Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
B.D.S.B 21


__ADS_3

"Lucanne kau tadi sangat hebat," ujar Anna pada Lucanne.


"Hei Lucanne, aku sampai tidak mengenalimu, ternyata kau sangat tampan ya," ucap Simon menatap Lucanne dari bawah hingga atas.


"Eh' Simon, kurasa kau benar. Jika kacamata dan bintik-bintik di wajahmu itu tidak ada maka kau menjadi orang yang sangat tampan." Timpal Katharine sembari mengajungi jempol pada Lucanne.


"Ee' … kurasa tidak juga." Jawab Lucanne tersenyum kaku.


Bella selalu panitia dan juga orang yang bertanggung jawab atas pentas drama, berjalan menuju arah belakang panggung untuk menemui pemeran lainnya.


"Hahh … terima kasih, berkat kalian semuanya berjalan dengan lancar dan juga Lucanne aku sangat berterima kasih padamu, jika bukan karena kau aku tidak tau tentang pentas drama ini," ucap Bella yang sangat berterima kasih pada Lucanne.


"Ya sama sama Bella." Lucanne mengangguk.


"Ya apalah nasib ku ini yang tidak diakui sebagai seorang raja." Sambung Simon.


"Terimakasih juga ya Simon, kau sudah menggantikan Lucanne." Bella tersenyum.


"Ya tentu."


"Oh' ya Lucanne, ketika kau naik sebagai seorang Pangeran, aku sampai tidak mengenalimu. Tapi akhirnya aku tersadar berkat kacamata mu, dan aku mengerti kenapa A-"


Anna dengan cepat menutup mulut Bella sebelum ia selesai berbicara.


"A' apa?tanya Katharine menyeringai.


"Hei Anna kenapa kau menutup mulutnya Bella, apa yang salah?" Timpal Simon tersenyum curiga menatap Anna.


"Hahaha' … tidak apa-apa," ujar Anna tertawa canggung.


"Jangan beritahu siapapun, cukup kau saja yang tau." Bisik Anna pada Bella.


Anna pun melepaskan tangannya dari mulut Bella.


"Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi Bella?" tanya Katharine lagi.


"Ee' tidak, aku hanya ingin mengatakan kenapa Anna sangat percaya pada Lucanne." Jawab Bella.


"Oh' ternyata begitu."


"Ya, kalau begitu silahkan kembali ke kelas kalian masing-masing. Karena Festival Budaya sudah dimulai."


Anna, Katharine, Lucanne dan Simon kembali ke kelas mereka untuk mengambil pakaian yang Anna bawa untuk Cafe mereka.


Setelah mengambilnya, mereka lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Seusai mengganti pakaian, mereka pun akhirnya membuka Cafe mereka.


Disaat Cafe tersebut dibuka, ternyata ramai sekali pengunjung yang datang untuk melihat dan mencicipi makanan di Cafe mereka. Termasuk Miguel, Ael dan Dave juga ikut makan di sana.


"Pakaian bibi lucu seperti kucing," ucap Dave melihat pakaian yang dikenakan Anna.

__ADS_1


"Tentu saja, itu semua ide dari bibimu." Jawab Ael.


Kemudian Lucanne datang di meja tempat Miguel, Ael dan Dave duduk. Lalu menanyakan apa yang ingin mereka pesan.


"Apa yang ingin anda pesan?" tanya Lucanne sambil membawa bili catatan pemesanan.


"Ternyata kau Lucanne," ucap Miguel menatap Lucanne.


"Iya Kak Miguel."


"Tidak kusangka kau bisa menghafal seluruh dialog ya, bahkan kau bisa menggantikan Pangeran nya. Dan penampilan mu juga berbeda, tetap lah seperti ini."


"Emm' kurasa tidak bisa, ini bukan diriku."


"Baiklah, aku juga tidak memaksa. Jadilah dirimu sendiri."


"Nanti, belum waktunya. Aku masih ingin menjadi seperti ini."


"Apa maksudnya." Batin Miguel.


"Jadi mau pesan apa?"


"Emm' Ice Cappucino tiga." Kata Ael.


"Baik, mohon tunggu sebentar."


Lucanne lalu pergi meninggalkan meja Miguel, Ael dan Dave, untuk mengambilkan pesanan mereka.


"Ini pesanan yang anda minta," ucapnya sembari meletakkan makanan tersebut di atas meja.


