Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
[B.D.S.B 2] 1


__ADS_3

Dua hari pun telah berlalu, penerbangan Anna dari Kota A ke Kota S akhirnya sampai dengan selamat.


Ketika sampai Anna langsung menelpon kakaknya untuk menjemputnya di bandara.


Miguel yang tadinya sedang melaksanakan rapat dengan para direktur, mendapatkan telpon dari Anna pun bergegas menjemputnya di bandara tanpa memikirkan rapat yang sedang dilaksanakannya.


Sesampainya di bandara, Miguel mulai mencari dimana keberadaan Anna.


"Dimana Anna, aku tidak melihatnya. Dia berkata malah dua ada disekitar sini, tapi dimana." Batin Miguel sambil melihat kesana kemari mencari sosok Anna.


Ketika Miguel berfokus untuk mencari Anna, tiba-tiba saja ada orang yang mendatanginya dengan perawakan aneh.


Orang itu memakai topi hitam, masker hitam, switer hitam, rok hitam dan juga sepatu hitam sambil membawa sebuah tas.


"Kak." Sapanya.


"Kau siapa?" tanya Miguel.


"Ini Anna."


"Anna? kenapa kau berpenampilan aneh seperti ini?"


"Emm' tidak apa-apa, aku akan menjelaskannya nanti ketika sampai di rumah Kakak."


Miguel lalu membawa Anna pergi ke rumahnya, di tengah perjalanan Anna bertanya kepada Miguel. "Apakah ayah dan ibu ada menelpon?" tanyanya.


"Ya mereka menelpon ku pagi-pagi sekali," jawab Miguel sembari menyetir mobil.


"Apa yang mereka katakan?"


"Mereka kelihatan panik ketika kehilanganmu, tetapi aku tidak peduli sama sekali. Karena aku sudah mengatakan kepada mereka kalau aku tidak tau kau ada dimana, dan juga aku kesal dengan sikap mereka."


"Kenapa?"


"Mereka memaksamu menikah dengan keluarga Jeans sedangkan kau tidak menyukainya."


"Ternyata Kakak memang tau tentang ku ya."


"Tentu saja, kau itu adalah adikku. Walaupun mereka orang tua kita, mereka juga harus menanyakan apa keinginan anak-anaknya. Bukan hanya keinginan mereka saja."


"Ya itu tergantung mereka saja. Aku sudah tidak peduli," ujar Anna menatap keluar kaca mobil.


Perjalanan mereka berhenti saat sampai di rumah Miguel.


Ketika sampai Anna langsung disambut bahagia oleh Ael dan Dave.


Mereka pun masuk ke dalam rumah lalu duduk di ruang tamu.


"Anna kenapa kau memakai masker? apakah ada yang salah di wajah mu?" tanya Ael pada Anna.

__ADS_1


Anna langsung membuka maskernya. Seketika saat Anna membuka masker Ael, Miguel dan Dave terkejut melihat wajah Anna yang terdapat luka memar di pipi kirinya.


Dengan nada kesal Miguel lalu bertanya pada Anna siapa yang membuat wajahnya hingga menjadi seperti itu.


"Siapa yang melakukannya?" tanyanya.


"Kak Ael, bisakah Kakak membawa Dave pergi sebentar." Pinta Anna pada Ael untuk membawa Dave pergi dari situ.


Ael mengangguk dan pergi membawa Dave ke halaman belakang untuk bermain.


"Anna, sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Miguel.


Tanpa berbasa-basi Anna langsung menceritakan semua yang dia alami kepada Miguel.


Saat Anna bercerita, air matanya juga ikut mengalir menemaninya menjelaskan.


Anna seperti trauma pada cinta ditambah lagi tubuhnya yang lemah membuatnya tidak berdaya.


Sebagai sekarang Kakak, hati Miguel juga ikut merasakan sedih dan iba mendengar cerita dari adiknya itu.


Ia memeluk Anna yang tak hentinya menangis. "Anna, ini pertama kalinya aku melihat dirimu begitu lemah dalam pelukan Kakak mu ini. Anna … kau lemah jika berhadapan dengan persoalan cinta."


"Anna … tenanglah, Kakak mu ada di sini. Kau akan baik-baik saja," ucap Miguel menenangkan Anna.


