Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
B.D.S.B 9


__ADS_3

"Tidak, tidak terjadi apa-apa padaku Kakak tidak perlu khawatir aku baik-baik saja," ujar Anna dari dalam kamar tanpa membuka pintu untuk Ael.


Tiba-tiba Miguel datang dan tidak sengaja mendengar perkataan Anna seperti itu dari dalam kamar.


"Apa yang kau katakan Anna, aku ini Kakak mu kau tidak bisa berbicara omong kosong padaku. Buka pintu ini biar aku yang berbicara padamu." Tegas Miguel pada Anna untuk membukakan pintu kamar nya.


"Tidak. Sudah aku katakan tidak terjadi apa-apa padaku, aku baik-baik saja." Tegas Anna kembali dari dalam kamar.


"Buka saja pintu ini," ucap Miguel sembari ingin membuka pintu kamar Anna yang tidak terkunci.


Anna yang berada di dalam kamar, melihat pintu kamar yang ingin dibuka Kakaknya. Sontak ia bergegas berlari menuju pintu kamar dan menahan pintu tersebut dengan tubuhnya agar tidak dibuka oleh Kakaknya.


"Anna buka pintunya!" tegas Miguel yang mendorong pintu kamar Anna.


"Tidak, aku tidak akan membiarkannya." Teriak Anna dari dalam kamar.


Miguel dan Anna terus berusaha saling membuka dan menutup pintu kamar tersebut.


"Miguel sudahlah jangan seperti ini, biarkan saja jika Anna tidak ingin membuka pintunya," ucap Ael pada Miguel yang berusaha mendorong pintu kamar Anna.


"Haih … ini tidak bisa. Aku harus membuka pintunya." Kekeh Miguel.


Mengetahui Miguel yang lengah, Anna lalu membuka pintu dan berkelahi dengan Kakaknya.


Miguel yang mengetahui ada ancaman lantas menarik Ael ke pelukannya lalu menyingkir.


"Jika kau ingin kejujuran dariku, maka kalahkan aku dulu." Tegas Anna pada Miguel.


"Turunlah Ael, biarkan kami berdua," Pinta Miguel pada Ael.


"Tapi Miguel jangan-"


Miguel langsung memotong perkataan Ael. "Jangan pedulikan aku, dia memang seperti ini jika tidak ingin memberitahu masalahnya."


"Kalau begitu baiklah, aku akan turun." Ael turun meninggalkan Miguel dan Anna berdua.


"Hei Anna,tempat sekecil ini tidak akan cukup untuk kita berdua," ucap Miguel dengan senyum smirk nya yang khas.


"Heh' tidak perlu mencari tempat luas untuk berkelahi, tempat ini saja sudah cukup."

__ADS_1


Anna dan Miguel pun mulai berkelahi di tempat itu, pukulan demi pukulan dilayangkan. Hingga akhirnya pertarungan mereka seimbang.


"Sepertinya dia sudah bertambah gesit, gerakannya semakin cepat tetapi masih belum cukup untuk mengalahkan ku." Batin Miguel tersenyum.


"Heh' ternyata aku masih belum cukup untuk mengalahkan mu Kakak," ujar Anna tersenyum pahit.


"Kau masih belum cukup untuk mengalahkan ku." Miguel tersenyum ketika melihat celah untuk menjatuhkan Anna.


Anna akhirnya dikalahkan oleh Miguel. "Anna kau akan selalu kalah."


"Ha' kalah? kenapa Kakak suka terpancing oleh umpan." Senyum licik terlihat jelas di wajah Anna.


Anna lalu memegang tangan Kakaknya dan memutarnya kebelakang hingga membuat Miguel tidak bisa bergerak.


"Ugh! heh' tidak kusangka kau bisa mengalahkan ku hari ini." Senyum Miguel.


"Heh' sesuai dengan kesepakatan aku tidak akan mengatakan masalah ku," ujar Anna pada Miguel sembari melepaskan tangannya agar Miguel bisa berdiri.


"Haih … baiklah aku tidak akan memaksa, aku akan turun ke bawah. Kau bersihkan lah dirimu laku turun ke bawah untuk makan malam, ayah dan ibu sebentar lagi akan pulang." Jelas Miguel.


