Berawal Dari Sebuah Buku

Berawal Dari Sebuah Buku
[B.D.S.B 2] 15


__ADS_3

"Tidak ada niat bagiku, aku akan tetap mencintainya walaupun dia sudah bersama orang yang dia cintai. Dan kurasa kau juga harus berpindah hati, karna tidak ada gunanya kau terus berharap padaku." Jelas Anna pada Lean.


"Tapi Anna!" tegas Lean.


"Sudahlah, pergi dari sini dan jangan berkomunitas denganku lagi, terimakasih sudah mencintaiku walaupun aku tidak mengharapkannya."


Setelah mengatakan hal itu Anna pergi meninggalkan Lean yang masih berdiri di depan gerbang dengan wajah sedih. Tak berapa lama ia berdiri disitu, ia lalu pergi meninggalkan rumah Miguel.


Anna yang berjalan memasuki kamarnya langsung duduk di kasur tempat tidurnya sembari menutup mata, Anna perlahan-lahan merebahkan tubuhnya di kasur.


"Itu lebih baik. Maafkan aku Lean, aku terpaksa melakukan itu agar kau tak berharap padaku dan juga agar kau tidak sakit hati lebih dalam. Sekarang tinggal keluarga Duke, aku akan menunggunya bergerak." Batinnya.


****************


Keesokan harinya ketika Anna pergi ke kampus bersama Feyrin, ada seorang penjaga toko bunga sambil membawa sebuah buket besar berisikan bunga mawar merah dan membawa sekotak coklat.


"Nona Anna, ini dari calon suami anda." Ucap Si pembawa buket.


"Maaf buang saja, aku tidak membutuhkan itu. Lagipula aku bisa membelinya sendiri." Jawab Anna.


"Aku tau ini dari siapa, jangan katakan kalau ini dari Denis." Ketus Feyrin.


"A'A … ini b'bukan …" gugup Si pembawa buket.


Feyrin merampas bunga dan coklat itu, sambil berteriak Feyrin mempromosikan kalau Denis memberikan semua orang buket dan coklat.


"Ayo semua!! kalian yang berada di kampus ini, berkumpullah kemari aku ingin memberitahukan informasi pada kalian! kalau Denis dari keluarga Duke akan memberikan seluruh mahasiswi di kampus ini sebuah buket dan coklat!!" teriaknya.


Mendengar informasi dari Feyrin, semua orang bergegas ke lapangan kampus dan mendatangi orang yang membawakan Anna buket dan coklat tadi.


Melihat semua orang telah mengerumuni mereka, Feyrin melemparkan buket dan coklat yang ada di tangannya hingga membuat semua orang berebutan seperti memperebutkan Bansos (Bantuan Sosial).


Setelah membuat keributan besar itu, Feyrin menarik tangan Anna dan membawanya pergi, hingga mereka berhenti di depan ruangan Anna.


"Apakah melakukan hal seperti itu tidak apa-apa Feyrin?" tanya Anna pada Feyrin.


"Tentu saja tidak, Denis tidak akan bangkrut secepat itu hanya karena membelanya semua orang di kampus ini." Jawab Feyrin.


"Tapi Feyrin …"


"Sudahlah Anna, sebaiknya kau masuk keruangan mu dan aku akan masuk keruangan ku."


Anna tidak berkata apa-apa, ia hanya menuruti perkataan Feyrin lalu masuk ke ruangannya. Sedangkan Feyrin pergi ke ruangannya.


Siang harinya saat pulang dari kampus, seperti biasa Feyrin pulang bersama Anna. Mereka berdua berdiri di depan gerbang kampus menunggu jemputan Feyrin yang sedikit terlambat.


"Anna, aku ingin bertanya padamu."

__ADS_1


"Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Kau menolak cintanya Lean, bukan?"


"Ya. Karna aku tak mencintainya, aku hanya menganggapnya sebagai teman."


"Oh' ternyata begitu. Baguslah kau menolaknya, aku pikir kau menerimanya."


"Ha? kenapa kau mengatakan itu."


"Tidak apa, hanya saja dia terlalu bodoh, sekarang dia sudah pergi ke luar negeri, dia mengelola perusahaan ayahnya yang berada di Kota X."


"Baguslah, kuharap dia bertemu orang yang lebih baik dari pada aku."