Anna meluapkan semua kesedihannya dalam pelukan Miguel, tanpa terasa setengah jam sudah ia menangis di pelukan Miguel dan akhirnya ia menjadi tenang.


"Anna, kau baik-baik saja?"


"Ya … aku baik-baik saja." Jawab Anna dengan ekspresi datar dan tatapan kosongnya.


"Kau yakin?"


"Ya. Oh' iya Kak, bisakah kau mendaftarkan ku kuliah. Aku ingin menjadi seorang Desainer."


"Baiklah, aku akan mendaftarkan mu kuliah. Tapi sebelum itu, sebaiknya kau menjaga dirimu dulu dan istirahatlah yang cukup."


Miguel pun mengantarkan Anna ke kamarnya untuk beristirahat, setelah mengantarkan Anna ke kamarnya ia lalu pergi meninggalkan Anna sendiri agar ia bisa beristirahat tanpa keributan.


Ael yang berada di halaman belakang lalu masuk ke dalam rumah bersama dengan Dave dan berjalan menuju ke ruang tamu untuk menemui Miguel.


Setibanya Ael dan Dave di ruang tamu, Ael memperhatikanmu raut wajah Miguel yang tampak begitu cemas juga khawatir akan sesuatu.


"Miguel ada apa? kenapa kau kelihatan cemas?" tanya Ael berjalan menuju arah Miguel.


"Aku sedikit khawatir dengan Anna," jawab Miguel.


"Ada apa dengan bibi Ayah?" Timpal Dave.


"Tidak ada apa-apa yang jelas Dave, kau harus menghibur bibimu, kau mengerti."

__ADS_1


"Siap!"


****************


Keesokan harinya di pagi hari, Miguel dan Ael sangat khawatir kepada Anna yang tak kunjung keluar kamarnya, terlebih lagi ia masih belum makan sama sekali.


Miguel dan Ael terus mengetuk pintu kamarnya Anna, hingga Anna membuka pintu kamarnya.


Tetapi seperti yang dilihat oleh Miguel kemarin, tatapan mata Anna masih kosong seakan-akan dirinya telah mati.


Aek yang sudah mengetahui cerita dari Miguel, berniat menghibur Anna. "Anna, ayo sarapan pagi bersama. Dave telah menunggumu, dia berkata kalau dia ingin bermain denganmu setelah sarapan."


"Ohh' … begitu, baiklah." Jawab Anna.


Anna berjalan melewati Miguel dan Ael. Melihat Anna seperti itu hati Ael sangat tergores.


Ketika berada di meja makan, Anna tidak berbicara sepatah kata apapun. Dia jangan berbicara ketika di ajak bicara duluan.


Seusai sarapan Anna bermain dengan Dave, tetapi ekspresi datar Anna tidak berubah sama sekali saat bermain dengan Dave.


Walaupun begitu Dave masih berusaha untuk menghibur Bibinya, walau usahanya sia-sia.


Hal seperti itu terjadi berangsur-angsur hari demi hari, hingga tepat satu bulan.


Miguel yang merasa cemas dan juga menganggap itu sudah tidak wajar, lalu membuat rencana dengan Ael dan Dave.


Tepat di sore hari, disaat Anna sedang menonton TV di ruang tamu. Sedangkan Miguel, Ael dan Dave berada tidak terlalu jauh dari ruang tamu.


"Dave, bisakah kau membantu Ayah?" tanya Miguel pada Dave sambil memegang pundak Dave.


"Tentu saja bisa, apa yang bisa Dave bantu Ayah?" tanya Dave balik dengan suara semangatnya.


"Bisakah kau menyuruh bibimu untuk pergi kuliah?"


"Miguel, kau tau bukan usaha Dave selama ini? untuk membuat Anna tersenyum saja sangat sulit." Timpal Ael.


"Eits! belum dicoba belum tau."


"Ayah yang Ibu katakan itu benar, Dave saja sudah menyerah."


"Dave ingat! kau itu adalah anaknya Ayah, kau seorang pria. Seorang pria tidak mudah menyerah."


"Miguel itu per-"


Dave langsung memotong perkataan Ael. "Oke, baiklah! Dave akan mencobanya, karena Dave adalah pria sejati!"


Setelah mengatakan hal itu dengan penuh percaya diri, Dave lalu pergi ke arah Anna yang sedang duduk melamun menatap TV.


Sedangkan Ael yang melihat tingkah anaknya seperti itu hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2