
"Apakah hari ini kita akan ke rumah Anna?" tanya Simon.
"Tentu saja iya." Katharine menjawab dengan semangat.
Beberapa menit kemudian Bella datang ke kelas 12-A dan memanggil Katharine, Anna serta Lucanne untuk latihan.
Mereka yang dipanggil datang ke Aula. Di dalam Aula semua orang membicarakan Anna dengan Lucanne. Sedangkan Brian yang tidak percaya dengan gosip yang sudah beredar, invin menanyakannya langsung pada Anna.
"Anna apakah benar yang dikatakan semua orang, kau berpacaran dengan Lucanne?" tanya Brian pada Anna.
"Ee' itu …" gugup Lucanne tidak bisa menjawab pertanyaan Brian.
"Diam, aku tidak bertanya padamu."
"Kau bertanya padaku, jika dia ingin menjawab lantas kenapa." Tegas Anna tidak suka dengan sikap Brian pada Lucanne.
"Aku bertanya padamu Anna, bukan padanya."
"Itu bukan urusanmu."
"Lo jadi cowok jangan sok deh, gak semua orang suka sama kekayaan yang lo punya. Kalau masalah kaya yang lebih kaya dari lo juga ada." Timpal Katharine berjalan sedikit menjauh dari Brian.
Tidak cukup Brian saja, Angel juga menyindir tentang gosip Anna dan Lucanne. "Heh! ternyata selera bunga sekolah rendah ya." Sindir Angel melirik sinis Anna.
"Gak apa-apa rendah, toh dia juga bukan gigolo yang dibayar." Ketus Katharine.
"Apa maksudmu! kau mengatakan kalau aku bermain dengan gigolo."
"Sebenarnya sih tidak, cuma kalau lo ngerasa ya baguslah."
"Terkutuklah kau!"
"Ha? seorang Ratu tidak bisa mengutuk, hanya Peri Jahat yang bisa mengutuk, Hahaha."
"Heh' bukan hanya dalam drama saja dia mendalami perannya, ternyata kenyataannya juga begitu." Batin Bella melihat pertengkaran antara Katharine dan Angel.
Mereka pun memulai latihannya seperti biasa. Hingga di siang hari mereka akhirnya selesai latihan.
Katharine, Anna juga Lucanne kembali ke dalam kelas. Di dalam kelas seluruh teman-temannya hanya duduk di bangku sambil bermain ponsel karena tidak mempunyai kegiatan apapun. Juga mereka sudah selesai menghias kelas mereka untuk Festival Budaya nanti.
"Kalian sudah selesai latihan?" tanya Simon melihat kedatangan Katharine, Anna dan Lucanne.
"Sudah, dan aku sudah puas menghajar si Angel itu," ucap Katharine dengan senyum puasnya telah memenangkan pertengkaran.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, apakah kau memukulnya?"
"Tentu saja tidak, aku senang menghajarnya dengan kata-kata ku."
"Heh' kau ini."
"Sudahlah jangan dibahas lagi," ujar Anna melerai pembicaraan Katharine dan Simon.
Anna, Lucanne dan Katharine pun ikut bermain ponsel bersama teman-temannya.
Sampai jam pulang sekolah tiba. Lucanne dan Anna mengambil sepeda yang terletak di parkiran, sedangkan Katharine dan Simon yang sudah dijemput mengatakan pada Anna kalau mereka akan datang ke rumah Anna lebih dulu.
Anna mengangguk mempersilahkan Katharine dan Simon untuk lebih dulu pergi ke rumahnya.
Mereka semua lalu berangkat menuju rumah Anna.
Di tengah perjalanan, Felix yang melihat Lucanne bersama Anna menaiki sepeda sambil berboncengan pun merasa kesal.
"*Anna, kenapa kau mau dengan laki-laki seperti dia, padahal aku tidak kekurangan apapun. Jika kau ingin pergi sekolah atau pulang, kau bisa mengatakannya padaku. Aku bisa mengantar dan menjemputmu dengan motorku."
"Tetapi kau malah memilih naik sepeda dengannya. Tapi tenang saja Anna, aku pasti akan melakukan segala cara untuk membuatmu bersama denganku. Tetapi sebelum itu aku harus menyingkirkan beberapa lalat dulu*." Batin Felix menyeringai licik.
****************
Anna kemudian mempersilahkan Lucanne masuk setelah ia selesai memarkirkan sepedanya.
