ini." Katharine tersenyum licik dengan lirikan matanya melihat Angel.
"Cih! dua ekor kupu-kupu ini ingin berubah menjadi kelelawar untuk menghisap darah ku. Aku tidak akan membiarkan itu, lihat saja nanti ketika kita sudah naik ke atas panggung." Batin Angel tersenyum licik.
Setelah pengumuman berakhir seluruh murid dipersilahkan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing termasuk dengan Anna, Katharine, Simon dan Lucanne.
Sesampainya mereka di dalam kelas Anna menanyakan sesuatu kepada Simon.
"Simon, pentas drama akan dibuka dua minggu lagi, maka dalam waktu dua minggu ini kita memiliki waktu jam kosong full di semua pelajaran." Jelas Anna pada Simon.
"Emm' kalau saranku, sebaiknya kita menghias kelas kita. Lebih cepat lebih bagus." Timpal Lucanne.
"Kurasa juga begitu. Aku setuju dengan ide Lucanne, lagi pula kita tidak tau kapan kita akan memiliki waktu luang, sedangkan beberapa orang diantara kita sudah di pilih untuk ikut drama. Termasuk juga denganmu Anna." Tukas Simon.
"Kalau begitu baiklah. Siapa yang akan membawa peralatannya?membawa kuas, membawa cat dinding dan seluruh pakaian yang ingin kita kenakan untuk Cafe kita nanti. Apakah kita akan membagi-bagi nya?" tanya Katharine.
"Aku ketua kelas, jadi aku yang akan mengatur. Silahkan kalian semua duduk," ujar Simon dengan ekspresi serius.
__ADS_1
Simon lalu mengambil buku dan pulpen. "Baiklah, aku berdiri disini untuk meminta pendapat kalian semua. Kalian sudah mendengar kami bernegosiasi tadi?"
Semua murid yang berada di kelas itu menjawab serentak
"Iya!"
"Kalau begitu aku ingin bertanya kepada kalian tentang masalah pakaian yang akan kita kenakan nanti sewaktu acara Festival Budaya," ucap Simon memulai diskusi.
Anna mengangkat tangannya.
"Ya Anna?"
"Hufh … aku akan mengurus pakaian yang dari ujung kaki sampai rambut kalian. Termasuk dengan ekor kucing, riasan rambut beserta sarung tangan kucing." Jelas Anna.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, apakah sepatu nya juga?" tanya Simon.
"Ya. Aku besok akan mengukur badan kalian serta harus tau ukuran sepatu kalian.
"Apakah ada lagi?"
Katharine mengangkat tangannya.
"Ya Katharine ada apa? apakah kau ok ngin menambahkan lagi?"
"Hanya itu saja?"
"Ya."
"Jadi sudah diputuskan yang lainnya kecuali aku, Anna dan Katharine tidak akan membawa palu atau apapun, melainkan itu kalian yang harus membawanya. Sedangkan aku akan membawa peralatan untuk Cafe, bagaimana kalian setuju?" tanya Simon.
Semua murid yang berada di dalam kelas setuju dengan penyampaian Simon. "Setuju!"
Diskusi mereka pun akhirnya berakhir dengan baik dan lancar.
Di hari itu sama sekali tidak ada satupun Guru yang datang ke kelas mereka, karena mulai hari itu seluruh kelas mendapatkan jam kosong selama dua minggu.
"Selama dua minggu kita juga gak akan ada tugas, jadi kita mau ngapain?" tanya Katharine.
"Eh' gimana kau ke rumahku? kita di sana juga bisa belajar drama sama-sama setelah selesai membereskan kelas." Ajak Anna pada Katharine, Simon dan Lucanne.
"Ya aku setuju." Angguk Simon.
"Lucanne bagaimana denganmu? apakah kau ingin ikut?" tanya Katharine pada Lucanne.
"A'Aku." jawab Lucanne gugup.
__ADS_1
"Kau tidak bisa?" tanya Anna dengan raut wajah yang sedikit murung.
"Tidak, bukan begitu."
"Lalu apa? atau kau punya kesibukan di rumah."
"Aku harus mengurus itu dulu, aku harus menyelesaikan nya dalam waktu tiga hari. Aku hanya bisa menyingkat waktunya selama tiga hari, dari seminggu sampai ke tiga hari. Aku pasti bisa." Batin Lucanne yang percaya diri.
Entah apa yang ingin di kerjakan Lucanne sehingga ia butuh waktu tiga hati untuk menyelesaikan nya.
"Emm' begini Anna, aku tidak bisa datang selama tiga hari. Tapi ketika di sekolah aku datang, tetapi kalau ke rumah mu aku tidak bisa datang. Mungkin itu hanya dalam waktu tiga hati saja tapi untuk seterusnya aku akan selalu datang, sampai pentas drama di mulai." Jelas Lucanne.
"Kenapa? kau punya masalah di rumah mu, katakan saja aku bisa membantu."
"Emm' ini hanya masalah kecil, masalah pribadi."
"Oh' begitu ya. Tapi jika terjadi sesuatu katakan saja padaku, aku akan membantumu." Kata Anna dengan raut muka sedih bercampur khawatir melihat Lucanne.
"Iya tenang saja. Aku selalu memberitahumu tentang keadaan ku," ucap Lucanne dengan lemah lembut dan tersenyum sembari menatap Anna dengan kasih sayang.
****************
Jam pulang sekolah pun tiba. Anna, Katharine, Simon dan Lucanne pulang, seperti biasa Anna dijemput oleh kakaknya.
Sesampainya Anna di rumah, ia kelihatan lesu. Melihat tingkah Bibinya yang tidak bersemangat Dave lalu bertanya kepada Ayahnya.
"Ayah ada apa dengan Bibi? kenapa Bibi kelihatan lesu, apakah Bibi sakit?" tanya Dave sembari menunjuk Anna yang berjalan naik ke kamar nya.
"Ayah juga tidak tau. Emm' apa Ayah suruh saja Ibumu untuk berbicara pada Bibi mu." Jawab Miguel dan meminta saran pada Dave.
"Kurasa itu bagus."
Miguel lalu berjalan ke arah Ael yang masih bingung melihat Anna yang sedang naik menuju kamarnya.
"Ael bisakah kah kau berbicara pada Anna. Tanyakan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya." Pinta Miguel pada Ael.
"Hmm' baiklah. Aku baru saja ingin menanyakan itu pada dirinya," ucap Ael yang merasa khawatir pada Anna.
Ael pun pergi menuju kamarnya Anna.
Ketika ia sampai di kamarnya Anna, ia langsung mengetuk pintu.
Tok … tok … tok …
"Anna apakah ku baik-baik saja, ada apa denganmu? apakah terjadi sesuatu, katakan yang sebenarnya?" tanya Ael yang khawatir pada Anna dari luar kamarnya Anna.
__ADS_1