
Evri yang melihat hanya bisa terdiam menahan takut melihat tatapan dingin dari Anna, ia pun berteriak karena takut.
Semua orang yang melihat itu berpikir kalau Anna ingin menyakiti Silva dengan gunting, mereka pun bergegas memanggil Lean yang berada di ruangannya.
Lean yang panik langsung berlari ke ruangan adiknya. Ketika sampai Lean bergegas memisahkan Anna dan Silva, karena semua orang yang ada disitu tidak berani memisahkan mereka.
"Lepaskan adikku!!" teriaknya pada Anna.
"Hahah' … kenapa Lean? aku bahkan tidak melukai adikmu." Anna tertawa kecil dan menyeringai licik melihat ekspresi panik Lean.
"Jika kau tidak melukainya, lalu kenapa dia merintih kesakitan!"
"Itu karena kau terlalu memanjakan nya."
Anna langsung melepaskan tangannya yang memegang tangan Silva.
Saat di lepas terlihat dari pergelangan tangan Silva bahwa ada bekas dari cengkraman tangan Anna yang begitu kuat tadi.
"Kak … sakit …" Rintihnya.
"Tenanglah, Kakak akan mengobati mu."
"Cuih!! menjijikkan sekali drama kalian."
"Anna!! berani sekali kau melakukan ini pada adikku!!"
"Aku berani karena dia berani."
"Apa maksudmu!"
"Dia ingin memotong rambut ku, terlihat sekali nyalinya yang begitu berani."
"Apa!"
"Tidak Kak, itu tidak benar." Lirih Silva.
"Kalian semua yang ada disini, apakah benar adikku ingin memotong rambutnya?" tanya Lean pada seluruh mahasiswa dan siswi yang ada disitu.
Namun mereka semua hanya menggelengkan kepala termasuk dengan Wyn yang melihat semua kejadian, tetapi Anna tidak melihatnya waktu itu.
"Kau lihat! tidak kusangka anak dari keluarga Leroy berani berbohong. Kau peris seperti wanita rendahan." Ucapnya merendahkan Anna.
Tiba-tiba saja Feyrin masuk dah berteriak. "Lean!! apa yang kau katakan!! kau bahkan tidak melihat kejadiannya bukan, lalu kenapa kau percaya pada mereka semua!!!"
"Feyrin maaf, tapi aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat."
"Lean kau!!"
"Sudahlah Feyrin, aku baik-baik saja. Lain kali aku akan menyanggul rambut ku saja." Timpal Anna.
"Tapi Anna …"
"Sudahlah, kembalilah ke ruangan mu."
Feyrin kembali ke ruangannya tetapi sebelum ia kembali, ia memperingatkan semua orang untuk tidak membocorkan kejadian tadi.
__ADS_1
Karena kejadian itu Anna dipanggil ke ruangan dosen. "Apa yang telah kau lakukan?" tanya dosen pada Anna.
"Dia ingin memotong rambut ku, jadi wajar jika aku mencengkram nya," jawab Anna memberitahukannya alasannya pada dosen.
"Sebelumnya tidak ada kejadian seperti ini. Aku sudah tidak bisa memberimu kesempatan, panggil orang tuamu kemari."
"Tidak perlu." Anna mengambil ponselnya dan menelpon kakaknya.
Drrtt … drrtt … drrtt …
Miguel yang sedang bekerja, mendengar ponselnya berdering pun lalu melihat siapa yang menelponnya. Saat mengetahui kalau yang menelponnya adalah Anna, ia langsung mengangkatnya.
📲"Ada apa Anna?"
📲"Kakak aku membuat masalah di kampus, jadi bisakah kakak datang kemari?"
📲"Saat ini aku tidak bisa. Berikan ponselnya pada dosen mu."
Anna memberikan ponselnya pada dosen.
📲"Maaf Pak, adik saya memang seperti ini. Jadi bisakah bapak memberikannya kesempatan, sekali lagi." Pinta Miguel.
📲"Haih … baiklah, tetapi hanya kali ini. Jika Anna bermasalah lagi, maka Anna harus mendapatkan hukumannya."
📲"Baik terimakasih Pak."
Dosen lalu mematikan sambungan telepon dan memberikannya lagi pada Anna. Dosen pun meminta Anna untuk kembali ke ruangannya.
Di perjalanan kembali menuju ruangannya, Anna mendapatkan pesan dari Miguel.