Saat masuk Anna dan Lucanne melihat Dave, Katharine juga Simon sedang bermain-main.
"Hayo, jika Dave salah lagi Paman akan menyoret wajah Dave lagi," ucap Simon tersenyum sembari memegang sebuah spidol.
"Hehehe' ayo Dave jawab. Apakah jawabannya mau dilempar atau Dave ingin meminta bantuan seseorang untuk menjawabnya." Timpal Katharine tersenyum puas karena bisa mengerjai Dave.
"Paman Simon dan Bibi Katharine tidak adil. Kenapa giliran Dave pertanyaannya begitu susah." Kata Dave yang cemberut sambil menutup matanya dan membuang pandangannya dari Katharine dan Simon.
"Itu karena, kau adalah anaknya kak Miguel dan kak Ael. Ayahmu itu tidak bodoh, kenapa kau tidak meminta bantuan dengannya saja." Ucap Katharine tersenyum sembari menusuk-nusuk pelan pipi Dave.
"Ayahku belum pulang. Bibiku hari ini tidak diantar oleh ayahku dan dia juga akan pulang bersama temannya, jadi ayahku pulang sedikit lama." Ucapnya kesal menahan air mata agar tidak terjatuh karena dikerjai oleh Katharine dan Simon.
"Ulululu … Dave yang malang." Goda Simon.
Dave yang sudah tidak bisa menahan air matanya lagi karena dikerjai oleh Katharine dan Simon, ingin beranjak pergi dari situ.
Tetapi sebelum ia pergi dari situ, ia melihat Anna bersama Lucanne yang berjalan menuju arahnya.
__ADS_1
Sontak melihat Anna, Dave lalu berlari ke arah Anna dan memeluknya sembari menangis tanpa henti.
"Ada apa ini?" tanya Anna bingung melihat Dave yang menangis memeluknya.
"Kami hanya bermain, siapa yang kalah akan dicoret wajahnya dengan spidol ini." Jelas Katharine.
"Lalu kenapa wajah kalian tidak ada tercoret sama sekali?" tanya Lucanne melihat wajah Katharine dan Simon yang bersih tanpa ada coretan spidol sedikitpun.
"Ya itu karena kami selalu menjawab dengan benar." Timpal Simon.
"Bohong! Bibi … hiks … Paman Simon dan Bibi Katharine itu pembohong, giliran pertanyaan Dave, hiks … pertanyaannya yang susah … hiks." Tukas Dave sembari menangis.
"Simon, Katharine kalian sengaja ya," uhar Anna melihat Katharine dan Simon.
Katharine dan Simon menjawab serentak. "Hehehe' iya."
"Sudah Dave tenang, dimana ibumu?"
"Ibu ada di dapur memasak bersama paman Jack."
"Sudah Dave tenang saja, Paman akan membantumu," ucap Lucanne menyemangati Dave agar ia berhenti menangis.
"Haih … kalian bermain saja dulu, aku ingi kebelakang membantu kak Ael memasak."
"Ya." Jawab mereka semua.
Setelah mengatakan itu Anna pun pergi ke dapur membantu Ael dan paman Jack memasak di dapur. Sedangkan Dave, Anna serahkan pada Lucanne.
"Tenanglah Dave, Paman akan membantumu. Mari kita bermain lagi, apa pertanyaannya?" tanya Lucanne pada Simon dan Katharine.
"Baiklah mari kita bermain dengan serius kali ini, karena kau bukan orang yang bodoh. Maka pertanyaan selanjutnya harus dengan logika ya." Jelas Simon.
"Tentu."
"Ada kulit tidak ada rambut, ada tulang tidak ada mulut, ada cerita tidak ada mulut. Apakah jawabannya?" Simon memulai permainan.
"Ada kulit tidak ada rambut, ada tulang tidak ada otot, ada cerita tidak ada mulut, ee' …" Lucanne berpikir keras sambil terus mengulang pertanyaan yang di ajukan Simon.
"Paman Lucanne jika tidak tau sebaiknya jangan di jawab" Timpal Dave.
"Karena kalian bekerja sama berdua, maka jika kalian salah menjawab atau tidak menjawabnya sama sekali. Wajah kalian berdua akan kami coret." Jelas Katharine memberi tau peraturan permainan.
"Kami menyerah." Sambung Dave.
__ADS_1
Katharine mengambil spidol dan ingin mencoret wajah Dave.