"Wah … ada cemilan kucingnya." Timpal Dave melihat kue berbentuk kucing.


"Tapi kami tidak memesan cemilan." Sambung Miguel.


"Oh' ini dari Anna."


Miguel lalu melihat ke arah Anna yang melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Oh' ternyata begitu."


"Kalau begitu saya permisi, jika anda membutuhkan sesuatu katakan saja." Lucanne pun pergi meninggalkan Miguel, Ael dan juga Dave.


Miguel, Ael dan Dave mulai menikmati makanan dan minuman mereka. Saat mereka sudah selesai menikmati makanannya, mereka berpamitan kepada Anna untuk pulang.


Anna mengizinkan mereka pulang.


Para pengunjung terus datang bergantian, sampai sore hari tiba Festival Budaya berakhir. Mereka mulai membersihkan kelas, meletakkan bangku dan meja ke tempatnya masing-masing juga mengecat dinding kelas ke warna semula.


Sampai malam hari tiba, para anggota OSIS dan beberapa murid yang tersisa berkumpul di tengah lapangan menyalakan api unggun untuk merayakan suksesnya Festival Budaya mereka.


Di tengah perkumpulan-perkumpulan itu Anna dan Lucanne diminta untuk menyalakan kembang api.

__ADS_1


Kembang api pun dinyalakan, semua orang menatap langit yang dipenuhi kemerlap-kemerlip kembang api berwarna-warni.


"Bukankah sangat indah Lucanne melihat kembang api bersama orang yang kita cintai?" tanya Anna pada Lucanne dengan matanya masih menatap ke arah langit.


"Ya, suatu hari aku akan menggandeng tangan seseorang untuk melihat petasan di hari pernikahan ku nanti." Jawab Lucanne sambil menatap langit.


"Ohh' ternyata dia juga mempunyai orang yang dia sukai, tapi apakah itu aku atau orang lain." Batin Anna menatap Lucanne yang masih fokus melihat kembang api.


****************


Beralih ke Katharine dan Simon.


"Hei Katharine, apakah kau menyukai seseorang?" tanya Simon pada Katharine.


"Kenapa kau menanyakannya, biasanya juga kau tidak perduli." Jawab Katharine.


"Oh' tentu saja tidak ada orang yang menyukaimu, kau saja orang yang sangat kasar. Ya walaupun ku akui lebih kasar Anna karena dia bisa berkelahi dan kau tidak."


"Terus kenapa? apakah itu mengganggu mu?"


"Tidak, hanya saja ada seseorang yang bertahan dengan sikapmu ini, dan sepertinya dia menyukaimu."


"Siapa? siapa?"


"Kau tidak perlu tau."


"Cih! dasar pelit."


"Tentu saja itu aku, dasar bodoh." Batin Simon.


"Tentu saja yang bertahan dengan diriku ini adalah dirimu, kenapa kau tidak mengatakannya saja." Batin Katharine melirik Simon di sampingnya.


Setelah kembang api selesai, mereka kembali berkumpul di tengah lapangan.


Para anggota OSIS memberitahukan kepada mereka bahwa mereka diberikan libur selama satu minggu.


Seusai acara mereka semua kembali ke rumah masing-masing.


Seperti biasa Anna diantar oleh Lucanne pulang ke rumah dengan mengendarai sepeda.


****************


Satu minggu pun berlalu dengan cepatnya, tidak ada yang berubah sedikitpun kecuali kedekatan Anna dan Lucanne yang semakin bertambah dekat.


Brian dan Felix yang melihat kedekatan Anna dengan Lucanne tidak bisa berbuat apa-apa, karena Anna selalu mengancam mereka.


Dan juga ketika mereka ingin menghancurkan hubungan Anna dan Lucanne, perusahaan mereka selalu mengalami masalah.


Hingga ujian kelulusan tiba Anna dan Lucanne yang sudah keluar dari kelas seperti biasa pulang menaiki sepeda, tetapi di hari itu Anna mengatakan kepada Lucanne untuk berjalan kaki saja sambil mendorong sepedanya.


Di pertengahan jalan mereka mengobrol. "Hei Lucanne, aku tidak tau bagaimana caranya menghilangkan bintik-bintik di wajahmu itu, bahkan sudah banyak produk untuk menghilangkan itu, tetapi tetap tidak bisa," ujar Anna.

__ADS_1


__ADS_2