"Ya, aku juga berharap seperti itu."


Ketika mereka sedang asik mengobrol, seorang pria berpakaian serba hitam datang menghampiri mereka berdua.


"He' ternyata keluarga Carl mempunyai putri semenarik dirimu." Ucap orang asing itu.


"Hei' Denis, kau jangan menipu ku dengan pakaian aneh mu itu, lagipula tidak ada urusannya denganmu aku menarik atau tidak, yang jelas aku memintamu untuk menjauhi Anna." Tegas Feyrin.


"Jika aku tidak mau, memangnya kenapa? kau tidak bisa menghalangiku dengan tubuh dan jari-jari kecilmu itu." Senyumnya meledek.


"Kau!"


Sebelum Feyrin menyelesaikan perkataannya, Anna menepuk pundak Feyrin pelan. "Ya kau benar. Tubuh dan jari kecilnya tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi aku yang akan melakukannya." Ujar Anna menatap dingin Denis.


"Ha' menikah dengan mu? heh' itu adalah mimpi murahan mu! dan lagi, walaupun ke luar Leroy tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku bisa."


Jemputan Feyrin pun tiba, Feyrin yang melihat dan merasa kalau keadaan sudah tidak membaik, langsung menarik tangan Anna untuk masuk ke dalam mobil lalu memperingatkan Denis untuk tidak memperlihatkan dirinya di hadapan Anna.


Denis tidak menjawab apa-apa, dia hanya tersenyum tipis melihat mobil Feyrin berjalan pergi menjauhinya.


"Siapa yang terpilih maka dialah yang harus menjadi pendamping. Aku benci mengatakan hal ini tapi." Batinnya.


"Tapi … aku tidak suka memilih," ucapnya bermonolog sendiri.


Theo pun tiba dengan membawa mobil untuk menjemput Denis. Saat Denis masuk dalam mobil, Theo memberitahukan sesuatu pada Denis.


"Tuan Muda, perusahaan dalam masalah besar. Saham yang begitu besar tiba-tiba di tarik oleh perusahaan-"


"Stop! tidak perlu kau melanjutkannya. Apa dia mencari ku?" tanya Denis menyela perkataan Theo seakan tau siapa yang menarik sahamnya kembali dari perusahaannya.


"Ya, anda tidak datang kemarin."


"Kalau begitu aku akan menelponnya sekarang."

__ADS_1


Denis mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.


****************


Beralih di sebuah rumah yang besar terdengar suara deringan ponsel yang bergema.


Drrtt … drrtt … drrtt …


"Tuan muda, ponsel anda berdering," ucap asistennya.


"Ck! hais … terlalu lama. Joan, kau bersihkan botol alkohol yang berserakan itu."


"Baik Tuan Muda."


Orang itupun mengangkat telponnya.


📲"Keluarga Smith, kenapa kau ikut campur dalam urusan percintaan ku?" tanya Denis.


📲"Berhenti mendekatinya. Dia milikku dan selamanya akan tetap begitu."


📲"Kau bercanda kan, dia bukan milikmu ataupun milikku. Dia milik orang yang wajahnya kau duplikat."


📲"He' kenapa? kau iri. Dengar baik-baik dia sudah berada di tanganku."


📲"Aku tidak peduli apa katamu, jika seperti ini permainan mu maka kau licik."


📲"Licik? aku tidak licik tetapi hanya ingin memberitahumu kalau dia susah menjadi milikku."


📲"He' aku tidak percaya."


📲"Jika memang begitu mari kita lihat."


Setelah mengatakan hal itu, sambungan telpon dari Denis pun dimatikan.


Joan yang sudah selesai membereskan semua botol alkohol yang berserakan lalu menasehati Tuan Muda nya.


"Tuan muda berhentilah minum, itu akan memory kesehatan anda."


"Aku sedang memikirkan perkataan terakhir kakekku."


"Anda boleh memikirkannya Tuan Muda, tetapi jangan perlakukan diri anda seperti ini."


"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi. Kali ini aku berjanji."


****************


Beralih ke Denis yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Keluarga Smith terlalu menyepelekan ku. Lihat saja, aku akan merebut apa yang dikatakannya itu." Kesal Denis.


"Tetapi aku terjebak dalam kata pilihan. Hahh … aku harus memastikannya terlebih dahulu." Batinnya.


__ADS_2