Setelah mengatakan hal itu Miguel lalu turun, beberapa langkah sesaat Miguel turun Anna lalu memanggilnya.


Miguel menoleh dan tersenyum kecil lalu ia pun menutup matanya tidak ingin melihat ekspresi Anna yang bersedih.


"Bersihkan lah dirimu dulu. Aku akan menunggumu di balkon atas," ucap Miguel menyuruh Anna untuk membersihkan dirinya dahulu.


Anna mengangguk dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Sedangkan Miguel pergi menemui Ael dan berkata kalau dia akan terlambat untuk makan malam, karena ingin mengobrol dengan Anna di balkon atas.


Ael mengangguk mengiyakan perkataan Miguel.


Miguel kemudian pergi ke balkon atas, tidak berapa lama Anna yang sudah selesai membersihkannya dirinya pun pergi ke balkon atas untuk menemui Kakaknya Miguel.


Anna yang baru saja sampai di balkon langsung diberikan pertanyaan oleh Miguel.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Miguel pada Anna sambil menatap langit tanpa melihat ke arah Anna sedikit pun.


"Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun darimu," ujar Anna berjalan mendekati Miguel dan ikut menatap langit.

__ADS_1


"Bukannya aku sudah berbicara dengan Kakak kalau aku memiliki seorang teman yang bernama Lucanne. Hufh … aku, Katharine dan Simon sudah sangat dekat dengannya, jadi ketika kami ingin latihan drama bersama … dia menolaknya. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa datang selama tiga hari." Jelas Anna.


"Ha' kenapa bisa begitu, apakah kau tidak menanyakan alasannya?"


"Aku sudah menanyakan apa sebabnya, dia mengatakan itu hanya masalah pribadi dan juga bukan masalah yang besar, katanya begitu."


"Lalu kenapa kau sangat sedih?"


"Itu karena dia tidak bisa datang."


"Hee … bukankah sebelumnya kau tidak seperti ini, kenapa sekarang kau berubah. Apakah kau menyukai Lucanne?"


"Ha? ee' itu tidak mungkin. Aku hanya sedih karena dia tidak mau berbagi masalahnya dengan ku, cuma itu saja."


"Anna, aku ini Kakak mu. Aku mengenalmu lebih dari yang lain, jadi kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku. Kau akan segera menyadarinya nanti."


"Apa yang Kakak bicarakan, itu tidak akan mungkin. Cinta? heh."


"Kau jangan terlalu meremehkan tentang cinta, karena sekali kau dihadapkan oleh perihal cinta, maka kau akan menjadi orang yang sangat lemah. Apalagi itu cinta pertama, heh' sungguh sulit," ucap Miguel sembari pergi meninggalkan Anna di balkon.


"Apa maksud Kakak?" tanya Anna dengan nada suara yang sedikit berteriak sembari berjalan mengikuti Miguel dari belakang.


"Yaa intinya itu … emm' seperti apa ya? ah' seperti ini saja. Kau melihat kue yang sangat indah, tetapi kau tidak tau apa rasa kue tersebut apakah rasanya enak atau tidak enak, seperti itu."


"Ohh' maksud Kakak seperti ini ya. Cinta itu adalah kata-kata yang sangat indah, tetapi jika kita tidak mencari tau apa isi dari kata cinta itu maka kita hanya bisa menebaknya. Apakah isinya penuh dengan kebahagiaan atau kesedihan, begitu kan."


"Ya benar. Ternyata Adikku tidak bodoh juga ya, tetapi yang lebih tepatnya cinta itu seperti buah, ada rasa asam dan manisnya juga cinta ada kebahagiaan dan kesedihan nya."


"Emm' jadi bagaimana kita bisa tau kalau kita mencintai seseorang?"


"Aku tidak akan menjawabnya sebelum kita selesai makan malam."


"Yosh' baiklah."


Miguel dan Anna pun turun untuk makan malam.


Ael dan Dave yang melihat Anna tersenyum juga ikut tersenyum.


Sampai makan malam berakhir. Anna dan Miguel pergi ke halaman luar untuk mengobrol tentang hal yang masih tertunda untuk dibicarakan.

__ADS_1


Mereka duduk di bangku halaman luar sambil menatap buka dan bintang yang sangat indah di malam itu.


__ADS_2