💬"Baiklah, aku tidak akan menghiraukan perkataan mereka lagi dan aku akan bersabar."
Anna akhirnya sampai ke ruangannya dan duduk di tempat duduknya.
Waktu itu dosen belum datang untuk memberikan materi, para mahasiswa/i yang berada di ruangan itu melihat ke arah Anna sambil berbisik-bisik satu sama lain.
Samar-samar Anna mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Hei' kau tau, katanya dia memperlakukan Silva seperti itu karena Silva memintanya untuk tidak menyukai kakaknya lagi." Berbisik.
"He' dia berbuat jahat pada Silva hanya agar Lean datang melihatnya, cih!" Berbisik.
"Iya, emang caper. Mengharapkan Lean datang dengan baik, tapi malah dimaki oleh Lean. He' lucu sekali." Berbisik.
"Sabar, ini semua adalah cobaan. Aku harus tenang dan tidak boleh merepotkan kak Miguel lagi." Batin Anna mencoba untuk tenang.
Anna tidak memperdulikan omongan mereka semua dan hanya diam saja.
****************
Ketika materi yang diberikan dosen sudah selesai Anna pun langsung bersiap untuk pulang.
Saat ia berjalan sampai ke pintu, ternyata ada Feyrin yang menunggunya dengan raut wajah cemas. "Anna!" panik Feyrin setelah melihat Anna keluar dari ruangannya.
"Feyrin?" tanya Anna bingung melihat Feyrin yang tampak begitu gelisah.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa kan?"
Silva menyela pembicaraan mereka. "Feyrin, dia ini jahat. Kenapa sih lo mau aja dekat sama dia."
Dengan nada kesal dan tatapan matanya yang dingin Feyrin melirik ke arah Silva. "Walaupun dia jahat tetapi hatinya baik, dari pada yang berpura-pura baik tetapi hatinya busuk." Ucap Feyrin mengalihkan lirikan matanya pada Evri disamping Silva.
"Feyrin! apa maksudmu, apa lo udah dihasut sama wanita ini!"
"Siapa yang dihasut dan siapa yang terhasut mari kita lihat nanti. Jangan sampai kau dibodohi oleh peliharaan mu sendiri." Timpal Anna sembari menarik tangan Feyrin dan membawanya pergi.
Baru beberapa langkah mereka pergi, Lean berteriak memanggil nama Feyrin.
"Feyrin!!" teriak Lean.
Anna dan Feyrin menghentikan langkah kaki mereka lalu menoleh kebelakang.
"Kenapa kau masih bersamanya!"
"Itu urusanku bukan urusanmu." Jawab Feyrin.
"Kau tidak lihat apa yang telah dibuatnya pada Silva!"
"Lihat, tetapi aku tak sama sepertimu. Kau percaya pada apa yang kau lihat dan aku percaya pada apa yang hati nurani ku katakan."
"He' Lean, tak ada maksud bagiku untuk mencelakai adikmu. Suatu hari kau akan sadar di mana letak kebaikan dan keburukan seseorang." Sela Anna.
"Sudahlah Anna, ayo kita pergi." Ajak Feyrin pada Anna.
"Feyrin!"
"Kak Lean, sekarang kau bukan siapa-siapa ku lagi. Kau tau bukan, aku adalah orang yang sangat benci dengan orang seperti dirimu. Mungkin hanya sampai disini saja."
Feyrin dsn Anna lalu pergi meninggalkan Lean, Silva dan Evri.
Lean tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut Feyrin, ia mengingat ketika ia pertama kali pergi bertemu dengan Feyrin sewaktu pemakaman ibunya Feyrin.
FLASHBACK ON*
"Hei' jangan bersedih, kau tidak sendiri."
"Siapa kau?"
"Namaku adalah Lean dsn ini adalah adikku, namanya Silva. Dia seumuran denganmu."
"Lean, aku adalah Feyrin."
"Anggap saja aku seperti Kakak mu."
"Aku tak bisa menganggap mu sebagai Kakak ku, bagiku Kakak ku hanya satu. Jika aku memanggilmu Kakak makan aku akan menganggap mu sebagai orang asing."
"Baiklah tidak apa-apa, panggil saja aku Lean."
FLASHBACK OFF*
"Heh' orang luar ya, akankah kau tetap menganggap ku sebagai orang asing Feyrin. Hufh … dimana kesalahanku, aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri tetapi kau pergi." Batin Lean sedih.
__ADS_1